Tuesday, February 9, 2010

PERUBAHAN YANG BAIK

Masih ingat ceritaku tentang seorang straight yang mengiraku menyukainya lalu menabuh genderang perang dengan mengobarkan keacuhannya padaku. Entah kenapa sejak beberapa waktu lalu sang waktu seolah sengaja menyilahkan kami untuk kerap bertemu. Bukan hanya agenda besar sebuah aliansi, pun sebuah pameran lembaga di universitas bergengsi di Yogyakarta.

Seperti biasa, usai ia menabur "permusuhan" padaku, aku pun bersikap tak terlalu menggubris bahkan menganggapnya seolah tak kenal. Tapi aku merasakan sebuah perubahan. Ia tak sesinis dulu. Ia malah kerap memulai obrolan dan bersikap ramah, lain dari perempuan yang kutemukan dulu.

Ia menyapa dengan lambaian tangan dan senyuman ketika kami dipertemukan di pameran lembaga sebuah universitas. Sungguh bertolak belakang ketika di event yang sama setengah tahun lalu ia bersikap seolah tak mengenalku, bahkan sebuah senyuman basa-basi. Dan perubahan itu bukanlah satu-satunya, sebuah hajatan besar aliansi yang membuat kami diharuskan bertemu muka kian membuat pikiran dan terutama sikapku padanya jadi campur aduk. Bagaimana tidak, kekakuan itu masih kental kutebar. Maklum, aku tak ingin pemikiran bahwa aku mempunyai rasa padanya masih bersemayam di benaknya.

Dan sebuah keanehan terjadi. Waktu itu telah beberapa kali rapat mempertemukan kami. Seperti sore itu ketika tiba-tiba seorang teman pria yang akrab dengannya tiba-tiba menyodoriku ponselnya.
"Siapa?" tanyaku sembari mengerutkan alis.
"Temanmu,"
Aku menerima uluran handphone seraya membaca nama yang tertera di layar monitor. Nama perempuan itu. Aku mendekatkan ponsel ke kuping dengan segudang pertanyaan panjang silih berganti memenuhi otakku.


Apa maksudnya pria itu memberikan hpnya padaku? Padahal ia tahu perempuan itu hanya ingin bertanya denah tempat pertemuan kami itu. Apa perempuan itu menceritakan "perseteruan" kami pada pria itu? Lalu apa saja yang diceritakannya?

Masih banyak pertanyaan di otakku hingga aku tak berkonsentrasi pada pendengaranku akan suaranya. Aku lalu mengalihkan ponsel ke teman lain, meski dengan pertanyaan yang belum terjawab. Hari-hari berikutnya, sikapnya manis. Ia bahkan memberikan permintaanku esok hari setelah ku sms malamnya. Sungguh perubahan yang baik. Dan matanya... Mata itu kini berani beralih padaku, tak seperti beberapa bulan lalu ketika matanya bahkan tak menolehku sedikit pun. Yah, semoga kekakuanku dapat cepat terlunturkan oleh perubahan 180 derajatnya.

Sunday, January 31, 2010

KTPKU PRIA: KEJUJURAN YANG FATAL!

Baru pada kejadian ini aku memaknai sebuah kejujuran adalah kehancuran alias sesuatu yang mungkin jangan dilakukan.

Kejadiannya beberapa hari lalu ketika aku ingin membuka rekening di sebuah bank swasta yang sedang berpromosi tak dikenakan potongan tiap bulannya. Beberapa teman kantor telah mencoba dan aku mengekor. Petugas customer service hanya seorang, aku masuk antrian, menunggu dengan jangka waktu lumayan lama. Akhirnya, tibalah giliranku. Perempuan itu melayangkan mata dari celana pendek yang kukenakan sampai mulutku yang tak berhenti mengunyah permen karet. Ia mempersilahkanku duduk. Tak ingin mengulang penjelasan tentang seluk beluk tabungan, ia membarengkanku dengan lelaki yang juga akan membuka rekening. Disinilah kesalahan fatal itu dimulai.

Perempuan itu meminta kartu identitasku. Aku menyerahkannya. Dengan jujur aku menjelaskan bahwa ada kesalahan pada penulisan jenis kelamin dalam KTP itu. Disana tertulis PRIA. Perempuan itu sontak kembali mengarahkan mata dari mulai ujung kaki hingga rambut cepakku.
"Wah, kok bisa begitu, mbak?" sahutnya dengan nada "aneh". "Apakah ada identitas lain?"
Aku menggeleng.
"Sebentar ya!"
Perempuan itu membawa dan menunjukkan kartu identitasku pada perempuan lain di sebuah ruangan, mungkin atasannya. Tak lama ia kembali dengan permintaan maaf.
"Maaf, mbak, kami tidak bisa membukakan rekening karena identitas adalah prinsip. Mungkin kalau ada kartu keluarga atau identitas lain baru kami bisa membantu!" dalihnya panjang lebar yang pada intinya bersifat tolakan.

Aku jelas kecewa, bukan hanya telah mengantri cukup lama, tetapi juga lantaran kenapa kesalahan penulisan jenis kelamin itu dipermasalahkan jikalau aku sudah jujur mengatakan, pun ia juga tahu kalau aku perempuan, lalu apa lagi? Tahu begitu, aku tak usah jujur saja, toh ia tak akan menyadari kesalahan penulisan itu. Malah aneh saja menurutku. Padahal dulu ketika aku membuka rekening di bank negeri di kampung halamanku persoalan jenis kelamin ini tak menjadi masalah, aku tetap bisa buka, lalu kenapa disini harus seribet ini? Aku tak habis pikir! Tapi aku akan mencoba di bank yang sama namun di cabangnya yang lain, dengan tidak akan mengatakan kesalahan jenis kelamin itu. Aku sangat penasaran akan bagaimana hasilnya!

Ini kali pertama aku kepentok masalah administratif akibat kesalahan penulisan jenis kelamin itu. Beberapa teman telah mewanti-wanti tentang masalah ini sebelumnya tapi aku menganggap itu tak akan terjadi, meski juga ada satu teman yang punya ide cemerlang bahwa untuk urusan administratif aku telah bisa menikahi perempuan menurut hukum yang berlaku di negeri ini. Hmm, jadi malah bingung, enaknya ganti KTP atau tidak ya? Pasalnya KTP itu kadaluarsa hingga 2013. Aku sih terfikir, mending kubilang ktpku hilang saja, lalu aku bikin lagi ktp baru hehehe toh kesalahan itu bukan kesengajaanku, melainkan petugas di kampung ketika aku pindah dari Probolinggo ke kota asal ibuku padahal ia tahu betul aku perempuan karena jelas-jelas aku yang menyerahkan berkas-berkas kelengkapan semua anggota keluargaku padanya. Gitu ya masih salah, ampyun deh!

Monday, January 25, 2010

RINDU 1/2 MATI

Aku baru tertidur kurang lebih sejam ketika kudengar suara orang muntah. Aku bergerak bangun. Saat melihatku ia minta tolong diambilkan kantong plastik. Ia jackpot. Aku beranjak kembali ke pembaringanku, lantas tak lama aku mendengar suara isakan. Kali ini bukan hanya mengagetkanku. Aku dan seorang teman menengoknya. Perempuan itu sedang terisak, bahkan meraung, meski matanya tak meneteskan airmata. Aku kebingungan, pun temanku yang semalam menjadi rivalnya beradu menenggak campuran Mansion rasa jeruk sedang aku hanya menjadi juri kengelanturan mereka. Ia menyuruh kami pergi. Kami angkat kaki dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang dipikirkan temanku, bagiku perempuan yang masih terdengar terisak dan sesenggukan itu mempunyai sesuatu yang dipikirkan hingga ke alam bawah sadarnya.

Ada yang tak selesai di hatinya. Ia memang pernah beberapa kali bercerita, namun aku meyakini isakan itu menyiratkan persoalan yang lebih dalam dari apa yang telah ia ceritakan. Aku tak hendak mengetahui apa, hanya saja aku memikirkan betapa tersiksanya ketika seseorang harus merasakan getir hidup bahkan ketika sampai di alam bawah sadar?

Waktu menjelang subuh ketika aku terjaga dari mimpi kala fajar hari ini. Mimpi seperti biasa mungkin hanya hiasan tidur. Tapi ini lain, aku merasa dadaku begitu sesak hingga secara otomatis buliran air meretas dari mataku. Mitos semasa kecil mungkin akan menjebakku pada alasan aku lupa baca doa sebelum tidur tadi. Aku tak sedang menghindar, tapi rasa sesak itu adalah imbas dari rentetan peristiwa yang diputarkan otak ketika aku sedang berada di alam bawah sadar. Ini bukan kali pertama aku terjaga dengan bantal basah, sudah beberapa kali dan aku mulai merasa ada yang tak selesai dengan hatiku. Di alam nyata, aku boleh-boleh saja bersenandung seolah-olah persoalan-persoalan hidupku telah kututup rapat dan kusimpan rapi untuk tak kubuka-buka kembali dalam perpustakaan tua di otakku, tapi nyatanya tak ubahnya isakan perempuan itu tangis sesenggukanku mungkin mempunyai tafsir yang sama dengan persoalan berbeda.

Aku tak tahu temanku itu punya persoalan apa hingga membekas ke alam bawah sadar, tapi untuk pagi tadi jelas-jelas aku memapah seorang anak kecil di bahuku, berlari, seperti menyelamatkan anak itu dari musuh. Dan ketika sampai di suatu ruang kosong, kami bermain dan bercanda tawa. Ia merindukanku sebesar aku merindunya. Lalu segerombolan orang mengepung dan mengambilnya dariku, menyisakan sesenggukan yang kemudian menjabani alam nyataku. Seperti biasa aku menyelesaikan tangis itu hingga kelegaan menyeruak dari relung terdalamku, kemudian tanganku dengan cekatan menuliskan.

Wajah anak kecil itu tak asing. Aku begitu mengenalinya. Mungkin -bukan mungkin, tapi benar- aku merindunya. Tak kesampaian di alam nyata karena ketegasan lafalku menerima untuk tak bisa mendengar celoteh riangnya, ternyata alam bawah sadarku menyuguhkan kebalikannya. Aku masih merindunya, diakui atau tidak!

Merunut titik-titik air yang pernah membekas ketika mataku terjaga pagi hari, tak selang lama aku teringat almarhum ayah, ibu dan kakak. Aku pun merindu akan masa dimana dulu aku melaluinya bersama mereka sebagai sebuah kesatuan tetapi saat itu tak terasa istimewa, malahan seringkali dibumbui percekcokan. Mungkin hal biasa, mengingat seseorang tak selalu mempunyai kesepahaman pikiran. Namun, memutar ulang masa, seperti ada "penyesalan" disana, kenapa waktu itu tidak begini-begini, kenapa malah begitu-begitu.

Ada yang tak selesai pada hatiku. Lisanku boleh saja berkata semua telah dapat kuatasi, namun faktanya alam bawah sadar tak bisa dibohongi. Jikalau hanya karena lupa tak baca doa sebelum tidur, maka mulai besok akan aku tempelkan tulisan dalam benakku untuk mendendangkan nada-nada karya Tuhan sebelum memejamkan mata.

Rindu 1/2 mati, seperti nada gubahan D'massive, itulah intinya. Aku merindukan hal-hal yang di alam nyataku telah kugariskan sebagai suatu cerita yang telah padam, namun ternyata belum terselesaikan. Merindu bukan berarti ingin mengulang persis seperti kejadian atau perasaan yang dulu, hanya saja alam bawah sadar masih belum bisa dan menganggapnya sebagai sebuah cerita yang unfinished. Merindukan hal-hal yang dulunya tak berasa istimewa, namun setengah mati peralihan alam ketika mataku terpejam menjejal dan menciptakan rindu yang menganga.

Aku rindu, setengah mati kepadamu...
Sungguh kuingin kau tau...
Aku rindu setengah mati...

Sunday, January 17, 2010

LOVE @ 1st Sight

Love at first sight. Dalam kamus hidupku aku tak mengenal pepatah itu. Tapi hati dan perasaan kemudian memporakporandakannya dalam hitungan waktu tak sampai sejam. I dont know what happen to my heart, its beating so fast.

Dan kenapa harus perempuan itu? Aku malahan bertanya balik pada hati tempat bersarang perasaan dan desiran-desiran aneh itu. Namanya kukenal cukup lama dengan segala cerita yang membuntut tanpa kutahu benar tidaknya, namun ini kali pertama aku melihat sosoknya. Ia datang dan ada insiden kecil diantara kami, dari pihak perempuan itu tepatnya. Aku bahkan tertawa dalam hati ketika untuk pertama kali ia menatapku seperti musuh, lalu ketika mengetahui namaku ia jadi "akrab".

Justru insiden itu yang kemudian membuatku memperhatikannya. Second sight, third sight then every sight. Mataku hampir tak pernah lepas, meski sebatas curi-curi pandang. Beberapa kali mata kami berkontak. Menambah detakan-detakan aneh di hati. Once again, what happen to my heart? I still didn't know the answer.

Parahnya, perempuan itu protes ketika suatu kali aku perhatian pada seorang teman perempuan. Dari matanya aku bisa membaca bahwa ia agak tak terima dengan perlakuan istimewa itu. Tetapi aku anehnya malah kian sengaja "mengistimewakan" temanku seolah membenarkan isi pikiran perempuan itu. Langkah yang salah karena kemudian ia menghilang. Tet tot. Kebodohan pertama. Dan kemudian berlanjut ke kebodohan-kebodohan selanjutnya.

Karena logika dan perasaan beradu secara bersamaan. Di satu sisi hati tak kuasa menolak untuk menampung benih yang siap tumbuh, sedang logika mencekoki sisi hatiku yang lain untuk segera membasminya. Kepada orang yang salah, begitu wanti-wanti otak pada hati. Meski seorang teman berkata untuk tak melarang cinta terlarang itu bersemi.

Hah, logika beradu hati, entah mana yang kupilih aku belum memutuskan. Apakah ini hanya euforia, aku juga belum dapat mendefinisikannya. Aku hanya ingin menikmati perasaan ini tanpa ada batasan-batasan tanpa bukti yang menghalangi. ST 12 mempersilahkanku dengan lagunya BIARKAN AKU JATUH CINTA, Gita Gutawa mengalunkan nada KUCINTA DIA. Hmm, dua lagu yang pagi tadi sampai ke telinga hatiku ketika pergi ke warnet pagi-pagi tadi.

Love at first sight memang tak pernah ada dalam kamusku, tapi mulai beberapa waktu lalu aku telah menyiapkan lembaran-lembaran kosong yang lain daripada sebelumnya. Bukan hanya soal hati, tetapi dalam semua hal. Menikmati dan menemukan hal-hal baru sepanjang itu positif dan tidak merugikan, aku akan lakoni. Dan mungkin love at first sight adalah salah satu lembar baru yang siap untuk kutuliskan.

Monday, January 4, 2010

T . T . T . M

TTTM, aku tidak sedang salah ketik. Memang itulah yang ingin kutulis. TTTM, bukan TTM. Aku mendengarnya ketika iseng mengikuti sebuah film yang diangkat dari blog Raditya Dika, KAMBING JANTAN. Teman Tapi Tidak Mesra, aku ngakak ketika kepanjangan TTTM sampai ke telingaku. Hmm, berangkat dari ungkapan itu aku jadi teringat dua hal yang baru-baru ini terjadi di hidupku. Teman Tapi -memang- Tidak Mesra.
Sebelumnya, aku terngiang ucapan yang digemakan seorang teman kantor, berbunyi: "Perasaan cinta itu dapat tumbuh kapan dan dimana saja tanpa ada satu pun yang bisa menghalangi, tetapi kontrol dari dalam hati kita sendiri tentang bagaimana keberlanjutan/ketiadaan perasaan tsb lah yang akan menalar apakah perasaan itu akan diteruskan atau hanya dirasakan saja tanpa ada realisasi apa pun." Ungkapan itu kemudian menohokku dan menjadi bahan pikiranku tentang dua hal yang menyelimuti kalbu.
Adalah suatu malam ketika aku membuka sebuah pesan pendek yang kukira berasal dari seorang yang kunanti balasnya, tetapi bukan. Sms itu dari orang lain. Tepatnya perempuan yang telah kusematkan janji bahwa aku tak akan mengirim sms atau meneleponnya terlebih dahulu. Pasalnya, selepas ia menjejakkan kakinya di depan pintu kamarku beberapa waktu lalu, hanya aku yang memulai obrolan, meski sebatas apakah ia telah sampai di kotanya atau kah belum. Bagiku, meski hanya formalitas, tetapi aku memandang kalau aku tak menanyakan kabarnya nanti dikira tidak sopan de el el. Karenanya, tak apalah beberapa kali aku memulai obrolan, tapi setelah kucerna kok selalu aku yang memulai. Apakah karena perdebatan kami tentang perasaanku dan perasaannya serta keputusan yang kemudian dipilih untuk menggarisbawahi perasaan itu hanya sebatas sahabat sehingga membuatnya mungkin sedikit diatas angin hohoho aku tak senaif itu dan memutuskan untuk tak lagi perlu memulai hubungan. Dan malam itu smsnya benar mampir di ponselku.
"Apa kbr? Lg dimana?"
Pertanyaan klise. Kami beberapa kali berbalas obrolan klise, hingga pengakuannya mencengangkanku. Ia tengah bersama kekasih hatinya.
Entah kenapa jemariku kemudian kelu. Kupikir kemengertianku akan situasinya kini telah dapat kurealisasi hingga ke hati, ternyata tidak. Cemburu itu masih ada. Jemariku yang kelu kubiarkan kram. Aku tengah di keramaian, tetapi malah hampa dan merasa sepi. Bibir yang menebar senyum dan tawa kosong. Ah, aku mungkin terlalu larut!
Esok paginya smsnya telah menyambangi ponselku. Tak kubalas. Jemari hatiku masih kelu. Siangnya baru kutekan tuts dengan isi pesan mengada-ada. Kali ini lebih gila. Kekasih hatinya yang menjawab. Membuka cerita yang telah tertutup, meski tak rapat. Perempuan itu rupanya masih menyimpan semua pesan pendek perdebatan perasaan kami usai ia kembali ke kotanya. Aku boleh dibilang tak menyangka ia akan menyimpannya, apalagi kemudian terbaca oleh kekasih hatinya.
Yang menjadi pertanyaanku kemudian adalah kenapa perempuan itu masih menata rapi semua sms yang kukirim padahal jeda waktu antara kepulangannya ke kotanya dengan malam itu kurang lebih terpaut tiga mingguan. Tiga minggu bukan waktu yang singkat untuk menumpuk sms2 baru yang datang kemudian, tapi kenapa smsku tak dihapusnya kalau ia tahu itu akan berpotensi menjadi sebuah persoalan? Oke lah, aku tak ingin berspekulasi menjawab hal itu. Yang paling urgen adalah keingintahuan kekasih hatinya atas perdebatan perasaan yang tertuang lewat sms yang bahkan aku telah lupa itu. Maklum saja, kupikir perdebatan itu tak akan terlalu dipermasalahkan mengingat "kesepakatan" kami untuk tetap dan akan selalu menjadi sahabat saja sampai kapan pun adalah yang utama bagiku. Meski memang kekasih hatinya lalu tak mempersalahkan, namun buntutnya si kekasih hati kian sering menyapa berpura-pura layaknya ia adalah sohibku dengan bahasa dan ungkapan yang tak pernah dilontarkan sohibku semisal kangen de el el. Ada apa dengannya?
Belum kudapat jawabannya, ada lagi persoalan berikutnya. Seorang teman lagi, dan juga kekasihnya. Tapi untuk yang ini aku merasa hanya kekuatiran berlebihan terhadap pasangannya. Tapi aku juga jadi mikir dan ngambil kesimpulan agak lucu serta nggak nyambung, ternyata bukan status janda aja yang rentan dalam hubungan relasinya dengan orang lain, jomblo juga ternyata rentan menjadi sorotan diantara persahabatan yang terjalin, padahal persahabatan tsb jauh lebih dulu bersemi ketimbang cerita cinta mereka.
Balik soal TTTM, Teman Tapi Tidak Mesra, gak ada yang salah, bukan?

Sunday, January 3, 2010

REFLEKSI dan RESOLUSI

Tahun 2009 adalah tahun yang cukup penuh perjuangan. Diawali dengan pontang panting kesana kemari untuk survive di bulan-bulan pertama, kemudian menemukan secercah titik terang ketika mulai bergelut dalam dunia LSM, dunia yang tak pernah kusentuh sebelumnya. Mencoba mengibarkan sayap untuk menuai hasil dari hobi yang kugemari, menulis. Dengan mengayuh sepeda menemui editor, menambah relasi dengan bergabung di komunitas penulis perempuan di Jogja yang juga baru mulai merintis. TANAMA, Tanpa Nama. Anggotanya masih berjumlah tak lebih dari tujuh tetapi masing-masing mempunyai potensi disela kesibukan masing-masing. Cerpen pertamaku dimuat di bulan Juni di mingguan grup Kedaulatan Rakyat, menyusul sebuah opini pendek. Cerpen kedua di bulan Agustus dan ketiga pertengahan November yang ditutup sebuah opini pendek di akhir November.
Pemacu semangat untuk terus menulis dan selalu belajar lebih baik, serta juga lebih sabar. Pasalnya, menanti kapan novelku akan naik cetak membutuhkan kesabaran atas alasan waiting list dan deadline novel-novel lain yang mengantri untuk diterbitkan lebih dulu. Tapi aku juga belajar, mengoreksi lebih detil hasil karyaku, seperti yang dituturkan sang editor. Yah, aku memang masih sangat perlu dan harus banyak belajar dalam dunia penulisan.
Tahun 2009 dan masalah hati. Mungkin terlalu membosankan jika aku selalu bercerita tentang fluktuasi hubungan yang kemudian anti klimaks di akhir tahun dengan perempuan dua tahunan ini. Aku tak ingin mengungkitnya. Tahun 2009, usiaku 27 tahun. Usia yang sebenarnya tak kunantikan tapi mengingatkanku akan seseorang. Usia itu menyadarkanku bahwa ketika seseorang berada pada usia tiga tahun menjelang tiga puluh tahun itu hal-hal yang dipikirkan dalam berelasi adalah menata hidup ke depan, tak untuk main-main. Ketika aku mengecap usia itu, aku baru bisa merasakan dan cukup dapat memaklumi ketika dulu aku terbuang mentah-mentah meski hatiku saat itu tengah merona. Dua puluh tujuh tahun kemudian kukeramatkan sebagai pertanda dan ujung tonggak pemahamanku pada sebuah relasi yang tak lagi hanya memikirkan ketemu, pergi makan atau bahkan cuma untuk bobok bareng.
Banyak yang tlah terlewati di tahun 2009, kematian beruntun, yang membukakan mataku bahwa aku harus lebih kuat dari apapun. Aku yang belum melek atas apa yang dilemparkan dunia terhadapku kini harus terjaga dan lebih kuat, meski kadang angin yang menerpa membuatku tergoncang tetapi aku tetap dan akan selalu percaya IA yang diatas sana tak akan memberikan tornado yang memporak-porandakanku tanpa aku bisa selamat dari badai.

2010. Di tahun yang baru aku cukup bermunajat untuk bisa menjadi orang yang lebih matang, secara pribadi, sosial dan relasi. Dan semoga juga dipertemukan dengan seseorang who are meant to be... (auk deh kalo inggrisna salah-salah! Hanya mengutip Choky Sitohang di Take Me Out Indonesia kemarin. Wkwkwkwk)

Saturday, January 2, 2010

PERHATIAN

Ia sama dengan kamu. Ternyata bukan hanya sama zodiaknya. Pun beberapa kepribadian pula. Awalnya aku tak seberapa memperhatikan, bahkan melewatkan. Maklum, salah satu kelemahanku sejak dulu adalah kebiasaan telat mengerti, memahami dan tanggap bahwa seseorang ternyata memperhatikan.
Begitu pun ia, ketika aku tersadar ia selalu dan bahkan sangat merunut tiap apa yang keluar dari mulutku, padahal aku sendiri kadang lupa hehehe. Dan baru beberapa hari lalu aku terjaga dari ketidaktanggapanku itu dan malahan berbalik, aku memperhatikan tiap responnya dari setiap apa yang kukatakan.
Dan itu kian menambah keyakinanku bahwa ia teramat menyimak lafalku. Aku jadi teringat kamu, dulu kamu pun begitu. Dan aku pun dulu tak tanggap. Barulah ketika kamu pergi, aku mengeja kembali tiap perhatian yang luput dan kulewatkan itu.
Dan kini aku mengulangnya. Namun yang membedakan, rasaku padanya tak sebesar hasratku padamu. Perhatiannya hanya menggugahku untuk lebih peka pada seorang yang mungkin menyimpan rasa padaku.