Tuesday, August 19, 2008

S I M P A N A N (Bagian 1)

"Apa kau yakin dengan keputusanmu?"
Perempuan di hadapan Rien sudah tiga kali mengajukan pertanyaan yang sama, tapi tak juga didapatnya jawaban dari mulut Rien. Kebungkaman Rien malah berganti isakan tangis. Hanya airmata yang sanggup keluar meski dada Rien sesak.
"Kalau kau tak yakin, sebaiknya..."
"Aku yakin!" potong Rien lirih bercampur isakan. Rien kemudian menyeka airmata yang terus meretas. "Aku yakin dengan keputusanku untuk mengakhiri hubungan kita!" tegas Rien.
"Kau takkan sanggup hidup tanpa aku! Lihat saja, kau akan menyesali keputusanmu itu dan akan merengek-rengek kembali padaku!" kata perempuan di hadapan Rien terkesan arogan.
Rien membelalak. Tak percaya bahwa perempuan yang telah menghiasi hari-harinya empat tahun ini dan masih memenuhi segenap relung hatinya hingga detik ini sanggup melontarkan kalimat seangkuh itu.
"Ya, aku akui memang tak mudah bagiku mengeluarkanmu dari pikiran dan hatiku atau bahkan menghapus kehadiranmu dari kehidupanku, tapi satu hal yang aku yakini adalah..." Rien mengatur nafasnya yang turun naik. "Aku sudah tak sudi kau jadikan simpananmu!" Rien bangkit. Amarahnya meledak. Amarah yang selama ini tertahan oleh kesabaran atas nama cinta.
"Dan satu hal lagi.. Setelah ini kita tidak usah berhubungan, kembali dan jaga sahabatku baik-baik!"
Rien pergi membawa separuh jiwanya dalam deraian tangis. Setengah mati ia mengumpulkan keberanian untuk keluar dari dilema perasaannya sendiri.
Rien kecewa. Kecewa dengan arogansi perempuan yang ternyata tak pernah sekalipun merasakan bagaimana di pihaknya, malah sepertinya menertawakan merasa diatas angin karena telah dicintai. Rien tak menyangka ia sungguh telah keliru, seperti tak mengenal pribadi perempuan tersebut sebelumnya.
***


Genap setengah tahun berlalu, namun Rien masih hidup dalam bayang-bayang perempuan yang usianya dua tahun lebih muda itu. Dan sepertinya dunia benar-benar sempit. Sejauh apapun Rien menghindar, bahkan sengaja mengganti nomor telepon yang ia miliki, tetap saja takdir mempertemukan Rien kembali dengan perempuan yang masih lekang dalam ingatannya itu.

Dan sarafnya menegang manakala melihat sahabat yang melebihi saudara kandungnya itu bergelanyut mesra di lengan perempuan belahan jiwanya.

Rien belum bisa memaafkan pengkhianatan teman tempat ia berbagi segalanya itu. Meski meyakini sahabatnya tak sepenuhnya bersalah. Justru perempuan kekasihnya lah yang patut disalahkan atas keretakan hubungan persahabatan mereka.


Seharusnya ia yang menyanding perempuan itu. Seharusnya ia yang tertawa riang di lengan kokoh perempuan itu. Seharusnya ia yang merasakan manisnya cinta perempuan itu, tanpa pernah terbagi. Dan keharusan-keharusan lain yang terenggut darinya, tak menyangka sahabat akan menjadi duri dalam kisah kasih asmaranya.

Tapi toh tetap Rien tak bisa menyalahkan keadaan, apalagi membalikkan waktu. Kenyataan bahwa perempuan kekasihnya dan sahabatnya menjalin cinta terlarang adalah kenyataan yang harus direguknya.
***

Dan bagaimana mungkin setelah pengkhianatan itu keduanya masih menuntut Rien untuk berbaik-baik seolah tak ada apa-apa. Hah, Rien benar-benar tak habis pikir, apa sebenarnya mau mereka? Setelah menghancurkan hatinya hingga tak berkeping, kini ia masih harus menelan pil pahit untuk menjaga hubungan dengan mereka, menyaksikan tiap detik kemesraan yang seharusnya dikecapnya tetapi kini tergantikan oleh sahabatnya.

"Apa mereka sudah gila? Tak pernahkah mereka merasakan menjadi aku?" jerit batin Rien saat dipersalahkan karena tak bisa menerima kebahagiaan mereka diatas penderitaannya. "Kenapa mereka begitu egois mengatakan aku egois?"

Dan perempuan itu... Perempuan kekasih hatinya itu entah kenapa begitu memahat Rien pada pesonanya hingga Rien setuju saja ketika perempuan itu memintanya menjadi kekasih kembali, meski sebatas simpanan.
"Gila! Kau memintaku menjadi pacarmu lagi, tapi kau tak mau memutuskan dia? Enak sekali kau!"
"Rien, aku tau kau masih menyayangiku? Aku pun begitu.."

Rien menatap tajam perempuan di hadapannya yang mendadak berubah kuyu.
"Hanya kamu perempuan yang mengerti aku.. Hanya kamu yang bisa menerimaku apa adanya..."
"Lalu kenapa kau main api dengannya?" Rien geram. Hatinya masih sakit jika teringat perkenalan sahabatnya dan perempuan kekasihnya ternyata awal dari malapetaka.
Perempuan di hadapan Rien terduduk lesu. "Semua memang salahku! Menyesal sekarang pun sudah tak berguna! Dan aku juga tak bisa lepas dari dia! Kami telah berkomitmen bahwa hanya maut yang memisahkan kami, apapun yang akan terjadi!"
Rien tercekat, tak menyangka hubungan dua orang yang pernah berarti dalam hidupnya telah sampai sejauh itu.
"Kamu mau kan kembali padaku?"
Ah, tatapan teduh itu masih saja membuat degup jantung Rien bekerja lebih cepat hingga merusakkan kerja saraf motorik Rien yang mengatakan JANGAN namun kepalanya mengangguk mengiyakan.
Menjadi simpanan kekasih sendiri. Itulah yang dijalani Rien kini. Menunggu ponsel yang entah kapan berdering. Kucing-kucingan dengan waktu. Dinomorduakan. Sebuta itukah cinta? Kadang sisi hati Rien mempertanyakan kesetiaan atau kebodohankah yang tengah dilakukannya.
Betapapun pengorbanan yang diatasnamakan cinta sekalipun selalu akan ada akhir. Walau cinta sanggup membutakan perasaan, namun logika lama kelamaan akan mengalahkan hati yang telah dibagi. Keegoisan logika untuk memiliki hati sepenuhnya.

TO BE CONTINUED...

No comments: