Monday, November 1, 2010

Catatan Akhir Oktober

Oktober mungkin bulan yang cukup melelahkan sepanjang setahun ini. Bagaimana tidak, aku merasa segala suka duka perjalanan hidup tumplek blek di bulan ini. Keresahan, kegelisahan, frustasi dan disorientasi menyapaku bergantian dengan senyum dan tawa serta cinta, bahkan nyaris di saat yang bersamaan.
Suguhan hidup awalnya menghantar sesajen apa yang disebut gelimangan rupiah. Dengan sebuah kerja dan karya tentunya. Pun tak ketinggalan ketika belitan pikiran, mendadak menghadirkan pertanyaan demi pertanyaan tentang hidup. Dan dimulailah disorientasi itu...

Kosakata yang tiba-tiba sering mampir dalam pelafalan lisanku. Disorientasi hidup, mau dibawa kemana... Ada yang bilang aku terlalu banyak mikir. Mau tak dipikir, ketika duduk seorang diri renungan itu mau tak mau hadir. Aku kemudian menyibukkan diri dengan tak membiarkan diri seorang diri. Pengalihan beberapa saat, selebihnya hadir kembali.

Membagi dengan seseorang. Beberapa kali kucoba. Melegakan memang, namun lama kelamaan menyadari tiap orang juga punya beban pikiran masing-masing, tak selamanya mempersilahkan waktu untuk terus mendengar keluh kesah. Dan satu yang tak pernah hilang, jangan menyimpan cerita kepada manusia. Itu pepatah yang akan selalu kupegang.

Dulu, aku kapok dengan pertemanan. Kini, ingin lepas dari esensialis, maka bukalah diri. Namun tampaknya aku memang tak pernah berjodoh dengan pertemanan. Teman mungkin seabreg, tapi untuk bercerita, rasanya kapokku belum ilang.

Perubahan diri. Kelewat sensitif. Tak bisa lagi merasakan greget hidup. Malah tenggelam dengan fikir. Mungkin sedang bosan saja!

Badanku meringkih. Aku tak tau apa sebab, tapi kondisi tubuh sedang sering drop. Umur tak terlalu tua, bukan? Apa saking terlalu banyak mikir? Seluruh persendian nyeri-nyeri, kecapean kah? Tanda tanya lagi. Belum lagi gigi yang dari dulu tak pernah mengeluh mendadak ngilu-ngilu. Ah, sungguh bulan ini penuh ragam warna. Dan wajah ibu yang seketika kerap membayang.

Ada sebuah cerita menarik, pernah, dalam titik nol ku aku berujar ingin menyusul ayah, namun di tiap aku memikirkannya dalam detik itu juga ada saja yang membatalkannya. Entah itu tiba-tiba seorang teman muncul di pintu kamar, atau bahkan dering telepon yang memang tak menaruh curiga linangan airmata terderak dalam sayu suara. Entah, dua kali itu juga gagal aku menyusul ayah, bagiku itu pertanda. Bahwa bukan waktunya menyusul beliau, ada seorang perempuan renta yang butuh kekuatanku. Yang selalu menengadahkan tangan keatas meminta pada sang pemberi hidup untuk senantiasa menjagaku. Ya, aku harus kuat!

Oktober telah berlalu, menyilahkan November dan lingkaran bulan lain untuk kulewati. Larut dalam fikir yang tak akan terpenuhi jawab, jalani saja!

No comments: