Monday, May 25, 2015

Jeles dan Posesif -Jilid Kesekian-

Gak jeles? Gak posesif?

Kalau jawabannya Nggak, maka alisku akan terangkat Tumben! Karena jeles dan posesif adalah saudara kembar dan merupakan my middle name. Apalagi dengan mata kepala sendiri bagaimana tuh hape clang clung clang clung bunyi mayoritas dari para lelaki. Ya meski ia selalu menjelaskan semuanya teman dan tak ada yang ia coba tutupi dari yang mulai basa-basi, kegatelan bahkan straight to the point mau ngelamar. Lalu bagaimana sikap saya?

Waa kalau jawaban pencitraan akan bilang I'm okay kok atau jawaban player She's not the only one, atau jawaban penghiburan lainnya. Tetapi jeles dan posesif itu masih menjadi darah dan daging saya, meski menjadi lesson learn hubungan empat tahun lalu dan berusaha sebaik mungkin untuk bisa mengelola, tetapi seperti pelajaran tentang Forgiving, untuk jeles dan posesif saya pun tak lulus.

Tarik ulur di otak dan hati kerap terjadi. Bagaimana pun ego di kepala masih selalu jadi pemenang. Saya pernah memintanya memilih antara KL atau Jogja adalah bagian dari ego, meski kemudian ia ke Jogja tapi demi alasan yang lain, namun waktu itu saya ditampar satu hal oleh seorang teman bahwa rasa sayang bukan berarti menggenggamnya erat. Karena cerita aktivitas masing-masing itu yang membuat kami dulu saling tertarik. Lalu kenapa sekarang aku harus membatasinya? Dulu ketika keluar kota beberapa hari dan aku hanya menebak-nebak apa sebenarnya aktivitasnya, tak menjadi masalah buatku ia akan pergi berapa lama, tetapi kenapa kini menjadi masalah dengan beribu pertanyaan pelengkap ia pergi dengan siapa, urusan apa bla bla bla? *be careful jeles dan posesif itu bisa serupa udara yang kita hirup.

Begitu pula para lelaki yang namanya kerap mampir di ponsel, baik media sosial maupun telepon, otakku setengah mati menghibur hati bahwa para lelaki itu ada dan menjadi bagian hidup perempuan itu jauh sebelum aku ada. Jadi... Apa mau dikata?

Lantas, apakah dengan begitu tak jeles dan posesif lagi? Well, ada seorang Barbie di hidupmu dan kamu gak posesif dan jeles itu jelas.... Mustahil! Pe - eR besar buat diri sendiri sebenarnya yang dibantu oleh yang bersangkutan tentunya. Itulah kenapa aku menulis ini jilid kesekian... Karena topik ini belum dan tak akan selesai.

Cemburu dan posesif bukan lagi soal tanda sayang atau gak sayang, tapi kemauan dua orang untuk saling membuat ruang terbuka yang kadang terisi setan-setan olah logika manusia.

Sunday, May 24, 2015

Cerita-Cerita Ala Cerita Novel -3-

Habis nulis blog yang terakhir ini, iseng jemariku mengurutkan nama di phonebook, dan mataku tercekat pada sebuah nomor yang gak tau gimana bisa masih ada di phonebook meski hape udah ganti berapa kali.

Iseng juga aku menekan tombol panggil dan... Nyambung! Segera kupencet tombol merah. Aku belum siap mendengar suara perempuan yang kukenal di sekitar tahun 2002-2003 yang pernah jadi 'pacar' ketika aku 'mengaku' lelaki kala itu.

Hai, apa kabar? Masih inget aku?
Rey

Semenit dua menit, tiga menit. Aku mulai gusar. Mungkin ia tak ingat aku atau nomorku hilang karena ganti hape, atau... Beribu asumsi memenuhi benak. Segera kuambil ponselku satunya yang sama provider dengan nomor perempuan ini. Kali ini aku berani setelah memperhitungkan perbincangan terakhir kami baik-baik saja dan aku hapal sifat perempuan ini yang sudah welkom padaku.

Dan terdengar suara yang familiar di telingaku sejak sekitar tiga belas tahun lalu. Ya, aku mengenal perempuan ini setahun atau dua tahun aku mengenal Barbie. Masih sama, renyah, sumringah dan ia mengingatku. Ia bilang baru akan menjawab smsku sebelum aku menelepon barusan.

Dan seperti masih sering telponan gitu kami berbincang crispy seperti biasa. Menanyakan kabar seperti basa basi, lalu mengalirlah cerita...

Ia menikah tahun lalu dan sedang hamil tua. Ia kembali ke rumah ibunya sembari menanti kelahiran. Dan ia bercerita tentang si biduan...

"Sampeyan gak mau tau kabare pacare sampeyan ta??" Candanya tentang si biduan yang membuat kami berdua ngakak. Ya ia menganggap si biduan itu masih pacar saya dan terdengar enteng mengatakannya.

Si biduan itu baru menjanda, suaminya meninggal karena serangan jantung. Tapi menurut perempuan ini awalnya saja si biduan merasa kehilangan, sekarang sudah move on untuk cari jodoh lagi.

"Ia sekarang sombong, udah nyetir mobil sudah gak mau mampir ke rumah.. Yok opo pacare sampeyan iku..."

Aku ngakak dengan beberapa kali ia masih menyebut si biduan sebagai pacar.

Ya, sudah rahasia umum sifat si biduan memang kalau lagi susah doang baru mampir ke rumah perempuan ini.

"Jadi kapan mau nengok keponakan?" tanyanya.

"Aku pulang mudik setahun sekali!"

"Bukan ponakanmu tapi ponakan yang sebentar lagi lahir ini..." Ooo ia sedang bercerita tentang bayi yang dikandungnya. Hmm, sebegitu ramah jiwanya masih nganggep aku yang pernah ngeboongin dia setahunan lebih itu untuk datang dengan tangan terbuka.

Ini bukan sedang purnama, kan? Biasanya hal-hal tak biasa seperti bertemu atau menelepon orang dari masa lalu itu terjadi hanya ketika purnama. Kurasa tidak, purnama sudah lewat. Meski ya tadi aku hanya iseng menekan nomornya, namun mendengar kabar keduanya buatku melegakan.

Hmm, cerita ini apakah juga seolah cerita-cerita ala cerita novel??? Kalo iya, maka begitulah tangan Tuhan bekerja. Saya hanya pejalan... Pejalan takdir Tuhan!

Cerita-Cerita Ala Cerita Novel - 2 -

Karena ada hal-hal yang untold dan unspoken, that's why it is called... Memories!

Melanjutkan cerita-cerita ala Novel, malam ini ingatanku mengantarkanku pada dua perempuan di sebuah kota di Jawa Timur. Dan ternyata setelah ngoprek blog, aku pernah menuliskan kisah mereka berjudul Memori Biduan Dangdutku, tiga episode. Aku tak akan mengulangnya, hanya terkenang.

Mei adalah ulangtahun si biduan dangdut itu. Aku pernah mengirimkan 'gambarku' yang mengaku sebagai Rey. Sejak dulu alter egoku bernama Rey. Aku menghidupi nama itu hingga di awal-awal aku mencoba berkenalan dengan teman-teman lesbian lain via media online. Dan sosok Rey ini yang dipuja oleh si biduan, meski setiap hari aku hanya mengiriminya sms.

Juni adalah bulan ultah perempuan satunya. Aku lupa tanggalnya, tapi perempuan yang kini telah tahu bahwa aku terlahir perempuan itu lebih friendly daripada si biduan. Hingga kini, perempuan ini masih selalu berharap aku mendatangi kotanya, menengok ibu dan bapaknya yang pernah ia kenalkan padaku, meski aku tak bersuara kala itu. Namun sayangnya sampai detik ini waktu belum sempat membawaku kesana.

Di alam bawah sadarku, ketika aku apply kerja yang salah satu wilayahnya adalah sebuah kota di Jatim yang hanya sejam dari kotanya, yang menjadi alasanku salah satunya adalah karena aku berharap bisa bertemu dengan perempuan ini. Bahkan akhir bulan kemarin usai dari Bali, kalau tak bareng Barbie tadinya aku mau mampir ke kotanya. Tapi sekali lagi, waktu belum mengijinkan.

Dua perempuan ini saksi hidup bagaimana cerita-cerita cinta bisa terjadi seperti dalam novel. Bagaimana kebohongan bisa seperti dua sisi mata uang, memacu otak untuk beralih dari satu kebohongan ke kebohongan lain tanpa jeda dan menciptakan kedekatan setelah pengakuan atas kebohongan tsb.

Cerita cinta yang diawali dari sebuah sms nyasar... Sebegitu simple lho cerita-cerita ala novel ini dimulai...

I miss them tonite... Hope they are fine there...

Nomor kontak si Gemini di bulan Juni masih ada di phonebook dan... Tersambung. Ahh sayangnya aku tak berani menelepon.

Hai, apa kabar? Masih ingat aku?
Rey

Setengah gusar menanti jawab sms.

Cerita-Cerita Ala Cerita Novel

"Cerita cintamu kok kayak di cerita-cerita novel sih..." ujar seorang teman, bukan untuk pertama kalinya.

Aku -lagi-lagi- terhenyak. Lumayan jengkel juga sih karena bukan sekali ini ia mengutarakan hal tsb di depanku. Hmm, aku sendiri saja awalnya mengira ini hanya mimpi, ehh tapi kalau ini mimpi kok susah bangun dan malah gak mau kebangun...

Otakku, bagian yang paling tidak terima karena dikatakan cerita cinta kok seperti kayak novel, kemudian me-recall perjalanan hati sepanjang tiga puluh tiga tahun hidupku. Perjalanan hati bagiku tak sepenuhnya cerita cinta, mengenal orang baru dengan cara unik bagaimana Tuhan mempertemukan juga termasuk perjalanan hati.

Ingatan pertama, yang hampir serupa dengan kisah si Barbie adalah tentang seorang perempuan beranak dua dengan status bercerai. Kenapa ini kuceritakan di awal, karena profesinya hampir mirip dengan Barbie. Awalnya pun ia tak mau bercerita apa pekerjaannya yang membuat ia travelling dan mengumpulkan awan-awan biru dari pantai-pantai yang dikunjunginya. Ia sangat menyukai pantai, sama seperti Barbie. Bedanya, Barbie suka ombak, perempuan ini menggemari awan. Dan kenapa cerita cinta dengan perempuan yang ketika ia menelepon pas ada Pelatihan di Salatiga dan di dering pertama aku gak berani ngangkat itu menjadi seperti cerita cinta dalam novel adalah tempat kami dipertemukan. Coba tebak?

Hayday. Adalah nama sebuah permainan online android semacam FarmVille yang kugemari hampir satu setengah tahun. Level permainanku pun lumayan tinggi. Seperti FarmVille dalam melakoni kerja bercocok tanam, bertambang dan menangkap ikan itu pun kami bisa dibantu tetangga. Bedanya, kalau FarmVille yang menjadi tetangga harus teman fesbuk, kalau Hayday selain teman fesbuk kita bisa bergabung dalam sebuah grup tetangga yang bisa dibentuk oleh orang yang kenal atau sama sekali tak kita kenali bahkan asal negara bisa berbeda-beda. Aku sering gonta-ganti grup, ya namanya permainan kalau tak ada benefit di grup tsb maka bisa beralih. Lalu aku menemukan grup ini.... Ada yang berasal dari Indonesia - leader dan co leadernya Indonesia-, ada yang dari Amrik, India, London dan beberapa negara lainnya. Kami tak saling kenal, kecuali si leader dan beberapa anggota disini yang sama-sama Indonesia.

Perempuan beranak dua ini adalah leader grup. Singkatan namanya mirip artis yang kugemari. Ya kepanjangan namanya tentu saja beda. Dan aku memang 'tertarik' sejak awal. Tadinya kupikir ia lelaki, maka aku memancingnya dengan male pronouns. Yang jelasin panjang lebar adalah si co leader yang sohib akrabnya, profesinya perempuan berjilbab berkacamata ini seorang dokter di Jakarta. Hampir semua informasi tentang si leader ini kudapat dari si ibu dokter, kecuali profesinya. "Tanya saja orangnya sendiri," tuturnya.

Di grup ini kami sering berbicara bahasa Indonesia, dan juga Jawa karena si ibu dokter dan perempuan ini dari Jawa. Tentu saja si Bule-Bule anggota lainnya gak dong tapi tidak mempermasalahkan selama benefit game bisa terjalin. Inget banget, yang dari Amrik ini nenek-nenek umurnya 70 tahun dan dia pake Ipad 10 inch untuk mainin games ini. Gak kebayang kalo dia orang Indo di usia yang sama apakah juga akan punya hobi sama. Ada lagi Chennai Girls, aku lupa namanya. Dan saking beda banyak negara aku nginstal world clock untuk tahu jam-jamnya mereka online. Selo banget hidupku tampaknya, tapi pertemanan ini sungguh menyenangkan! Mereka juga berpolemik tentang apakah aku laki atau perempuan, aku tak menjawab, tapi mereka bersepakat menggunakan male pronouns.

Balik ke cerita tentang si leader. Setelah tau ia ternyata perempuan, the mbribik goes on... Karena caranya menjawab bener-bener menarik hati. Ia mengira aku seorang fotografer. Ngotot banget pengen tau instagramku biar bisa saling bertukar pikiran soal foto. Lalu kubilang aku aktivis. Dan menambah panjang daftar obrolan kami. Karena dunianya adalah dunia profit industri. Berbeda bidang lumayan jauh, sama seperti aku dan Barbie sekarang. "Kalau ada perusahaan yang butuh branding company, serahkan saja padaku, kalau dari kamu ada harga khusus!" Begitu katanya. And the story goes on and on... We'll aku tak sedang ingin bercerita detil tentang perjalanan hati dengan perempuan ini, tetapi bagaimana menekankan bahwa cerita hati ini adalah salah satu cerita ala novel seperti yang dikatakan temanku yang diyakininya mungkin tidak pernah ada dan hanya ada dalam fiksi semata.

Cerita hati berikutnya, mungkin yang ini tergolong klise... Cerita hati yang dimulai dari media sosial. Pertemuan model begini ini bukan sekali dua kali kualami, tapi tiga kali. Pertama, pacar pertamaku kukenal via jejaring klub buatan Yahoo. Kedua dan ketiga berasal dari twitter. Naah, yang twitter ini lumayan seru. Bayangkan 140 karakter dan membuat sebuah cerita hati itu ya kayak cerita cinta dalam novel, sepertinya fiktif, tapi it's real!

Satu lagi cerita tentang pertemuanku di dunia nyata dengan seorang teman lesbian. It's unpredictable! Yang ini bukan cerita hati, ia teman pertamaku di dunia nyata yang kutemui dan seorang lesbian. Ketika itu aku belum coming out di usiaku dua puluh dua tahun saat aku baru beberapa bulan menginjakkan kaki di Jakarta. Salah satu cita-citaku meninggalkan kampung halaman ke kota ini adalah untuk menjadi penulis. Beberapa cerpen, beberapa ide cerita dan novel yang mandeg separo menjadi bekalku ke Jakarta. Aku menemukan teman pertamaku ini dari koran. Ia beriklan seperti iklan sahabat pena, tapi ia tak menspesifikkan bagaimana postur tubuh dll. Ia hanya beriklan mencari teman yang juga hobi menulis. Dan gak tau dari sekian banyak iklan itu kok aku tertuju pada iklan ini. Dan gak segera kuhubungi juga, maklum waktu itu aku minder akut, banyak ketakutan di kepalaku dan inferioritas sangat tinggi. Singkat cerita aku menghubunginya setelah lumayan lama. Kami janjian di Mall Taman Anggrek waktu itu. Naah ini jadi cerita lain lagi... Di Jakarta aku baru pernah menginjakkan kaki ke Mall Daan Mogot dan Ciputra, parahnya tiap kali ke Ciputra seorang diri selalu salah pintu masuk dan pintu keluar lalu bingung sendiri. Begitu juga dengan Mall ini... Karena tak mau tersesat, aku meminta si teman ini untuk bertemu di luar Mall dulu. Ia setuju menunggu di bawah jembatan layang. Awalnya nyari-nyari kayak apa sih orangnya ehhh taunya butch bingit sedangkan saya waktu itu masih gondrong hahaha selalu ketawa ketika mengingat masa-masa itu... *rambut gondrong ini selalu menjadi andalan Barbie untuk mengolok-olokku kini.

Lain pula cerita dengan sepupu hijaber, juga pernah kutuang disini, pasti kalo ditilik akal sehat akan menyimpulkan kayak cerita novel saja. Bagaimana bisa sepupu yang merupakan anak dari adik bungsu ibuku, yang bahkan di masa kecil kami ia pernah ku 'eksploitasi' untuk memijat punggungku. Ya, sebagai orang yang lebih tua waktu itu ia menurut plus sebenarnya pingin ngerjain sih maklum anak Jakarta datang ke kampung kan kudu dikerjain. Soalnya menurut sepupu lain, tiga sepupu dari Jakarta ini yang eksklusif dan diperlakukan eksklusif pula oleh nenek kami. Ketika dewasa, saat aku di Jakarta aku pernah sekali ke rumahnya dan tak ada tanda-tanda kami akrab. Barulah beberapa tahun kemudian usai cerita cinta antar sepupu ia dengan anak dari adik ibuku yang lain berakhir, kami dekat, bahkan sampai ayahnya yang alkacong -aliran katok congklang- banget itu gusar dengan kedekatan kami. Ia memganggapku iblis yang akan menjerumuskan anaknya sehingga harus membatasi komunikasi kami. Namun si sepupu hijaber ini kupikir cerdik, bahkan sampai ia mau nikah pun ia ingin aku ada disana. Tentu saja situasi, alasan, dan bagaimana ia sampai memilih menikah tak bisa diungkap disini. Yang ingin kutekankan sekali lagi adalah soal cerita ala novel yang bagi kebanyakan orang dianggap fiksi, but it's happen naturally!

Belum lagi cerita hati dengan perempuan yang dari nama atau suaranya saja kubenci. Waah makin banyak lagi ini deretan cerita-cerita yang mungkin kalau diceritakan berasa kayak cerita novel. Masa sih ada cerita kayak begitu? Kok ganjil ya? Aneh ya?

Lalu aku harus bilang apalagi coba untuk ngejawabnya? Hampir setiap pertemuanku dengan orang-orang baru adalah perjumpaan yang unik bak di cerita novel. Ahhh aku jadi inget bagaimana cerita mudikku beberapa tahun lalu... Di tahun yang berbeda, aku mengenal dua perempuan di kereta -salah satunya masih temenan di fesbuk- dengan cara berkenalan yang cukup unik. Sepertinya aku pernah bercerita di blog ini.

Maka, mungkin yang perlu diubah adalah soal mindset memahami cerita hidup, bahwa di dalam novel pun beranjak dari cerita nyata meski ada bumbu-bumbu fiksinya. Dan mungkin cerita-cerita ala novel ini pun dijumpai dalam setiap hidup seseorang, hanya saja mungkin tingkat kepekaan pemahaman yang membuatnya menjadi istimewa atau biasa-biasa saja.

Seseorang, apalagi yang kini menempati posisi pertama di hati, bisa saja kau temui di random place macam grup Hayday, perjumpaan di kereta, grup-grup online, surat kabar, bahkan random place lainnya yang menurut akal sehat hanya bisa tertulis di sebuah novel fiksi. Tak terkecuali cerita dengan Barbie dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun tanpa komunikasi lalu ketika terjalin hubungan ini dipertanyakan seolah fiksi?

Aku percaya di tiap pertemuan ada campur tangan Tuhan untuk memperkaya cerita-cerita keseharian yang begitu menyenangkan untuk kutuliskan agar tak lagi berasa seolah hanya ada di cerita-cerita novel fiksi. Would you trust it too? We'll, mari memulai dengan menyesapkan setiap pertemuan...

Friday, May 22, 2015

That's Why It Is Called ... Process!

"Kau bilang, memahami orang itu harus utuh, gak boleh parsial, lalu kenapa kau gak melakukannya juga padaku?" Perempuan berhidung mancung ini sudah bersungut dengan kata-kata bernada sama lebih dari setengah jam ini. "Kau kira aku gak merasa kamu perlakukan gak adil tiap kita membincangkan hal ini? Keingintahuanmu sebetulnya adalah kecurigaanmu!" Ia melengkapi kekesalannya dengan menautkan kedua alis tebalnya sejajar diatas kelopak mata indahnya.

Setengah jam ini kami, aku tepatnya, ingin membahas tentang aktivitasnya. Ya, sedikit kilas balik, beberapa teman mencekokiku untuk mencari apa yang membuat hidupnya sebegitu indah seakan tak punya beban tapi juga tak berkekurangan uang. Beragam spekulasi muncul. Aku tak sepenuhnya menyalahkan teman-temanku, mereka hanya ingin aku waspada agar aku tak terkait dengan isu yang lagi marak akhir-akhir ini, narkoba dan korupsi -dalam hal ini pencucian uang-. Plus, aku juga ingin tau apa sih sebenarnya pekerjaannya? Ia hanya pernah bilang ia penulis gagal. Dulu ia suka menulis tapi sekarang tak lagi menekuninya untuk dijadikan pekerjaan. Ia menyukai fotografi, lalu kupikir ia fotografer. Kemudian selintas aku menggabungkan keduanya, penulis dan fotografer + doyan travelling = travel blogger. Aku mentok pada profesi itu dan tak ingin membahasnya lagi, karena kami sempat beradu argumen hebat soal ini.

"Kau sebenarnya bukan antusias atas keingintahuanmu pada pekerjaanku, kau hanya curiga!"

"Baiklah, maaf, aku janji tak akan membicarakan ini lagi.."

"Tidak, aku justru akan menuntaskannya malam ini, membunuhi satu persatu kecurigaanmu!"

"Well, sayang, aku gak mau kita tengkar seperti waktu itu, besok kau sudah tak disini..." Aku mulai kuatir.

"Justru kepergianku karena ada hubungannya dengan pekerjaan yang akan kuceritakan!"

Kini, kadar penasaranku jauh lebih tinggi daripada kekuatiranku. "Apa sebenarnya pekerjaannya?"

"So, kau ingin aku memulai darimana?"

Beribu pertanyaan di otak yang selama ini ingin ku 'interogasikan' mendadak kelu di ujung lidah.

Ia mulai bercerita. Ekspresi mukanya mengendur ketika satu persatu kata dan kisah ia lafalkan. Aku kemudian membunuhi satu persatu gelembung-gelembung kecurigaan di kepalaku.

Pekerjaannya sama seperti nama pekerjaan yang sedang kutekuni sampai akhir Mei ini. Bedanya, aku melakoninya ala-ala, sedang ia profesional di bidang itu. Selain menekuni empat tahun program sarjana, ia mengambil setahun sekolah diluar negeri menguatkan ilmunya. Bedanya lagi, salary-nya selangit, sedangkan salary-ku ya cukuplah untuk ke pantai mandang-mandang bintang di langit.

Ia sendiri tak percaya bisa bergabung pada perusahaan yang baginya sangat open dan gak diskriminasi gender, disabilitas, orientasi seksual, dll. Semua dikasi kesempatan yang sama. Sudah setengah tahun ia melakoni pekerjaan yang baginya bukan hanya menghidupinya tapi juga membebaskannya tak harus berlama-lama di desk kantor.

"Lalu apalagi yang ingin kau tau tentang aku? Semua cerita tidak mungkin kukatakan dalam semalam. Bangun Roma aja butuh waktu gak semalem. That's why it is called process!"

"Sorry..."

Satu kata yang kuucap berulang kali ketika ia menutup kalimat.

"Gak tau kenapa kok kamu gak pernah merasa bahwa dicurigain itu gak enak! Aku ngomong gini karena aku tau rasanya jadi kamu 10 tahun lalu. Diomongin di belakang kalo kamu lesbian, ama Oma, apalagi ama yang sirik ama kamu. Kamu aja bloon gak nyadar telpon resto paralel, orang-orang nguping waktu pacarmu telpon!"

"Jadi, kamu tau?"

"Ya tau lah! Apalagi pas kamu nelpon pacarmu nanya soal basa Inggris waktu kamu ngelesin aku, emang aku ga tau meski kamu telponnya diluar kamar?! Dan kalo kamu inget-inget, apa pernah aku juga ngolokin kamu? Kecuali pas aku lagi kesel ama kamu... Karena aku sama di posisi kamu, malah aku waktu itu bingung, nge-reject."

Ya, gaydar-ku mati total pada perempuan ini waktu itu. But as she said, that's why it is called...process!

From now and then, we're not promising but we'll enjoy this process!

*Ditulis tidak sesuai dengan percakapan aslinya tapi poin-poinnya ya kurang lebih sama lah

Saturday, May 16, 2015

Menikah

Pas lagi asik masyuk klamutan es Krim For Pleasure Seeker dalam edisi Backstreet hari ini bersama si Barbie, ada sebuah wasap masuk....

Sepupu hijaber di Jakarta yang dulu pernah kuceritakan disini. Kalau tak ingat, nih sepupu yang anaknya adik bungsu ibuku yang kembar. Ia sulung dengan dua adik. Beberapa tahun lalu kami 'dekat' sejak ada insiden ia katanya kepincut dengan sepupuku lainnya, anak adik ibuku juga. Sejak mereka 'tak lagi direstui' dan memutuskan 'berteman' si hijaber ini lumayan intens berkomunikasi denganku via wasap atau smsan. Bahkan di tulisanku aku pernah bercerita bagaimana ia pura-pura sudah tertidur agar bisa nginep di rumah besar peninggalan nenek. Plus suatu malam ia mengajakku dalam petualangan malam ke rumah adik ibuku -yang adalah rumah sepupu yang pernah naksir ama dia-. Dari tiga bersaudara itu memang hanya ia yang akrab. Bahkan dua tahun lalu aku pernah melakukan kegilaan -yang takkan kuulangi- dengan menghanguskan tiket keretaku dan memilih pulang naik mobil nebeng keluarganya. Seperti yang kukatakan, aku tak akan mengulanginya, sudah masuk angin, waktu tempuh yang harusnya hanya 9 jam jadi 24 jam, plus perlakuan sengak dari bapaknya yang adalah Om-ku padaku yang gak ngebolehin anak sulungnya ini deket-deket aku tapi anak sulungnya kebalikannya memutar otak gimana caranya agar kami bisa ngobrol. Bahkan setelahnya, aku memutuskan tidak lagi terlalu akrab karena kupikir ideologiku demgan si hijaber satu itu tak mungkin bisa disatukan.

Sore ini tiba-tiba ia me-wasap akan menikah awal Agustus dan memintaku datang. Aku tak kaget dengan rencana pernikahannya. Ibuku pernah bercerita, dan kami juga pernah mendiskusikannya ketika ia juga mengutarakan niat ingin agar aku datang. Waktu itu aku sudah menolak datang. Pun demikian sekarang, aku masih pada keputusanku tak akan datang. Dengan alasan yang sama, aku tak mau cengok di pernikahan yang akan so religius dan orang-orang akan memandang aneh dengan penampilanku. Bahkan bukan hanya menatap, bisa jadi ngusir juga. Atas nama nama baik ibuku aku tetap menolak hadir. Saya tak ingin mereka mencibir nama ibuku dengan hal-hal yang diucapkan dengan kepala dangkal. Masalah identitas bagiku sudah beres, tapi orang-orang ini belum bisa beres soal siapa aku bla bla bla...

Aku ingin kamu datang...

Aku lalu tercekat dengan kata kamu tsb. Jadi sudah gak pake kata kakak seperti biasa. Ada apa denganmu nona? Apa yang membuatmu sedemikian keukeuh saya harus datang di acara sakralmu?

Belum terjawab pertanyaan otak saya, si Barbie malah girang dan ber-ide untuk datang bersama menghadiri pernikahan itu.

Sumpeh nih dua orang ini kenapa ya kok kompakan begini... Si hijaber ini gak ada angin gak ada ujan ngundang 'maksa' bingit kudu datang dan ide Barbie yang bersedia menemani. Apa yang ada di otak mereka sih???

"Mereka kenal aku kan?" Ucap Barbie sok pede.
"Kalo ama Oma ya kenal Tanteku, tapi kalo kamu mana kenal!"
"Justru bagus kan..."
Lap jidat deh, nih kenapa bruwet begini yaaaa....

Acara kawinan tuh acara paling kuhindari kalo gak kepepet temen deket banget baru aku nyediain waktu hadir. Selain ga suka harus nyiapin kostum tertentu, juga paling enek kalo ditanyain kapan nyusul dll.

Pokoknya kamu datang yaaa..

Saya tersenyum, bukan karena kebruwetan ini... Tapi mendengar notif wasap masuk dari sepupu yang masih meminta saya datang. Barusan.

Beautiful In White

Seperti judul lagu. Memang judul lagu. Yang terngiang di kedua telingaku bahkan sampai detik jari-jariku lincah melompati papan tuts virtual ponsel yang sedang menuliskan judul ini.

You look so beautiful in white...

Dalam lagu, liriknya bercerita tentang sebuah pernikahan. Ya putih mang identik dengan gaun pengantin. Namun kali ini tidak...

Bukan sekali ini perempuan yang kujuluki sebagai #MyBarbieDoll ini mengenakan atasan warna putih. Bahkan kalo menilik ulang ingatanku, putih adalah warna pilihannya. Putih, warna yang terbilang kuhindari untuk kupakai. Ia malah menjadikannya sebagai warna kebesaran. Putih dengan berbagai varian model mulai dari tanktop, blouse, T-shirt, dan yang jadi favoritku adalah kemeja panjang model cowok yang beberapa kali dipakainya ketika malam. Atasan yang lebih panjang daripada bawahan pants yang melekat di tubuhnya. Sejak dulu aku selalu suka perempuan memakai kemeja putih kedodoran yang semua kancingnya tak disematkan. Dan ia merealisaskan fantasiku.

Kece parah!
Umpatan yang tak keluar dari bibirku but absolutely mencerminkan hal yang sebenarnya.

Cincin mana cincin!
Keinginan yang sekali lagi hanya bergelinjangan di hatiku.

Mungkin saya sedang lebay, ia kece parah tiap hari! Hanya saja menghabiskan kesempitan waktu dalam kesempatan dan pake acara sembunyi-sembunyi pulak yang menjadikan 'seragam tubuh' warna putihnya layaknya penganten yang hendak ke pelaminan.

Kemudian dilanjut cerita tentang pernikahan...

Wait a moment after this I will tell you all...