Masih ingat ceritaku tentang seorang straight yang mengiraku menyukainya lalu menabuh genderang perang dengan mengobarkan keacuhannya padaku. Entah kenapa sejak beberapa waktu lalu sang waktu seolah sengaja menyilahkan kami untuk kerap bertemu. Bukan hanya agenda besar sebuah aliansi, pun sebuah pameran lembaga di universitas bergengsi di Yogyakarta.
Seperti biasa, usai ia menabur "permusuhan" padaku, aku pun bersikap tak terlalu menggubris bahkan menganggapnya seolah tak kenal. Tapi aku merasakan sebuah perubahan. Ia tak sesinis dulu. Ia malah kerap memulai obrolan dan bersikap ramah, lain dari perempuan yang kutemukan dulu.
Ia menyapa dengan lambaian tangan dan senyuman ketika kami dipertemukan di pameran lembaga sebuah universitas. Sungguh bertolak belakang ketika di event yang sama setengah tahun lalu ia bersikap seolah tak mengenalku, bahkan sebuah senyuman basa-basi. Dan perubahan itu bukanlah satu-satunya, sebuah hajatan besar aliansi yang membuat kami diharuskan bertemu muka kian membuat pikiran dan terutama sikapku padanya jadi campur aduk. Bagaimana tidak, kekakuan itu masih kental kutebar. Maklum, aku tak ingin pemikiran bahwa aku mempunyai rasa padanya masih bersemayam di benaknya.
Dan sebuah keanehan terjadi. Waktu itu telah beberapa kali rapat mempertemukan kami. Seperti sore itu ketika tiba-tiba seorang teman pria yang akrab dengannya tiba-tiba menyodoriku ponselnya.
"Siapa?" tanyaku sembari mengerutkan alis.
"Temanmu,"
Aku menerima uluran handphone seraya membaca nama yang tertera di layar monitor. Nama perempuan itu. Aku mendekatkan ponsel ke kuping dengan segudang pertanyaan panjang silih berganti memenuhi otakku.
Apa maksudnya pria itu memberikan hpnya padaku? Padahal ia tahu perempuan itu hanya ingin bertanya denah tempat pertemuan kami itu. Apa perempuan itu menceritakan "perseteruan" kami pada pria itu? Lalu apa saja yang diceritakannya?
Masih banyak pertanyaan di otakku hingga aku tak berkonsentrasi pada pendengaranku akan suaranya. Aku lalu mengalihkan ponsel ke teman lain, meski dengan pertanyaan yang belum terjawab. Hari-hari berikutnya, sikapnya manis. Ia bahkan memberikan permintaanku esok hari setelah ku sms malamnya. Sungguh perubahan yang baik. Dan matanya... Mata itu kini berani beralih padaku, tak seperti beberapa bulan lalu ketika matanya bahkan tak menolehku sedikit pun. Yah, semoga kekakuanku dapat cepat terlunturkan oleh perubahan 180 derajatnya.
te.Lez.kop: (Not) Your Ordinary Valentine
6 hours ago

