Kenapa saya bilang sebelumnya kalau cerita2 kesalahpahaman itu "terlambat" untuk diperbaiki... Karena kami sudah tak seperti dulu!
Adalah kata maaf yang ingin selalu kuucap pada perempuan itu, namun bukan karena merasa bersalah, tetapi lebih pada introspeksi pribadiku sendiri atas "perilaku"ku, terlebih usai kecelakaan ditabrak mobil akhir Desember lalu.
Malam itu, dengan bibir yang kadang meringis menahan sakit, perempuan pertama yang kutelfon dan kumintakan maaf adalah kamu. Padahal kalau "dihubungkan", penyebab kekosongan pikiran yang kemudian juga mengosongkan penglihatanku dan terlebih otak yang seharusnya melihat ke spion sebelum memotong jalan mendadak yang lalu beberapa detik kemudian membuatku sudah tersungkur di aspal adalah perempuan lain.
Namun percaya atau tidak, waktu kejadian itu yang kupikirkan bukan karena penyebab kecelakaanku akibat ngelamun, tapi perasaan dimana saya sudah pernah bersikap salah pada perempuan pengisi bulan Agustus dan September saya itu. Meski malam itu saya tak cerita konkrit, saya hanya berulang kali bilang maaf, sedang anda disana memandang maaf saya tak "diperlukan" karena saya tak melakoni kesalahan.
Tentang "salah" saya ini, sebenarnya saya sudah berusaha "memperbaiki" jauh2 hari. Tapi sepertinya tak membuahkan hasil. Dan memang bukan tentang hasil, karena saya hanya ingin pada koridor saya untuk memperbaiki "kesalahan manajemen komunikasi" terhadap perempuan itu. Dan perkara respon itu sepenuhnya koridor dia.
Namun seperti istilah menetesi karang dengan air, bahwa karang dan air adalah dua pihak, meski bersebrangan keduanya tetap akan mutual jika memang tujuannya sama, si karang mau ditetesi -meski susah- dan si air berkeinginan menetesi. Namun jika tak ada titik temu, entah karang terlalu kokoh atau air terlampau lelah menetesi, maka tujuan tak akan pernah tercapai. Begitu juga tentang fixing relationship... Tak akan pernah tercapai jika hanya satu pihak yang berkeinginan sementara pihak satunya tak menunjukkan gelagat sama.
23:31, Thu 12-Jan-2012
Perempuan Dalam Kata-Kata
Menulis kenangan hari kemarin, merajut cerita hari ini dan menyongsong hari esok, lusa serta nanti ...
Thursday, January 12, 2012
Cerita Hati Yang Lain
Ini tentang perempuan yang juga pernah membuat logika saya tak bertaji....
Saya beberapa kali bertemu dengan teman mainnya dan setiap ketemu selalu membahas tentangnya. Awalnya saya tak menyangka si teman yang saya kenal ini ternyata cukup dekat dan mengenal baik perempuan itu, dan... ternyata juga diceritani soal aku.
Kaget juga sih, kok aku baru tau si teman ini dapat copian cerita kami tapi versi perempuan itu. Padahal kupikir saya tidak sedekat itu dengan si teman ini. Walhasil, saat itu akhirnya dia mendengar cerita tentang kami tapi versi saya, yang kemudian terdapat perbedaan sudut pandang dan ada beberapa cerita yang "sengaja" ia hilangkan demi "kepentingan" sudut pandang tadi. Aku sempat ngakak juga sih kenapa harus menghilangkan bagian cerita demi dipandang seolah2 saya lah yang "aktif". Ah, dia kadang lucu memang. Dan si teman ini bukan sedang kucekoki versiku, tapi aku bercerita sesuai struktur advokasi bernama kronologi. Kalau mau beralibi pun, maka harus konkrit tidak ada penghilangan cerita.
"Ternyata ada beberapa cerita yang tidak ia ceritakan ya..."ujar si teman.
Ditambah ternyata banyak juga kesalahpahaman diantara kami, apa yang menurutku biasa2 saja ternyata dianggap perilaku menjengkelkan dan mengekang buatnya, sedangkan apa yang menurutku nyebelin dari perilakunya, menurutnya itu hal biasa. Hmm, kembali soal point of view yang ketika hubungan kami terjalin tak pernah sedikit pun terkomunikasikan. Baru dari si teman ini yang kemudian membongkar, meski boleh dibilang "terlambat".
00:37, Thu 12-Jan-2012
Saya beberapa kali bertemu dengan teman mainnya dan setiap ketemu selalu membahas tentangnya. Awalnya saya tak menyangka si teman yang saya kenal ini ternyata cukup dekat dan mengenal baik perempuan itu, dan... ternyata juga diceritani soal aku.
Kaget juga sih, kok aku baru tau si teman ini dapat copian cerita kami tapi versi perempuan itu. Padahal kupikir saya tidak sedekat itu dengan si teman ini. Walhasil, saat itu akhirnya dia mendengar cerita tentang kami tapi versi saya, yang kemudian terdapat perbedaan sudut pandang dan ada beberapa cerita yang "sengaja" ia hilangkan demi "kepentingan" sudut pandang tadi. Aku sempat ngakak juga sih kenapa harus menghilangkan bagian cerita demi dipandang seolah2 saya lah yang "aktif". Ah, dia kadang lucu memang. Dan si teman ini bukan sedang kucekoki versiku, tapi aku bercerita sesuai struktur advokasi bernama kronologi. Kalau mau beralibi pun, maka harus konkrit tidak ada penghilangan cerita.
"Ternyata ada beberapa cerita yang tidak ia ceritakan ya..."ujar si teman.
Ditambah ternyata banyak juga kesalahpahaman diantara kami, apa yang menurutku biasa2 saja ternyata dianggap perilaku menjengkelkan dan mengekang buatnya, sedangkan apa yang menurutku nyebelin dari perilakunya, menurutnya itu hal biasa. Hmm, kembali soal point of view yang ketika hubungan kami terjalin tak pernah sedikit pun terkomunikasikan. Baru dari si teman ini yang kemudian membongkar, meski boleh dibilang "terlambat".
00:37, Thu 12-Jan-2012
Label:
Cosmic Soulmate
Wednesday, January 11, 2012
Tidak Sedang Mellow, Kok!
Kadang saya bertanya kepada diri sendiri, apa saya sedang mellow ya kok jadi muntah semua gini rangkaian hati yang dulu kayaknya kesumbat entah apa pokoknya gak pernah bisa terhempas keluar.
Kalau pengaruh hormonal ya menurutku sih bukan waktunya, apalagi jadwal bulanan emang gak pernah tepat waktu haha jadi pengaruh hormonal adalah reason sedikit gak wajar hehe.
Mellow karena terbawa perasaan. Ini juga gak deh kayaknya! Maklum deadline dari Desember baru bisa longgar dua hari lalu dan otomatis gak ada waktu buat bawa2 perasaan segala. Dan lagian neh, ketika fungsi otakku full akselerasi maksimal melototin layar laptop kayaknya udah ga sempet mikir perasaan.
Mmm, atau karena sibuk itu sehingga ketika agak longgar sekarang jadi ada waktu untuk buang sampah pikiran, perasaan maksudnya, hehe. Gak juga ya, awal2 saya kenal dia juga lagi longgar jadwal saya tapi kenapa ga ada hasrat pengen nulis?
Hayo, dari sekian alasan kok ga ada yang bisa dicerna dan dijadikan alasan untuk validitas kenapa saya kini berhasrat menuliskan kamu. Rindu? Dulu juga selalu rindu. Kehilangan? Kayaknya saya juga sudah sembuh, sudah bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda, baik secara logika dan perasaan. Atau karena sudah mati rasa? Sehingga kata-kata tak lagi dirasa, hanya terungkap sebagai barisan bahasa saja. Tidak juga, sesiangan tadi saya agak kelimpungan dengan rindu saya usai tak sengaja menemukan gambarnya di jejaring sosial si emak2 anak tiga itu.
Waduh, kok kompleks ya, haha serumit saya ya... Padahal kalau dicerna dari atas, apa sebenarnya ujung pangkal judul tulisan ini... Pastinya negesin satu hal; saya sedang tidak mellow kok! Bukan juga karena tadi pagi habis baca artikel di yahoo bahwa menulis minimal 15 menit sehari bisa menurunkan berat badan haha *terobsesi kurus? Tidak juga haha.
03:26, Wed 11-Jan-2012
Kalau pengaruh hormonal ya menurutku sih bukan waktunya, apalagi jadwal bulanan emang gak pernah tepat waktu haha jadi pengaruh hormonal adalah reason sedikit gak wajar hehe.
Mellow karena terbawa perasaan. Ini juga gak deh kayaknya! Maklum deadline dari Desember baru bisa longgar dua hari lalu dan otomatis gak ada waktu buat bawa2 perasaan segala. Dan lagian neh, ketika fungsi otakku full akselerasi maksimal melototin layar laptop kayaknya udah ga sempet mikir perasaan.
Mmm, atau karena sibuk itu sehingga ketika agak longgar sekarang jadi ada waktu untuk buang sampah pikiran, perasaan maksudnya, hehe. Gak juga ya, awal2 saya kenal dia juga lagi longgar jadwal saya tapi kenapa ga ada hasrat pengen nulis?
Hayo, dari sekian alasan kok ga ada yang bisa dicerna dan dijadikan alasan untuk validitas kenapa saya kini berhasrat menuliskan kamu. Rindu? Dulu juga selalu rindu. Kehilangan? Kayaknya saya juga sudah sembuh, sudah bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda, baik secara logika dan perasaan. Atau karena sudah mati rasa? Sehingga kata-kata tak lagi dirasa, hanya terungkap sebagai barisan bahasa saja. Tidak juga, sesiangan tadi saya agak kelimpungan dengan rindu saya usai tak sengaja menemukan gambarnya di jejaring sosial si emak2 anak tiga itu.
Waduh, kok kompleks ya, haha serumit saya ya... Padahal kalau dicerna dari atas, apa sebenarnya ujung pangkal judul tulisan ini... Pastinya negesin satu hal; saya sedang tidak mellow kok! Bukan juga karena tadi pagi habis baca artikel di yahoo bahwa menulis minimal 15 menit sehari bisa menurunkan berat badan haha *terobsesi kurus? Tidak juga haha.
03:26, Wed 11-Jan-2012
Label:
Cosmic Soulmate
Tuesday, January 10, 2012
Rindu yang hanya bernama rindu
Jemariku yang kelu dulu saat hatiku luluh olehmu, kini mulai menari ketika kau sudah tak lagi di sisi menemani hari dan hati.
Aku pun tak pernah paham kenapa dulu ketika merajuti hampir tiap detik perjalanan waktu dengannya, tak satupun kata terjalin menjadi sebuah tulisan. Jangankan puisi, prosa hati cerita irisan takdir aku dengannya tak pernah bisa kusuguhkan lewat tarian jemari.
Dan jikalau kini berjudul-judul kisah terlontar, aku yakinkan itu bukan karena ingin bertutur buram perjalanan hati kemarin. Mungkin kala itu hatiku sedang ingin egois tak mau membagi senyum pun getirnya kepada jemari untuk diabadikan dalam rangkaian kata. Kini setelah logika juga ikut berbaur, hati pun sudah semangat berbagi.
Kini setiap benak merangkum sosokmu dalam kelebat ingatan, satu demi satu kata mengantri tuk diketikkan di ujung jempol. Semua tentangmu, bukan tentang fisikmu, so sweetmu, dan hal-hal sekecil apapun yang masih lekang di ingatanku, namun tentang rindu.
Dan sekali lagi, kau memang absurd. Aku bahkan tak bisa mendefinisi apa yang kurindukan? Kehadiranmu di sisi, kekanakanmu, pola pikirmu yang tak pernah sinkron denganku, tarian tubuhmu, atau apa? Atau kah semuanya?
Rindu itu hanya akan bernama rindu... Jemari ini terus menari, dibiarkan oleh logika yang berpola mirip ortu yang selalu ingin mengekang dan hati yang tak pernah kenal kata kapok dalam menyayangi. Menarilah jemari... Meski ia sudah tak disini, tak lagi mengiringi hati bernyanyi...
23:16, Tue 10-Jan-2012
Aku pun tak pernah paham kenapa dulu ketika merajuti hampir tiap detik perjalanan waktu dengannya, tak satupun kata terjalin menjadi sebuah tulisan. Jangankan puisi, prosa hati cerita irisan takdir aku dengannya tak pernah bisa kusuguhkan lewat tarian jemari.
Dan jikalau kini berjudul-judul kisah terlontar, aku yakinkan itu bukan karena ingin bertutur buram perjalanan hati kemarin. Mungkin kala itu hatiku sedang ingin egois tak mau membagi senyum pun getirnya kepada jemari untuk diabadikan dalam rangkaian kata. Kini setelah logika juga ikut berbaur, hati pun sudah semangat berbagi.
Kini setiap benak merangkum sosokmu dalam kelebat ingatan, satu demi satu kata mengantri tuk diketikkan di ujung jempol. Semua tentangmu, bukan tentang fisikmu, so sweetmu, dan hal-hal sekecil apapun yang masih lekang di ingatanku, namun tentang rindu.
Dan sekali lagi, kau memang absurd. Aku bahkan tak bisa mendefinisi apa yang kurindukan? Kehadiranmu di sisi, kekanakanmu, pola pikirmu yang tak pernah sinkron denganku, tarian tubuhmu, atau apa? Atau kah semuanya?
Rindu itu hanya akan bernama rindu... Jemari ini terus menari, dibiarkan oleh logika yang berpola mirip ortu yang selalu ingin mengekang dan hati yang tak pernah kenal kata kapok dalam menyayangi. Menarilah jemari... Meski ia sudah tak disini, tak lagi mengiringi hati bernyanyi...
23:16, Tue 10-Jan-2012
Label:
Cosmic Soulmate
Logika, berdamailah, aku pernah jatuh hati padanya...
Kata itu untuk kesekian kalinya diungkap hati memang, dan kali ini mujarab. Bukan karena peri memelas hati agar diterima, logikaku sedang membuka-buka ilmu ikhlas...
Ya, logika yang sekian lama menginstruksi tangan untuk mengepal pasir, kini mulai belajar melihat pasir-pasir itu dalam telapak yang terbuka. Entah ia akan ikut tersapu angin atau menetap dalam lingkaran tanganku, logika sudah bisa menatapnya dengan senyuman.
Ya, logika yang setengah mati menopang daguku untuk tetap tegap, bahwa aku bisa pongah, tak butuh sesuatu yang bernama cinta, membunuhi satu demi satu kenangan, ingatan dan semua yang bermuara pada perempuan itu dengan kepongahan berlabel harga diri. Saking congkaknya, kalau bisa kuibaratkan, logika akan sanggup membeli apapun di dunia ini agar hati tak usah lagi mengais dan berturut pada rasa yang membuatnya seperti kerbau dicocok hidungnya. Ya, logika mengakuinya... Logika itu dulu meluapkan amarah lewat apa saja, aku tau niat baiknya, ia hanya tak ingin hatiku mendung. Meski ia tau akan ada pelangi setelah badai, ia hanya tak mau ketika hujan turun ada ratapan yang mengiring serupa hujan. Logikaku menyayangi hati. Sisi maskulin logikaku kini sedang bercanda riang dengan kefemininan hati.
Logika, terima ya aku pernah jatuh hati padanya...
15:10, Tue 10-Jan-2012
Ya, logika yang sekian lama menginstruksi tangan untuk mengepal pasir, kini mulai belajar melihat pasir-pasir itu dalam telapak yang terbuka. Entah ia akan ikut tersapu angin atau menetap dalam lingkaran tanganku, logika sudah bisa menatapnya dengan senyuman.
Ya, logika yang setengah mati menopang daguku untuk tetap tegap, bahwa aku bisa pongah, tak butuh sesuatu yang bernama cinta, membunuhi satu demi satu kenangan, ingatan dan semua yang bermuara pada perempuan itu dengan kepongahan berlabel harga diri. Saking congkaknya, kalau bisa kuibaratkan, logika akan sanggup membeli apapun di dunia ini agar hati tak usah lagi mengais dan berturut pada rasa yang membuatnya seperti kerbau dicocok hidungnya. Ya, logika mengakuinya... Logika itu dulu meluapkan amarah lewat apa saja, aku tau niat baiknya, ia hanya tak ingin hatiku mendung. Meski ia tau akan ada pelangi setelah badai, ia hanya tak mau ketika hujan turun ada ratapan yang mengiring serupa hujan. Logikaku menyayangi hati. Sisi maskulin logikaku kini sedang bercanda riang dengan kefemininan hati.
Logika, terima ya aku pernah jatuh hati padanya...
15:10, Tue 10-Jan-2012
Label:
Cosmic Soulmate
Monday, January 9, 2012
Sesuatu yang tak akan kusebut sebagai luka
Malam telah beranjak larut namun mata belum mau diajak surut. Lingkaran hitam yang mengelilinginya padahal sudah diambang batas normal, meski begitu tak nampak tanda-tanda kantuk akan mendera. Tugas memang menumpuk, itu sudah berhari-hari lalu. Namun bukan itu yang membuat otak masih terjaga jam segini, hati tak mau ditidurkan. Benak ini sedari tadi terisi oleh cerita-cerita kasih medio akhir tahun yang masih menyisakan, kalau boleh dibilang melanggengkan sesuatu yang awalnya kusebut luka.
Sapaan seorang kawan lama di fesbuk, dan ini untuk berapa kalinya sejak berapa hari lalu, namun selalu tidak sukses karena sinyal buruk yang menghambat komunikasi, sama dengan malam ini. Jemariku bergerak menekan tanda panggil untuk nama perempuan ini sembari melirik keatas layar hape, waktu merangkak tepat ke pergantian hari.
Suara di seberang menyahut. Entah sudah berapa lama kami tak berjumpa suara, terakhir hanya lewat dunia maya, dan ternyata banyak cerita yang kulewatkan tentangnya dan ia sendiri mengaku mengikuti kisahku lewat timeline fesbuk. Ia mulai berkisah...
Cerita hatinya yang lumayan complicated satu demi satu terucap. Namun kucermati dalam nada dan pola bicaranya, ada sesuatu yang berbeda. Jelas perbedaan yang signifikan jika dibandingkan ketika ia bercerita kisahnya dengan derai tumpah kira2 beberapa bulan lalu. Meski alurnya sama, sad ending, namun cara ia bertuturlah yang tak sama.
Bibir yang mengantar kisah tak bahagia untuk sebuah cerita bahagia itu tak terdengar pahit di telingaku.
"Kamu tau sendiri kan kisah hidupku sedari dulu, hampir nggak pernah bahagia soal hati. Kali ini juga, besok ia menikah, dan sampai berapa jam lalu aku menemaninya. Tapi ia lantas menyuruhku pulang, melarangku esok ada di hari pernikahannya meski aku sangat ingin ada dan melihatnya. Ia tak sanggup. Sepanjang perjalanan tadi tangisku tumpah, tapi ada sesuatu yang menguatkanku..."
Ia bercerita runut. Makin kental sekali perbedaan cara ia bertutur. Ia pun bertanya cerita hatiku. Kalau mengambil benang merahnya, ada kesamaan tentang: selingkuh, laki-laki dan hati. Cerita kami memang tak sama, meski berangkat dari sebuah "kesalahan hati" yang sama. Aku belajar satu hal malam ini darinya; sesuatu itu tak akan kusebut sebagai luka. Begitu ia menyimpulkan cerita hatinya dengan perempuan itu. Karena luka membutuhkan waktu untuk sembuh, tapi ketika menguatkan hati untuk menempatkan cerita hanya dari sudut pandang indahnya saja, paling tidak kau akan lebih mudah berdamai, dengan hatimu dan yang bersangkutan.
Menilik ke dalam cerita hatiku, ia berprasangka bahwa aku sedang terluka. Aku membantah, bukan membela diri. Terlepas dari bagaimana caraku, aku menganggap pola yang kubikin untuk perempuan yang hingga detik ini ada dalam nafasku adalah pola terbaik yang aku bisa. Aku tak membencinya, aku membenci diriku sendiri yang memberikan hatiku padanya.
Aku selalu berujar, tendensinya padaku adalah urusan ia dengan pemberi hidupnya, sedangkan koridorku adalah bagaimana aku menata sikap dan hatiku untuknya. Marah pun, aku bukan marah padanya, tapi dengan diriku sendiri. Oleh karenanya aku sepakat ketika perempuan di ujung telepon ini berujar tak akan menyebut sesuatu ini sebagai luka. Terlepas dari aku masuk pada hubungan yang salah ataupun menjatuhkan hati pada perempuan yang salah, aku bersyukur meski dalam realitas pola hubungan komunikasi verbalku kini dengannya tergolong baku, namun jauh dalam palung terdalamku aku menjaganya dalam doa dan caraku menyayangnya.
Setiap pola akan menimbulkan persepsi. Dan aku tak hidup dalam persepsi orang lain. Bukan meyakini bahwa bagaimana aku berkeputusan adalah selalu benar, tetapi paling tidak hanya aku dan pemberi hidupku yang tau apa yang dilafalkan di awal oleh hati.
Kau, sesuatu yang tak akan kusebut sebagai luka, aku hanya belum sembuh dari logika yang mencengkerammu di kepal tanganku dan melihatmu sedikit demi sedikit perlahan mengalir keluar dari celah jemari.
Sapaan seorang kawan lama di fesbuk, dan ini untuk berapa kalinya sejak berapa hari lalu, namun selalu tidak sukses karena sinyal buruk yang menghambat komunikasi, sama dengan malam ini. Jemariku bergerak menekan tanda panggil untuk nama perempuan ini sembari melirik keatas layar hape, waktu merangkak tepat ke pergantian hari.
Suara di seberang menyahut. Entah sudah berapa lama kami tak berjumpa suara, terakhir hanya lewat dunia maya, dan ternyata banyak cerita yang kulewatkan tentangnya dan ia sendiri mengaku mengikuti kisahku lewat timeline fesbuk. Ia mulai berkisah...
Cerita hatinya yang lumayan complicated satu demi satu terucap. Namun kucermati dalam nada dan pola bicaranya, ada sesuatu yang berbeda. Jelas perbedaan yang signifikan jika dibandingkan ketika ia bercerita kisahnya dengan derai tumpah kira2 beberapa bulan lalu. Meski alurnya sama, sad ending, namun cara ia bertuturlah yang tak sama.
Bibir yang mengantar kisah tak bahagia untuk sebuah cerita bahagia itu tak terdengar pahit di telingaku.
"Kamu tau sendiri kan kisah hidupku sedari dulu, hampir nggak pernah bahagia soal hati. Kali ini juga, besok ia menikah, dan sampai berapa jam lalu aku menemaninya. Tapi ia lantas menyuruhku pulang, melarangku esok ada di hari pernikahannya meski aku sangat ingin ada dan melihatnya. Ia tak sanggup. Sepanjang perjalanan tadi tangisku tumpah, tapi ada sesuatu yang menguatkanku..."
Ia bercerita runut. Makin kental sekali perbedaan cara ia bertutur. Ia pun bertanya cerita hatiku. Kalau mengambil benang merahnya, ada kesamaan tentang: selingkuh, laki-laki dan hati. Cerita kami memang tak sama, meski berangkat dari sebuah "kesalahan hati" yang sama. Aku belajar satu hal malam ini darinya; sesuatu itu tak akan kusebut sebagai luka. Begitu ia menyimpulkan cerita hatinya dengan perempuan itu. Karena luka membutuhkan waktu untuk sembuh, tapi ketika menguatkan hati untuk menempatkan cerita hanya dari sudut pandang indahnya saja, paling tidak kau akan lebih mudah berdamai, dengan hatimu dan yang bersangkutan.
Menilik ke dalam cerita hatiku, ia berprasangka bahwa aku sedang terluka. Aku membantah, bukan membela diri. Terlepas dari bagaimana caraku, aku menganggap pola yang kubikin untuk perempuan yang hingga detik ini ada dalam nafasku adalah pola terbaik yang aku bisa. Aku tak membencinya, aku membenci diriku sendiri yang memberikan hatiku padanya.
Aku selalu berujar, tendensinya padaku adalah urusan ia dengan pemberi hidupnya, sedangkan koridorku adalah bagaimana aku menata sikap dan hatiku untuknya. Marah pun, aku bukan marah padanya, tapi dengan diriku sendiri. Oleh karenanya aku sepakat ketika perempuan di ujung telepon ini berujar tak akan menyebut sesuatu ini sebagai luka. Terlepas dari aku masuk pada hubungan yang salah ataupun menjatuhkan hati pada perempuan yang salah, aku bersyukur meski dalam realitas pola hubungan komunikasi verbalku kini dengannya tergolong baku, namun jauh dalam palung terdalamku aku menjaganya dalam doa dan caraku menyayangnya.
Setiap pola akan menimbulkan persepsi. Dan aku tak hidup dalam persepsi orang lain. Bukan meyakini bahwa bagaimana aku berkeputusan adalah selalu benar, tetapi paling tidak hanya aku dan pemberi hidupku yang tau apa yang dilafalkan di awal oleh hati.
Kau, sesuatu yang tak akan kusebut sebagai luka, aku hanya belum sembuh dari logika yang mencengkerammu di kepal tanganku dan melihatmu sedikit demi sedikit perlahan mengalir keluar dari celah jemari.
Label:
Cosmic Soulmate
Sunday, January 8, 2012
Kepongahan Otak
Dan hujan turun lagi. Dan hujan lagi yang temani. Masih dengan nuansa sama... Kamu yang terejahwantahkan melalui bulan. Bulan yang tak terbit malam ini, tepatnya ia bersembunyi di balik tangis langit.
Teringat semalam, sebelum sapaan di fesbuk itu buliran air tengah meretas dari mataku. Bukan karena terlampau lelah dengan deadline. Airmata tanda matinya kepongahan logika. Namun ia tak benar-benar mati ternyata!
Saya sendiri heran, biasanya ketika melepaskan ganjalan, derai yang tumpah adalah cara terjitu, karena seiring tetesan yang jatuh pun mengalir sungai recovery. Tak hanya hati yang berlega, namun logika pun berlegawa. Tapi entahlah, untuk kisahku kali ini, logikaku lebih dari sekedar congkak.
Pernah merasa, hati ingin berteriak sementara logika mematikan semua sistem syaraf ke mata untuk tak memproduksi airmata? Begitu kira-kira yang kuamati dan kurasakan sejak akhir Desember lalu.
Setiap kali hati mempropaganda mata untuk mendayu sayu, otak memang tergerak memformasi sosok perempuan itu dalam benak, tapi ketika mata hendak memproduksi sungai kelegaan, ia tercekat. Ada sesuatu dalam saraf otak yang tegas melarang. Bukan hanya larangan tangis, larangan rindu dan larangan lain tentang perempuan itu.
Hei otak, kenapa kau sebegitu congkak? Tak tau kah kau hampir sebulanan aku sudah mirip robot tak berperasaan, hanya seperti mesin bekerja tanpa ekspresi muka.
Tak ada waktu untuk menangis! Otak, kau sedang berlindung dibalik tumpukan pekerjaan yang memang menanti untuk terselesaikan, tapi kepongahan apa ini sampai-sampai buliran ini kau bunuh untuk tak menetas bahkan di kelopak mataku!
Otak, saya letih!
19:17, Sun 8-Jan-2012
Teringat semalam, sebelum sapaan di fesbuk itu buliran air tengah meretas dari mataku. Bukan karena terlampau lelah dengan deadline. Airmata tanda matinya kepongahan logika. Namun ia tak benar-benar mati ternyata!
Saya sendiri heran, biasanya ketika melepaskan ganjalan, derai yang tumpah adalah cara terjitu, karena seiring tetesan yang jatuh pun mengalir sungai recovery. Tak hanya hati yang berlega, namun logika pun berlegawa. Tapi entahlah, untuk kisahku kali ini, logikaku lebih dari sekedar congkak.
Pernah merasa, hati ingin berteriak sementara logika mematikan semua sistem syaraf ke mata untuk tak memproduksi airmata? Begitu kira-kira yang kuamati dan kurasakan sejak akhir Desember lalu.
Setiap kali hati mempropaganda mata untuk mendayu sayu, otak memang tergerak memformasi sosok perempuan itu dalam benak, tapi ketika mata hendak memproduksi sungai kelegaan, ia tercekat. Ada sesuatu dalam saraf otak yang tegas melarang. Bukan hanya larangan tangis, larangan rindu dan larangan lain tentang perempuan itu.
Hei otak, kenapa kau sebegitu congkak? Tak tau kah kau hampir sebulanan aku sudah mirip robot tak berperasaan, hanya seperti mesin bekerja tanpa ekspresi muka.
Tak ada waktu untuk menangis! Otak, kau sedang berlindung dibalik tumpukan pekerjaan yang memang menanti untuk terselesaikan, tapi kepongahan apa ini sampai-sampai buliran ini kau bunuh untuk tak menetas bahkan di kelopak mataku!
Otak, saya letih!
19:17, Sun 8-Jan-2012
Label:
Cosmic Soulmate
Subscribe to:
Posts (Atom)