Perasaan itu...
Hanya aku yang tau
Bukan kamu
Kau tak lantas berhak hakimiku
Atas perasaan yang hanya kau raba dalam benakmu
Lalu kau sampaikan lewat lisanmu
Seolah semua telah kau tau
Seolah rangkaian cerita anganmu
Adalah mutlak tanpa ragu
Tapi tidak, semua fakta semu!
Yang hanya tertulis dalam fikiranmu
Dan entah bagaimana yakinkanmu
Tuk hapus alur yang terlanjur terpahat jitu
Hati yang sudah mati bisu
Hati yang membeku
Namun hati bukan masa lalu
Camkan itu!
Masa lalu tak sepicik ruang kecil dalam otakmu
Hati juga butuh belajar
Bukan hanya tuk tegar
Bangkit ketika lelah berpijar
Meski sebatas puing-puing tak berakar
Kadang aku menggerutu sendirian. Harus dengan bahasa apa lagi aku jelaskan tentang sesuatu hal padamu, sesepele apapun itu!
Habisnya kamu sibuk dengan kesimpulan-kesimpulan yang kamu buat sendiri di otakmu. Sampai bibirku monyong pun tetap saja apa yang telah kamu susun rapi layaknya skenario film di tivi-tivi itulah yang kamu anggap paling syah dan paling benar seperti keputusan juri yang punya hak prerogatif tidak bisa diganggu gugat. Lalu untuk apa aku ditanya kalau kau sudah menyiapkan jawabanmu sendiri? Penjelasan tak bermakna. Penjabaran hampa.
Ah, capek! Jurang perbedaan yang terlalu lebar tuk ditambal dengan butir-butir pasir. Meski bertumpuk-tumpuk, namun perlahan akan terkikis angin. Hanya jadi debu.
Telah kuakhiri.
Telah kau setujui.
Lelah hati.
Jikalau tak bisa memiliki.
Tak guna pula jika saling tersakiti.
Ah, lagi-lagi soal hati!
1 comment:
Jurangnya ditambal dengan cinta biar tidak terkikis angin hehehe..
Post a Comment