Pernah ada rasa cinta antara kita kini tinggal kenangan ....
“Arrgghhh!!! Kenapa aku jadi mellow begini!” gerutuku kesal. “Kenapa harus perasaan ini lagi?” umpatku dalam-dalam. Aku pernah mengalami perasaan ini sekitar dua tahun lalu dan sekarang aku terjebak dalam perasaan yang sama. “Ah, bodoh atau tolol aku ini!!” makiku tak henti-henti.
PUTUS! Aku mengambil keputusan ini sebagai jalan terakhir untuk lepas dari perbedaan dan konflik tak berujung ini. Dan kondisi sesudahnya lah yang membuatku mengecap kembali pahitnya menjalani waktu yang seakan lamban bergulir. Meski untuk yang sekarang ini tidak separah waktu itu tapi tetap saja, mau tak mau, suka tak suka, aku seolah dibawa kebali ke masa lalu. Beruntung rasa sesak, insomnia mendadak dan kelakuan seperti orang “kurang waras” selama berbulan-bulan gak masuk itungan kali ini. Hanya rasa kehilangan, dari yang tadinya ada menjadi tiada, yang tadinya biasa menjadi tak biasa, itu yang harus kulewati.
Meski sudah dikategorikan sayang, tak terlalu sayang memang, paling tidak tak sebesar rasa sayangku waktu itu, tapi dengan jangka waktu setahun sudah lebih dari cukup untuk membekaskan ragam memori aku dengannya yang sekarang harus kukubur dalam-dalam. Dan bagiku itu butuh waktu. Mau seberapapun berartinya ia dalam hidupku, sayang atau tidak kek, tapi semua yang tadinya ada menjadi tidak ada, hadir jadi tidak hadir, biasa menjadi tidak biasa, semuanya emang butuh proses.
Tapi kenapa perasaan ini muncul? Bukankah ini yang kuinginkan? Lepas dari kurungan tuduhan, fitnahan dan situasi yang selalu memojokkanku. Ah, mungkin hanya masalah waktu, aku akan bisa melaluinya, toh aku yang menginginkannya tapi kenapa ada rasa tak senang menghinggapiku ketika mendengar selentingan ia sudah menemukan penggantiku. Cemburukah aku?
Ah, mana mungkin kan kamu cemburu untuk orang yang dengan mudahnya berpaling darimu setelah tak lagi bersamamu? Sisi hatiku berkata demikian.
Telepon dia karena kamu masih sayang padanya, jangan gengsi! Timpal sudut hatiku yang lain.
Ngapain juga telepon, masih ingat kan ketika kamu terakhir kali meneleponnya ia sedang bersama orang lain. Apa kau akan jatuh ke lubang yang sama? Lupakan dia! Ingat saja semua kejelekannya padamu!
Yah ... cara paling jitu untuk cepat melupakan seseorang kan dengan mengingat kejelekan-kejelekan orang tersebut?
Yah, ingatlah kejelekan-kejelekannya! Dia tak mau dikekang, tapi dia mengekangmu. Dia tau semua teman-temanmu, tapi kau tak pernah tau siapa teman-teman ngobrolnya di dunia maya. Dia menyuruhmu untuk selalu terbuka, tapi ia selalu berahasia. Kalo itu yang dikatakannya serius, apa yang begitu itu yang dinamakan hubungan serius?
Arrgghhh ... tidakkk!!! Otakku teracuni suara-suara yang bersahutan dari dalam diriku sendiri.
* # * # *
Baru saja akan kutekan tombol send di hapeku ketika tepat bersamaan benda elektronik itu berdering. Kamu.
“Hallo, apa kabar?” sapamu ramah seolah tak ada apa-apa sebelumnya.
Tuh kan, liat saja, nada suaranya sok innocent begitu. Mending putus! Putus! Putus!
“Hei, kok malah diam?” teguranmu membuyarkan lamunanku.
“Kamu nggak salah pencet nomer kan?” godaku padanya. Terus terang aku masih agak gondok.
“Kok gitu sih ngomongnya!” Nada suaramu terdengar tak senang. “Di telpon baik-baik malah nyolot”
Pasti dia salah pencet nomer atau kalo gak dia gak diperhatiin tuh ama gebetan barunya, makanya dia hubungi kamu lagi. Beberapa hari ini kan dia sudah nggak hubungi kamu gara-gara orang baru itu, tapi sekarang dia mulai hubungi kamu lagi pasti ada udang dibalik rempeyek!
Sudah, hilangkan gengsimu!
Suara-suara itu beradu dalam benakku.
Arrgghhh ... pusing! Kututup telingaku dengan kedua tangan. Suara-suara itu lenyap.
“Tau ga, tadi tepat sebelum kamu telpon, aku mau kirim sms juga lho ke kamu!”
“Benarkah?” tanyamu tak percaya.
“Iya, kok kita sehati ya, aku mau telpon, kamu mau sms,”
“Tapi kenapa kita sehatinya setelah status kita sudah bukan sepasang kekasih?”
Arrgghhh!!!!!
Dua manusia.
Dua hati.
Dua pikiran.
Dua karakter.
Kalau tidak tanpa perbedaan, apa kata dunia???
1 comment:
:)
wah segitunya...
sebenarnya itulah fungsi cinta
menyatukan perbedaan vi...sejauh mana kita bisa memahami karakter pasangan kita,,,itu aja intinya sebenarnya :)
Post a Comment