Merapi terbatuk hebat sejak akhir Oktober, dan bersama itu pula kekuatiranku mengiring. Maklum, tak pernah berada di suatu bencana. Mungkin bagi yang pernah merasakan gempa Jogja tak akan sepanik yang kurasakan.
Malam adalah saat yang mendebarkan. Bukan hanya bagiku, beberapa teman kost pun merasakan. Ditambah dengan sms aspal yang tiap malam berseliweran, terutama malam jumat, yang menambah horor suasana. Walhasil, tidur pun jadi offroad. Berganti-ganti kamar, bahkan terkadang menumpang di kamarku. Panik, yah begitulah. Ditambah kecemasan orang rumah, beuh tidur malam gak pernah tenang, pagi-pagi sudah ditelpon bergantian meminta untuk segera pulang, makin pusing ini kepala. Pun ternyata seorang teman kantor merasa hal yang sama. Ia memintaku mengajukan libur, setidaknya membuat orang rumah tenang. Dan itu terkabulkan.
Senin pagi, mayoritas anak kost sudah beberapa kembali ke kampung halaman. Hanya beberapa saja yang terikat pekerjaan tak diperbolehkan pulang. Menuju Lempuyangan dan menemukan antrian lumayan panjang. Maklum, sejak kemarin berita di tivi mengabarkan jalur kereta api mengalami lonjakan penumpang.
Aku mengekor langkah seorang mahasiswa UNY mencari tempat duduk. Lumayan padat. Dan kami terhenti di bangku kosong, dengan dua perempuan di hadapan kami. Awalnya tak bertegur sapa. Seperti biasa aku hanya diam jika tak ditanya. Perempuan berjilbab di depanku akhirnya membuka obrolan. Masing-masing mengungkap kota tujuan dan aktivitas di Jogja. Perempuan di pojokan arah diagonalku tak banyak bicara, agak sibuk dengan ponselnya.
Si anak UNY kemudian asyik dengan buku sejarah Indonesia. Hanya perempuan di depanku sesekali mengajak bicara, selebihnya diam. Ia turun paling awal. Dan kemudian digantikan sepasang suami istri yang membuatku berpindah menyebelahi perempuan berkaca mata yang sedari tadi asyik dengan hp. Lalu datang seorang ibu setengah tua memadatkan bangku sebelahku, dan pas lah sudah 6 orang mengisi satu bilik.
Perjalanan ini menjadi perjalanan kereta ekonomi paling menyenangkan yang pernah kualami. Bagaimana tidak, awal-awal aku beranggapan duduk dengan orang tua akan menjemukan. Ternyata si bapak pandai berlelucon. Perempuan yang sibuk dengan hp nya itu kerap ikut tertawa melihat ulah iseng si bapak. Belum lagi perempuan setengah baya di sebelahku yang maniak infotainment makin meriuhkan suasana.
Anak UNY itu kemudian turun di Mojokerto. Di tengah panas dan batre yang sudah menipis, seorang dari masa lalu menelepon. Dua kali, tak terangkat karena hp aku silent. Agak kaget juga, mengingat komunikasi pernah macet dulu, hanya akhir-akhir ini kadang bertemu di chat yahoo. Ia bertanya kondisi dan tetek bengek Merapi. Satu lagi sisi lain sebuah perjalanan.
Dan ini yang paling menyenangkan, perempuan yang sejak tadi autis dengan hpnya dan tidur itu entah siapa yang mengawali lantas membuka jalur obrolan. Karena jarak yang terlalu dekat aku mengira ia bisa membaca apa isi smsku, sama ketika ia sms aku bisa melongok isinya.
Si bapak yang lucu mulai menanyai kami. Ia turun di Pasuruan, sementara ibu di sebelahku menuju Probolinggo. Sebuah kota yang kukenal amat sangat. Dan si bapak kenal betul daerah tujuan perempuan berkacamata itu. Disitulah, si perempuan ini banyak buka mulut. Dan seumur-umur melakukan perjalanan kereta, tak pernah sekalipun aku bertukar nomer hp dengan penumpang lain. Apalagi penumpang yang awalnya kelihatan bete seperti perempuan itu.
Ia magang di sebuah maskapai penerbangan, calon pramugari sepertinya. Kota asalnya paling ujung Jawa Timur. Dan ia ternyata suka bercanda. Kompakan dengan si bapak yang lucu sama istrinya yang pelit dan si ibu sebelah yang cerewet, ia berbaur menyumbang tawa. Melewati Surabaya berarti sejam lagi aku akan sampai di kota tujuan. Dan entah mengapa makin akrab lah kami. Beberapa kali ia menepuk dengkulku atas lelucon yang kulempar atas namanya. Yang terlucu, aku tak pernah tau stasiun tempatku harus turun, jadi setiap naik kereta aku selalu bertanya kepada penumpang jika akan sampai stasiun yang kutuju. Dan kebiasaanku adalah jauh sebelum turun aku sudah siap-siap. Maklum, stasiun kecil, kereta hanya berhenti maksimal 5 menit. Dan barang yang kubawa cukup berat jadi tak mau gambling aku memilih aman menunggu di pintu.
"Masih lama kok!" tegur perempuan itu melihat aku sibuk bersiap-siap.
"Lho katanya satu kali stasiun lagi?" ujarku sembari agak girang karena beberapa kali ia terlihat "tak rela" aku turun. Aku merasakan kedekatan ketika tiap perilakuku tak lepas dari bidikan matanya.
"Iya tapi masih lama, ngapain berdiri di pintu."
Aku menurut. Melanjutkan obrolan. Bapak yang lucu itu seperti menaruh "curiga" ketika kami bertukar nomer hape. Aku yakin ia berpikiran kami sedemikian dekat dari tadi kayak udah kenal lama lha kok baru tanya nama dan nomer hp. Aku juga agak ngakak seh, wong juga baru pertama kenal orang di kereta langsung akrab.
Usai melewati lumpur lapindo aku mengemasi barangku. Kali ini ia tak melarang.
"Lho kenapa kok turun, masih lama kok, tidur aja dulu!" canda si ibu cerewet yang sedari tadi ingin aku turun di kota tujuannya yang merupakan kota tempatku lahir dan dibesarkan.
"Ya sekalian aja bablas ke Banyuwangi!" celetuk si perempuan, ngarep.com.
"Wah kalau Prob aku masih hapal, nah kalau banyuwangi aku tolah toleh nanti, nggak pernah kesana!"
"Kan ada mbak nya!" ujar si ibu menunjuk si perempuan itu yang hanya mengangguk-angguk.
"Udah ah, sebentar lagi sampai.." pamitku sembari menyalami satu persatu orang, termasuk pada perempuan yang memangku anaknya yang menumpang di bilik kami. "Mbak, pamit dulu, salaman meski belum kenal," ujarku pada perempuan bertampang judes itu. Eh si calon pramugari itu malah mencubitiku ketika aku berpamit demikian pada si ibu jutek. Aku menolehnya, "kenapa mencubitku?", ia menjawab dalam tatap mata "Nggak usah pamit kayak gitu lah,".
Dan aku dengan tak rela menggerakkan kakiku ke bibir pintu.
Berita Merapi masih menghangat dan menjadi topik obrolan kami ketika bertukar pesan pendek, selain sama-sama merasakan kebosanan di kampung halaman. Dan tercetuslah darinya ide pulang bersama. Ia berencana pulang sabtu, aku mengajukan kamis. "Wah kalau kamis ya aku cuma capek di jalan aja, baru juga senin pulang. Sabtu aja?"
Tarik ulur akhirnya sepakat hari Jumat. Dan berbagai pesan pendek kemudian menghias. Berita gempa. Isu Merapi. Hobi. Aktivitas. Dan hal lain.
Sejenak beralih dari perempuan ini, aku mengabari perempuan yang dulu mengira aku laki-laki bahwa aku sedang pulkam. Aku baru menyadari bahwa kami telah saling mengenal sekitar 7 tahun lalu dan tak pernah bertemu muka. Hanya bertelepon. Ya, aku cukup takjub karena kami tetap bisa dekat padahal itungannya ia "tertipu" oleh jenis kelaminku yang membuat kami sempat "pacaran" setahun.
"Ke BWS dunk, kan udah deket?" pintanya. "Masak udah 7 taon lho!"
"Ya kamu katanya mau ke Jogja?"
"Batal, duit e tak pake ke Bali ama tanteku. Wes saiki sampeyan ke BWS aja? Aku tunggu."
"Aku malu ama sohibmu. Ntar dia marah ama aku!" ujarku sembari teringat karibnya yang juga setahun kupacari sebelum perempuan ini yang juga ngira aku laki-laki. Tapi kini karibnya sudah nikah dan punya anak, sedangkan perempuan ini belum juga menikah. Usianya dua tahun dibawahku. Cerita cintanya hampir sama dengan karibnya, tetapi penyakit yang menggerogotinya membuatnya tak seberuntung karibnya.
Ia menelepon lama. Membincangkan yang terjadi dulu. Sekilas merindukan masa itu, diperebutkan dua perempuan yang mengiraku laki-laki. Perempuan ini memilih bertahan menjadikanku teman sedang karibnya membenciku setengah mati.
"Nanti kalau kamu ke rumah, tak kenalin sebagai saudara jauhku di depan dia, jangan kuatir yang penting kamu kesini dulu."
Ia mendesak, padahal aku bukan hanya malu pada karibnya tapi juga pada ibu dan kakak perempuannya yang juga mengenal Rey -nama samaran laki-laki yang kubuat-. Tiap hari ia menagih untuk ke kotanya. Salut juga ketika dengan tangan terbuka ia menerima orientasi seksualku.
Ia berangan hidup di Jogja. Tahun Baru adalah momen yang dipilihnya. Aku mengamini jika ia ingin mencoba peruntungan di Jogja aku menerimanya juga dengan tangan terbuka. Aku mendefinisikan perempuan itu sebagai saudara. I do care, dan begitu juga ia. And I do hope that we can meet someday. Meski kini kecanggihan teknologi sudah ada kok susah banget untuk tau potret dirinya. Maklumlah gambar ia dan karibnya yang kupunya sekitar 6 thn lalu juga raib bersama hp samsung yang kujual. Dulu tak ada kabel data untuk transfer, jadi rekaman wajahnya hanya ada dalam anganku. Dan masih untung aku, karena ia tak sekalipun pernah tau wajahku.
Sisi lain sebuah perjalanan, menemukan orang-orang baru juga orang lama yang menunggu mereguk pertemuan di Jogja, semoga.
No comments:
Post a Comment