Sunday, August 30, 2009

About Zodiak

VIRGO - Yang Menunggu

Dominan dalam hubungan. Seseorang sedang mencintai mereka. Selalu
menginginkan kata terakhir. Perhatian, cerdas, nyaring, setia, mudah
diajak bicara. Contoh orang yang Anda inginkan, mudah disenangkan.

SCORPIO - Si Pecandu

Sangat memikat, rajin, senang bercanda, mempunyai selera humor yang baik,
giat, senang meramalkan masa depan, pencium yang baik. Selalu mendapatkan
apa yang mereka inginkan. Menarik, santai, senang berada dalam hubungan
jangka panjang, cerewet, romantis, perhatian.

LIBRA - Si Pincang

Menyenangkan tiap orang yang mereka temui. Cinta mereka adalah kebaikan.
Konyol, iseng dan manis. Mempunyai daya tarik yang unik. Orang yang paling
perhatian yang pernah Anda temui, tetapi bukan orang yang baik yang Anda
ingin untuk menghentikan tangis.

ARIES - Si ....

Ramah, menimbulkan rasa sayang, spontan, rapih. Lucu, pencium yang baik,
sangat2 memikat, mencintai hubungan, pencandu, nyaring.

AQUARIUS - Bukankah Di Air??

Dapat dipercaya, menarik, pencium yang hebat, baik, suka dalam hubungan
jangka panjang, sangat giat, tak terduga. Melebihi perkiraan Anda. Bukan
tukang onar, tapi dapat merobohkan Anda.

GEMINI - Tak Dapat Ditolak

Menyenangkan. Cintanya adalah kebaikan. Pendengar yang baik. Sangat baik
di bidangnya. Pencinta bukan pembuat onar, tapi dia masih bisa merobohkan
Anda. Dapat dipercaya. Selalu riang. Nyaring. Cerewet. Ramah. Sangat
pemaaf. Mencintai utuh. Mempunyai senyum manis. Dermawan. Tangguh. Tak
dapat ditolak.

LEO - Si Singa

Pembicara yang hebat. Menarik dan bergairah. Penyandar. Tau bagaimana
bersenang2. Baik dalah semua hal. Pencium yang hebat. Tak terduga. Ramah.
Sederhana. Pecandu. Nyaring. Suka dalam hubungan jangka panjang. Cerewet.
Rapih. Jarang ditemui. Baik bila ditemukan.

CANCER - Si Cantik

Pencium yang mengagumkan. Berselera tinggi, cintanya adalah kebaikan.
Sangat romantis, seseorang yang perhatiannya tidak pernah ada temukan.
Kreatif. Acak2an dan bangga akan hal itu. Ajaib. Spontan, hebat bercerita.
Bukan tukang onar tapi akan merobohkan Anda bila macam2. Seseorang yang
dapat Anda andalkan.

PISCES - Pasangan Hidup

Perhatian dan baik hati, cerdas, pusat perhatian, berselera tinggi.
Gampang ditemukan, sulit untuk disimpan. Senang berkeliling, penakut tapi
tak terlihat. Punya selera humor yang baik. Pemikir. Selalu mendapatkan
apa yang dia inginkan. Suka bercanda, sangat populer, konyol, manis.

CARPRICORN - Kekasih Yang Berhasrat

Menyenangkan, lancang, pintar, seksi, suka meramalkan masa depan, susah
ditolak. Suka dalam hubungan jangka panjang. Pembicara yang hebat. Selalu
mendapatkan apa yang dia mau. Berkepala dingin. Suka kepada bintang Gemini
dalam berolahraga. Suka bercanda. Cerdas.

TAURUS - Si Petualang

Agresif, suka dalam hubungan panjang, suka berkelahi untuk apa yang mereka
inginkan. Ramah, suka menolong orang saat dibutuhkan, pencium yang baik,
berkepribadian baik, keras kepala, orang yang perhatian, baik, rapi. Orang
yang paling menarik di bumi.

SAGITARIUS - Tidak Pemilih

Spontan, berselera tinggi, jarang ditemukan, hebat bila menemukan. Suka
berada dalam hubungan panjang. Banyak cinta untuk diberikan, rapi, sangat
menawan, sangat romantis, menyenangkan bagi tiap orang yang mereka temui,
cinta mereka adalah kebaikan, konyol, manis. Punya selera yang unik. Orang
yang perhatian yang pernah Anda temui.

Friday, August 21, 2009

Hikmah Ramadhan

Ramadhan selalu membawa berkah. Tahun ini menurutku yang paling kentara. Betapa tidak, jelang sehari sebelum esok mulai berpuasa ada dua kejadian dalam hidup yang menunjukkan keagunganNYA.

Pertama, saat pagi ketika aku berada di workshop pengorganisasian dan advokasi jelang Konvensi ILO tentang PRT tahun 2010 mendatang, sebuah sms masuk. Dari teman penulis di komunitas tanama yang mengabarkan bahwa salah satu ceritaku dimuat di Mingguan grup Kedaulatan Rakyat. Senang mendengarnya. Ini adalah kali kedua cerpenku dimuat di koran yang sama. Padahal aku mengirim cerita itu hari selasa lalu. Tak disangka, cepat naik cetak.

Kedua, sorenya, usai aku meng-upload foto2 kegiatan pagi tadi ke web dan blog kantor, kepala kantor menghampiriku kemudian memberi surat ber-kop nama kantor tempatku menjadi relawan saat ini yang isinya adalah pemberitahuan bahwa aku diterima sebagai staf part-time. Alhamdulillah, ucapku bersyukur.

Berkah ramadhan 2009, semoga juga akan selalu menaungi kita bersama. Amien.

Marhaban Ya Ramadhan...

Wednesday, August 19, 2009

NAEK MOTOR...

Hari ini adalah pengalaman pertamaku naik motor. Ya, meski badan gede gini bisanya cuma naek sepeda ontel doang. Itupun pilih2, harus sepeda gunung, kalo model jengki atau yang ada keranjang di depan aku nggak bisa karena jenis stangnya bengkok.

Balik soal motor. Awalnya, aku kena kritik pedas oleh koordinatorku. Ketidakbisaan pakai motor menghambat mobilitas kantor. Dari satu suara kian ramai saja yang mendesakku belajar motor. Pasalnya, selama ini aku memang ingin belajar, kantor pun memfasilitasi, tapi kekhawatiranku adalah takut si motor kenapa2, lah darimana aku ngegantinya? Jadilah, belajar motor seperti mimpi saja. Tapi hari itu, suara2 orang2 kantor tak sanggup kubendung. Aku akhirnya keluar. Kebetulan motor sedang dipakai murid sekolah PRT yang juga berlatih.

Akhirnya, aku mulai dari dasar, ya malu juga sih, tapi kalo nurutin malu gak bakalan bisa, trus mpe kapan? Mana yang ngajarin galak banget! Biasanya ia cengengesan tapi ketika mengajariku motor ia jadi galak. Penontonku pun ramai. Entah kenapa aku seolah tak perduli. Biasanya kalo ditonton banyak orang apalagi ketawa2 gitu nyaliku menciut, tapi kali ini tidak.

Singkat cerita, proses dapat kulalui hingga aku bisa muter2 kompleks perumahan meski kata Shanti mirip bakul sayur ngejajain dagangannya alias super lambat banget jalannya, tapi gak pa-pa lah, at least I've tried dan tidak akan berhenti untuk terus belajar... Cemangatt!!

Sunday, August 16, 2009

Pyongyang vs Piyungan

Pyongyang dan Piyungan, sekilas -ingat:hanya sekilas ya!- dua daerah di negara yang berlainan itu -sekali lagi- sekilas hampir sama. Namun bukan karena hal itu aku jadi terkecoh oleh keduanya!

"Aku mau pindah ke Pyongyang habis lebaran!" cetusmu beberapa waktu lalu.
Awalnya, kukira itu hanya sebuah candaan darimu. Maklum, seperti si kecil, kamu juga termasuk sering "ngerjain" aku. Namun ketika aku melihat status facebook yang memajang kepergianmu ke ibukota Korea serta isi tanggapanmu atas komentar teman terhadap statusmu itu. Lantas kupikir kamu memang tak main-main. Ditambah kegigihanmu bersikukuh tentang alasan kepergianmu untuk ikut suami yang bertugas disana, kian menambah keyakinan diatas ketidakyakinanku. Pasalnya, kadang kamu meneguhkan ucapanmu dalam tawa, sehingga menipiskan batas kebenaran dan ketidakbenaran kabar itu.

Puncaknya adalah kemarin ketika kamu berkata bahwa besok adalah keberangkatanmu ke negara yang tengah berkonflik karena potensi nuklirnya itu. Kamu memintaku menemani di bandara. Aku mengiyakan, meski juga agak merasa ganjil. Logikanya, jika kamu memang -benar- berangkat, tentulah hari itu akan ada ortu plus kambing alias suamimu. Jikalau aku ada, pertanyaannya apakah kau akan berani mempertemukanku dengan mereka? Tetapi kau tetap memintaku hadir.

Dan esok pun tiba. Antara yakin dan tidak sejak semalam aku berpikir ekstra. Satu sudut hatiku memperkirakan gimana jika kamu sungguh pergi karena bagaimanapun rasa kehilangan itu akan ada atas apa yang pernah kita lewati bersama. Namun sudut hatiku yang lain mengatakan aku sedang dikerjain kamu. Kalau teringat tawamu, aku jadi sangsi kamu tak benar2 serius. Otakku terus berputar. Eh, tanpa dinyana sekitar jam 9 an kamu nongol di depan kamarku bersama si kecil dengan senyuman khasmu.
"Nanti habis lebaran aku pindah ke Pyongyang! Pyongyang itu kan nama kerennya Piyungan!" kilahmu. (Piyungan: sebuah daerah di Yogyakarta, di jalan Wonosari)

I've get punk!!

Straight Ge-eR!

Dalam sebuah acara aku bertemu dengannya. Bukan untuk yang pertama. Kali ini ketiga kali setelah dulu aku melihatnya ketika aku menyambangi kantornya dan yang kedua adalah beberapa hari lalu sebelum acara tersebut berlangsung.

Di acara itu semua bercampur dan berbaur. Menyatu. Berbincang serius. Diseling canda. Ia duduk di dekatku. Tak sendiri. Bersama teman satu kantor dan teman2 baru. Tak ada yang istimewa. Kami bisa dibilang dekat. Maklum, tugasku waktu itu adalah dengannya. Wajar kalau kami sering terlibat pembicaraan. Apalagi ia termasuk doyan nyerocos. Jadi ada saja yang diobrolin. Ditambah kulihat ia seksi sibuk sekali dengan alatnya.

Singkat cerita, dalam acara itu aku pulang lebih dahulu. Aku minta difoto bersamanya. Ia tiba-tiba nyeletuk: "Kayaknya kau tak akan bisa lepas dariku!". Ia berujar dalam senyum.
Senyum bagiku adalah canda. Aku pun menanggapi candaannya. "Sepertinya iya, gimana dong? Tapi, kamu kan straight, ya kan?"
"Ya iyalah!" sahutnya langsung. "Secara lekong masih enak gitu lho!" imbuhnya.
Karena buru-buru, aku pun pamit dan melupakan kejadian itu. Tapi kemarin aku bertemu dengannya lagi dalam rapat restrukturisasi. Dan ia membuatku terbahak dengan ulahnya.

Perempuan itu tak sekalipun menyapaku. Tak mau duduk dekatku. Padahal tempat di sebelahku masih kosong, ia memilih duduk bergerombol. Menghindari bertemu mata denganku. Pernah, sekali, tak sengaja kami bersirobok pandang, ia cepat-cepat melengos. Aku tersenyum. Ada apa dengannya? Kok ia jadi bertingkah begini. Aku memflashback kejadian dulu, dan membuatku kian tersenyum. Seorang straight sedang ge-er rupanya! Tak bisa membedakan candaan dan beneran!

Di rapat itu, namanya mendapat satu suara. Ohohoho jangan sampai, meski aku yakin sekali ia pasti berpikir kalau akulah si pemberi suara itu. Wahahahaha aku akan makin ngakak! Entah apa yang semakin ia ketikkan di layar pikirannya tentangku. Wallahu A'lam. Apalagi, si ibu koordinator terpilih sepertinya keukeuh menyandingkan namaku dan namanya dalam satu divisi. Namun beruntung tak jadi hehe aku gak tau kalo beneran harus kerjasama dengannya, apa kata dunia wakakakakakak.

Lingkungan kerjaku telah mengetahui orientasi seksualku, tapi kadang aku geli sendiri jika mendapati the straights yang mawas diri terhadap lesbian yang SEPERTINYA suka padanya.

Aku masih sering tersenyum jika teringat kejadian kemarin. Open up your mind, straight!

Saturday, August 15, 2009

Suara Kecil Menjerumuskan

Masih dalam rapat restrukturisasi kemarin, tapi bukan hendak membahas si straight ge-er itu karena ada yang bersungut nantinya. Yang ingin aku ceritakan adalah proses votingnya.

Seperti dalam pemilihan beneran, spontan terbentuklah tim yang mengurusi DPT (Daftar Pemilih Tetap), juga menyiapkan surat suara lengkap beserta stempel platform aliansi ini. Setelah menghitung jumlah peserta, surat suara dibagikan. Masing2 peserta langsung menulis pilihan balon (bakal calon) koordinator untuk dipilsung (dipilih langsung). Surat suara kemudian dikumpulkan dan dibacakan, mirip KPPS ngebacain hasil pilihan warga.

Untuk surat suara pertama yang dibuka, tersebut nama teman sekantorku. Aku langsung mengapplaus. Tapi pada kertas kedua, namaku lah dilantangkan. Aku terkejut dan sangat terkejut ketika suara yang kuperoleh mencapai 3. Ada apa ini? Siapa yang memilihku? Dan bagaimana bisa memilihku? Lha wong sebelum voting tadi, mayoritas peserta mengelu-elukan seorang cowok lucu dan terkenal dalam aliansi ini. Sedang aku...aku baru beberapa kali ikut pertemuan mereka. Beruntung kecemasanku dibuyarkan oleh hasil akhir penghitungan suara, dimana suara-suara terakhir menyandingkan cowok lucu itu dengan seorang cowok lagi yang kupilih karena telah banyak malang melintang di jaringan. Aku lega, sekaligus menolak ketika panitia menawarkan posisi koordinator dari hasil suara terkecil. Alasanku, miskin pengalaman. Namaku lolos dicoret, lain hal dengan teman sekantorku yang meski mendapat satu suara dibawahku, ia menolak tapi forum pun menolak penolakannya. Jadinya, namanya tetap akan masuk bursa koordinator aliansi.

Perolehan suara tertinggi diraih dua lelaki yang kusebut diatas. Wajarnya, suara tertinggi otomatis terpilih jadi koordinator beserta jajaran dibawahnya. Tapi yang terjadi adalah, dua lelaki itu menolak dengan alasan memberi kesempatan yang lain. Mereka pun dicoret.Hanya tersisa teman sekantorku, yang mau tak mau harus didaulat bersedia menjadi koordinator AJI DAMAI periode Agustus 2009-Februari 2010. Dan hal itu benar-benar terjadi. Teman sekantorku menampuk posisi koordinator hingga enam bulan ke depan. Dan ia kemudian tak mau sendirian, aku pun ditunjuknya jadi wakil koordinator.

Jika diibaratkan pilpres, dengan pengkondisian yang sama, maka tentulah hasil pilpres sekarang ini akan dimenangkan bukan oleh SBY. Bagaimana tidak, teman sekantorku hanya mendapat 2 suara, berada di posisi ketiga dari bawah dari 6 nominator, tetapi ia menjadi yang terpilih. Suara kecil menjerumuskan, begitu aku menyebutnya. Tapi kalau hasil ini direalisasikan dalam pilpres, wah gimana ya kelanjutannya? Pasti kian kisruh saja petinggi2 kita itu.

Ketika Dizhalimi...

Bangkai, meski ditutupi wajah semanis madu berselimut emas sekalipun tetap akan menjadi bangkai tanpa pernah bisa bertransisi serupa emas semanis madu.

Berproses secara alamiah tanpa memerlukan mesin-mesin buatan hasil ciptaan manusia yang hanya bisa mengkaryakan imitasi. Aspal. Asli tapi palsu. Kamuflase, bahasa kerennya.

Hei... Sadarilah... Manusia di sekitarmu sudah bosan kau cekoki kepalsuan tak berdosamu. Aku muak oleh bulu domba dibalik serigala yang menghembuskan kentut musang dibelakangku.

Manusia memang tak pernah dan tak akan pernah sempurna. Aku memakluminya. Hanya pada manusia yang benar-benar menyadari ketidaksempurnaan dirinya. Lainnya tidak.

Friday, August 14, 2009

Pepatah, Hidup dan Film India

Kita yang harus mengendalikan hidup, bukan hidup yang mengendalikan kita. Pepatah yang beberapa malam lalu kudengar, dari film India -lagi-. Film yang pernah kutonton sebelumnya, namun versi Inggris, kali ini versi bilingual. Lumayan, waktu dulu nonton banyak yang kagak ngerti artinya karena text nya diterjemahkan bahasa jiran. Mujhse Dosti Karoge. Would u be my friend? Tapi aku bukan ingin bercerita tentang film yang boleh dibilang agak jadul itu -sekitar taon 2003- sebelum aku merantau ke Jakarta waktu itu.

Pepatah tentang hidup. Aku memang suka mengumpulkan pepatah. Tentang apa saja. Hidup. Cinta. Patah hati. Persahabatan. Harapan. Dll. Aku bahkan menjadikannya satu buku tersendiri. Kutipan dari mana saja. Orang2 terkenal. Pepatah Cina. Dialog dalam film. Closing infotainment. Bahkan yang No Name sekalipun. Pokoknya yang langsung mengena di hati dan unik alias ndak menye-menye. Yah, buat dibaca2 lagi ketika semangat kendur kayak gini.

Thursday, August 13, 2009

LAGI BELAJAR IKHLAS!

Semangat itu melorot lagi. Rasa malas itu mulai merajai. Kegelisahan hati. Akan sebuah mimpi. Yang -sepertinya- tak akan teraih. Hanya bayangan ilusi. Demi seutas janji. Yang -semoga- tak teringkari.

Entah kenapa aku dirasuki rasa tak bergairah hidup lagi. Bara menyala bahkan berapi-api kini surut kembali. Untuk apa sebenarnya aku hidup ini?

Pertanyaan itu yang kuajukan ulang sama ketika hidup serasa menghantam dan tak memedulikanku beberapa bulan lalu. Tapi aku memupuknya hingga keragu-raguan itu berganti gelora. Optimistis dalam hidup dan memandang semuanya. Dan segalanya terlihat positif memang.

Namun ternyata, hidup juga kadang kala asam kadang manis, pun tak selamanya pahit. Aku mulai kehilangan kendaliku. Entah apa penyebabnya. Semua saling berkaitan, dan tak bisa kujabarkan. Aku tipe orang yang tak bisa dan tak -terbiasa- mengeluarkan isi otak secara mendetail, sehingga kadang orang seringkali salah paham mengartikan, dan aku hanya mendiamkan. Tepatnya, membiarkan. Membiarkan salah-paham menumpuk dan membiarkan keyakinan bahwa isi pikiranku hanya Yang Diatas sana lah yang sesungguhnya mengetahui seutuhnya. Berhadapan dengan manusia hanya menimbulkan kelelahan untuk menjelaskan. Apalagi, jika kemudian penjelasan hanya akan memperparah kesalahpahaman. Capek! Jenuh, tepatnya! Kapan manusia berhenti menyikapi bahwa apa yang terlihat tak selalu sama dengan apa yang terbersit di benak mereka?

Belajar ikhlas! Sepertinya harus. Mungkin mau tak mau. Tapi aku senantiasa memupuk diantara puing-puing yang berserakan. Menyatukannya, meski tak utuh. Kepingan yang lain hilang. Dan tak kutemukan.

Ikhlas. Kata yang terdengar bermakna religius mungkin. Ah, bagiku tak ada kaitannya! Dan aku juga tak ingin mencari padanan kata lainnya.

Aku hanya sedang belajar ikhlas!

Jangan menyerah... Jangan menyerah... Jangan menyerah...

Wednesday, August 12, 2009

LIPSING PUSIIINGGG...!?!

Pagi ini ketika aku sedang mengetikkan tulisan untuk kupostingkan di blog, ada tiga hal lucu yang kutangkap ketika mataku menangkap apa yang tersaji di layar monitor sementara jari jemariku tengah lincah cetak-cetik di tuts hape.

Awalnya, Derings di Transtv. Setelah opening, sedianya akan dilanjutkan performance grup band radja. Personel sudah siap memegang instrumen masing2, dan petikan gitar terdengar. Lagunya berjudul PATAH HATI. Semua personel beraksi, namun baru beberapa detik, lipsing yang biasa dilakukan oleh para penyanyi meski sekaliber band2 papan atas sekalipun mempertontonkan kelucuannya. Kaset/CD/DVD atau apalah jenisnya, tiba2 macet, tersendat-sendat hingga mirip remix para DJ. Tapi untuk kasus ini tentu lain hal. Dan penyanyi diatas panggung langsung berusaha menutupi malu dengan diplomasi sekenanya. Membuatku semakin terbahak. Layar kemudian berganti dengan diputarnya video klip. Hah, gara2 lipsing!

Terhenti dari tawa yang mempermalukan band Radja, aku memindah channel tivi. Channel SCTV. Acaranya inbox. Yang sedang bernyanyi band tak terkenal yang aku tak tahu namanya, lipsing pula. Kali ini bukan lipsingnya yang bermasalah. Band ini tengah menyuguhkan lagu tentang ajakan dan hikmah berpuasa. Tema yang aji mumpung menyambut ramadhan yang akan tiba. Tapi bukan itu juga masalahnya. Tak apalah mencari rezeki lewat lagu, meski di telingaku syairnya terdengar tak mutu. Yang membuatku tersenyum bercampur grundelan adalah kostum yang dipakai si vokalis. Lagu bertema religi dinyanyikan oleh seorang perempuan yang mengenakan kostum serba hitam, celana pendek jauh diatas lutut dan kaos yang menunjukkan belahan dada. Sinkron kah? Aku jadi mikir, kok gak mikir ya si vokalis ini dia akan bawakan lagu apa, apakah nyambung gak ama kostum yang dia pakai. Kalo yang kulihat seh, pastinya gak mikir!

Ganti channel lagi. Transtv lagi. Radja Cilik lagi mau nyanyi.Itu tuh, anak2 si Moldy nya Radja yang umurnya paling masih sekitar 7-8 tahun. Lipsing lagi. Dan ini lebih parah. Lagu dan gerak bibirnya kagak sama blas. Ampyun deh! Antara wajar dan gak wajar, kalo aji mumpung mbok yo jangan kebangetan! Nunggu anak2nya gedean dikit kek!

Bener2 lipsing yang bikin pusyiiingg...

Monday, August 10, 2009

TELEPON IBU

Hari Minggu aku menelepon ibu. Ibu mengadu sedang sakit. Habis dari dokter tiga hari lalu. Hipertensi dan gula darahnya juga tinggi. Bagaimana bisa? Itu pertanyaan yang seketika hinggap di otakku. Ya, ibu memang telah lama mengidap diabetes, namun selama ini terkontrol. Ibu tak pernah aneh-aneh. Maksudnya, yang tak sesuai takaran atau yang mengandung banyak gula. Selain itu, ibu memang juga tak suka makan banyak dan yang neko-neko. Perutnya tak terbiasa. Apalagi, hipertensi, sejak kapan ia mulai mengidapnya? Faktor makanan, atau kopi, ya ibu kadang ngopi, tapi teramat jarang dan hanya encer2 saja dengan gula seujung sendok.
"Ema, mikir apa?" (Ema= panggilanku pada ibu. Bukan Emak, bukan pula Mama. Sewaktu kecil kakak laki2ku terlalu cadel hingga tak bisa mendengungkan kata Mama dengan benar dan melafalkannya dengan kata Ema, kemudian diwariskannya padaku sampai kami dewasa sekarang.)
"Ya, banyak lah! Namanya juga orangtua! Bla bla bla..." sahutnya dengan embel2 lain seperti biasa. Aku pernah tau, diabet bukan hanya disebabkan faktor makanan, tetapi juga pikiran. Bahkan pikiran lah yang lebih jahat meningkatkan kadar gula dalam darah.
"Lha kok bisa darah tinggi juga? Sering makan sate kambing ta?" godaku sambil menahan tawa.
"Sate kambing gundulmu!" jawabnya medhok membuatku ngakak. "Itu lho, si Gileh!"
Si Gileh, adalah sebutan ibu untuk sepupuku, anak sulung adiknya, yang tinggal satu rumah dengan ibu dan memang agak2 gileh (Gila). Katanya, si Gileh selalu berulah dan membuatnya uring2an. Mana ia sendiri di rumah, sementara adiknya hampir tak pernah di rumah. Praktis hanya ibu lah yang harus menghadapi si Gileh dan itu yang menguras energi, emosi mungkin tepatnya.
"Ya, jangan dipikiri, diakali aja!" saranku. Seperti biasa jika aku sedang tak ingin menghadapi sesuatu dengan cara frontal, maka aku mengakalinya, dalam artian mengalihkannya agar uring2an tak hinggap dan menghinggapiku.

Ibu kemudian bercerita tentang kakak lelakiku dan sindrom insomnianya. Sejak dulu ia memang susah tidur, tapi sejak ayah meninggal, ia semakin susah tidur. Seringkali terjaga seperti ada yang membangunkan. Mungkin itu salah satu penyebab hipertensinya.

Satu hal lagi, ia bertanya soal vitamin untuk orang tua. Tumben banget, pikirku.
"Kata dokter, aku disuruh mengonsumsi vitamin. Tak hanya obat2an." terangnya. Ibu memang harus rutin mengonsumsi obat untuk diabet sebelum makan. Tapi vitamin... Ibu tak pernah berujar sebelumnya. Benakku bertanya-tanya. Sejak kematian ayah, aku merasa ibu lebih menghargai kesehatannya. Kalau dulu uang dialokasikannya ke dapur, kupikir ibu lebih memprioritaskan kesehatannya kini. Obrolan kemudian melantur kemana-mana hingga tak terasa satu jam bergulir cepat.

Setelah telepon terputus aku merenung dan tercenung. Campur aduk. Kegelisahan yang bercampur dan pikiran yang teraduk. Terlalu rumit tuk dideskripsikan, apalagi dilisankan. Hanya tersimpan. Dan menjadi rasa bersalah yang selalu dan terus tertahan.

Sunday, August 9, 2009

Film India: Ga Melulu Termehek-Mehek!

Sejak malam mulai beranjak naik, satu persatu tivi sibuk menggelar Breaking News dengan headline hampir sama: Pengepungan Teroris di sebuah rumah di Kedu, Temanggung. Sampe eneg denger berita yang diucapkan berulang-ulang kayak penyiarnya kagak punya kosakata laen aja. Akhirnya, setelah memencet2 remote dari mulai sinetron2 sampe the master show di rcti, aku kemudian terpaku di salah satu stasiun tivi. TPI. Lagi muter film india. Pretty Zinta yang kulihat di layar. Lalu Saif Ali Khan. Aktor yang tidak kugemari. Tapi ketika hendak kualihkan, wajah Shah Rukh Khan muncul, menahan tanganku memindahkan channel. Dalam hati mikir, film apa ini ya? Karena beberapa waktu lalu aku juga nonton film Shah Rukh dengan judul lumayan panjang dan tidak familiar tapi ceritanya sangat-sangat menyentuh, makanya ketika melihat Shah Rukh tanganku ngerem mendadak. Dan akhirnya aku tau judulnya, Kal Ho Naa Ho, judul yang ternyata pernah kudengar meski bukan film baru tapi tak pernah kulihat sebelumnya, maklum dah lama tidak bercengkrama dengan televisi dan tak lagi up 2 date ama film, terutama film india.

Cerita demi cerita pun mengalir. Sama seperti film india yang lalu, film ini juga mengajarkan cinta dengan cara yang indah dan tidak termehek-mehek. Dan satu hal lagi, di film ini tak disangka tak dinyana ada special appearance dari aktris India favoritku, Sonali Bendre. Mmm... Rasanya seperti kembali ke masa ketika aku begitu "tergila-gila" pada aktris itu sekitar 7-8 tahun yang lalu. Semua filmnya kulahap habis. Bahkan aku mengoleksi foto2nya -yang sayang sekali kutaruh di beberapa disket dan kini disketnya entah dimana-.

Balik ke film tadi, meski endingnya tak sesuai yang kuinginkan, tapi sekali lagi selalu mengesankanku satu hal: cinta penuh ketulusan dengan cara yang unik. Dan seperti reuni masa lalu dengan aktris idola yang menurutku sudah tampak agak menua. Maklum, ia lahir tahun 74 sementara aku menggandrunginya ketika usianya sama seperti usiaku sekarang. Hah, film india kayaknya emang gak selalu termehek-mehek deh! Yah, at least mendingan lah daripada nonton peliputan pengepungan teroris yang terlalu dibesar-besarkan dan diulang-ulang, capek deh!

01:13 am Saturday, August 8, 2009