Wednesday, November 17, 2010

THE MOTIVATORS


Masalah adalah hal biasa dalam hidup, tapi kadang kita membutuhkan teman untuk berbagi, melepas cerita bahkan hanya untuk mendengar celoteh hati. Aku hendak memberi applaus pada mereka yang kujuluki the motivators ini.

Perempuan-perempuan perkakas, begitu aku menyebut dua perempuan ini. Karena kebisaan mereka akan hal yang kasat mata. Yang satu kujuluki konselorku, selain emang sehari-hari memang konselor hehe. Dan yang satu lagi aku mengenalnya cukup lama. Curhat pun hanya lewat chat fb. Tapi berterimakasih karena usai ngobrol kadang melegakan.

Dan motivator lain, aku tak percaya kini menyebutnya sebagai motivator haha karena boleh kubilang hubungan emosional kami kuanggap "aneh". Bagaimana tidak, Juli kami dipertemukan, dan sejak belum mengetahui namanya aku sudah jatuh hati. Jatuh hati yang kupendam dan baru kuungkap ketika berpisah. Pun ketika kami bertemu kembali, kukira perasaan itu sudah mati, ternyata cemburu masih ada. Tapi berselang berapa hari saja, karena selebihnya logikaku telah cukup sadar untuk tak meneruskan hal yang sedari awal tak untuk dimiliki. Dan benar saja, ketika bertemu ketiga kalinya, rasa itu sudah benar-benar musnah, tapi kedekatan kami kian muncul disana. Bukan lagi kulibatkan emosional perasaan tapi hanya karib. Kian kemari, we've been like a sibling, supporting each other in positive way. Kadang kalau ingat fluktuasinya, aku tertawa, bagaimana bisa aku dulu jatuh hati padanya, sedang kini kami kerap bercanda tawa layaknya saudara. Tak ada yang tidak mungkin, sesuai dengan slogan miliknya. Ia memotivasiku untuk lebih berani mengejar apa yang kusuka dan inginkan. Membuka hati, menerima resiko jika memang akan sakit, yang terpenting melewati proses dan memperjuangkan apa yang ingin diraih. Thanks broth, julukan yang ia tak suka karena lebih doyan dipanggil sist, tapi aku keukeuh melabeli buci inside untuknya. We've been through our ways so far and hopefully we can achieve our goals in our life and our love journey. Chayoo broth...

Motivator terakhir adalah yang paling tidak dinyana-nyana. Jalur obrolan kami dibuka lagi beberapa waktu lalu setelah vakum panjang. Hanya via YM. Dan dering telepon ketika mengantarku pulang kampung minggu lalu. Aku juga nggak nyangka ia menelepon, menanyakan kabar dan Merapi. Pun ketika dalam perjalanan pulang, pesan pendeknya mampir di ponselku. Saat itulah dialog awal dibuka kembali. Proses panjang yang bagiku sudah selesai terpampang lagi.

Tidak. Aku tidak merasa terkorek. Karena aku meyakini prosesku telah selesai. Panjang lebar aku menjelaskan tentang situasi hati kini, karena ia masih merasa tak enak hati akan cerita lalu. Memulai obrolan kembali dengannya bagiku bukan memutar rekaman masa lalu karena kami telah punya hidup masing-masing, meski untuk urusan hati aku tak seberuntung dia. Faktor unlucky aja mungkin, sebab juga terlalu capek jika terus menggunakan alasan belum ketemu orang yang tepat. Haha selalu dan selalu begitu.

Kami berdialog panjang kalau boleh dibilang ngalor ngidul. Mulai dari oleh-oleh pulkam, samboza in memorial, dan terakhir: penjelasan yang tak tersampaikan sekitar empat tahun lalu. Aku berkata jujur ketika itu benar-benar dilanda kebingungan apa sebab ia sepertinya berlaku tak adil. Tapi kembali, empat tahun bukan waktu yang singkat untuk perenungan dan mengambil hikmah. Meletakkan umurku kini di umurnya kala itu, aku sependapat jika dulu ia mengambil keputusan yang dipilihnya dulu. Proses belajar yang selalu kutanamkan dalam benakku. Aku tak lagi menyalahkannya seperti dulu, pun tak lagi menyalahkan diri sendiri atas sifat dan sikap kekanakan di umurku kala itu. Kini hanya proses yang usai dan sebaris senyuman memaknai sebuah proses hati.

Cerita berlanjut pada ia bukanya sesi curhat. Ya, beberapa kali curhat terlontar. Aku sungguh mengucap selamat datang pada kakak yang selalu istimewa dalam bentuk dan cara pandang berbeda kini. Menjadi salah satu motivator pembangkit rasa minderku yang lumayan parah.

Someone said I'm extraordinary...
I have to keep in mind that I'm a loveable person, nice to talking to, and of course deserved to have someone by my side, but I might to convince my self before I'm convinced other...
Must say what I want. Dont think it will be hurt or not. But let it flow as it way to be...

Pujian semenit untuk diri sendiri, bukan tuk membuat diri terlena. Paling tidak segala hal positif melekat di benak untuk direalisasikan dalam polah keseharian, semoga.

Ya, thanks all motivators, sist, kakak... Sometimes I still get frustrated of this f**king completely life. Hopefully, I will not lost in my own mind and heart for a long time...

No comments: