Friday, January 9, 2009

2009: COMING OUT KECIL2AN

Seorang saudara datang dari kota kelahiranku. Beliau menginap di tempat keponakannya yang rumahnya tak jauh dari kosku. Sebelum-sebelumnya aku telah berulang kali diminta mampir ke rumah keponakannya itu, tapi aku masih pikir-pikir. Selain terhitung saudara jauh, aku juga tak terlalu pintar beramah tamah dengan "orang asing". Makanya ketika kini ada kesempatan, aku pun bertandang. Itung-itung satu kota di kota yang tak kupunya sanak saudara ini, selain kekasih yang juga tak tiap hari bertemu muka.

Singkat cerita, aku berkenalan dengan si empunya rumah. Ada kakak dan adiknya dari Surabaya. Adiknya sebaya denganku. Kami tak banyak mengobrol karena ia ribet menjadi baby sitter anak kakaknya. Sepulang dari sana, kupikir semua juga akan berlalu menyisakan basa-basi bernama formalitas. Hingga sebuah sms di malam akhir tahun mampir ke ponselku.
Ada acara taon baru kemana neh?

Pengirimnya QQ, perempuan yang sebaya denganku itu. Aku kemudian mengajaknya gabung denganku dan anak2 di kos yang akan melewatkan pergantian tahun di Alun-Alun Kidul. Aku sebenarnya tak pernah merayakan, atau apalah namanya, taon baruan. Bagiku, pergantian tahun sama saja seperti pergantian hari pada umumnya. Tapi untuk sekedar iseng, yah tak apalah ikutan acara anak2 di kos. Dan ternyata acara kembang apinya tak seseru yang kubayangkan. Beberapa menit setelah meninggalkan 2008, kami semua sudah cepat-cepat ingin pulang.

Dan hari-hari selanjutnya adalah hari yang hampir tiap waktu kulalui dengan debaran jantung yang berdetak cepat. Pasalnya, aku agak2 parno jika ada saudara yang mengetahui keseharianku. Bukan karena apa, aku hanya tak ingin rahasia hidupku terketahui dan bom waktu itu meledak.

Dan perkiraanku benar. QQ mulai tanya ini-itu. Makin hari makin detil.
"Kamu tau gak, kamu itu persis kayak temanku di Mataram. Namanya bi' Roy. Perawakan dan potongan rambutnya sama denganmu." jelas QQ menjabarkan.
"Lalu?" Sebenarnya dalam hati kekhawatiran mencekamku, sekaligus tanda tanya pula mungkinkah perempuan ini juga "belok".
"Ya aku cuma keinget temenku itu. Habis persis banget ama kamu!"
Kian hari komentar dan pertanyaan QQ kian beragam. Kecurigaannya sedikit demi sedikit beralih menjadi pertanyaan-pertanyaan jebakan. Aku bahkan sempat menebak ia sama sepertiku, tapi buru-buru kutepis karena seiring kedekatan kami ia mulai terbuka menceritakan serba-serbi hidupnya.

Ia tengah dirundung dilema antara meraih kembali cinta yang telah cacat ataukah merelakan laki-laki yang dicintainya itu menyanding perempuan lain.

Jujur ketika mengenalnya di awal-awal, aku tak mengira ia model orang yang rapuh, menilik dari cablak ucapan dan pemikirannya. Aku dibuat terheran-heran.Namun bersinggungan dengan masalah hati, kebanyakan orang bisa bertindak diluar dari apa yang biasa ia lakukan. Begitu juga QQ. Kelugasannya sontak berubah isakan dan kebingungan mendalam. Kadang stabil, namun tak jarang labil kembali.
"Kapan targetmu menikah?"
Pertanyaan itu dilontarkan padaku ketika hatinya telah tenang.
"Aku..." Otakku berpikir cepat sembari mengulur waktu. "Aku nggak ada target menikah!"
"Kenapa?"
"Ya nggak apa-apa!"
"Pacar udah ada kan?"
Aku mengangguk.
"Lalu apa lagi? Kayaknya kamu juga sudah cukup umur, kan?"
Otakku benar-benar bekerja keras. "Ya emang belum kepikiran aja!"
"Nunggu apa lagi?" Perempuan berhidung bangir di depanku ini kian mencecarku.
"Ya, pokoknya masih ada masalah aja," kilahku sembari terbayang bahwa yang sedang kami perbincangkan adalah seorang perempuan.

Kukira pertanyaan seputar pacar dan pernikahan telah berakhir, namun ternyata QQ mengorek lebih dalam. Bukan lagi pertanyaan, melainkan pernyataan menjurus.
"Kamu nggak usah bohong padaku, santai saja!"

Aku menolehnya. Ia tengah menanti jawabku dan entah mengapa ada dorongan hebat dari dalam diriku yang begitu ingin memuntahkan semua yang tertahan dan tersusun rapi dalam deck hatiku sekian lamanya.

Satu persatu pengakuan meluncur lepas dari bibirku. Dan juga entah mengapa dadaku terasa plong. Meski tak kupungkiri ada kekhawatiran mengiring. Seorang saudara, meski terhitung saudara jauh, telah mengetahui orientasi seksualku dan ada kemungkinan pengakuan itu akan sampai ke telinga orangtuaku.
"Jangan kuatir, I'm an open minded person, hidupmu adalah pilihanmu sendiri. Aku tak akan mencampuri." jelasnya menghapus kecemasanku.

Coming Out. Hal yang teramat kuingini untuk kulakukan, namun karena berbagai pertimbangan tak pernah terealisasikan. Pengakuanku pada QQ bisa jadi coming out kecil2an di awal tahun 2009 ini.

No comments: