Friday, September 13, 2013
Love @ First Sight
Saya tak seberapa percaya ungkapan tsb. Urusan hati butuh dijajaki, bukan semata urusan instan dari mata ke hati. Tetapi bukan tak pernah mengalami. Bukan kah kesan pertama terkadang menentukan segalanya?
Untuk kisah cintaku contohnya, bagaimana pada kesan pertama aku begitu tak ‘tertarik’ pada cinta pertamaku. Kecewa bahkan rasa yang ada saat itu. Tapi dua jam berikutnya berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi sebuah ketergantungan perasaan yang disebut cinta terkewer-kewer. Beda lagi dengan kesan pertamaku kepada perempuan mirip artis itu. Sejak pertama menyambutku dengan senyuman dan suluran uluran tangan, maka sejak itu pulalah hatiku jumpalitan kegirangan. Meski kugarisbawahi sebagai sebuah ketertarikan fisik dan intelektual awalnya. Kesimpulannya rasa itu memang kerap terjadi di pandangan pertama, namun butuh sebuah proses yang membuat nanti endingnya akan naik tingkat atau musnah seiring perjalanan waktu.
Maka begitu pulalah ceritaku untuk benda tak hidup alias barang yang menjadi kebutuhan, semisal tas, sepatu, sendal, baju dan kaca mata. Kali ini aku hendak bercerita tentang benda yang terakhir kusebutkan itu. Sebenarnya hampir sama saja di semua benda yang kuingini aku termasuk susah untuk menerapkan love at first sight. Oleh karenanya, membeli barang-barang tsb seperti jauh lebih sulit seperti menetapkan hati pada satu orang kekasih. Pilihan sih banyak, tetapi memilah dan memilih seperti tengah mencari jarum di tumpukan jerami. Gak ketemu, begitu juga kadang ujung-ujungnya dan memang tak bisa dipaksa serta memaksakan diri. Kalau belum sreg di hati apa boleh buat, meski peluh sebesar biji jagung hibrida tetap memilih pulang dengan tangan hampa.
Malah yang terjadi kadang adalah sedang tak ingin beli, eh kok pas nemuin yang sreg di hati, jadi ya dibeli. Atau hendak beli barang A, eh ngeliat barang B, buntutnya malah beli barang B gak jadi barang A.
Kalau cerita tentang kaca mata, aku memang berniat mencari kaca mata putih untuk dipakai di malam hari ketika berkendara guna menghindari hewan atau benda apapun yang kemungkinan masuk ke mata. Karena memasang kaca helm di malam hari terlalu gelap mengganggu penglihatan. Dan aku kemudian jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa ada jeda untuk menengok dan mencari lainnya. Ya, kepada kaca mata putih berframe hitam dengan gagang merah. Warna merahnya yang membuatku jatuh cinta pertama kali karena aku sungguh menggilai warna merah, lalu ketika pantulan cermin menyuguhkan wajahku pantas dalam balutan merah itu aku jatuh cinta kedua kali. Lantas ketiga, kelima dan berkali-kali jungkir balik mencintai dengan mengenakannya di keseharianku.
“Apa sih fungsi kaca mata yang bukan kaca mata minus juga bukan plus?” komen seorang teman.
“Paling cuma buat gaya-gayaan!” sebuah suara teman lain.
Pastinya, memang banyak suara-suara yang mayoritas sumbang ketika aku melingkarkan gagang merah kaca mata itu di kedua telingaku, tapi jelas saja aku tak terpengaruh, yang penting fungsional buatku, tentang efek kepantasan lainnya yang mengandung komen negatif semisal nggaya, narsis lan sejenisnya, buatku malah kujadikan bonus. Bukankah sebuah benda yang secara fungsional lalu bernilai lebih untuk hal-hal lain memang layak disebut bonus a.k.a nilai tambah? Tak perlu pusing apa kata orang, toh orang tsb tak membayari nilai tukar rupiahku yang melayang.
Maka begitulah cerita cinta pada pandangan pertamaku kepada si kaca mata merah…
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment