Friday, January 23, 2009

Repotnya Ngurus Si Kecil

"Aku mau maem, kamu ajak main anakku dulu ya!"
Glekk. Aku menelan ludah sembari melemparkan pandang ke arah bocah perempuan berusia satu setengah tahun yang sedang bermain-main di depan pintu.
"Aku kan nggak pernah ngasuh anak kecil, say?"
"Pokoknya harus bisa! Masa' ngajak main anak kecil aja nggak bisa!"
Sebenarnya bukan nggak bisa. Hanya tidak terbiasa. Sejak dulu aku tidak menyukai anak kecil. Tapi bocah perempuan cantik itu memang telah memikatku sejak awal, meski aku tak terlalu pintar mengajaknya bercanda.
"Ayo, ikut Tante Alvi dulu lihat kakatua!" perintah sang ibu yang langsung dimengerti bocah perempuan itu. Bukan ingin melebihkan tapi untuk anak seusia dini seperti anak pasanganku, aku acungkan dua jempol baginya karena ia teramat pintar memahami perkataan orang dewasa.
"Bukan Tante, tapi Om Alvi!" selorohku.
Bocah perempuan itu merentangkan kedua lengannya.
Masa harus gendong, batinku. Seumur-umur aku belum pernah menggendong balita, bahkan adik kandungku sendiri.
"Ayo, gendong dia!"
"Masa' harus gendong?"
"Iya, nanti kakinya kotor!"
Aku meraih lengan bocah perempuan itu. Menggendongnya.
"Masa' gendongnya kayak gitu?" protes sang ibu melihat kekakuanku.
"Emang harus gimana lagi?"
Sang ibu tersenyum. "Sudah, lihat kakatua dulu ya..."
Aku membawa bocah perempuan itu melihat burung kakatua peliharaan ibu kost. Ia begitu antusias menirukan suara burung tersebut yang hanya bisa bersuara KAKAK... Namun tak bertahan lama, ia mulai mencari-cari keasyikan lain. Apalagi si burung kakatua tak juga berkicau.
Bocah perempuan itu menjelajah sekitar. Menemukan apapun yang menarik perhatiannya. Dan aku sungguh kembali dibuat kagum oleh balita satu ini. Ia ternyata hafal jalan pulang ke kamarku. Ia berlari-lari kecil, sementara aku mengekor di belakangnya sembari harap-harap cemas, takut kalau-kalau ia hilang keseimbangan dan jatuh. Sepanjang lorong ia menunjuk barang-barang yang harus kusebutkan namanya. Mulai dari payung, sepatu, bunga, sepeda, meja, kursi dan lain-lain. Ia bahkan tak mau ketika hendak kugendong.
Sedetik setelah menginjakkan kaki di kamarku, ia berinisiatif kembali ke sangkar kakatua. Tak tanggung-tanggung, ia berlari tanpa mau lagi digendong. Aku mengekornya, memastikan ia menuruni lantai yang lebih rendah dengan "selamat". Hanya sebentar, ia berlari kembali ke kamar. Begitu terus hingga tiga kali.
"Sudah ya, nggak kakatua-kakatuaan lagi, aku capek!" ujarku sembari menutup pintu kamar.
Bocah perempuan itu mengerti keasyikannya dilarang. Ia marah. Menggedor-gedor pintu dan tembok sambil mendengus-dengus menatapku. Mendung kemudian menggelanyut di mata besarnya.
"Dia nangis lho ntar!" protes sang ibu.
"Habis aku kuatir dia jatuh, disana itu ada ubin yang menurun.."
"Dia kan bisa turun sendiri. Di rumahku aja di depan kan ada tangga yang mau masuk rumah itu, dia bisa kok naik turun,"
"Aku cuma takut pas dia lari kenceng nggak bisa ngerem..."
Hooaa...
Bocah hiperaktif itu meraung.
"Iya, iya, ini aku buka!" Aku membuka pintu. Ia langsung menyerobot keluar dengan muka berbinar. Aku tak kuasa untuk melepasnya sendiri. Entah kenapa aku jadi overprotektif terhadap anak kecil. Aku hanya tak ingin bocah itu kenapa-napa. Kali ini aku hanya mengawasi gerak-geriknya. Dan memang benar, ia sukses di ubin yang menumpuk kekuatiranku itu.
Bocah ajaib ini memang pintar, selain hiperaktif.
"Hah, capek!" ujarku sembari menyelonjorkan kaki.
"Baru ngajak main sebentar aja capek, apalagi aku yang sehari-harian bersamanya!"
"Iya deh. Salut aku ama kamu! Aku nyerah deh!"
"Aku aja kalo nggak ada pembantu, pasti capek banget. Makanya, kapan kamu punya anak?"
"Kayaknya enggak deh! Tapi nggak tau lagi ya! Sebab kalau keinginan sendiri sih nggak kepikiran, nggak tau kalau nanti ada sebab-akibat lain,"
"Nggak ngebayangin kalau kamu mengandung dan melahirkan,"
"Udah ah, jangan ngobrolin soal itu!"

Membayangkan aku punya anak... Hah, sama sekali tak ada dalam benakku! Apalagi kalau anaknya hiperaktif kayak bocah perempuan itu, bisa kurus tanpa diet aku ntar hehehe tapi bocah perempuan itu ngangenin banget. Meski sepulangnya aku harus mencuci perabot makan, menyapu, mengepel dan menata ulang kamar, namun membayangkan celoteh dan kepintarannya, aku dibuat tak sabar kapan ia akan datang kemari lagi.

1 comment:

Anonymous said...

Vi, kudu sabar ngasuh anak yg hyperaktif, anggap ja anak sendiri. Semoga kalian b3 rukun bahagia ya :)