Pyongyang dan Piyungan, sekilas -ingat:hanya sekilas ya!- dua daerah di negara yang berlainan itu -sekali lagi- sekilas hampir sama. Namun bukan karena hal itu aku jadi terkecoh oleh keduanya!
"Aku mau pindah ke Pyongyang habis lebaran!" cetusmu beberapa waktu lalu.
Awalnya, kukira itu hanya sebuah candaan darimu. Maklum, seperti si kecil, kamu juga termasuk sering "ngerjain" aku. Namun ketika aku melihat status facebook yang memajang kepergianmu ke ibukota Korea serta isi tanggapanmu atas komentar teman terhadap statusmu itu. Lantas kupikir kamu memang tak main-main. Ditambah kegigihanmu bersikukuh tentang alasan kepergianmu untuk ikut suami yang bertugas disana, kian menambah keyakinan diatas ketidakyakinanku. Pasalnya, kadang kamu meneguhkan ucapanmu dalam tawa, sehingga menipiskan batas kebenaran dan ketidakbenaran kabar itu.
Puncaknya adalah kemarin ketika kamu berkata bahwa besok adalah keberangkatanmu ke negara yang tengah berkonflik karena potensi nuklirnya itu. Kamu memintaku menemani di bandara. Aku mengiyakan, meski juga agak merasa ganjil. Logikanya, jika kamu memang -benar- berangkat, tentulah hari itu akan ada ortu plus kambing alias suamimu. Jikalau aku ada, pertanyaannya apakah kau akan berani mempertemukanku dengan mereka? Tetapi kau tetap memintaku hadir.
Dan esok pun tiba. Antara yakin dan tidak sejak semalam aku berpikir ekstra. Satu sudut hatiku memperkirakan gimana jika kamu sungguh pergi karena bagaimanapun rasa kehilangan itu akan ada atas apa yang pernah kita lewati bersama. Namun sudut hatiku yang lain mengatakan aku sedang dikerjain kamu. Kalau teringat tawamu, aku jadi sangsi kamu tak benar2 serius. Otakku terus berputar. Eh, tanpa dinyana sekitar jam 9 an kamu nongol di depan kamarku bersama si kecil dengan senyuman khasmu.
"Nanti habis lebaran aku pindah ke Pyongyang! Pyongyang itu kan nama kerennya Piyungan!" kilahmu. (Piyungan: sebuah daerah di Yogyakarta, di jalan Wonosari)
I've get punk!!
No comments:
Post a Comment