Aku mudah jatuh cinta? Benarkah? Aku mengajukan pertanyaan itu kepada diriku. Dan jawabnya... MUNGKIN. Karena tak kupungkiri ketika ada orang baru menggelitik hatiku, aku merasakannya. Tersenyum, tertawa, kalau boleh kubilang sih hepi-hepi nggak jelas gitu sih. Tapi mudah dag dig dug mudah pula ilfilnya jika ternyata sosok yang menggelitik itu hanya mampu memesona mata, bukan hatiku.
Akankah ia mengalami nasib seperti sosok-sosok sebelumnya? Entah kenapa aku semakin banyak pertimbangan. Selain masalah hati bukanlah prioritas buatku saat ini.
Namun perempuan ini bukanlah wajah baru. Aku mengenalnya telah hampir tiga tahunan. Ini kali kedua kami bersua. Wajah lama penampilan baru. Bagaimana tidak, tubuhnya lebih berisi daripada setahun lalu ketika untuk pertama kalinya aku menemukannya duduk sendiri menantiku di terminal dengan getaran-getaran aneh menjalari segenap nadiku.
Ketika itu aku bukan apa-apa. Aku masih sibuk menata hidupku. Pun menata perasaanku atasnya. Perasaan yang kuduga juga tumbuh di dasar hatinya namun cepat-cepat ia patahkan karena keberadaanku saat itu tengah menjadi milik orang lain. Ia mungkin memandangku tak serius. Meski aku hanya mencoba menjabarkan bagaimana perasaan itu memang benar ada tapi tak untuk memiliki dan dimilikinya.
Kini kondisinya berbalik, aku tak punya siapa-siapa, sedang ia tengah bimbang oleh dua orang yang sedang beradu mendapatkan hatinya. Ia berkisah kegamangannya tentang kedua orang tsb. Nampak ia menguji apakah aku akan masuk dalam arena aduan untuk memperoleh tempat di hatinya, meski tak kupungkiri rasa itu belum sepenuhnya mati. Namun satu hal yang tak akan kulanggar sebagai prinsip yang selalu kujunjung tinggi: aku tak suka kompetensi, apalagi hanya untuk memperebutkan perempuan.
Perasaannya padaku memang hanya siratan. Ia sepertinya tak mau mempertontonkannya, bahkan mencoba membungkusnya rapat-rapat, meski aku bisa menangkap seraup wajah yang mencuri-curi pandang.
Jual-mahal. Aku menyebutnya demikian. Padahal jika merunut kembali ke belakang, beberapa bulan setelah kami saling mengenal tiga tahun lalu, ia terang-terangan ingin menjalani hari-hari denganku meski via telepon, namun kala itu aku menolak. Aku belum bertemu muka dengannya, maka aku tak ingin berspekulasi membina hubungan tanpa rupa.
Ia mungkin kecewa. Tapi kami tetap bersahabat. Hingga setahun lalu kami saling mengetahui sosok masing-masing dan membalikkan keadaan. Dan pertemuan kedua ini entah hendak kunamakan apa, bingung, sama nggak jelasnya dengan perasaanku.
Awalnya aku memang hendak menantang hatiku. Apakah rasa itu masih ada diantara jeda waktu hampir setahun dengan frekuensi komunikasi teramat jarang? Dan ia benar datang. Bergelut antara logika hati dan perasaan serta fakta, aku akhirnya mengurungkan niatku mencari jawab. Pergeseran yang kemudian kupilih untuk perempuan yang hampir tiga tahunan ini kukenal. Yah, perasaanku atau bahkan perasaannya kini tak lagi penting. Melihat ia mereguk senyuman dalam menjalani pergantian waktu adalah saat-saat aku membungkus rapat perasaan untuk kemudian kuremas dan kulempar jauh dari relung terdalamku.
Love still not my priority, I guess, for now.
Seperti Saya
11 hours ago

