Saturday, November 20, 2010

H.A.T.I


Hati. Organ paling vital terlebih menampung berjuta perasaan yang dilewati tiap waktu oleh sang pemilik. Pun untuk perempuan, yang dilabeli sebagai "pemakai" hati daripada laki-laki. Meski aku sedikit tak suka dengan pelabelan tersebut.

But aniwei kembali soal hati, aku ingin melongok ke hatiku sendiri. Sepertinya strukturnya melebihi kerumitan struktur otakku. Otakku saja aku merasa sudah sangat rumit, apalah namanya kalau ini lebih rumit? Padahal kata orang, urusan hati bisa sebegitu mudah. Contoh ketika jatuh cinta, orang akan dengan mudah terperangkap jaring asmara. Ya, di bagian itu aku sepakati mudah, tidak ketika dihadapkan pada beberapa perasaan yang seolah mewajibkan kita untuk memilih, sebab kalau tak memilih alias tak fokus ke salah satunya kau akan dituding player.

Nah, tahapan memilih ini yang mungkin lumayan rumit. Apalagi jika suguhan hati tak bisa dikecap mana yang enak mana yang tak enak. Lidah hati terbuai dengan rasa masing-masing masakan bernafaskan cinta. Tinggal hati yang menetapkan salah satunya sebagai yang terbaik untuk kembali berproses.

Dan proses tentu saja bukan hal yang gampang, tak percaya? Makanya aku benar-benar merasa struktur hati lebih rumit dari struktur otakku, saat ini.

Friday, November 19, 2010

I Love U, Mom!

Mengenang ibu adalah waktu bagiku untuk merenung panjang. Meski ini bukan kali pertama, kalau dibilang mungkin jengah bercerita tentang ibu, tapi aku tetap dan terus bertutur tentangnya.

Terakhir pulang kemarin, aku masih ingat ia mempermasalahkan tentang penampilanku yang tidak ada perempuan-perempuannya ini. Aku agak heran sebenarnya akhir ini tiap pulang ia mengkoreksi baju yang kupakai, tatanan rambut dan make up. Ia yang biasanya tak pernah komentar apapun tiba-tiba nyeletuk kenapa aku tak suka memakai legging seperti kebanyakan perempuan lain, kenapa aku suka sekali mengacak-acak rambutku dan kenapa aku tak pernah pakai make up walau sekedar bedak. Hmm, kok jadi ribet perempuan itu sekarang?

Belum lagi soal pendamping. Ibu tak mendesak. Hanya mulai bertanya sejak lebaran kemarin intensitas pengulangan pertanyaannya kian kerap. Dan aku menjawab semuanya dengan pengalihan isu topik pembicaraan. Sejauh ini manjur, namun entah sampai kapan.

Sejak jaman dahulu kala aku jarang sependapat dengan pola pikirnya. Kadang berselisih paham. Kadang salah satu dari kami sampai bertanduk. Secara karakter, ayah memang jauh lebih paham daripada ibu yang hanya mikir kalau aku pemarah. Itu yang mungkin selalu diingat tentang aku. Memahami beliau sepertinya jarang bisa kulakukan.

Tapi tak berarti selisih paham membuat kami tak saling kasih, ia hanya terlalu menguatirkanku, kurasa.

Sosok perempuan itu sudah mulai renta dan sakit-sakitan. Satu beban moril yang masih sering menghantui pikiran adalah bagaimana bisa aku memberinya keturunan dari darah daging sendiri sementara aku tak pernah membayangkan untuk melalui proses itu?

Mom, bukan ingin tuk selalu menghindar. Andai tahu bagaimana cara bincangkan tentang aku denganmu. Kupikir kau memang tak akan mengerti, tapi aku hanya ingin kau tau. Kapankah itu?

Wednesday, November 17, 2010

THE MOTIVATORS


Masalah adalah hal biasa dalam hidup, tapi kadang kita membutuhkan teman untuk berbagi, melepas cerita bahkan hanya untuk mendengar celoteh hati. Aku hendak memberi applaus pada mereka yang kujuluki the motivators ini.

Perempuan-perempuan perkakas, begitu aku menyebut dua perempuan ini. Karena kebisaan mereka akan hal yang kasat mata. Yang satu kujuluki konselorku, selain emang sehari-hari memang konselor hehe. Dan yang satu lagi aku mengenalnya cukup lama. Curhat pun hanya lewat chat fb. Tapi berterimakasih karena usai ngobrol kadang melegakan.

Dan motivator lain, aku tak percaya kini menyebutnya sebagai motivator haha karena boleh kubilang hubungan emosional kami kuanggap "aneh". Bagaimana tidak, Juli kami dipertemukan, dan sejak belum mengetahui namanya aku sudah jatuh hati. Jatuh hati yang kupendam dan baru kuungkap ketika berpisah. Pun ketika kami bertemu kembali, kukira perasaan itu sudah mati, ternyata cemburu masih ada. Tapi berselang berapa hari saja, karena selebihnya logikaku telah cukup sadar untuk tak meneruskan hal yang sedari awal tak untuk dimiliki. Dan benar saja, ketika bertemu ketiga kalinya, rasa itu sudah benar-benar musnah, tapi kedekatan kami kian muncul disana. Bukan lagi kulibatkan emosional perasaan tapi hanya karib. Kian kemari, we've been like a sibling, supporting each other in positive way. Kadang kalau ingat fluktuasinya, aku tertawa, bagaimana bisa aku dulu jatuh hati padanya, sedang kini kami kerap bercanda tawa layaknya saudara. Tak ada yang tidak mungkin, sesuai dengan slogan miliknya. Ia memotivasiku untuk lebih berani mengejar apa yang kusuka dan inginkan. Membuka hati, menerima resiko jika memang akan sakit, yang terpenting melewati proses dan memperjuangkan apa yang ingin diraih. Thanks broth, julukan yang ia tak suka karena lebih doyan dipanggil sist, tapi aku keukeuh melabeli buci inside untuknya. We've been through our ways so far and hopefully we can achieve our goals in our life and our love journey. Chayoo broth...

Motivator terakhir adalah yang paling tidak dinyana-nyana. Jalur obrolan kami dibuka lagi beberapa waktu lalu setelah vakum panjang. Hanya via YM. Dan dering telepon ketika mengantarku pulang kampung minggu lalu. Aku juga nggak nyangka ia menelepon, menanyakan kabar dan Merapi. Pun ketika dalam perjalanan pulang, pesan pendeknya mampir di ponselku. Saat itulah dialog awal dibuka kembali. Proses panjang yang bagiku sudah selesai terpampang lagi.

Tidak. Aku tidak merasa terkorek. Karena aku meyakini prosesku telah selesai. Panjang lebar aku menjelaskan tentang situasi hati kini, karena ia masih merasa tak enak hati akan cerita lalu. Memulai obrolan kembali dengannya bagiku bukan memutar rekaman masa lalu karena kami telah punya hidup masing-masing, meski untuk urusan hati aku tak seberuntung dia. Faktor unlucky aja mungkin, sebab juga terlalu capek jika terus menggunakan alasan belum ketemu orang yang tepat. Haha selalu dan selalu begitu.

Kami berdialog panjang kalau boleh dibilang ngalor ngidul. Mulai dari oleh-oleh pulkam, samboza in memorial, dan terakhir: penjelasan yang tak tersampaikan sekitar empat tahun lalu. Aku berkata jujur ketika itu benar-benar dilanda kebingungan apa sebab ia sepertinya berlaku tak adil. Tapi kembali, empat tahun bukan waktu yang singkat untuk perenungan dan mengambil hikmah. Meletakkan umurku kini di umurnya kala itu, aku sependapat jika dulu ia mengambil keputusan yang dipilihnya dulu. Proses belajar yang selalu kutanamkan dalam benakku. Aku tak lagi menyalahkannya seperti dulu, pun tak lagi menyalahkan diri sendiri atas sifat dan sikap kekanakan di umurku kala itu. Kini hanya proses yang usai dan sebaris senyuman memaknai sebuah proses hati.

Cerita berlanjut pada ia bukanya sesi curhat. Ya, beberapa kali curhat terlontar. Aku sungguh mengucap selamat datang pada kakak yang selalu istimewa dalam bentuk dan cara pandang berbeda kini. Menjadi salah satu motivator pembangkit rasa minderku yang lumayan parah.

Someone said I'm extraordinary...
I have to keep in mind that I'm a loveable person, nice to talking to, and of course deserved to have someone by my side, but I might to convince my self before I'm convinced other...
Must say what I want. Dont think it will be hurt or not. But let it flow as it way to be...

Pujian semenit untuk diri sendiri, bukan tuk membuat diri terlena. Paling tidak segala hal positif melekat di benak untuk direalisasikan dalam polah keseharian, semoga.

Ya, thanks all motivators, sist, kakak... Sometimes I still get frustrated of this f**king completely life. Hopefully, I will not lost in my own mind and heart for a long time...

Monday, November 15, 2010

Sisi Lain Sebuah Perjalanan

Merapi terbatuk hebat sejak akhir Oktober, dan bersama itu pula kekuatiranku mengiring. Maklum, tak pernah berada di suatu bencana. Mungkin bagi yang pernah merasakan gempa Jogja tak akan sepanik yang kurasakan.

Malam adalah saat yang mendebarkan. Bukan hanya bagiku, beberapa teman kost pun merasakan. Ditambah dengan sms aspal yang tiap malam berseliweran, terutama malam jumat, yang menambah horor suasana. Walhasil, tidur pun jadi offroad. Berganti-ganti kamar, bahkan terkadang menumpang di kamarku. Panik, yah begitulah. Ditambah kecemasan orang rumah, beuh tidur malam gak pernah tenang, pagi-pagi sudah ditelpon bergantian meminta untuk segera pulang, makin pusing ini kepala. Pun ternyata seorang teman kantor merasa hal yang sama. Ia memintaku mengajukan libur, setidaknya membuat orang rumah tenang. Dan itu terkabulkan.

Senin pagi, mayoritas anak kost sudah beberapa kembali ke kampung halaman. Hanya beberapa saja yang terikat pekerjaan tak diperbolehkan pulang. Menuju Lempuyangan dan menemukan antrian lumayan panjang. Maklum, sejak kemarin berita di tivi mengabarkan jalur kereta api mengalami lonjakan penumpang.

Aku mengekor langkah seorang mahasiswa UNY mencari tempat duduk. Lumayan padat. Dan kami terhenti di bangku kosong, dengan dua perempuan di hadapan kami. Awalnya tak bertegur sapa. Seperti biasa aku hanya diam jika tak ditanya. Perempuan berjilbab di depanku akhirnya membuka obrolan. Masing-masing mengungkap kota tujuan dan aktivitas di Jogja. Perempuan di pojokan arah diagonalku tak banyak bicara, agak sibuk dengan ponselnya.

Si anak UNY kemudian asyik dengan buku sejarah Indonesia. Hanya perempuan di depanku sesekali mengajak bicara, selebihnya diam. Ia turun paling awal. Dan kemudian digantikan sepasang suami istri yang membuatku berpindah menyebelahi perempuan berkaca mata yang sedari tadi asyik dengan hp. Lalu datang seorang ibu setengah tua memadatkan bangku sebelahku, dan pas lah sudah 6 orang mengisi satu bilik.

Perjalanan ini menjadi perjalanan kereta ekonomi paling menyenangkan yang pernah kualami. Bagaimana tidak, awal-awal aku beranggapan duduk dengan orang tua akan menjemukan. Ternyata si bapak pandai berlelucon. Perempuan yang sibuk dengan hp nya itu kerap ikut tertawa melihat ulah iseng si bapak. Belum lagi perempuan setengah baya di sebelahku yang maniak infotainment makin meriuhkan suasana.

Anak UNY itu kemudian turun di Mojokerto. Di tengah panas dan batre yang sudah menipis, seorang dari masa lalu menelepon. Dua kali, tak terangkat karena hp aku silent. Agak kaget juga, mengingat komunikasi pernah macet dulu, hanya akhir-akhir ini kadang bertemu di chat yahoo. Ia bertanya kondisi dan tetek bengek Merapi. Satu lagi sisi lain sebuah perjalanan.

Dan ini yang paling menyenangkan, perempuan yang sejak tadi autis dengan hpnya dan tidur itu entah siapa yang mengawali lantas membuka jalur obrolan. Karena jarak yang terlalu dekat aku mengira ia bisa membaca apa isi smsku, sama ketika ia sms aku bisa melongok isinya.

Si bapak yang lucu mulai menanyai kami. Ia turun di Pasuruan, sementara ibu di sebelahku menuju Probolinggo. Sebuah kota yang kukenal amat sangat. Dan si bapak kenal betul daerah tujuan perempuan berkacamata itu. Disitulah, si perempuan ini banyak buka mulut. Dan seumur-umur melakukan perjalanan kereta, tak pernah sekalipun aku bertukar nomer hp dengan penumpang lain. Apalagi penumpang yang awalnya kelihatan bete seperti perempuan itu.

Ia magang di sebuah maskapai penerbangan, calon pramugari sepertinya. Kota asalnya paling ujung Jawa Timur. Dan ia ternyata suka bercanda. Kompakan dengan si bapak yang lucu sama istrinya yang pelit dan si ibu sebelah yang cerewet, ia berbaur menyumbang tawa. Melewati Surabaya berarti sejam lagi aku akan sampai di kota tujuan. Dan entah mengapa makin akrab lah kami. Beberapa kali ia menepuk dengkulku atas lelucon yang kulempar atas namanya. Yang terlucu, aku tak pernah tau stasiun tempatku harus turun, jadi setiap naik kereta aku selalu bertanya kepada penumpang jika akan sampai stasiun yang kutuju. Dan kebiasaanku adalah jauh sebelum turun aku sudah siap-siap. Maklum, stasiun kecil, kereta hanya berhenti maksimal 5 menit. Dan barang yang kubawa cukup berat jadi tak mau gambling aku memilih aman menunggu di pintu.
"Masih lama kok!" tegur perempuan itu melihat aku sibuk bersiap-siap.
"Lho katanya satu kali stasiun lagi?" ujarku sembari agak girang karena beberapa kali ia terlihat "tak rela" aku turun. Aku merasakan kedekatan ketika tiap perilakuku tak lepas dari bidikan matanya.
"Iya tapi masih lama, ngapain berdiri di pintu."
Aku menurut. Melanjutkan obrolan. Bapak yang lucu itu seperti menaruh "curiga" ketika kami bertukar nomer hape. Aku yakin ia berpikiran kami sedemikian dekat dari tadi kayak udah kenal lama lha kok baru tanya nama dan nomer hp. Aku juga agak ngakak seh, wong juga baru pertama kenal orang di kereta langsung akrab.

Usai melewati lumpur lapindo aku mengemasi barangku. Kali ini ia tak melarang.
"Lho kenapa kok turun, masih lama kok, tidur aja dulu!" canda si ibu cerewet yang sedari tadi ingin aku turun di kota tujuannya yang merupakan kota tempatku lahir dan dibesarkan.
"Ya sekalian aja bablas ke Banyuwangi!" celetuk si perempuan, ngarep.com.
"Wah kalau Prob aku masih hapal, nah kalau banyuwangi aku tolah toleh nanti, nggak pernah kesana!"
"Kan ada mbak nya!" ujar si ibu menunjuk si perempuan itu yang hanya mengangguk-angguk.
"Udah ah, sebentar lagi sampai.." pamitku sembari menyalami satu persatu orang, termasuk pada perempuan yang memangku anaknya yang menumpang di bilik kami. "Mbak, pamit dulu, salaman meski belum kenal," ujarku pada perempuan bertampang judes itu. Eh si calon pramugari itu malah mencubitiku ketika aku berpamit demikian pada si ibu jutek. Aku menolehnya, "kenapa mencubitku?", ia menjawab dalam tatap mata "Nggak usah pamit kayak gitu lah,".
Dan aku dengan tak rela menggerakkan kakiku ke bibir pintu.

Berita Merapi masih menghangat dan menjadi topik obrolan kami ketika bertukar pesan pendek, selain sama-sama merasakan kebosanan di kampung halaman. Dan tercetuslah darinya ide pulang bersama. Ia berencana pulang sabtu, aku mengajukan kamis. "Wah kalau kamis ya aku cuma capek di jalan aja, baru juga senin pulang. Sabtu aja?"
Tarik ulur akhirnya sepakat hari Jumat. Dan berbagai pesan pendek kemudian menghias. Berita gempa. Isu Merapi. Hobi. Aktivitas. Dan hal lain.

Sejenak beralih dari perempuan ini, aku mengabari perempuan yang dulu mengira aku laki-laki bahwa aku sedang pulkam. Aku baru menyadari bahwa kami telah saling mengenal sekitar 7 tahun lalu dan tak pernah bertemu muka. Hanya bertelepon. Ya, aku cukup takjub karena kami tetap bisa dekat padahal itungannya ia "tertipu" oleh jenis kelaminku yang membuat kami sempat "pacaran" setahun.
"Ke BWS dunk, kan udah deket?" pintanya. "Masak udah 7 taon lho!"
"Ya kamu katanya mau ke Jogja?"
"Batal, duit e tak pake ke Bali ama tanteku. Wes saiki sampeyan ke BWS aja? Aku tunggu."
"Aku malu ama sohibmu. Ntar dia marah ama aku!" ujarku sembari teringat karibnya yang juga setahun kupacari sebelum perempuan ini yang juga ngira aku laki-laki. Tapi kini karibnya sudah nikah dan punya anak, sedangkan perempuan ini belum juga menikah. Usianya dua tahun dibawahku. Cerita cintanya hampir sama dengan karibnya, tetapi penyakit yang menggerogotinya membuatnya tak seberuntung karibnya.

Ia menelepon lama. Membincangkan yang terjadi dulu. Sekilas merindukan masa itu, diperebutkan dua perempuan yang mengiraku laki-laki. Perempuan ini memilih bertahan menjadikanku teman sedang karibnya membenciku setengah mati.
"Nanti kalau kamu ke rumah, tak kenalin sebagai saudara jauhku di depan dia, jangan kuatir yang penting kamu kesini dulu."
Ia mendesak, padahal aku bukan hanya malu pada karibnya tapi juga pada ibu dan kakak perempuannya yang juga mengenal Rey -nama samaran laki-laki yang kubuat-. Tiap hari ia menagih untuk ke kotanya. Salut juga ketika dengan tangan terbuka ia menerima orientasi seksualku.

Ia berangan hidup di Jogja. Tahun Baru adalah momen yang dipilihnya. Aku mengamini jika ia ingin mencoba peruntungan di Jogja aku menerimanya juga dengan tangan terbuka. Aku mendefinisikan perempuan itu sebagai saudara. I do care, dan begitu juga ia. And I do hope that we can meet someday. Meski kini kecanggihan teknologi sudah ada kok susah banget untuk tau potret dirinya. Maklumlah gambar ia dan karibnya yang kupunya sekitar 6 thn lalu juga raib bersama hp samsung yang kujual. Dulu tak ada kabel data untuk transfer, jadi rekaman wajahnya hanya ada dalam anganku. Dan masih untung aku, karena ia tak sekalipun pernah tau wajahku.

Sisi lain sebuah perjalanan, menemukan orang-orang baru juga orang lama yang menunggu mereguk pertemuan di Jogja, semoga.

Monday, November 1, 2010

Catatan Akhir Oktober

Oktober mungkin bulan yang cukup melelahkan sepanjang setahun ini. Bagaimana tidak, aku merasa segala suka duka perjalanan hidup tumplek blek di bulan ini. Keresahan, kegelisahan, frustasi dan disorientasi menyapaku bergantian dengan senyum dan tawa serta cinta, bahkan nyaris di saat yang bersamaan.
Suguhan hidup awalnya menghantar sesajen apa yang disebut gelimangan rupiah. Dengan sebuah kerja dan karya tentunya. Pun tak ketinggalan ketika belitan pikiran, mendadak menghadirkan pertanyaan demi pertanyaan tentang hidup. Dan dimulailah disorientasi itu...

Kosakata yang tiba-tiba sering mampir dalam pelafalan lisanku. Disorientasi hidup, mau dibawa kemana... Ada yang bilang aku terlalu banyak mikir. Mau tak dipikir, ketika duduk seorang diri renungan itu mau tak mau hadir. Aku kemudian menyibukkan diri dengan tak membiarkan diri seorang diri. Pengalihan beberapa saat, selebihnya hadir kembali.

Membagi dengan seseorang. Beberapa kali kucoba. Melegakan memang, namun lama kelamaan menyadari tiap orang juga punya beban pikiran masing-masing, tak selamanya mempersilahkan waktu untuk terus mendengar keluh kesah. Dan satu yang tak pernah hilang, jangan menyimpan cerita kepada manusia. Itu pepatah yang akan selalu kupegang.

Dulu, aku kapok dengan pertemanan. Kini, ingin lepas dari esensialis, maka bukalah diri. Namun tampaknya aku memang tak pernah berjodoh dengan pertemanan. Teman mungkin seabreg, tapi untuk bercerita, rasanya kapokku belum ilang.

Perubahan diri. Kelewat sensitif. Tak bisa lagi merasakan greget hidup. Malah tenggelam dengan fikir. Mungkin sedang bosan saja!

Badanku meringkih. Aku tak tau apa sebab, tapi kondisi tubuh sedang sering drop. Umur tak terlalu tua, bukan? Apa saking terlalu banyak mikir? Seluruh persendian nyeri-nyeri, kecapean kah? Tanda tanya lagi. Belum lagi gigi yang dari dulu tak pernah mengeluh mendadak ngilu-ngilu. Ah, sungguh bulan ini penuh ragam warna. Dan wajah ibu yang seketika kerap membayang.

Ada sebuah cerita menarik, pernah, dalam titik nol ku aku berujar ingin menyusul ayah, namun di tiap aku memikirkannya dalam detik itu juga ada saja yang membatalkannya. Entah itu tiba-tiba seorang teman muncul di pintu kamar, atau bahkan dering telepon yang memang tak menaruh curiga linangan airmata terderak dalam sayu suara. Entah, dua kali itu juga gagal aku menyusul ayah, bagiku itu pertanda. Bahwa bukan waktunya menyusul beliau, ada seorang perempuan renta yang butuh kekuatanku. Yang selalu menengadahkan tangan keatas meminta pada sang pemberi hidup untuk senantiasa menjagaku. Ya, aku harus kuat!

Oktober telah berlalu, menyilahkan November dan lingkaran bulan lain untuk kulewati. Larut dalam fikir yang tak akan terpenuhi jawab, jalani saja!