Cosmic Soulmate
Just #Me and #MyJourney
Wednesday, January 1, 2014
Kaleidoskop 2013
2013, itu….
Januari
Saya masih gencar mengusahakan takdir bersama dengan pengisi hati yang tak terganti, meski telah sebulanan juga mengenal orang baru yang cukup menyenangkan menemani keseharian via media online BBM.
Februari.
Pertemuan kedua yang membuat ketertarikan untuk kedua kali. Menyambangi ruang ia menghabiskan hari sehari-hari bersama orang yang mendampinginya lebih dari sepuluh tahun. Namun bukan cemburu yang kurasai, bahkan pernyataan untuk menjaga perempuan yang sama-sama kami sayangi, tentu saja dengan pola dan batasan yang berbeda, namun tak menyurutkan hakikat menyayangi yang paling hakiki. Malam itu, perempuan itu berbalut syal biru, ringkih tubuhnya terbatuk dalam intensitas lumayan sering. Namun demi pertemuan kedua ini, ia merelakan tubuhnya dihempas ngin malam merayakan ulang tahunnya yang terlambat.
Maret
Ketakutan saya cukup kuat. Mengetahui perempuan yang tak terganti telah memakai cincin di jemari. Ada pedih yang setengah mati kubunuh dengan lari. Tapi hanya kian menambah murka hati dan beragam sumpah serapah tak terperi.
April
Saya mulai marah. Marah pada kenyataan semakin dekat puncak sakit hati ini dan marah akan hidup yang hanya begini-begini. Kemarahan yang berbuah sumpah tak akan menghadiri hari bahagia yang merupakan hari kematian hati saya. Kemarahan akan membakar selembar kertas berisi nama perempuan tak terganti itu bersanding dengan nama lelaki yang bahkan tak kukenal namun kubenci setengah mati. Dan keinginan meninggalkan kota yang hampir lima tahunan memberi saya kisah untuk hijrah ke kota yang bahkan saya entah tak pernah menjamah. Jangan mengambil keputusan di kala marah, pepatah yang benar adanya….
Mei
Saya sejak dulu percaya takdir, bahwa semua yang terjadi dalam hidup sudah ada lajurnya hanya tinggal dilewati, meski kadang saya pun mempertanyakan kenapa lajurnya begini atau begitu. Namun di awal mendapati takdir di bulan Mei, saya masih belum genap untuk percaya, apalagi menyenyuminya.
Akhir Mei yang merubah segalanya. Sekitar lima hari berada di kota perempuan yang statusnya masih saya garis bawahi sebagai sebuah ketertarikan intelektual, pun waktu itu saya berada di areal ruang dan waktu dengan perempuan tak terganti. Bayangkan, sebegitu usilnya Tuhan mencandai saya dengan dua perempuan pengisi hati yang tentu saja Tuhan tau porsinya masing-masing di hati saya. Lima hari yang kemudian menaikkan status ketertarikan intelektual menjadi ketertarikan seksual. Dan memudarkan cemburu pada perempuan tak terganti yang menjadi bayang-bayang ketakutan sebelum saya mengambil keputusan untuk ikut ambil peran dalam lima hari di kota ini. Saya tak cemburu, saya malah jatuh cinta. Meski kembali cinta terlarang.
Dan Tuhan yang mengamati, mungkin menyenyumi, bagaimana waktu itu saya mengambil keputusan untuk menekuni hal baru yang alasan awalnya adalah pelarian agar tak perlu menghadiri kematian hati saya di Bulan Juni. Ya, bulan ini adalah pergolakan awal di tengah tahun.
Juni
Saya akhirnya digariskan untuk menekuni hal baru tersebut, dengan keterbatasan dan kemaksimalan ketidaktahuan saya, namun yang pasti saya senang belajar. Pergolakan awal yang kian tercampur dan teraduk. Hati dan hidup, keduanya begitu sibuk di bulan ini. Sama-sama belajar. Pun hati yang meningkat status dengan kehadiran perempuan itu di kota saya beberapa kali. Dan kian dekatnya hari yang waktu itu saya sebut sebagai hari kematian hati saya. Namun, meski takdir katanya sudah ada lajurnya, tapi menyimpan rahasia alur yang tentu saja saya tak dapat contekannya.
Tidak ada hari kematian. Perempuan yang meningkat statusnya menjadi tertarik secara seksual itu drastis meningkatkan kuota hati saya yang dulu terisi perempuan tak terganti. Ia masih taknterganti, hanya merelakan ia bahagia, menjadi tujuan saya, bukan lgi keinginan memiliki yang menteror dan mencipta status kematian hati saya di bulan ini. Dan saya menyaksikan dan melewati hari yang dulu saya sebut hari kematian hati saya dengan tawa dan canda serta ledekan si perempuan yang naik status itu.
Waktu merubah segalanya, mmm.. waktu tak merubah, hanya menjedakan perubahan kisah dan keputusan hati, mungkin begitu…
Juli
Takdir itu kayak ombak, gak pernah tau kapan gede kapan kecil, meski bisa diprediksi, walau tak pasti. Bulan lalu jatuh hati, maka bulan ini ada sebuah kabar yang membuat saya kabur. Saya turut andil mendoakan perempuan yang sudah naik tingkat itu, tetapi ketika doa tersebut dikasi cash oleh Sang Pemberi Hidup, saya malah tak terima. Saya memilih kabur, menata hati maksud saya.
Agustus
Tak terprediksi saya dipertemukan dengan sepupu yang beberapa tahun lalu mengisi benak saya karena kekontroversiannya, Hijaber yang ada hati meski tersembunyi. Pun hingga bulan ini, ia masih hangat dan dekat meski ortunya yang adalah tante dan om saya memberi sekat. Tetap saja, sekat adalah batas diantara perbedaan yang serupa jurang, saya memilih mundur. Sia-sia, begitu kesimpulan saya untuk bersabar pada proses yang menurut saya menyia-nyiakan waktu, pikiran dan semua tentang kami berdua yang tak bisa disatukan.
Bulan ini saya sakit. Ya, raganya memang tak sehat, namun jiwanya lah yang justru sedang tak waras. Pemikiran untuk mengambil keputusan tentang masa depan menggerogoti raga saya hampir setengah bulan. Untuk sebuah keputusan hidup di awal bulan depan….
September
Keputusan hidup diambil. Memutuskan untuk meneruskan. Dengan menyisakan keraguan. Ya bukan kemantapan. Untuk hati, kabur sudah berakhir, meneruskan hand in hand dengan pola yang hanya dimengerti oleh saya dan perempuan yangbudah naik tingkat itu.
Oktober
Teman-teman baru dan keinginan untuk berhenti. Lelah digerogoti pikiran dan pemikiran ketidakadilan dan harga diri. Pun mengenal orang yang membawa perubahan karakter diri. Belajar mengelola ego, tentu tidak mudah serupa membalik telapak tangan, tetapi tak ada kata cukup untuk terus mencoba…
November
Dipertemukan. Mungkin itu topik yang tepat bulan ini. Saya memang meminta dipertemukan dengan KW 3 si perempuan yang naik tingkat itu, eh Tuhan malah kasi KW1 nya alias si perempuan yang naik tingkat itu. Melihat perubahan tubuh namun tak merubah adanya saya dan perempuan itu. Menyempatkan diantara kesempitan. Bahkan tak ada pikir ulang untuk setiap keputusan. Saya dan dia harus bertemu, takdir atau tidak, tetapi saya ngotot sama Tuhan saya harus ketemu perempuan itu. Meski dengan perut yang mengeras karena kecapaian. Meski lampu-lampu tempat makan tak bersahabat memberi batas jam hingga pukul sepuluh malam saja. Dan kegoblokan saya tak mengantarnya pulang. Namun terima kasih pada ruang dan waktu yang mempertemukan kami. Walau motto yang menjadi mengibaratkan kami adalah bersama tak harus saling sama-sama.
Dan pertemuan tak terduga lainnya adalah dengan perempuan tak terganti. Dengan kondisinya yang juga tak terduga. Namun apapun ia, ia tetap saja perempuan tak terganti.
Mencintai tak sama dengan menyayangi, meski mencintai adalah irisan menyayangi. Perempuan tak terganti yang saya cintai, dan perempuan naik tingkat yang saya sayangi. Bukan tentang membagi hati. Tentang porsi dan posisi di hati.
Desember
Sepertinya September terulang di bulan ini. Mulai goyah. Dan ternyata raga lagi yang kena batunya, dengan kondisi persis serupa September. Namun kali ini belum memutuskan. Tentu saja ada yang berbeda… Setelah sekian waktu belajar mengelola, lumayan ada kemajuan pun kemunduran. Kemunduran bukan dalam arti negatif. Hanya mundur tak lagi bisa percaya mulut manusia. Lock my pandora, throw the key to the sea…
365 hari, 12 bulan dan 31.536.000 detik di 2013, tak ada kesimpulan, sedetik lalu sudah menjadi masa lalu, detik depan tak pernah tau apa itu masa depan, maka di detik ini menjadi kini yang semoga selalu menjadi tempat belajar untuk terus lebih baik lagi.
Welcoming 2014… Be [more] tough!
Sunday, September 29, 2013
Refleksi ; Ngaca
Berkaca, kalau diartikan dalam arti sebenarnya, aktivitas ini jarang sekali kulakoni. Melihat ke kaca hanya kulakukan ketika merapikan rambut jabrik atau mencoba wardrobe baru, malahan aku menggunakan medium cermin untuk mengetahui bentuk wajahku ketika berekspresi. Mana yang membuat wajah keliatan lebih ganteng, haha OOT narsis!
Balik soal ngaca, yang hendak kutuang tentu saja makna kiasannya yang terhubung dengan irisan takdir bersama seseorang yang memasuki hidupku akhir-akhir ini. Aku mendengar namanya lumayan lama, tetapi baru menemukan sosoknya di kegiatan yang diselenggarakan kantorku sekitar akhir september ini. Komentar awalku adalah perempuan ceking ini diluar ekspektasi imajinasiku tentang sosoknya. Aku mungkin pernah bercerita bahwa aku punya hobi mengimajinasikan sosok orang dari namanya. Entah sudah tak terhitung berapa orang, namun perempuan tak terganti dan perempuan mirip artis itu adalah salah duanya, dan perempuan ceking ini menjadi salah tiganya. Dan seperti hasil akhir rekaan sosok dari sebuah nama seseorang yang selalu berakhir diluar yang diharapkan, maka begitu juga adanya perempuan ini.
Aku mengimajinasikannya sebagai seorang yang berperawakan tinggi besar dengan bobot lumayan berisi, potongan rambut setengah ikal sebahu. Aku tak mengimaji karakternya, hanya fisiknya semata. Maka, ketika pertama kali menjabat tangannya malam itu, aku tertawa dalam hati. Salah total -lagi-. Tapi jangan mengira aku kapok sudah tak terhitung salah imajinasi atas nama atau suara orang yang belum pernah bertemu. Bagiku, imajinasi ini seperti sebuah hobi yang kuyakini tak akan berhenti meski sudah salah berulang kali.
Awalnya, tak ada yang istimewa. Telingaku memang sudah banyak dicekoki tentangnya, tetapi tentu saja telingaku juga ada filternya. Seberapapun informasi yang masuk kalau aku tak melihat, mendengar dan merasai sendiri, semuanya buatku belum terbukti validitasnya. Maka aku mulai mencerna perempuan ceking ini…
Sebuah refleksi awal yang kusebut sebagai berkaca itu aku melihat ceritanya sama denganku. Ada beberapa irisan yang sama, seperti soal keteguhan dan maskulinitas pikiran tentang bagaimana bertahan dan mempertahankan hidup, juga tentang semangat serta mengatur alur hidup. Aku memaknainya sebagai sebuah proses berkaca dan sebuah proses yang menciptakan energi baru yang kalau boleh dibilang semangat yang mungkin bukan baru tetapi redup dan kini menyala kembali. Aku menemukan semangat itu dari tumpukan masa lalu, kenangan, luka-luka, kecewa dan sekaligus perhentian-perhentian waktu yang melumpuhkanku. Aku percaya mengubah sesuatu yang mengakar di lapisan microchip otak di alam bawah sadar bukan hal yang akan instan, namun menemukan penyemangat yang entah aku sendiri belum terlalu membiarkannya masuk di kehidupanku bukan barang tentu kebetulan terjadi, bukan? Maka aku tak membiarkan perempuan ceking ini berdiri di depan pintu terlalu lama. Aku sedang menyilahkannya menyambangi ruangan-ruangan yang kunamai otak, hati, mulut, pikiran, benak, rasa dan bagian lain yang tak terhitung tetapi pastinya adalah aku seutuhnya.
Dan proses berkaca dalam artian inilah yang kugemari karena di setiap proses itu aku seperti tengah memegang korek api yang akan tersulut bukan untuk terbakar dan menjadi abu tetapi berkobar menyalakan simpul yang mati suri.
Ya, aku sedang menata pohon yang mengering dengan dedaunan baru bernama harapan…
Friday, September 13, 2013
Love @ First Sight
Saya tak seberapa percaya ungkapan tsb. Urusan hati butuh dijajaki, bukan semata urusan instan dari mata ke hati. Tetapi bukan tak pernah mengalami. Bukan kah kesan pertama terkadang menentukan segalanya?
Untuk kisah cintaku contohnya, bagaimana pada kesan pertama aku begitu tak ‘tertarik’ pada cinta pertamaku. Kecewa bahkan rasa yang ada saat itu. Tapi dua jam berikutnya berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi sebuah ketergantungan perasaan yang disebut cinta terkewer-kewer. Beda lagi dengan kesan pertamaku kepada perempuan mirip artis itu. Sejak pertama menyambutku dengan senyuman dan suluran uluran tangan, maka sejak itu pulalah hatiku jumpalitan kegirangan. Meski kugarisbawahi sebagai sebuah ketertarikan fisik dan intelektual awalnya. Kesimpulannya rasa itu memang kerap terjadi di pandangan pertama, namun butuh sebuah proses yang membuat nanti endingnya akan naik tingkat atau musnah seiring perjalanan waktu.
Maka begitu pulalah ceritaku untuk benda tak hidup alias barang yang menjadi kebutuhan, semisal tas, sepatu, sendal, baju dan kaca mata. Kali ini aku hendak bercerita tentang benda yang terakhir kusebutkan itu. Sebenarnya hampir sama saja di semua benda yang kuingini aku termasuk susah untuk menerapkan love at first sight. Oleh karenanya, membeli barang-barang tsb seperti jauh lebih sulit seperti menetapkan hati pada satu orang kekasih. Pilihan sih banyak, tetapi memilah dan memilih seperti tengah mencari jarum di tumpukan jerami. Gak ketemu, begitu juga kadang ujung-ujungnya dan memang tak bisa dipaksa serta memaksakan diri. Kalau belum sreg di hati apa boleh buat, meski peluh sebesar biji jagung hibrida tetap memilih pulang dengan tangan hampa.
Malah yang terjadi kadang adalah sedang tak ingin beli, eh kok pas nemuin yang sreg di hati, jadi ya dibeli. Atau hendak beli barang A, eh ngeliat barang B, buntutnya malah beli barang B gak jadi barang A.
Kalau cerita tentang kaca mata, aku memang berniat mencari kaca mata putih untuk dipakai di malam hari ketika berkendara guna menghindari hewan atau benda apapun yang kemungkinan masuk ke mata. Karena memasang kaca helm di malam hari terlalu gelap mengganggu penglihatan. Dan aku kemudian jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa ada jeda untuk menengok dan mencari lainnya. Ya, kepada kaca mata putih berframe hitam dengan gagang merah. Warna merahnya yang membuatku jatuh cinta pertama kali karena aku sungguh menggilai warna merah, lalu ketika pantulan cermin menyuguhkan wajahku pantas dalam balutan merah itu aku jatuh cinta kedua kali. Lantas ketiga, kelima dan berkali-kali jungkir balik mencintai dengan mengenakannya di keseharianku.
“Apa sih fungsi kaca mata yang bukan kaca mata minus juga bukan plus?” komen seorang teman.
“Paling cuma buat gaya-gayaan!” sebuah suara teman lain.
Pastinya, memang banyak suara-suara yang mayoritas sumbang ketika aku melingkarkan gagang merah kaca mata itu di kedua telingaku, tapi jelas saja aku tak terpengaruh, yang penting fungsional buatku, tentang efek kepantasan lainnya yang mengandung komen negatif semisal nggaya, narsis lan sejenisnya, buatku malah kujadikan bonus. Bukankah sebuah benda yang secara fungsional lalu bernilai lebih untuk hal-hal lain memang layak disebut bonus a.k.a nilai tambah? Tak perlu pusing apa kata orang, toh orang tsb tak membayari nilai tukar rupiahku yang melayang.
Maka begitulah cerita cinta pada pandangan pertamaku kepada si kaca mata merah…
Saturday, September 7, 2013
Canon in D
Bukan merk kamera, tetapi sebuah lagu instrumental yang diciptakan Johann Pachelbel. Aku mulai menyukai dan kerap memutar ulang di kupingku sejak menonton film Korea My Sassy Girl, film lawas sih tapi kalo gak salah waktu itu jadi belajar buat lebih menurunkan ego dan membahagiakan orang yang kita sayang ketimbang mati-matian dengan ego sendiri.
Beberapa kali aku menontonnya ibarat lagu wajib healing my ego kala itu yang sedang belajar atau lebih tepatnya menyesal telah egois dan berusaha memperbaiki diri dengan copy cat dari sumber mana pun, termasuk film ini. Maka, lagu ini pun menjadi daftar wajib putar di playlist-ku, dari semua versi.
Usut punya usut, di suatu perbincangan dengan si Kakak, ternyata aku baru tau kalo lagu itu Lagu yang kerap dipakai untuk pengiring nikah.
“Dulu, waktu mau nikah, gue ditawari dua lagu, salah satunya lagu itu, tapi gue pilih lagu satunya,”
Hmm, maka sejak itu Canon in D akan jadi wedding song saya!
Friday, August 30, 2013
Sama-Sama Anjing!
Eits, jangan mikir negatif dulu, saya bukan sedang mengumpat lho! Saya malah sedang menceritakan saya dan #uhuy yang sama-sama anjing!
Dalam perhitungan cina, ketika lahir di tahun yang sama maka aku dan perempuan itu sama-sama punya shio yang sama, yaitu anjing. Dan menelisik karakter diantara kami berdua pantaslah ada hal-hal yang hampir sama, tentang karakter, cara berpikir dan beberapa hal lainnya.
Aku sih baru nyadar kalau shio kami sama, selama ini kukira persamaan karakter kami di banyak hal karena kami sama-sama bungsu (kalau tak salah aku pernah menuliskannya beberapa waktu lalu). Ternyata, selain itu kami adalah sama-sama warga anjing. Tapi yang paling kentara, dari segi karakter, pemikiran dan perilaku yang mempunyai similarity ya karena kami bungsu.
Jadi, sebagai warga anjing yang akan menyalak bagi orang asing yang dianggap threat dan menggigit pada orang jahat, tetapi akan setia dan protect orang yang disayang, maka begitulah anjing!
Tuesday, August 27, 2013
Alone but Not Lonely
Siang. Sepi. Tapi tak sendiri. Ini kali kedua saya ke tempat ini seorang diri. Biasanya saya mengajak atau diajak beberapa teman kemari. Paling tidak aku berada di keramaian ini tak sendiri. Maklum, aku paling canggung berada di suatu tempat apalagi ramai, sendirian, pasti saya merasa tak nyaman dan buru-buru pulang.
Tapi kali ini langka. Entah kenapa saya memang pengen sendiri. Seperti biasa, dengan sugesti di kepala saya. Pe er notulen saya sedang banyak dan kalau garap di kamar, sikon duduknya tak bikin nyaman. Saya butuh tempat mengetik dan mendengarkan rekaman yang tidak terlalu bising. Nah, kafe ini pilihannya! Siang ia masih sepi, tapi kalau sorean dikit udah rame.
Saya kesana sekitar jam 12-an. Masih sepi dan mulai ketak ketik sembari memesan milkshake cokelat dan club sandwich kegemaran saya. Saya bawa air putih, maklum banyak duduk juga harus disertai banyak minum juga, bukan? Dan senangnya, modus sendiri ini malah sukses bisa bikin saya fokus dan produktif. Dan gawean pun terkirim!
Bahwa tak selamanya sendirian itu seorang diri… Trust me, it works!
Sunday, August 25, 2013
Even Drunk is Not Enough
Nge #BirSore. Saya menamakannya demikian! Ini mungkin dikarenakan kebuntuan. Ya, saya sudah tak tahu lagi harus dengan cara apa menyembuhkan raga yang tak kunjung terlepas dari penyakit yang berganti-ganti, bahkan recordnya hingga dua mingguan ini.
Awalnya, saya kira ini efek kecapekan karena badan tak enak ini mulai datang menyerang sehari setelah kembali dari kampung halaman usai lebaran. Masuk angin dan diare memang sudah terasa saat perjalanan. Lalu hari ketiga berganti demam. Lalu biduran. Setiap sehabis mandi badan bentol-bentol kemerahan. Dan saya masih merasa ini adalah akibat peralihan dari air di jawa timur dengan air disini. Logika yang cukup masuk akal bukan? Kemudian menjadi tak masuk akal ketika raga saya drop kian menjadi-jadi. Flu yang tak kunjung berakhir, sampai malah ditakut-takuti kena AIDs segala, dan batuk yang kemudian melanda. Ada apa dengan tubuh saya?
Bahkan ketika memilih membuka botol Carlsberg sore ini pun, saya tidak yakin akan sembuh. Hanya saja, katanya, minuman mengandung alkohol dapat menghangatkan badan. Untuk sore ini saya menaikkan level minum saya. Biasanya hanya seperempat dan selesai, saya meminta orang lain menghabiskannya. Tapi ini, meski bertahap dari sore hingga malam, es batu menemani buliran rasa pahit yang kukecap sesruput demi sesruput.
Dan sekuat apapun raga dihangatkan, penyakit yang sebenarnya bukanlah melekat di penopang badan ini, melainkan isinya. Sesuatu yang tak pernah bisa diukur oleh kecanggihan medis mana pun. Pikiran.
Penyakit saya cuma kepikiran pikiran yang mikirin hal-hal yang tak terselesaikan dengan hanya mikir, tapi saya memikirkannya! #sakit
Subscribe to:
Posts (Atom)