Kita adalah...
Dua hati saling menyayangi,
Tapi bagaikan oposisi,
Tiap hari mencaci dan memaki,
Menari dengan ego sendiri,
Kadang kulelah begini,
Aku ingin ketentraman hati,
Damai bak air jernih,
Biarkan riak ombak mati.
Kau bilang, hubungan yang datar-datar saja itu tak enak. "Masa tiap hari sayang-sayangan, kan bosen juga? Gak ada iramanya!" cetusmu.
"Sesekali berantem sih wajar, tapi kalo tiap hari, itu namanya kebangetan!" sergahku. Karena kadang aku jengah juga jika hal-hal sepele dijadikan alasan adu argumen. Meski kini aku sebisa mungkin tak terpancing. Maklum, lagi misi ngebut nyelesein tulisan begini, emosi kudu stabil. Jadi aku berusaha meredam ketemperamentalanku.
Seperti hari ini. Setelah sukses beberapa hari gencatan senjata, adem ayem tentrem, tepatnya mencoba untuk mengindahkan sms2nya yang kadang masih bernada tuduhan tanpa bukti, ia sepertinya sudah tak sabar memulai kembali peperangan. Selalu ada saja cela di tiap laku yang tak kulakukan.
Ah, kapan ya bendera putih akan slalu berkibar? Akankah seperti Israel-Palestina, saling tuding siapa yang sebenarnya teroris atas siapa? Uffs, capek, dan jangan sampe deh!
I hope apa yang tlah terlewati satu setengah tahun ini dijadikan acuan untuk kembali melihat ke belakang bahwa apa yang kita tempuh kini adalah sesuatu yang kan kita tuai tuk masa depan.
I wish u understand, mimikyu!
Wednesday, January 28, 2009
Sunday, January 25, 2009
Anak Ibu Kos Juga Belok!
Minggu pagi. Cerah.
Kuayunkan kaki menuju dapur. Disana sudah ada Ulfa yang sedang memetik kangkung.
"Masak apa, Fa?"
"Kangkung ama ayam goreng. Mbak nggak masak nih?"
"Tauk, kayaknya mau rebus telor aja!"
Sebenarnya hari ini aku malas memasak. Selain malas, juga bingung apa yang ingin kubuat. Kemarin kepikiran masak semur tahu, kentang ama telor. Tapi kok rame amat acaranya, mana nggak tau bumbunya lagi hehe maklum aku kalo masak emang nggak pake kaidah dasar memasak alias bumbunya asal-asalan saja, secara emang nggak bisa masak. Karena ngekos aja jadi bereksperimen sendiri, yang penting menghargai hasil masakan sendiri, meski notabene mayoritas keasinan hehe.
Back to the topic, melihat aktivitas si Ulfa masak, aku jadi tergerak menindas kemalasanku. Rencana awal, mau bikin semur kentang+telur. Setelah mikir-mikir, lagi males makan pake kuah. Rencana ganti, bikin sambal goreng kentang+tahu, tapi telornya dikemanain? Walhasil, sembari proses berjalan, akhirnya dipilih satu masakan, semur telor+kentang tapi kuah dibikin kental kayak capcay. And the process begin..
Datang si Afit, pengurus kos-kosan. Kebetulan, ia ahli dalam mengentalkan kuah. Sebenarnya sederhana saja, tinggal mencampur terigu dengan air ditambahi penyedap rasa secukupnya dan dituangkan ketika bumbu telah meresap ke bahan.
"Mbak, mbak, itu ada anaknya ibu!" celetuk Afit.
Aku kontan menoleh arah yang ditunjuk tapi orang yang dimaksud telah menghilang dibalik pintu.
"Yah, telat kamu ngasi taunya!" ujarku sedikit "kecewa".
Sekilas info, sejak Afit memberi info bahwa anaknya ibu kos itu kayak cowok banget, aku jadi penasaran. Bayangkan, tamu si ibu saja sampai-sampai memanggil perempuan itu "OM". Makanya aku jadi penasaran banget, meski hampir tiga bulan aku di kos ini aku belum pernah melihat batang hidungnya langsung.
"Tuh, tuh, mbak, orangnya keluar, masuk mobil!"
Reaksi spontanku adalah mengambil kresek bekas kulit bawang dll, pura-pura buang sampah. Namun sayang, rasa penasaranku belum terobati. Perempuan itu sudah duduk di kursi kemudi dan aku hanya mendapati potongan rambut cepaknya.
"Hai, cewek, lagi ngrumpiin apa nih!" ujar Ulfa muncul dari kamarnya, penasaran mungkin mendengar aku dan Afit cekikikan.
"Ini lho, mbak Alvi penasaran banget ama anaknya ibu sampai-sampai lagi numis bawang kompor langsung dimatiin lalu pura-pura buang sampah, tapi cuma dapat ngeliat potongan rambutnya aja hehe!" jelas Afit komplit-plit.
"Hahaha mbak Alvi ada-ada aja, tapi tau nggak mbak, semalem waktu si Ida pulang kerja, dia lihat anak ibu itu lagi nonton tivi ama bojo(baca:pasangan)nya!"
Aku terperangah. Bojo? Aku baru tahu ini perempuan yang wujudnya masih mengundang rasa penasaranku itu ternyata juga sudah punya bojo, dan berani dibawa ke rumah ortunya ini? Hah... Makin penasaran aja aku!
"Bojo?" sahutku menautkan alis pura-pura nggak ngerti.
"Iya, bojo, tapi bojonya itu cewek juga, mbak!" sahut Ulfa antusias.
"Ya, mungkin temennya tapi kita nyebutnya bojo gitu!" Afit sedikit mengoreksi dengan agak kikuk. Aku tersenyum dalam hati. "Temen kosnya, tapi udah deket banget gitu!"
"Iya, mbak, trus pas Ida markir motor, eh langsung dimatiin tivi dan lampunya!" imbuh Ulfa.
"Emang ibunya nggak tau apa?" tanyaku masih pura-pura bloon.
"Ya, mungkin dikira temennya kali!"
"Iya, cuma temenan aja kok!" Afit masih berusaha menutupi, meski kekikukannya jelas menggambarkan kondisi yang mungkin ia temukan. Maklum, ia pengurus rumah, tentulah cukup banyak tahu. "Nanti juga mereka mau pijit!"
"Siapa?"
"Ibu kos ama anaknya itu!"
"Ama menantunya juga kan?" ledekku.
Afit mengangguk-anggu "aneh".
"Gitu kok dibilang cuma temen!"
Obrolan tentang anak ibu kos itu berlanjut sore harinya. Tepat ketika ia muncul mengambil handuk sementara Afit mengobrol denganku di depan kamar. Aku sekilas melihat wujudnya, tapi wajahnya secara utuh belum. Hanya tampak samping.
"Mbak, mbak, tau nggak, tadi kan bojonya itu habis makan minta minum, trus diambilin, jangan2 mereka satu gelas ya!"
Aku terkekeh mendengar gosip yang digulirkan Afit.
"Oh ya, mbak, kalo mereka jalan, orang yang nggak tau pasti ngira bapak ibu kos jalan ama anak dan menantunya lho! Habis anaknya itu pake baju batik yang modelnya kayak punya bapaknya itu!"
Aku kian terkekeh.
Hah, ternyata nggak jauh-jauh anak ibu kosku juga belok hehehe...
Kuayunkan kaki menuju dapur. Disana sudah ada Ulfa yang sedang memetik kangkung.
"Masak apa, Fa?"
"Kangkung ama ayam goreng. Mbak nggak masak nih?"
"Tauk, kayaknya mau rebus telor aja!"
Sebenarnya hari ini aku malas memasak. Selain malas, juga bingung apa yang ingin kubuat. Kemarin kepikiran masak semur tahu, kentang ama telor. Tapi kok rame amat acaranya, mana nggak tau bumbunya lagi hehe maklum aku kalo masak emang nggak pake kaidah dasar memasak alias bumbunya asal-asalan saja, secara emang nggak bisa masak. Karena ngekos aja jadi bereksperimen sendiri, yang penting menghargai hasil masakan sendiri, meski notabene mayoritas keasinan hehe.
Back to the topic, melihat aktivitas si Ulfa masak, aku jadi tergerak menindas kemalasanku. Rencana awal, mau bikin semur kentang+telur. Setelah mikir-mikir, lagi males makan pake kuah. Rencana ganti, bikin sambal goreng kentang+tahu, tapi telornya dikemanain? Walhasil, sembari proses berjalan, akhirnya dipilih satu masakan, semur telor+kentang tapi kuah dibikin kental kayak capcay. And the process begin..
Datang si Afit, pengurus kos-kosan. Kebetulan, ia ahli dalam mengentalkan kuah. Sebenarnya sederhana saja, tinggal mencampur terigu dengan air ditambahi penyedap rasa secukupnya dan dituangkan ketika bumbu telah meresap ke bahan.
"Mbak, mbak, itu ada anaknya ibu!" celetuk Afit.
Aku kontan menoleh arah yang ditunjuk tapi orang yang dimaksud telah menghilang dibalik pintu.
"Yah, telat kamu ngasi taunya!" ujarku sedikit "kecewa".
Sekilas info, sejak Afit memberi info bahwa anaknya ibu kos itu kayak cowok banget, aku jadi penasaran. Bayangkan, tamu si ibu saja sampai-sampai memanggil perempuan itu "OM". Makanya aku jadi penasaran banget, meski hampir tiga bulan aku di kos ini aku belum pernah melihat batang hidungnya langsung.
"Tuh, tuh, mbak, orangnya keluar, masuk mobil!"
Reaksi spontanku adalah mengambil kresek bekas kulit bawang dll, pura-pura buang sampah. Namun sayang, rasa penasaranku belum terobati. Perempuan itu sudah duduk di kursi kemudi dan aku hanya mendapati potongan rambut cepaknya.
"Hai, cewek, lagi ngrumpiin apa nih!" ujar Ulfa muncul dari kamarnya, penasaran mungkin mendengar aku dan Afit cekikikan.
"Ini lho, mbak Alvi penasaran banget ama anaknya ibu sampai-sampai lagi numis bawang kompor langsung dimatiin lalu pura-pura buang sampah, tapi cuma dapat ngeliat potongan rambutnya aja hehe!" jelas Afit komplit-plit.
"Hahaha mbak Alvi ada-ada aja, tapi tau nggak mbak, semalem waktu si Ida pulang kerja, dia lihat anak ibu itu lagi nonton tivi ama bojo(baca:pasangan)nya!"
Aku terperangah. Bojo? Aku baru tahu ini perempuan yang wujudnya masih mengundang rasa penasaranku itu ternyata juga sudah punya bojo, dan berani dibawa ke rumah ortunya ini? Hah... Makin penasaran aja aku!
"Bojo?" sahutku menautkan alis pura-pura nggak ngerti.
"Iya, bojo, tapi bojonya itu cewek juga, mbak!" sahut Ulfa antusias.
"Ya, mungkin temennya tapi kita nyebutnya bojo gitu!" Afit sedikit mengoreksi dengan agak kikuk. Aku tersenyum dalam hati. "Temen kosnya, tapi udah deket banget gitu!"
"Iya, mbak, trus pas Ida markir motor, eh langsung dimatiin tivi dan lampunya!" imbuh Ulfa.
"Emang ibunya nggak tau apa?" tanyaku masih pura-pura bloon.
"Ya, mungkin dikira temennya kali!"
"Iya, cuma temenan aja kok!" Afit masih berusaha menutupi, meski kekikukannya jelas menggambarkan kondisi yang mungkin ia temukan. Maklum, ia pengurus rumah, tentulah cukup banyak tahu. "Nanti juga mereka mau pijit!"
"Siapa?"
"Ibu kos ama anaknya itu!"
"Ama menantunya juga kan?" ledekku.
Afit mengangguk-anggu "aneh".
"Gitu kok dibilang cuma temen!"
Obrolan tentang anak ibu kos itu berlanjut sore harinya. Tepat ketika ia muncul mengambil handuk sementara Afit mengobrol denganku di depan kamar. Aku sekilas melihat wujudnya, tapi wajahnya secara utuh belum. Hanya tampak samping.
"Mbak, mbak, tau nggak, tadi kan bojonya itu habis makan minta minum, trus diambilin, jangan2 mereka satu gelas ya!"
Aku terkekeh mendengar gosip yang digulirkan Afit.
"Oh ya, mbak, kalo mereka jalan, orang yang nggak tau pasti ngira bapak ibu kos jalan ama anak dan menantunya lho! Habis anaknya itu pake baju batik yang modelnya kayak punya bapaknya itu!"
Aku kian terkekeh.
Hah, ternyata nggak jauh-jauh anak ibu kosku juga belok hehehe...
Friday, January 23, 2009
Repotnya Ngurus Si Kecil
"Aku mau maem, kamu ajak main anakku dulu ya!"
Glekk. Aku menelan ludah sembari melemparkan pandang ke arah bocah perempuan berusia satu setengah tahun yang sedang bermain-main di depan pintu.
"Aku kan nggak pernah ngasuh anak kecil, say?"
"Pokoknya harus bisa! Masa' ngajak main anak kecil aja nggak bisa!"
Sebenarnya bukan nggak bisa. Hanya tidak terbiasa. Sejak dulu aku tidak menyukai anak kecil. Tapi bocah perempuan cantik itu memang telah memikatku sejak awal, meski aku tak terlalu pintar mengajaknya bercanda.
"Ayo, ikut Tante Alvi dulu lihat kakatua!" perintah sang ibu yang langsung dimengerti bocah perempuan itu. Bukan ingin melebihkan tapi untuk anak seusia dini seperti anak pasanganku, aku acungkan dua jempol baginya karena ia teramat pintar memahami perkataan orang dewasa.
"Bukan Tante, tapi Om Alvi!" selorohku.
Bocah perempuan itu merentangkan kedua lengannya.
Masa harus gendong, batinku. Seumur-umur aku belum pernah menggendong balita, bahkan adik kandungku sendiri.
"Ayo, gendong dia!"
"Masa' harus gendong?"
"Iya, nanti kakinya kotor!"
Aku meraih lengan bocah perempuan itu. Menggendongnya.
"Masa' gendongnya kayak gitu?" protes sang ibu melihat kekakuanku.
"Emang harus gimana lagi?"
Sang ibu tersenyum. "Sudah, lihat kakatua dulu ya..."
Aku membawa bocah perempuan itu melihat burung kakatua peliharaan ibu kost. Ia begitu antusias menirukan suara burung tersebut yang hanya bisa bersuara KAKAK... Namun tak bertahan lama, ia mulai mencari-cari keasyikan lain. Apalagi si burung kakatua tak juga berkicau.
Bocah perempuan itu menjelajah sekitar. Menemukan apapun yang menarik perhatiannya. Dan aku sungguh kembali dibuat kagum oleh balita satu ini. Ia ternyata hafal jalan pulang ke kamarku. Ia berlari-lari kecil, sementara aku mengekor di belakangnya sembari harap-harap cemas, takut kalau-kalau ia hilang keseimbangan dan jatuh. Sepanjang lorong ia menunjuk barang-barang yang harus kusebutkan namanya. Mulai dari payung, sepatu, bunga, sepeda, meja, kursi dan lain-lain. Ia bahkan tak mau ketika hendak kugendong.
Sedetik setelah menginjakkan kaki di kamarku, ia berinisiatif kembali ke sangkar kakatua. Tak tanggung-tanggung, ia berlari tanpa mau lagi digendong. Aku mengekornya, memastikan ia menuruni lantai yang lebih rendah dengan "selamat". Hanya sebentar, ia berlari kembali ke kamar. Begitu terus hingga tiga kali.
"Sudah ya, nggak kakatua-kakatuaan lagi, aku capek!" ujarku sembari menutup pintu kamar.
Bocah perempuan itu mengerti keasyikannya dilarang. Ia marah. Menggedor-gedor pintu dan tembok sambil mendengus-dengus menatapku. Mendung kemudian menggelanyut di mata besarnya.
"Dia nangis lho ntar!" protes sang ibu.
"Habis aku kuatir dia jatuh, disana itu ada ubin yang menurun.."
"Dia kan bisa turun sendiri. Di rumahku aja di depan kan ada tangga yang mau masuk rumah itu, dia bisa kok naik turun,"
"Aku cuma takut pas dia lari kenceng nggak bisa ngerem..."
Hooaa...
Bocah hiperaktif itu meraung.
"Iya, iya, ini aku buka!" Aku membuka pintu. Ia langsung menyerobot keluar dengan muka berbinar. Aku tak kuasa untuk melepasnya sendiri. Entah kenapa aku jadi overprotektif terhadap anak kecil. Aku hanya tak ingin bocah itu kenapa-napa. Kali ini aku hanya mengawasi gerak-geriknya. Dan memang benar, ia sukses di ubin yang menumpuk kekuatiranku itu.
Bocah ajaib ini memang pintar, selain hiperaktif.
"Hah, capek!" ujarku sembari menyelonjorkan kaki.
"Baru ngajak main sebentar aja capek, apalagi aku yang sehari-harian bersamanya!"
"Iya deh. Salut aku ama kamu! Aku nyerah deh!"
"Aku aja kalo nggak ada pembantu, pasti capek banget. Makanya, kapan kamu punya anak?"
"Kayaknya enggak deh! Tapi nggak tau lagi ya! Sebab kalau keinginan sendiri sih nggak kepikiran, nggak tau kalau nanti ada sebab-akibat lain,"
"Nggak ngebayangin kalau kamu mengandung dan melahirkan,"
"Udah ah, jangan ngobrolin soal itu!"
Membayangkan aku punya anak... Hah, sama sekali tak ada dalam benakku! Apalagi kalau anaknya hiperaktif kayak bocah perempuan itu, bisa kurus tanpa diet aku ntar hehehe tapi bocah perempuan itu ngangenin banget. Meski sepulangnya aku harus mencuci perabot makan, menyapu, mengepel dan menata ulang kamar, namun membayangkan celoteh dan kepintarannya, aku dibuat tak sabar kapan ia akan datang kemari lagi.
Glekk. Aku menelan ludah sembari melemparkan pandang ke arah bocah perempuan berusia satu setengah tahun yang sedang bermain-main di depan pintu.
"Aku kan nggak pernah ngasuh anak kecil, say?"
"Pokoknya harus bisa! Masa' ngajak main anak kecil aja nggak bisa!"
Sebenarnya bukan nggak bisa. Hanya tidak terbiasa. Sejak dulu aku tidak menyukai anak kecil. Tapi bocah perempuan cantik itu memang telah memikatku sejak awal, meski aku tak terlalu pintar mengajaknya bercanda.
"Ayo, ikut Tante Alvi dulu lihat kakatua!" perintah sang ibu yang langsung dimengerti bocah perempuan itu. Bukan ingin melebihkan tapi untuk anak seusia dini seperti anak pasanganku, aku acungkan dua jempol baginya karena ia teramat pintar memahami perkataan orang dewasa.
"Bukan Tante, tapi Om Alvi!" selorohku.
Bocah perempuan itu merentangkan kedua lengannya.
Masa harus gendong, batinku. Seumur-umur aku belum pernah menggendong balita, bahkan adik kandungku sendiri.
"Ayo, gendong dia!"
"Masa' harus gendong?"
"Iya, nanti kakinya kotor!"
Aku meraih lengan bocah perempuan itu. Menggendongnya.
"Masa' gendongnya kayak gitu?" protes sang ibu melihat kekakuanku.
"Emang harus gimana lagi?"
Sang ibu tersenyum. "Sudah, lihat kakatua dulu ya..."
Aku membawa bocah perempuan itu melihat burung kakatua peliharaan ibu kost. Ia begitu antusias menirukan suara burung tersebut yang hanya bisa bersuara KAKAK... Namun tak bertahan lama, ia mulai mencari-cari keasyikan lain. Apalagi si burung kakatua tak juga berkicau.
Bocah perempuan itu menjelajah sekitar. Menemukan apapun yang menarik perhatiannya. Dan aku sungguh kembali dibuat kagum oleh balita satu ini. Ia ternyata hafal jalan pulang ke kamarku. Ia berlari-lari kecil, sementara aku mengekor di belakangnya sembari harap-harap cemas, takut kalau-kalau ia hilang keseimbangan dan jatuh. Sepanjang lorong ia menunjuk barang-barang yang harus kusebutkan namanya. Mulai dari payung, sepatu, bunga, sepeda, meja, kursi dan lain-lain. Ia bahkan tak mau ketika hendak kugendong.
Sedetik setelah menginjakkan kaki di kamarku, ia berinisiatif kembali ke sangkar kakatua. Tak tanggung-tanggung, ia berlari tanpa mau lagi digendong. Aku mengekornya, memastikan ia menuruni lantai yang lebih rendah dengan "selamat". Hanya sebentar, ia berlari kembali ke kamar. Begitu terus hingga tiga kali.
"Sudah ya, nggak kakatua-kakatuaan lagi, aku capek!" ujarku sembari menutup pintu kamar.
Bocah perempuan itu mengerti keasyikannya dilarang. Ia marah. Menggedor-gedor pintu dan tembok sambil mendengus-dengus menatapku. Mendung kemudian menggelanyut di mata besarnya.
"Dia nangis lho ntar!" protes sang ibu.
"Habis aku kuatir dia jatuh, disana itu ada ubin yang menurun.."
"Dia kan bisa turun sendiri. Di rumahku aja di depan kan ada tangga yang mau masuk rumah itu, dia bisa kok naik turun,"
"Aku cuma takut pas dia lari kenceng nggak bisa ngerem..."
Hooaa...
Bocah hiperaktif itu meraung.
"Iya, iya, ini aku buka!" Aku membuka pintu. Ia langsung menyerobot keluar dengan muka berbinar. Aku tak kuasa untuk melepasnya sendiri. Entah kenapa aku jadi overprotektif terhadap anak kecil. Aku hanya tak ingin bocah itu kenapa-napa. Kali ini aku hanya mengawasi gerak-geriknya. Dan memang benar, ia sukses di ubin yang menumpuk kekuatiranku itu.
Bocah ajaib ini memang pintar, selain hiperaktif.
"Hah, capek!" ujarku sembari menyelonjorkan kaki.
"Baru ngajak main sebentar aja capek, apalagi aku yang sehari-harian bersamanya!"
"Iya deh. Salut aku ama kamu! Aku nyerah deh!"
"Aku aja kalo nggak ada pembantu, pasti capek banget. Makanya, kapan kamu punya anak?"
"Kayaknya enggak deh! Tapi nggak tau lagi ya! Sebab kalau keinginan sendiri sih nggak kepikiran, nggak tau kalau nanti ada sebab-akibat lain,"
"Nggak ngebayangin kalau kamu mengandung dan melahirkan,"
"Udah ah, jangan ngobrolin soal itu!"
Membayangkan aku punya anak... Hah, sama sekali tak ada dalam benakku! Apalagi kalau anaknya hiperaktif kayak bocah perempuan itu, bisa kurus tanpa diet aku ntar hehehe tapi bocah perempuan itu ngangenin banget. Meski sepulangnya aku harus mencuci perabot makan, menyapu, mengepel dan menata ulang kamar, namun membayangkan celoteh dan kepintarannya, aku dibuat tak sabar kapan ia akan datang kemari lagi.
Friday, January 9, 2009
2009: COMING OUT KECIL2AN
Seorang saudara datang dari kota kelahiranku. Beliau menginap di tempat keponakannya yang rumahnya tak jauh dari kosku. Sebelum-sebelumnya aku telah berulang kali diminta mampir ke rumah keponakannya itu, tapi aku masih pikir-pikir. Selain terhitung saudara jauh, aku juga tak terlalu pintar beramah tamah dengan "orang asing". Makanya ketika kini ada kesempatan, aku pun bertandang. Itung-itung satu kota di kota yang tak kupunya sanak saudara ini, selain kekasih yang juga tak tiap hari bertemu muka.
Singkat cerita, aku berkenalan dengan si empunya rumah. Ada kakak dan adiknya dari Surabaya. Adiknya sebaya denganku. Kami tak banyak mengobrol karena ia ribet menjadi baby sitter anak kakaknya. Sepulang dari sana, kupikir semua juga akan berlalu menyisakan basa-basi bernama formalitas. Hingga sebuah sms di malam akhir tahun mampir ke ponselku.
Ada acara taon baru kemana neh?
Pengirimnya QQ, perempuan yang sebaya denganku itu. Aku kemudian mengajaknya gabung denganku dan anak2 di kos yang akan melewatkan pergantian tahun di Alun-Alun Kidul. Aku sebenarnya tak pernah merayakan, atau apalah namanya, taon baruan. Bagiku, pergantian tahun sama saja seperti pergantian hari pada umumnya. Tapi untuk sekedar iseng, yah tak apalah ikutan acara anak2 di kos. Dan ternyata acara kembang apinya tak seseru yang kubayangkan. Beberapa menit setelah meninggalkan 2008, kami semua sudah cepat-cepat ingin pulang.
Dan hari-hari selanjutnya adalah hari yang hampir tiap waktu kulalui dengan debaran jantung yang berdetak cepat. Pasalnya, aku agak2 parno jika ada saudara yang mengetahui keseharianku. Bukan karena apa, aku hanya tak ingin rahasia hidupku terketahui dan bom waktu itu meledak.
Dan perkiraanku benar. QQ mulai tanya ini-itu. Makin hari makin detil.
"Kamu tau gak, kamu itu persis kayak temanku di Mataram. Namanya bi' Roy. Perawakan dan potongan rambutnya sama denganmu." jelas QQ menjabarkan.
"Lalu?" Sebenarnya dalam hati kekhawatiran mencekamku, sekaligus tanda tanya pula mungkinkah perempuan ini juga "belok".
"Ya aku cuma keinget temenku itu. Habis persis banget ama kamu!"
Kian hari komentar dan pertanyaan QQ kian beragam. Kecurigaannya sedikit demi sedikit beralih menjadi pertanyaan-pertanyaan jebakan. Aku bahkan sempat menebak ia sama sepertiku, tapi buru-buru kutepis karena seiring kedekatan kami ia mulai terbuka menceritakan serba-serbi hidupnya.
Ia tengah dirundung dilema antara meraih kembali cinta yang telah cacat ataukah merelakan laki-laki yang dicintainya itu menyanding perempuan lain.
Jujur ketika mengenalnya di awal-awal, aku tak mengira ia model orang yang rapuh, menilik dari cablak ucapan dan pemikirannya. Aku dibuat terheran-heran.Namun bersinggungan dengan masalah hati, kebanyakan orang bisa bertindak diluar dari apa yang biasa ia lakukan. Begitu juga QQ. Kelugasannya sontak berubah isakan dan kebingungan mendalam. Kadang stabil, namun tak jarang labil kembali.
"Kapan targetmu menikah?"
Pertanyaan itu dilontarkan padaku ketika hatinya telah tenang.
"Aku..." Otakku berpikir cepat sembari mengulur waktu. "Aku nggak ada target menikah!"
"Kenapa?"
"Ya nggak apa-apa!"
"Pacar udah ada kan?"
Aku mengangguk.
"Lalu apa lagi? Kayaknya kamu juga sudah cukup umur, kan?"
Otakku benar-benar bekerja keras. "Ya emang belum kepikiran aja!"
"Nunggu apa lagi?" Perempuan berhidung bangir di depanku ini kian mencecarku.
"Ya, pokoknya masih ada masalah aja," kilahku sembari terbayang bahwa yang sedang kami perbincangkan adalah seorang perempuan.
Kukira pertanyaan seputar pacar dan pernikahan telah berakhir, namun ternyata QQ mengorek lebih dalam. Bukan lagi pertanyaan, melainkan pernyataan menjurus.
"Kamu nggak usah bohong padaku, santai saja!"
Aku menolehnya. Ia tengah menanti jawabku dan entah mengapa ada dorongan hebat dari dalam diriku yang begitu ingin memuntahkan semua yang tertahan dan tersusun rapi dalam deck hatiku sekian lamanya.
Satu persatu pengakuan meluncur lepas dari bibirku. Dan juga entah mengapa dadaku terasa plong. Meski tak kupungkiri ada kekhawatiran mengiring. Seorang saudara, meski terhitung saudara jauh, telah mengetahui orientasi seksualku dan ada kemungkinan pengakuan itu akan sampai ke telinga orangtuaku.
"Jangan kuatir, I'm an open minded person, hidupmu adalah pilihanmu sendiri. Aku tak akan mencampuri." jelasnya menghapus kecemasanku.
Coming Out. Hal yang teramat kuingini untuk kulakukan, namun karena berbagai pertimbangan tak pernah terealisasikan. Pengakuanku pada QQ bisa jadi coming out kecil2an di awal tahun 2009 ini.
Singkat cerita, aku berkenalan dengan si empunya rumah. Ada kakak dan adiknya dari Surabaya. Adiknya sebaya denganku. Kami tak banyak mengobrol karena ia ribet menjadi baby sitter anak kakaknya. Sepulang dari sana, kupikir semua juga akan berlalu menyisakan basa-basi bernama formalitas. Hingga sebuah sms di malam akhir tahun mampir ke ponselku.
Ada acara taon baru kemana neh?
Pengirimnya QQ, perempuan yang sebaya denganku itu. Aku kemudian mengajaknya gabung denganku dan anak2 di kos yang akan melewatkan pergantian tahun di Alun-Alun Kidul. Aku sebenarnya tak pernah merayakan, atau apalah namanya, taon baruan. Bagiku, pergantian tahun sama saja seperti pergantian hari pada umumnya. Tapi untuk sekedar iseng, yah tak apalah ikutan acara anak2 di kos. Dan ternyata acara kembang apinya tak seseru yang kubayangkan. Beberapa menit setelah meninggalkan 2008, kami semua sudah cepat-cepat ingin pulang.
Dan hari-hari selanjutnya adalah hari yang hampir tiap waktu kulalui dengan debaran jantung yang berdetak cepat. Pasalnya, aku agak2 parno jika ada saudara yang mengetahui keseharianku. Bukan karena apa, aku hanya tak ingin rahasia hidupku terketahui dan bom waktu itu meledak.
Dan perkiraanku benar. QQ mulai tanya ini-itu. Makin hari makin detil.
"Kamu tau gak, kamu itu persis kayak temanku di Mataram. Namanya bi' Roy. Perawakan dan potongan rambutnya sama denganmu." jelas QQ menjabarkan.
"Lalu?" Sebenarnya dalam hati kekhawatiran mencekamku, sekaligus tanda tanya pula mungkinkah perempuan ini juga "belok".
"Ya aku cuma keinget temenku itu. Habis persis banget ama kamu!"
Kian hari komentar dan pertanyaan QQ kian beragam. Kecurigaannya sedikit demi sedikit beralih menjadi pertanyaan-pertanyaan jebakan. Aku bahkan sempat menebak ia sama sepertiku, tapi buru-buru kutepis karena seiring kedekatan kami ia mulai terbuka menceritakan serba-serbi hidupnya.
Ia tengah dirundung dilema antara meraih kembali cinta yang telah cacat ataukah merelakan laki-laki yang dicintainya itu menyanding perempuan lain.
Jujur ketika mengenalnya di awal-awal, aku tak mengira ia model orang yang rapuh, menilik dari cablak ucapan dan pemikirannya. Aku dibuat terheran-heran.Namun bersinggungan dengan masalah hati, kebanyakan orang bisa bertindak diluar dari apa yang biasa ia lakukan. Begitu juga QQ. Kelugasannya sontak berubah isakan dan kebingungan mendalam. Kadang stabil, namun tak jarang labil kembali.
"Kapan targetmu menikah?"
Pertanyaan itu dilontarkan padaku ketika hatinya telah tenang.
"Aku..." Otakku berpikir cepat sembari mengulur waktu. "Aku nggak ada target menikah!"
"Kenapa?"
"Ya nggak apa-apa!"
"Pacar udah ada kan?"
Aku mengangguk.
"Lalu apa lagi? Kayaknya kamu juga sudah cukup umur, kan?"
Otakku benar-benar bekerja keras. "Ya emang belum kepikiran aja!"
"Nunggu apa lagi?" Perempuan berhidung bangir di depanku ini kian mencecarku.
"Ya, pokoknya masih ada masalah aja," kilahku sembari terbayang bahwa yang sedang kami perbincangkan adalah seorang perempuan.
Kukira pertanyaan seputar pacar dan pernikahan telah berakhir, namun ternyata QQ mengorek lebih dalam. Bukan lagi pertanyaan, melainkan pernyataan menjurus.
"Kamu nggak usah bohong padaku, santai saja!"
Aku menolehnya. Ia tengah menanti jawabku dan entah mengapa ada dorongan hebat dari dalam diriku yang begitu ingin memuntahkan semua yang tertahan dan tersusun rapi dalam deck hatiku sekian lamanya.
Satu persatu pengakuan meluncur lepas dari bibirku. Dan juga entah mengapa dadaku terasa plong. Meski tak kupungkiri ada kekhawatiran mengiring. Seorang saudara, meski terhitung saudara jauh, telah mengetahui orientasi seksualku dan ada kemungkinan pengakuan itu akan sampai ke telinga orangtuaku.
"Jangan kuatir, I'm an open minded person, hidupmu adalah pilihanmu sendiri. Aku tak akan mencampuri." jelasnya menghapus kecemasanku.
Coming Out. Hal yang teramat kuingini untuk kulakukan, namun karena berbagai pertimbangan tak pernah terealisasikan. Pengakuanku pada QQ bisa jadi coming out kecil2an di awal tahun 2009 ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)