Friday, November 19, 2010

I Love U, Mom!

Mengenang ibu adalah waktu bagiku untuk merenung panjang. Meski ini bukan kali pertama, kalau dibilang mungkin jengah bercerita tentang ibu, tapi aku tetap dan terus bertutur tentangnya.

Terakhir pulang kemarin, aku masih ingat ia mempermasalahkan tentang penampilanku yang tidak ada perempuan-perempuannya ini. Aku agak heran sebenarnya akhir ini tiap pulang ia mengkoreksi baju yang kupakai, tatanan rambut dan make up. Ia yang biasanya tak pernah komentar apapun tiba-tiba nyeletuk kenapa aku tak suka memakai legging seperti kebanyakan perempuan lain, kenapa aku suka sekali mengacak-acak rambutku dan kenapa aku tak pernah pakai make up walau sekedar bedak. Hmm, kok jadi ribet perempuan itu sekarang?

Belum lagi soal pendamping. Ibu tak mendesak. Hanya mulai bertanya sejak lebaran kemarin intensitas pengulangan pertanyaannya kian kerap. Dan aku menjawab semuanya dengan pengalihan isu topik pembicaraan. Sejauh ini manjur, namun entah sampai kapan.

Sejak jaman dahulu kala aku jarang sependapat dengan pola pikirnya. Kadang berselisih paham. Kadang salah satu dari kami sampai bertanduk. Secara karakter, ayah memang jauh lebih paham daripada ibu yang hanya mikir kalau aku pemarah. Itu yang mungkin selalu diingat tentang aku. Memahami beliau sepertinya jarang bisa kulakukan.

Tapi tak berarti selisih paham membuat kami tak saling kasih, ia hanya terlalu menguatirkanku, kurasa.

Sosok perempuan itu sudah mulai renta dan sakit-sakitan. Satu beban moril yang masih sering menghantui pikiran adalah bagaimana bisa aku memberinya keturunan dari darah daging sendiri sementara aku tak pernah membayangkan untuk melalui proses itu?

Mom, bukan ingin tuk selalu menghindar. Andai tahu bagaimana cara bincangkan tentang aku denganmu. Kupikir kau memang tak akan mengerti, tapi aku hanya ingin kau tau. Kapankah itu?

No comments: