Hati Rien masih rapuh ketika suatu sore saat kepalanya penat oleh pekerjaan kantor yang menumpuk ponselnya berdering. Dari nomor tak dikenal.
"Hallo..." ujar Rien ragu. Pasalnya nomor yang tertera di layar ponsel adalah nomor lokal, padahal hanya keluarga dan teman-teman dekatnya saja yang mengetahui nomor tersebut, selebihnya tak ada. Bahkan teman sekantornya saja tak pernah diberinya nomor ini. Lalu siapa penelepon dengan kode area kota yang baru ditinggalinya kurang lebih dua bulan ini?
"Hallo.." jawab suara di seberang. Suara yang seketika menggetarkan dawai hati Rien yang masih perih.
Suara perempuan yang setengah mati dirindukannya, namun setengah mati pula ia tengah coba kubur dalam-dalam.
"Apa kabar?" tanya perempuan itu.
"Baik!" sahut Rien datar. Benaknya masih mengembara mencari tahu bagaimana bisa perempuan itu menemukan jejak yang berusaha ditutupnya serapi mungkin.
"Aku mendapatkan nomor ini dari keluargamu di Jember!"
Perempuan itu seolah dapat membaca keheningan lawan bicaranya. Dan tak salah lagi, Rien yakin pasti orang rumah Rien yang dengan murah hati memberikan nomor teleponnya secara cuma-cuma. Percuma saja Rien membungkam teman-temannya yang merupakan teman perempuan itu, jika ia tak punya alasan untuk juga membungkam keluarganya.
"Kata ibumu, kau bekerja disini... Kenapa kau tak bilang padaku?"
Ah, kenapa nada bicaranya terdengar seolah-olah aku masih saja miliknya, batin Rien.
"Boleh kan kita bertemu?"
Perempuan itu benar-benar sanggup memporak-porandakan serta meruntuhkan benteng hati Rien yang belum usai dibangun.
***
Entah karena ingin membuktikan pada dirinya sendiri ia mampu menghadapi masa lalu ataukah ingin mengobati kisi-kisi hati yang merindukan keteduhan mata perempuan itu. Rien tak tahu apa yang kemudian membawa kakinya sampai di depan sebuah restoran cepat saji tempat janjian ia dengan perempuan itu.
Kenapa kamu disini? Apa kamu akan mengulangi kebodohanmu lagi?
Suara dalam diri Rien membuat langkah Rien tertahan. Rasa nervous yang sedari tadi mendera seperti saat akan bertemu perempuan itu pertama kali kini berganti keragu-raguan.
"Hai..."
Sapaan itu membuyarkan pertentangan logika dan perasaan Rien yang campur aduk.
"Kamu dengan siapa sekarang?" tanya perempuan itu tanpa basa basi.
"Kamu gimana dengan pacarmu?" Rien sengaja bertanya balik tanpa menjawab.
"Aku dan dia..." Perempuan itu menghela nafas panjang. "Ya begitulah.. Ia sekarang dekat dengan mantannya dan tak memperdulikanku lagi, meski kami berdua masih memegang komitmen awal kami yang lebih terlihat sebagai formalitas belaka karena hati kami sudah tak lagi bersama,"
Rien tak bereaksi. Keduanya berpadu dalam pikiran masing-masing.
"Ah, sudahlah, kita ganti topik pembicaraan. Dimana kamu bekerja?"
Sejenak Rien memandangi perempuan yang menurutnya agak kurusan itu. Rambut perempuan itu sedikit gondrong menutupi separuh mukanya yang membuatnya makin terlihat tirus.
Bukankah Rien tengah mencoba untuk lepas dari masa lalunya? Tapi bukankah pula ini yang ditunggunya? Menyatukan kembali asmara yang masih membelit bukan hanya hatinya, tetapi juga tiap detik pikirannya.
"Hei, kok dari tadi ngelamun terus sih? Ditanya juga nggak jawab, kamu grogi ketemu aku lagi?" goda perempuan itu.
"Enak saja!" elak Rien. Duh, kenapa aku tak bisa sesantai dia, kenapa sih aku ini? Rutuk Rien dalam hati.
Pun pada pertemuan-pertemuan selanjutnya, Rien masih tak bisa menguasai debaran hatinya meski telah sekuat tenaga ditatanya sedemikian rupa, tapi ketika perempuan itu menebar keharuman senyuman menyisakan lesung di pipi kirinya Rien luluh lantak dalam kharismanya.
***
TO BE CONTINUED...
No comments:
Post a Comment