Wednesday, December 16, 2009

MUDAH JATUH CINTA

Aku mudah jatuh cinta? Benarkah? Aku mengajukan pertanyaan itu kepada diriku. Dan jawabnya... MUNGKIN. Karena tak kupungkiri ketika ada orang baru menggelitik hatiku, aku merasakannya. Tersenyum, tertawa, kalau boleh kubilang sih hepi-hepi nggak jelas gitu sih. Tapi mudah dag dig dug mudah pula ilfilnya jika ternyata sosok yang menggelitik itu hanya mampu memesona mata, bukan hatiku.

Akankah ia mengalami nasib seperti sosok-sosok sebelumnya? Entah kenapa aku semakin banyak pertimbangan. Selain masalah hati bukanlah prioritas buatku saat ini.

Namun perempuan ini bukanlah wajah baru. Aku mengenalnya telah hampir tiga tahunan. Ini kali kedua kami bersua. Wajah lama penampilan baru. Bagaimana tidak, tubuhnya lebih berisi daripada setahun lalu ketika untuk pertama kalinya aku menemukannya duduk sendiri menantiku di terminal dengan getaran-getaran aneh menjalari segenap nadiku.

Ketika itu aku bukan apa-apa. Aku masih sibuk menata hidupku. Pun menata perasaanku atasnya. Perasaan yang kuduga juga tumbuh di dasar hatinya namun cepat-cepat ia patahkan karena keberadaanku saat itu tengah menjadi milik orang lain. Ia mungkin memandangku tak serius. Meski aku hanya mencoba menjabarkan bagaimana perasaan itu memang benar ada tapi tak untuk memiliki dan dimilikinya.

Kini kondisinya berbalik, aku tak punya siapa-siapa, sedang ia tengah bimbang oleh dua orang yang sedang beradu mendapatkan hatinya. Ia berkisah kegamangannya tentang kedua orang tsb. Nampak ia menguji apakah aku akan masuk dalam arena aduan untuk memperoleh tempat di hatinya, meski tak kupungkiri rasa itu belum sepenuhnya mati. Namun satu hal yang tak akan kulanggar sebagai prinsip yang selalu kujunjung tinggi: aku tak suka kompetensi, apalagi hanya untuk memperebutkan perempuan.

Perasaannya padaku memang hanya siratan. Ia sepertinya tak mau mempertontonkannya, bahkan mencoba membungkusnya rapat-rapat, meski aku bisa menangkap seraup wajah yang mencuri-curi pandang.
Jual-mahal. Aku menyebutnya demikian. Padahal jika merunut kembali ke belakang, beberapa bulan setelah kami saling mengenal tiga tahun lalu, ia terang-terangan ingin menjalani hari-hari denganku meski via telepon, namun kala itu aku menolak. Aku belum bertemu muka dengannya, maka aku tak ingin berspekulasi membina hubungan tanpa rupa.

Ia mungkin kecewa. Tapi kami tetap bersahabat. Hingga setahun lalu kami saling mengetahui sosok masing-masing dan membalikkan keadaan. Dan pertemuan kedua ini entah hendak kunamakan apa, bingung, sama nggak jelasnya dengan perasaanku.

Awalnya aku memang hendak menantang hatiku. Apakah rasa itu masih ada diantara jeda waktu hampir setahun dengan frekuensi komunikasi teramat jarang? Dan ia benar datang. Bergelut antara logika hati dan perasaan serta fakta, aku akhirnya mengurungkan niatku mencari jawab. Pergeseran yang kemudian kupilih untuk perempuan yang hampir tiga tahunan ini kukenal. Yah, perasaanku atau bahkan perasaannya kini tak lagi penting. Melihat ia mereguk senyuman dalam menjalani pergantian waktu adalah saat-saat aku membungkus rapat perasaan untuk kemudian kuremas dan kulempar jauh dari relung terdalamku.

Love still not my priority, I guess, for now.

Thursday, December 10, 2009

MENGENAL ORANG BARU

"Ntar sore aku maen tempatmu ya?"
Aku tertegun membaca pesan singkat di ponselku kemarin. Dari seseorang yang baru beberapa hari kukenal, tepatnya dikenalkan seorang teman. Jemariku bergerak menuliskan balasan.
"Maaf. Jangan dulu deh kayaknya."
Tak berapa lama aku mendapat sms balasan. Mutung, istilah jawanya. Alias ngambek-ngambek gak jelas. Namun bagiku itu jalan tengah dari ketakutanku.
Mungkin terdengar lucu ketika aku menggolongkan bertemu orang-orang baru sebagai sebuah ketakutan. Beberapa tahun lalu, ketika aku merasa masih muda, adalah mudah untuk mengenal orang-orang baru dengan tangan terbuka. Patah tumbuh hilang berganti. Tetapi kini aku merasa umurku sudah terlampau tak muda untuk mengulangnya. Karena itu aku menamakannya sebuah ketakutan.

Logikanya, menemukan perempuan yang click tanpa mengenal, adakah mungkin? Nah, itu yang hendak kucari jawab.

Sunday, November 15, 2009

Menanti Sebuah Jawaban

Layaknya judul sebuah lagu, kini aku juga tengah risau. Menanti jawab akan sesuatu yang belum pasti dan teramat kuragukan akan terkisah dalam kehidupanku.

Kapan, kapan dan kapan? Aku selalu melantangkan kata itu. Kata yang tak pernah -dan semoga saja hanya belum- kutuai jawab. Aku sedang meracau, ya aku memang tengah kacau oleh pertanyaan yang tak pernah -dan sekali lagi semoga saja belum- kudapatkan jawabnya.

Jawaban pertautan hati. Untuk siapa hati ini akan berlabuh. Kapan, kapan dan kapan? Karena hati ini sudah letih. Hati sedang menunggu sesuatu yang pasti. Kapan, kapan dan kapan? Haruskah aku terus dan selalu bertanya -berharap-.

Terapi berpikir positif. Aku sedang menyelami buku itu. Bahwa pikiran mempengaruhi perasaan, sikap, hasil dan segala sesuatu yang merefleksikan apapun dari diri kita. Tergantung kemana kita membawa arah pikiran kita. Negatif dan positif.
Aku bukan tengah menahkodakan balutan pikiran dengan berburuk sangka pada Tuhan bahwa ia tak menciptakan seseorang yang terbaik untuk menemani dan menyempurnakan hidupku, tapi pertanyaan kapan, kapan dan kapan? terasa salahkah jika aku memenuhi pikiranku dengan tanya yang tak kunjung kupetik jawab itu?

Tanyaku adalah sangka positif agar jawab itu lekas-lekas kureguk. Aku percaya segala sesuatu telah digariskan, dibentangkan dan dipamerkan dengan cara yang kadang unik untuk ditelusur dengan nalar dan logika. Semoga...

K A M U F L A S E

Seolah-olah...
Seakan-akan...
Pretend that...
Sepertinya...
Look like...
Nampaknya...

Padahal,

Sesungguhnya...
Sebenarnya...
Actually...
Exactly...
Sejatinya...

Tak ada.
It's nothing.

Apakah anda bingung?
So do I

Friday, November 13, 2009

Thank God I Found You

Thank God I found you

I was lost without you

My every wish and every dream

Somehow became reality

When you brought the sunlight

Completed my whole life

I'm overwhelmed with gratitude

Cause baby I'm so thankful

I found you

Ia menyukai lagu ini
Kerap mendengungkannya
Aku pun menyukai lagu ini
Namun tak pernah tau judulnya
"Apa judul lagu ini?" tanyaku.
"Thank God," jawabnya.
And thank's God I found u then .... :)

Wajahmu Mengalihkan Duniaku

Ketika kau lewat di bumi tempat ku berdiri
Kedua mata ini tak berkedip menatapi
Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu

Tujuh hari dalam seminggu
Hidup penuh warna ku coba mendekatimu
Memberi tanda cinta
Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku

Hey .. Hey .. Hey.. Pesonamu
Dan wajahmu mengalihkanku

Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu

Tujuh hari dalam seminggu
Hidup penuh warna ku coba mendekatimu
Memberi tanda cinta
Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku

Hidupku penuh warna
Ku selalu mendekatimu memberi tanda cinta hooo ooo..

Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku

Mengalihkan duniaku
Mengalihkan duniaku
Mengalihkan duniaku

Sunday, November 1, 2009

KOS-KOS-AN BELOG!

Perempuan belia itu awalnya hanya mondar-mandir sembari senyam-senyum ketika aku ngobrol bersama tiga penghuni kos lain. Bahkan ketika ia ikut nimbrung, ia masih sibuk dengan dunianya sendiri bergelut dengan hape dan pikiran yang kadang melayang. Tetapi ketika satu demi satu penghuni kos berhamburan dengan urusan masing-masing, menyisakan perempuan itu dan aku yang juga akan beranjak, perempuan itu lekas-lekas membuka mulut menahan langkahku. Ia berubah seratus delapan puluh derajat dari yang tadinya cuma diam aja, tiba-tiba langsung nyerocos. Memperkenalkan diri. Menanyai aktivitasku. Dan sebuah pertanyaan yang membuatku sangat tercengang.
"Mbak, mbak tau kan temenku yang kayak cowok itu?"
Aku mengangguk. Beberapa malam lalu aku mendengar suara gaduh diluar. Ketika menengok ke depan, ternyata ada penghuni kos baru. Dua diantara mereka berambut pendek.

"Kemarin temenku itu nyuruh aku nanya-nanya apakah mbak dan mbak yang itu (perempuan itu menunjuk perempuan berambut pendek di dalam kamar) adalah butchy?"
Kontan aku terperangah. Perempuan itu tanpa tedeng aling-aling bertanya.
Awalnya, aku cukup kebingungan menjawab, namun perlahan kujelaskan sekaligus memberi pengertian bahwa di lingkungan sini masih belum terbuka soal hal itu. Ia mengangguk-angguk mengerti. Dan sejak obrolan itu, hampir tiap aktivitasku tak pernah luput dari pantauan dan komentarnya.
Sebuah realita yang membuatku tertawa. Bagaimana tidak, dulu aku pernah bercerita anak ibu kos ternyata belok. Lalu ada seorang perempuan berambut cepak lagi yang kadang kugiring mengakui kelesbianannya. Ditambah seorang penghuni lagi yang juga belum mau mengakui. Lah, terakhir perempuan yang masih duduk di bangku SMU ini yang jelas-jelas mengungkap orientasi seksual sang teman namun menampik dirinya mempunyai orientasi seksual yang sama. Wah, kos-kos-an kok makin banyak anak-anak beloknya, selain perempuan-perempuan berjilbab nan pendiam di lantai atas.