Friday, August 8, 2008

It isn't a Matter of Time

"Apakah waktu setahun belum cukup untuk membuatmu menyukaiku, menyayangiku dan mencintaiku sepenuh hati?" lirih suara perempuan di ujung telepon.

Aku terdiam. Aku bukan tak ingin menjawab. Aku sedang berpikir bagaimana aku menata satu persatu kalimat yang akan meluncur dari bibirku agar perempuan tersebut mengerti dan tidak salah paham.

"Begini.." Aku menghela nafas panjang. "Yang tahu perasaanku dan kedalaman hatiku, hanya aku. Kamu tahu dengan pasti kalo aku bukan tipe orang yang suka membicarakan tentang perasaan, apalagi sampai berulang-ulang, sekali setelah itu cukup. Analoginya begini, kalo km merasa aku tidak menyayangimu, lalu kenapa hubungan kita masih bertahan sampai detik ini? Kalo memang aku seperti yang kamu katakan, aku bisa saja kan tiba-tiba meninggalkanmu, bukankah itu sangat mudah bagiku, tapi kenapa itu tidak kulakukan? Harusnya kamu renungkan itu!"


Perempuan itu trdiam.

"Jadi masalahnya bukan karena suka, sayang atau cinta. Masalahnya bukan soal perasaan, tapi soal sinkronisasi!"

"Apa itu sinkronisasi?" tanya suara di seberang dengan nada polos.

Ah, nada suaramu yang lugu banget ini kerap membuatku ingin tergelak. Tapi tak kulakukan karena akan memecah konsentrasi berpikirku atas apa yang akan kuutarakan, lagian kami kan sedang berbincang serius.

"Sinkronisasi itu kecocokan. Kecocokan antara kita!"

"Tapi kan kita dua orang, otomatis berbeda dong.. anak kembar saja beda, apalagi kita, ya kan?"

"Makanya itu dibutuhkan sinkronisasi. Apalagi untuk LDR atau long distance relationship alias hubungan jarak jauh kayak kita ini, bukan hanya kecocokan tapi juga kepercayaan. Tanpa ada saling percaya.. ya aku akan selalu jadi buronanmu seperti dulu-dulu!"

"Itu kan pemikiranmu, padahal aku tidak berniat seperti itu. Apa salah bertanya pada pasangannya tentang sapa aja yang meneleponnya?"

"Tidak salah, tapi tidak setiap hari, apalagi ujung-ujungnya nanti kamu karang sendiri akhir ceritanya kayak wartawan gosip aja, gerah banget tauk selalu digituin!"

"Ya udah, mulai sekarang aku akan diem gak nanya-nanya lagi!"

"Tuh kan.. begtulah kamu kalo km dikasi tau, bukannya menyerap maksud tukar pikiran ini malah senang tidak bersolusi!"

"Lalu aku harus bagaimana? Aku diem salah, nanya-nanya juga salah, terus aku harus gimana doooong?"

Hmm..rupanya aku benar-benar harus dibuat super ekstra dengan perempuan ini. Ekstra sabar dan ekstra bawel menjelaskan kalimatku dengan sedetil-detilnya.

Umurnya 3 tahun diatasku tapi pola pikirnya seperti 3 tahun lebih muda dariku. Padahal aku sendiri juga merasa belum dewasa-dewasa amat. Tapi untuk ngadepin perempuan ini, aku jadi harus dewasa pada waktunya.

"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia" (Kahlil Gibran: Cinta, Keindahan, Kesunyian. Page: 270)

No comments: