Monday, August 25, 2008

MEMORI BIDUAN DANGDUTKU (Bagian 2)

Ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenal siapa Emy. Dari sms yang mengalir tiap harinya ia menceritakan semuanya. Mulai dari aktivitas kuliahnya yang mengambil jurusan keguruan hingga profesinya sebagai penyanyi dangdut kenamaan di daerah agak selatan Jawa Timur itu. Dua kegiatan yang terkesan saling bertolak belakang, guru dan penyanyi dangdut. Mungkin itulah salah satu alasan ketertarikanku untuk mengenal sosok Emy lebih jauh. Dan satu hal lagi, ia mengira aku laki-laki dan aku membiarkannya.

Tiap kali ia show malam, ia selalu memintaku menemaninya, meski sebatas sms. Ia juga memperkenalkan sahabatnya padaku. Ririn. Dari foto, keduanya nyaris seperti pinang di belah dua. Sama-sama "berisi". Hanya berbeda Emy sedikit lebih jangkung daripada Ririn.

"Aku ingin mendengar suaramu!" pinta Emy ketika usia perkenalan kami berjalan sebulan lebih.
"Aku rasa belum waktunya!" elakku
"Kenapa? Lalu kapan waktunya? Masa kita cuma smsan? Nggak seru!" desaknya.

"Aku ingin menjadikanmu inspirator dalam tulisanku, jadi aku harap saat ini kau tak perlu tau aku dulu," kilahku. Sebenarnya aku tak ingin membohonginya, tapi aku terlanjur "terbiasa" dengan kehadirannya.
Dan aku tak tau kenapa, entah aku yang terlalu pintar bersilat lidah atau Emy yang kurang pintar hingga mudah kubodohi, Emy setuju saja dengan semua persyaratanku itu.

"Mau nggak kamu jadi pacarku?"

Pertanyaan itu sebenarnya kuajukan sekali lagi hanya iseng-iseng belaka, untuk mengujinya apakah ia benar-benar termakan kata-kataku di sms.

Ponselku berdering pendek. Aku penasaran untuk segera mengetahui jawaban Emy.

"Aku mau."

Aku bersorak. Ada kebanggaan karena aku telah berhasil memikat seorang perempuan hanya dengan sms. Short Message Service. Meski juga terselip perasaan bersalah. Maklum, aku tak pernah membohongi orang sampai sejauh ini, apalagi membohongi perempuan. Pengalaman pertama yang membuatku tertantang akan bagaimana akhir dari kebohongan ini.

"Kita sudah cukup lama pacaran, Rey, aku ingin dengar suaramu, aku nggak mau hanya pacaran dengan sms-smsmu!"

Akhirnya Emy gerah juga. Segala cara dan beribu alasanku tak bisa lagi menahan keinginan Emy untuk merasakan bait kata terucap langsung dari pita suaraku.

"Aku sudah cukup sabar dengan persyaratanmu. Kalau kau masih menolak memperdengarkan suaramu, aku anggap kamu adalah perempuan yang mengisengiku dan hubungan kita berakhir!"

Emy tak main-main dengan ancamannya. Beberapa hari berlalu dan ia tak menghubungiku sama sekali, membuatku blingsatan memeras otak memikirkan apa tindakanku. Di tengah kebingunganku, aku menemukan -sekali lagi- ide gila, yakni meminta pertolongan penjaga wartel untuk berpura-pura sebagai REY. Aku mengenal laki-laki itu, suami temanku.


Setelah dengan sedikit memohon, laki-laki itu setuju. Emy bahagia, aku pun gembira. Lega. Tapi tak lama. Laki-laki itu tanpa sepengetahuanku kerap menelepon Emy, padahal aku sudah mewanti-wantinya untuk tidak merusak perjanjian kami sebelumnya.

Tak pernah kusangka sosok yang dari penampilan luar terlihat pendiam itu ternyata juga penggoda wanita. Sandiwara itu berakhir dengan teguran keras istri pria itu, meski aku telah jujur bercerita semuanya.

"Kau telah mendengar suaraku bukan, jadi aku minta kita kembali pada persyaratan awal kita untuk berhubungan hanya melalui sms" kilahku ketika Emy bertanya-tanya saat aku berhenti meneleponnya.

"Ya sudah, nggak apa-apa kau membisu lagi, tapi aku ingin fotomu!"

Perempuan itu terus terang makin membuatku kewalahan dengan permintaannya yang makin menggunung. Foto siapa yang harus kukirim? Pernah terbersit untuk mengakui sejujurnya siapa aku, tapi aku sudah terlanjur jauh berperan dalam cerita yang kudalangi sendiri. Terlalu tanggung untuk disudahi. Dan entahlah, mengapa kebohongan ini berjalan mulus banget. Aku menemukan ide mengambil sebuah foto laki-laki di situs Friend Finder, nggak kenal tuh orang sapa yang penting lumayan cakep gitu lah daripada Mandra hehehe. Dan ajaibnya, Emy percaya dan makin "cinta"!

Namun ternyata bohong itu bikin capek! Capek pikiran dan capek hati! Heran kenapa penjahat cinta bisa begitu lihai bersilat lidah dan main hati dengan beberapa orang sekaligus, sedang aku membohongi satu perempuan saja kadang otakku dibuat pusing tujuh keliling.

Akhirnya, setelah berpikir panjang. Sehari sebelum aku mengadu nasib di Jakarta, aku mengirimi Emy surat dan mengakui diriku sebenarnya.

Kejujuran seberapapun pahitnya ternyata tetap saja berakhir tidak indah! Emy marah besar, tak mau mengangkat telepon dan membalas smsku, bahkan akhirnya ia mengganti nomor teleponnya. Aku bisa memaklumi, namun kebohonganku tak seutuhnya antiklimaks...


TO BE CONTINUED...

No comments: