Minggu pagi. Cerah.
Kuayunkan kaki menuju dapur. Disana sudah ada Ulfa yang sedang memetik kangkung.
"Masak apa, Fa?"
"Kangkung ama ayam goreng. Mbak nggak masak nih?"
"Tauk, kayaknya mau rebus telor aja!"
Sebenarnya hari ini aku malas memasak. Selain malas, juga bingung apa yang ingin kubuat. Kemarin kepikiran masak semur tahu, kentang ama telor. Tapi kok rame amat acaranya, mana nggak tau bumbunya lagi hehe maklum aku kalo masak emang nggak pake kaidah dasar memasak alias bumbunya asal-asalan saja, secara emang nggak bisa masak. Karena ngekos aja jadi bereksperimen sendiri, yang penting menghargai hasil masakan sendiri, meski notabene mayoritas keasinan hehe.
Back to the topic, melihat aktivitas si Ulfa masak, aku jadi tergerak menindas kemalasanku. Rencana awal, mau bikin semur kentang+telur. Setelah mikir-mikir, lagi males makan pake kuah. Rencana ganti, bikin sambal goreng kentang+tahu, tapi telornya dikemanain? Walhasil, sembari proses berjalan, akhirnya dipilih satu masakan, semur telor+kentang tapi kuah dibikin kental kayak capcay. And the process begin..
Datang si Afit, pengurus kos-kosan. Kebetulan, ia ahli dalam mengentalkan kuah. Sebenarnya sederhana saja, tinggal mencampur terigu dengan air ditambahi penyedap rasa secukupnya dan dituangkan ketika bumbu telah meresap ke bahan.
"Mbak, mbak, itu ada anaknya ibu!" celetuk Afit.
Aku kontan menoleh arah yang ditunjuk tapi orang yang dimaksud telah menghilang dibalik pintu.
"Yah, telat kamu ngasi taunya!" ujarku sedikit "kecewa".
Sekilas info, sejak Afit memberi info bahwa anaknya ibu kos itu kayak cowok banget, aku jadi penasaran. Bayangkan, tamu si ibu saja sampai-sampai memanggil perempuan itu "OM". Makanya aku jadi penasaran banget, meski hampir tiga bulan aku di kos ini aku belum pernah melihat batang hidungnya langsung.
"Tuh, tuh, mbak, orangnya keluar, masuk mobil!"
Reaksi spontanku adalah mengambil kresek bekas kulit bawang dll, pura-pura buang sampah. Namun sayang, rasa penasaranku belum terobati. Perempuan itu sudah duduk di kursi kemudi dan aku hanya mendapati potongan rambut cepaknya.
"Hai, cewek, lagi ngrumpiin apa nih!" ujar Ulfa muncul dari kamarnya, penasaran mungkin mendengar aku dan Afit cekikikan.
"Ini lho, mbak Alvi penasaran banget ama anaknya ibu sampai-sampai lagi numis bawang kompor langsung dimatiin lalu pura-pura buang sampah, tapi cuma dapat ngeliat potongan rambutnya aja hehe!" jelas Afit komplit-plit.
"Hahaha mbak Alvi ada-ada aja, tapi tau nggak mbak, semalem waktu si Ida pulang kerja, dia lihat anak ibu itu lagi nonton tivi ama bojo(baca:pasangan)nya!"
Aku terperangah. Bojo? Aku baru tahu ini perempuan yang wujudnya masih mengundang rasa penasaranku itu ternyata juga sudah punya bojo, dan berani dibawa ke rumah ortunya ini? Hah... Makin penasaran aja aku!
"Bojo?" sahutku menautkan alis pura-pura nggak ngerti.
"Iya, bojo, tapi bojonya itu cewek juga, mbak!" sahut Ulfa antusias.
"Ya, mungkin temennya tapi kita nyebutnya bojo gitu!" Afit sedikit mengoreksi dengan agak kikuk. Aku tersenyum dalam hati. "Temen kosnya, tapi udah deket banget gitu!"
"Iya, mbak, trus pas Ida markir motor, eh langsung dimatiin tivi dan lampunya!" imbuh Ulfa.
"Emang ibunya nggak tau apa?" tanyaku masih pura-pura bloon.
"Ya, mungkin dikira temennya kali!"
"Iya, cuma temenan aja kok!" Afit masih berusaha menutupi, meski kekikukannya jelas menggambarkan kondisi yang mungkin ia temukan. Maklum, ia pengurus rumah, tentulah cukup banyak tahu. "Nanti juga mereka mau pijit!"
"Siapa?"
"Ibu kos ama anaknya itu!"
"Ama menantunya juga kan?" ledekku.
Afit mengangguk-anggu "aneh".
"Gitu kok dibilang cuma temen!"
Obrolan tentang anak ibu kos itu berlanjut sore harinya. Tepat ketika ia muncul mengambil handuk sementara Afit mengobrol denganku di depan kamar. Aku sekilas melihat wujudnya, tapi wajahnya secara utuh belum. Hanya tampak samping.
"Mbak, mbak, tau nggak, tadi kan bojonya itu habis makan minta minum, trus diambilin, jangan2 mereka satu gelas ya!"
Aku terkekeh mendengar gosip yang digulirkan Afit.
"Oh ya, mbak, kalo mereka jalan, orang yang nggak tau pasti ngira bapak ibu kos jalan ama anak dan menantunya lho! Habis anaknya itu pake baju batik yang modelnya kayak punya bapaknya itu!"
Aku kian terkekeh.
Hah, ternyata nggak jauh-jauh anak ibu kosku juga belok hehehe...
3 comments:
Wah anak ibu kost bisa jadi teman baru Vi. Kenalan ja :)
Wawww....gitu yahhh?
Kenapa gk selidikin dlu klo mrka tu belok apa gakk?
Skarang ko kyanya perbelokan merajalela bgt yahhh???
Apa bener,,,dunia bkal baik2 aja klo gni jalan nya???
Trus alquran bwt apa dong?
Gw bkn sok suci jg....coz gw sendri jg pernah ngrasain belokk....
Tapi yg gw rsain,wkt belok tu gw gk pernah tenang,
dan gw juga nyesel krna dah ngcewain nyokap yg jelas2 ngarepin gw jd cwe yg bener.,,
Ya dr stu,,,gw pensiun jg dr prbelokan...
Gw gk mo lg bkin nyokap nangis....
Dan yg berat skrg bwt gw..
Dalam keadaan gw yg tomboy alias butch gini....gw mesti nolak smw bentuk femmme yg dr dlu gw pgn.
kamu nggak tenang karena kamu belum bisa berdamai dengan dirimu sendiri tntang apa yang kamu rasakan itu, okey.. kalo kamu sudh bisa berdamai dgn dirimu sendiri, insyaALLAH kamu bakalan enang dalam menjalani hari-harimu sebagai lesbian...
Post a Comment