
Aku menyukaimu, bahkan sejak belum tau namamu...
Aku menuliskannya di status fesbuk. Untukmu, pemilik mata indah yang sedari awal telah memikatku.
Aku melihatmu ketika awal menjejakkan kaki disana. Tak ada rasa memang, ahahaha tak ada cinta pada pandangan pertama, mungkin kedua atau ketiga hehe. Malamnya, ketika sedang menunggu, aku ingat betul -mungkin kamu juga mengingatnya-, kamu menawariku batang sigaret yang telah lebih dulu kau sulut. Aku menolak, karena aku memang tak merokok. Lalu datang teman2 lain, dan saling berjabat tangan. Kau tampak telah akrab dengan beberapa diantara mereka sedang aku masih asing. Aku menajamkan telinga ketika kau mengucap namamu, tapi lirih. Aku hanya mendengar akhiran nama belakangmu. Saat itulah aku mulai mencuri pandang. Aku menulis pesan pada temanku bahwa teman sekamarnya itu sepertinya lesbian, tapi temanku tak percaya. Percaya atau tidak gaydarku menangkap demikian. Dan benar, kamu lesbian.
Saat makan malam, aku mencoba cair dengan melempar joke2. Maklum, aku kadang canggung di lingkungan baru dan biasanya hanya terdiam menjadi pendengar. Namun teman2 baru ini lumayan pandai melucu, jadi aku terhanyut. Dan aku tak sengaja menubruk matamu, mata yang sepertinya hendak mencari tau. Tatapan itu begitu misterius. Beberapa kali bertabrakan pandang, aku memutuskan bertanya...
"Namamu siapa tadi?" tanyaku ingin memastikan pendengaranku tak salah. Dan jawabanmu mengesalkan.
"Nggak tau!"
"Ow jadi namamu nggak tau, baiklah kupanggil kamu mbak nggak tau ya..."
Kamu menanggapi dingin. Hmm, aku berkesimpulan awal, LESBIAN JAIM. Kamu memang bukan perempuan pertama yang kusuka. Aku telah lebih dulu menancapkan perhatian pada perempuan lain, yang lumayan telah lama kukagumi otaknya. Namun matamu adalah pesona lain.
Hari bergulir, aku kerap memperhatikanmu. Tentu saja tanpa sepengetahuanmu. Di awal perkenalan kamu membuka diri telah berelasi. Sebuah pengakuan yang bagiku menjadi penutup untuk tak memunculkan perasaan apapun padamu.
"Saya tipe setia." Begitu ujarmu. Aku menghargainya.
Aku juga kerap berspekulasi bahwa kamu berelasi dengan salah satu teman disini, melihat keakraban kalian dan kecemburuannya terhadapmu. Aku bahkan menjaga jarak. Aku tipikal orang yang akan menarik diri jika bersinggungan dengan orang yang telah berelasi. Aku nggak pengen terlibat kesalahpahaman, sekecil apapun.
Dan entah sejak kapan perasaan itu mulai muncul. Padahal logikaku sudah jelas2 menyetop tak boleh ada perasaan pada orang yang telah berelasi. Ditambah sikapmu mulai berbeda. Mungkin asumsiku saja, tapi kau mulai menyebar jaringmu mendekat. Ge-er, terserah, tapi aku begitu merasa...
Namun tetap saja, logika dalam otakku mati2an me-warning. Dan bentrokan jelas terjadi. Otak dan hati. Mulai nggak sinkron. Flirting yang kian menjadi. Kebimbangan otak dan hatiku. Semua beradu. Aku mengambil kesimpulan, mungkin kamu memang tukang flirting.
Kian hari keakraban, kedekatan, perhatian, joke, tawa, tatapan, semua kian rancu, namun sebelah hatiku tetap mewanti-wanti: Aku sedang berhadapan dengan pengobrak-abrik hati. Waspadalah, waspadalah!
Sebelum malam truth or dare itu, kamu selalu mengambil duduk dekatku tiap makan, padahal kursi lain tersedia. Aku saja sampe "ketakutan" akan timbul salah paham dengan best friend yang selalu cemburu padamu itu. Dan kamu "sepertinya" berharap akan duduk bersebelahan denganku, tapi tak pernah terkabul. Pernah sekali, itu pun karena seorang teman meminjam laptop yang kupakai, dan aku diharuskan bertukar tempat duduk yang persis di sebelahmu. Namun aku malah tak pernah mencoba menatap mata indah itu. Kebiasaanku lagi! Jika orangnya jauh aku curi2 pandang, tapi kalo ia dekat aku bahkan tak berani menatap.
Ketika alih2 jadi peramal, setelah membaca telapak tangan kiriku, kamu berkata bahwa aku rumit, sensitif dan nggak bisa kecentok. Banyak yang sudah kamu tabur, hingga malam itu...
Menjadi tempat berkumpul para perempuan yang hendak mempersiapkan apa yang akan ditampilkan pada malam akbar. Tak ada ide. Akhirnya malah tercetus ide permainan truth or dare dalam game domikado. Semua setuju. Aku agak riskan, pasti kamu akan mengorekku. Dan kulihat kamu begitu bersemangat ketika akan giliranku kena, tapi meleset... Sampai semua terkorek, hanya aku yang tetap tak kena.
Pemain domikado adalah para perempuan hetero dan lesbian. Konteks pertanyaan seputar seksualitas, mulai dari sejauh mana dalam pacaran, posisi ML yang paling disuka dan bagaimana caranya, dan ada juga yang ternyata hanya pernah berciuman dan sangat tertarik bagaimana cara melakukan masturbasi. Kamu rupanya ahlinya! Kamu mulai bercerita detil bagaimana bermasturbasi. Juga bagaimana posisi ML yang kamu senangi. Aku merasa sepertinya malam itu adalah malam lesbian mengajari heteroseksual tentang seksualitas. Aku menangkap 1 hal, kamu mendengar dengan seksama ketika aku bercerita tentang pengalaman seksualitasku. Sesekali bertanya lebih detil. Suer, ini adalah kali pertama aku ditelanjangi dan menelanjangi seksualitas orang. Dan kami sepertinya tanpa rasa sungkan lepas bercerita, padahal kami baru kenal.
Aku masih ingat kau yang paling awal bertanya padaku: "Gimana tipe perempuan yang kamu suka?". Lalu kau juga bertanya pada saat bagaimana aku akan orgasme. Dan mimik mukamu, benar2 kalau bisa aku malam itu hendak menciummu! Geregetan banget! Diluar konteks, aku untuk pertama kalinya bercerita tentang seksualitas yang tak pernah kuceritakan.
"Disini siapa yang kamu suka?" tanyamu kembali ingin tahu.
Aku sengaja mengulur dan mengalihkan obrolan tapi tetap aku dikejar. Bahkan gilanya kamu mengabsen satu2, membuatku harus menyaring. Dan aku tak bisa mengelak, tetapi aku tak ingin terketahui, aku memutar kata. Gila saja kalau sampai kau tahu! Hingga kamu berkesimpulan bahwa perempuan yang kusuka adalah kamu.
"Dasar tukang flirting!" umpatku dalam hati. Mukanya benar2 penggoda!
Berseling tawa, geli dan teriakan2, malam terus bergulir. Usai saying the truth, kini giliran dare to do something! Kamu kena tantang untuk memelukku 30 detik, dan kau sungguh melakukannya. Benar2 pengobrak-abrik hati! Lalu giliranku, teman2 lain yang sepertinya terpengaruh dengan opini yang kamu giring bahwa perempuan yang kusuka adalah kamu, menyuruhku untuk menciummu. Gila! Dan kau sudah menyorongkan mukamu di depanku. Benar2 gila! Bermain truth or dare, semua harus dilakukan bukan? Lalu aku mengatupkan dua jari di bibirku dan kemudian dua jari itu kusentuhkan ke pipimu. Sebuah ciuman juga, bukan? Meski lewat perantara jemari.
"Wow, romantis banget! Meski lewat jari, tapi itu ciuman romantis!" komentar seorang teman seperti tertakjub2.
Truth or dare malam itu benar2 gila. Perasaanku benar2 sudah dibuat tak bernalar. Logika dan perasaan berperang.
Aku kemudian melunasi hutang pengakuan perasaanku padamu. Meski malam terakhir itu aku sungguh ingin bicara empat mata denganmu, namun kebisuanmu meluruhkanku, sampai pada titik aku benar2 percaya kau tak untuk dimasukkan ke hati.
Aku mungkin telah keliru. Sekian lama masih terlalu hijau untuk tahu dan mencari tahu juga tentang bagaimana memperlakukan dan mendapatkan hati perempuan.
Perahu layar akan mengisi relung kalbuku sebagai senandung pengingatku akanmu. Mata indah itu... (Ge er, terserah! Tapi aku sungguh merasa kau melantunkan lagu itu untukku ketika aku berucap di mobil yang mengantar kita ke peraduan awal masing2 bahwa lagu jawa itu adalah lagu kegemaranku.) Dan bukan kali pertama itu kamu memperuntukkan "sesuatu" padaku, meski kau tak mau “dituduh” melakukan hal tsb untukku dan aku pun jaim mengalihkan apa yang sebenarnya kau lakukan untukku adalah untuk orang lain. Aku hanya bisa menyemai sebait senyum akan semua tentangmu ketika tak secara terurut namun ceceran indah itu tersaji dalam anganku.
I said: "I LOVE U". It is true. You said:"LOVE U 2". Is that true? I guess not. I doubt it.
Tapi kamu menyadarkanku akan satu hal, tentang prinsip yang sejak dulu kujunjung. Menjadi orang yang esensialis, menempatkan benar dan salah pada porsinya. Dilakukan jika benar, dihindari jika salah, itu dulu. Kini kau mengubah persepsiku. Menjadi esensialis, meski terlambat untuk menyadari, ternyata tak memberi keuntungan, pada koridor tertentu tentunya. Oleh karenanya, menjadi bijak memanfaatkan kesempitan dalam kesempatan harus bisa kulakukan. Bukan mengubah secara keseluruhan, just a part of me, to be better.
Ya, kamu mungkin jago mengobrak-abrik hati, namun selayang mataku menangkap bahwa hati seseorang lebih kau selami ketimbang apa yang terlihat diluar, seperti yang kau utarakan tentang tipe idealmu soal perempuan. Kau boleh memungkiri itu dan aku juga mencoba munafik dengan perasaanku. Hubungan yang aneh, memang. Perasaan yang aneh, memang. Flirting!