Membuka hati, mencoba tepatnya. Karena aku sendiri tidak terlalu yakin hati yang mana yang hendak kubuka, malahan kalau boleh kupertentangkan dan memang kerap terjadi dialektika diantara pikiran, aku masih punya hati kah? Itu mungkin pertanyaan besarnya. Tapi tentu saja jangan diartikan dalam definisi denotatif. Tiap makhluk tentu punya hati.
Fokus hidupku saat ini hanyalah berusaha mewujudkan kehidupan yang lebih baik, bukan untukku sendiri karena dipundakku kini tertulis tanggung jawab orangtua semata wayang, perempuan yang mengandung dan melahirkanku. Otakku hanya terperas untuk itu. Cukup bikin mumet. Dan rasanya sudah terlampau penuh untuk memikirkan hal lain. Mencari cinta maksudnya, karena mempertahankan jelas tak mungkin. Hari-hari yang selalu dan selalu begitu jelas-jelas tak untuk diperlama, meski jeda waktu untuk mulai terbiasa juga tak singkat. Ah, aku sedang tak ingin membahasnya.
Berulang aku berkata; tak ada waktu mencari cinta. Aku berpikir bahwa ketika kehidupanku sudah tak disibukkan meraih dan menggapai buliran rupiah dengan susah payah, pendamping akan mengikut dengan sendirinya. Tapi tak bisa kunafikan bahwa keinginan untuk ditemani, atau paling tidak disemangati -dan bukannya dimarahi dan di curigai- untuk meraih sesuatu dalam hidup oleh orang terkasih kadang terbersit. Meski kemudian ada ketakutan mengiring.
Ya, aku menyebut itu sebuah ketakutan. Dan sekali lagi jangan diartikan sebagai makna sebenarnya. Sejak aku membuka diri mencari pasangan perempuan kurang lebih empat tahun lalu, perempuan yang pernah tersemat di hatiku boleh dibilang bisa dihitung dengan jari. Meski sebuah pengecualian ketika untuk pertama kali hatiku terobek aku mencari tambalannya dengan begitu banyak penambal. Walhasil, tangan-tangan yang mungkin sengaja kubiarkan merogoh tempat paling sensitif -kata Ari Lasso- itu malah compang-camping. Aku kapok!
"Suatu saat kau akan menemukan orang yang lebih baik!" seru si pembuat lubang di hatiku itu dengan nada tenang seolah tak menyadari bahwa hati yang masih bersemi oleh sosoknya ini sontak beku seketika.
"Kapan itu akan terjadi?" Aku merutuk karena entah kenapa sejak itu hari-hari sepanjang hidupku hanya beralih dari satu kenalan ke kenalan lain.
"Aku yakin suatu saat kau akan menemukannya. Dan jikalau sekarang begini, mungkin waktu tsb belum datang kepadamu!"
Ucapannya doeloe kini terngiang di kupingku.
"Shit!" Aku mengumpat dalam-dalam. Waktu tsb sampai detik ini belum datang padaku.
Berelasi dengan orang-orang baru, ya dulu aku mulai melakukannya. Bahkan sampai tak hafal nama mereka satu persatu. Tapi untuk sekarang ini, kurasa umurku sudah tak lagi muda melakoninya. Lagian, malas!
Mengenal sosok yang tak pernah kutemui, dalam dunia maya pula, malas! Membahas umur, kegiatan sehari-hari dan basa-basi lainnya. Hah, makin malas saja.
Aku sudah setahun di jogja, dari selentingan aku tahu beberapa tempat kumpul lesbian di kota ini, tapi lagi-lagi, malas!
Ah, kurasa aku juga mulai muter-muter. Apa mauku sebenarnya? Mungkin dibilang sederhana tapi susah direalisasikan. Bisa tidak menemukan seseorang yang klop tanpa perlu kenalan sana-sini, mulai dari facebook sampai Mirc, paling tidak, untuk berbagi? Karena jujur, aku sudah terlampau malas menjajaki seseorang dengan basa-basi sampai basi.
Ya mungkin jawabannya memang cuma satu, aku memang belum waktunya menemukan orang yang tepat! Ah pusing juga mikirin begituan ya! Anyone can help? Just rescue me!