Friday, July 2, 2010

Gender, Seksualitas dan Budaya

Resume peserta KGS V hari ketiga

SESI I

1. Apresiasi fotografi karya Luci Ferrero 1.
Ragam perspektif dari peserta:
- Transgender yang dikejar pemangku adat.
- Gabungan 2 simbol: seksualitas dan agama, erotisme dan kesakralan.
- Relasi laki-laki dan perempuan dalam budaya ngaben di Bali dianggap sebagai kewajaran.
- Ekspresi budaya yang kuat di Bali.

2. Apresiasi fotografi karya Luci Ferrero 2.
Relasi transgender dengan pemangku adat terlihat begitu intim, seolah pemangku adat hendak mencium transgender, dan ekspresi gembira pemangku adat dan penonton. Di sini transgender yang menari diterima sebagai bagian budaya, tapi tidak untuk posisi lain, semisal menjadi pemangku adat atau tokoh masyarakat. Hal yang menarik, pemangku adat lain tergoda mengajak transgender untuk menari.

3. Pembahasan berkembang ke simbol-simbol di dunia. Seperti kiri identik dengan perempuan, kanan identik dengan laki-laki. Sekaligus fakta empirik perubahan istilah transgender menjadi woman transgender (perempuan transgender).

4. Mengulas Suluk Tambangraras (Serat Centhini)
Di Jawa, banyak naskah klasik bernilai sastra tinggi, seperti Suluk Tambangraras atau lebih dikenal dengan nama Serat Centhini, Suluk Gatholoco, dan Suluk Darmogandul. Pembahasan fokus pada Serat Centhini. Naskah ini ditulis pada zaman Pakubuwono V dan terbit pada abad ke-19. Mengangkat beragam aspek kehidupan: politik, sosial, budaya, ekonomi, seksualitas, agama, dan sangkan paraning dumadi (asal-usul kehidupan). Berisi sekitar 4000 halaman dan naskah aslinya ditulis dengan bahasa Jawa. Dalam budaya Jawa, naskah ini ditulis untuk ditembangkan, layaknya Kinanthi atau Asmaradana. Ini bisa dipahami sebagai representasi sastra lisan yang berkembang pesat di Jawa. Uniknya, naskah ini mengundang paradoks: kalangan konservatif menilai begitu kotor sebab sarat adegan bathil yang dituturkan secara eksplisit, sedangkan kalangan moderat menilai begitu luhur sebab menuturkan ragam perspektif kehidupan dengan jujur, apa adanya, dan tidak munafik.

Naskah yang dibahas dalam KGS V: Serat Centhini: Kekasih Yang Tersembunyi terjemahan Elizabeth D.Inandiak dan disunting Ladi Lesmana. Sebelumnya, naskah ini diterjemahkan dalam bahasa Perancis. Dalam versi bahasa Indonesia, penterjemah melakukan riset untuk memperkaya detail naskah, seperti observasi ke Jogjakarta dan makam Sunan Giri, Gresik. Hasil riset diramu dengan naskah aslinya kemudian diambil saripatinya lalu disajikan dalam buku tersebut.

5. Pak Dede Oetomo membaca nukilan Serat Centhini bab IX: cerita Cebolang.
Ringkasan cerita tersebut seperti ini:
- Cebolang dan Nurwitri diundang Adipati Wirosobo.
- Adipati meminta keduanya dandan perempuan hingga tampak begitu cantik.
- Keduanya menari, membuat Adipati terpesona.
- Adipati melakukan hubungan seks dengan Cebolang dan Nurwitri (Adipati menganal keduanya bergantian).
- Setelah percakapan kromo menjadi ngoko (pertanda relasi abdi dan priyayi bergeser menjadi perkawanan), Adipati minta dipenetrasi anal oleh Cebolang. Tetapi, Adipati kesakitan dan menyuruh keduanya pergi dari Wirosobo.

Cerita lain tentang seksualitas dalam Serat Centhini:
- Relasi warok dan gemblak.
- Dua orang santri melakukan hubungan seksual dengan gaya 69 dan ketika adzan Subuh berkumandang keduanya mandi Junub, wudhu, lalu shalat berjamaah.

Disinggung pula tentang mitos sperma. Sperma dianggap punya kekuatan dan sakti, seperti terjadi di Papua Nugini dan suku Asmat.

6.Analisis Alfred Kinsey:
- Setiap manusia unik.
- Analisis karakter manusia dapat dilakukan secara empirik, yakni metode, ter-/diukur, dan dapat dikalibrasi.

7. Kecenderungan modernisme.
- Modernitas menuntut identitas, artinya cenderung memberi nama pada semua benda.
- Ada muatan positif dan negatif, meskipun sifatnya relatif.

SESI II

1. Pertanyaan: mengapa muncul begitu banyak teori?
Jawaban: untuk menjelaskan dan menafsirkan suatu fenomena.

2. Pola pikir dalam melihat realitas:
- Induktif.
Yaitu melihat kenyataan atau faktanya seperti apa (real)
- Deduktif.
Yaitu berdasarkan peraturan, hukum, dan konsensus yang berlaku di masyarakat.

3. Teori tentang pola pemikiran:
- Teori esensialisme.
Yaitu tidak bisa dibantah lagi kebenarannya.
Contoh: kapan terakhir kali mulutmu dimasuki penis?
- Teori konstruktivisme.
Yaitu bisa dibantah kebenarannya atau perlu ditanyakan ulang.
Contoh: dia mendengar dua lelaki bercinta.

4. Analisis dapat dilakukan dengan 2 pendekatan:
- Etik.
Yaitu terukur dan bisa diseragamkan, tidak menuntut pendapat dari responden, sekedar dicatat dan diamati.
- Emik.
Yaitu melihat dari dalam dan menghayati perasaan responden.

5. Interpretasi budaya (pembacaan ulang).
Budaya merujuk pada pengetahuan, kepercayaan, dan nilai-nilai yang secara umum dimiliki bersama oleh anggota suatu masyarakat. Budaya adalah aspek masyarakat yang simbolik dan dipelajari, termasuk bahasa, adat-istiadat, dan konvensi. Budaya diwariskan dari generasi ke generasi melalui proses sosialisasi. Budaya dan struktur sosial dipandang sebagai dua komponen kunci dari masyarakat dan karenanya merupakan konsep dasar sosiologi.

Film The Tlas Bissu
Peserta bersama2 nonton film berjudul The Last Bissu. Sebuah film documenter yang menceritakan sebuah realita budaya tentang waria di suku Bugis, Sulawesi Selatan. Dalam budaya (kuno) suku Bugis ada satu hal menarik yang berhubungan dengan waria, yaitu Bissu. Bissu adalah pendeta suci suku yang pada jaman itu (jaman kerajaan) memiliki posisi yang sangat tinggi dipandang sebagai pengawal raja2. Siapakah yang bisa menjadi bisu? Adalah perempuan atau waria yang terpilih oleh dewa.

Budaya ini berjalan sangat harmonis sampai masa raja2 berganti dengan masa Negara republik, saat raja2 sudah memiliki kekuatan mutlak, muncul kekuatan2 lain misalnya ormas social atau ormas agama. Pada saat inilah waria mendapat gangguan dan dianggap salah sehingga terjadi banyak tindakan dari ormas social atau ormas agama yang merusak keberadaan waria.

Beberapa hal menarik yang dilihat oleh peserta dari film tersebut :
• Dalam budaya Bissu Waria memiliki kesempatan yang sangat besar untuk menjadi Puang Matoa yang memiliki wewenang dan posisi yang sangat tinggi dalam tatanan politik dan sosial.
• Budaya Bissu terganggu sejak terjadinya perubahan sistem politik. Saat raja2 tidak memiliki kekuatan yang besar. Tidak bisa melindungi budaya.
• Hegemoni ajaran2 baru menghancurkan kekayaan budaya.
• Modernisasi menyebabkan pembatasan2 yang merugikan, menimbulkan stigma, penolakan sehingga menghilangkan budaya

Diskusi Kelompok
Peserta dibagi menjadi 4 kelompok yang mendapat topik diskusi yang sama, yaitu mengidentifikasi budaya yang ada di masing2 tempat (asal) kemudian melihat apakah budaya tersebut masih dilakukan atau sudah tidak dilakukan (dilanggar)?
Topik yang diambil oleh 4 kelompok adalah:
1. Tidur Basamo. Sebuah kondisi yang terdapat di kalangan suku minang. Kondisi ini dipengaruhi oleh sistem kekerabatan matrilineal. Disebutkan bahwa rumah2 suku minang sangat dipengaruhi oleh sistem kekerabatan matrilineal, jumlah kamar2 dalam rumah suku minang ditentukan oleh jumlah anak perempuan yang dimiliki keluarga itu. Setiap anak perempuan akan mendapatkan satu kamar sendiri sedangkan anak laki2 akan tinggal (tidur) di sebuah kamar (pondok) bersama2 dengan anak laki-laki dari rumah (keluarga) lain. Inilah yang disebut Tidur Basamo. Budaya Tidur Basami ini sangat memungkinkan terjadinya kontak seksual diantara anak laki-laki yang tinggal (tidur) dalam 1 kamar (pondok) tersebut. Budaya ini terus berjalan sampai saat ini.
2. Sunat Perempuan. Budaya yang syarat dengan penindasan terhadap perempuan, merendahkan nilai perempuan, perempuan dipandang sebagai orang kedua yang selalu harus manut pada penguasa yang berwujud laki-laki. Dalam diskusi ditemukan bahwa budaya sunat perempuan ini masih dialami oleh sebagian besar perempuan2 islam walaupun saat ini ada perempuan yang sudah tidak mengalami ini karena bberapa alasan, misalnya orang tua sadar bahwa sunat perempuan adalah tidak perlu, pemahaman yang lebih baik tentang budaya ini sehingga orang2 ini berani mangatkan tidak, dll.
3. Perempuan dilarang keluar malam. Sebuah pembatasan kepada perempuan yang tidak memiliki alasan yang jelas ini sudah cukup ditinggalkan oleh masyarakat kita dikarenakan pemahaman yang lebih baik tentang perempuan.
4. Fenomena Raja Yogyakarta. Pada kebiasaan (sampai saat ini) raja Yogyakarta adalah seorang laki-laki, belum ada dalam sejarah bahwa raja Yogyakarta adalah seorang perempuan. Ini tertera dalam beberapa kitab kerajaan (tidak diketahui apakah kitab ini masih menjadi acuan baku bagi kerajaan) bahwa raja haruslah seorang laki-laki. Saat ini ada fenomena tentang raja berikutnya, karena raj saat ini (Sultan Hamengkubuwono X) tidak memiliki anak laki-laki. Cukup santer pembicaraan tentang siapakah yang akan menggantikannya? Apakah saudara (adik) laki-laki raja atau anak raja (yang perempuan)? Kita bisa melihat bagaimana politik sangat mengatur dan mempengaruhi ekspresi seseorang dari wacana gender. Kita akan melihat apakah raja saat ini berani memecahkan kebisuan yang berlangsung sampai detik ini? Akankah sebuah terobosan baru akan terjadi dalam babad kerajaan Yogyakarta? bagaimana tanggapan bangsawan dan penguasa apabila raja akhirnya memilih anak perempuannya untuk menggantikannya?

Topik Menarik
Di sela2 pembicaraan yang menarik sekali tentang gender, seksualitas dan budaya ada sebuah pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh salahstu peserta yaitu
”Apakah budaya yang mempengaruhi manusia? Atau sebaliknya?” kemudian fasilitator menjawab memulai dari menuliskan pada selembar plano :

BUDAYA1 > MANUSIA > BUDAYA2
Penjelasan :
Budaya sudah ada sebelum manusia (individu kemudian menjadi kelompok) ada. Sehingga manusia akan dipengaruhi oleh budaya ayang sudah ada tersebut. Kemudian manusia akan menentukan apakah budaya tersebut sesuai dengan dirinya atau tidak. Ketika manusia merasa tidak cocok dengan budaya yang dia jalani, kemungkinan manusia tersebut akan berjuang untuk membentuk (atau mempengaruhi budaya lama) budaya yang baru yang sesuai dengan dia. Membuat sebuah perubahan.

sumber: http://www.facebook.com/notes/gaya-nusantara/resume-peserta-kgs-v-hari-ketiga-gender-seksualitas-dan-budaya/459882395680

No comments: