Monday, August 25, 2008

Memori Biduan Dangdutku

Memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-63, semalam di kampung diadain bazar ama acara dangdutan.
Awalnya nggak ada niatan sedikitpun untuk ikutan ngeliat acara itu, selain karna nggak suka dangdut, aku juga nggak begitu suka keramaian model gitu.
"Umik, nonton dangdutan yuk?" ajak sepupuku pada ibunya seusai pulang bekerja yang langsung disambut gembira oleh sang ibu karena memang sedari tadi "gatel" pengen nonton musik favoritnya itu sedang putri bungsunya tidak selera menonton acara model begitu. Makanya ketika putri sulungnya datang, ia yakin sekali akan diajak.
"Aku ikut ya!" Entah mendapat angin apa aku kok jadi pengen ikut. Sembari menunggu film Fantastic Four tayang, pikirku. "Tapi nggak lama kan nontonnya?"
"Nggak, paling cuma berapa lagu aja!"
Akhirnya kami bertiga menuju panggung dangdutan yang tak jauh dari rumah. Bazar yang digelar di depan rumah masing-masing warga sudah mulai dibongkar. Hanya tersisa anak-anak muda yang berjualan jagung bakar dan beberapa warga yang menjual es campur.
Acara dangdutan memang sudah dimulai. Di panggung sudah ada seorang biduan dengan baju berwarna oranye sangat pas badan, khas sekali potongan penyanyi dangdut hehehe! Ia tampak sedang berdialog dengan audience di bibir panggung yang semuanya laki-laki untuk meminta pendapat lagu apa yang akan ia nyanyikan selanjutnya. Setelah itu, ia berbalik kearah pemain piano, berbincang sebentar, lalu musik pun mulai berdendang. Biduan tersebut menggoyangkan pinggul mengikuti irama dan menyenandungkan lagu yang judulnya aku nggak tahu apa hehehe...

Ah, melihat biduan itu tiba-tiba benakku dibawa melayang kembali ke masa kurang lebih lima tahun lalu. Aku jadi teringat EMI. Ia berprofesi sama dengan biduan itu dan ia pernah "jatuh hati" padaku. Ia mengira aku laki-laki.
***

Sebuah sms masuk di ponselku. Waktu itu aku ingat sekali, aku sedang membuat outline skenario film horor. Kertas-kertas masih berserakan di depanku, agak malas meraih ponsel yang sedang aku isi batrenya itu, meski tak jauh.

"Mas, aku tunggu di jalan Mawar ya?"

Ternyata sebuah sms nyasar. Langsung kuhapus. Tapi tak berapa lama, sebuah sms lagi masuk. Masih dari nomor yang sama.

"Kok nggak di bales sih?"

Huh, sms nggak penting yang merusak konsentrasi menulisku! Gerutuku kesal.

"Maaf, Anda salah sambung!"

Ponselku berhenti berdering setelah itu. Aman.
Tapi beberapa hari kemudian aku tergelitik untuk iseng-iseng misscall nomor itu, hanya pengen tau pemiliknya laki-laki atau perempuan. Ternyata perempuan.
Ponselku berdering. Dampak misscallku barusan membuat perempuan itu penasaran dan menelpon terus-menerus.

"Ini siapa ya?"

Akhirnya dia sms.

Perempuan itu benar-benar amnesia. Aku mendiamkannya. Ponselku berdering panjang.

"Kamu yang siapa? Nomormu ada di hapeku!"

"Aku Emi. Mungkin hapeku dipinjem temenku waktu itu. Kamu siapa?"

Ketika aku bingung mau jawab apa, mendadak otak jailku bekerja.

"Aku Rey"

Aku bahkan mengarang sebuah nama untukku. Afreiza.

TO BE CONTINUED...

No comments: