Sunday, September 29, 2013

Refleksi ; Ngaca



Berkaca, kalau diartikan dalam arti sebenarnya, aktivitas ini jarang sekali kulakoni. Melihat ke kaca hanya kulakukan ketika merapikan rambut jabrik atau mencoba wardrobe baru, malahan aku menggunakan medium cermin untuk mengetahui bentuk wajahku ketika berekspresi. Mana yang membuat wajah keliatan lebih ganteng, haha OOT narsis!

Balik soal ngaca, yang hendak kutuang tentu saja makna kiasannya yang terhubung dengan irisan takdir bersama seseorang yang memasuki hidupku akhir-akhir ini. Aku mendengar namanya lumayan lama, tetapi baru menemukan sosoknya di kegiatan yang diselenggarakan kantorku sekitar akhir september ini. Komentar awalku adalah perempuan ceking ini diluar ekspektasi imajinasiku tentang sosoknya. Aku mungkin pernah bercerita bahwa aku punya hobi mengimajinasikan sosok orang dari namanya. Entah sudah tak terhitung berapa orang, namun perempuan tak terganti dan perempuan mirip artis itu adalah salah duanya, dan perempuan ceking ini menjadi salah tiganya. Dan seperti hasil akhir rekaan sosok dari sebuah nama seseorang yang selalu berakhir diluar yang diharapkan, maka begitu juga adanya perempuan ini.

Aku mengimajinasikannya sebagai seorang yang berperawakan tinggi besar dengan bobot lumayan berisi, potongan rambut setengah ikal sebahu. Aku tak mengimaji karakternya, hanya fisiknya semata. Maka, ketika pertama kali menjabat tangannya malam itu, aku tertawa dalam hati. Salah total -lagi-. Tapi jangan mengira aku kapok sudah tak terhitung salah imajinasi atas nama atau suara orang yang belum pernah bertemu. Bagiku, imajinasi ini seperti sebuah hobi yang kuyakini tak akan berhenti meski sudah salah berulang kali.

Awalnya, tak ada yang istimewa. Telingaku memang sudah banyak dicekoki tentangnya, tetapi tentu saja telingaku juga ada filternya. Seberapapun informasi yang masuk kalau aku tak melihat, mendengar dan merasai sendiri, semuanya buatku belum terbukti validitasnya. Maka aku mulai mencerna perempuan ceking ini…

Sebuah refleksi awal yang kusebut sebagai berkaca itu aku melihat ceritanya sama denganku. Ada beberapa irisan yang sama, seperti soal keteguhan dan maskulinitas pikiran tentang bagaimana bertahan dan mempertahankan hidup, juga tentang semangat serta mengatur alur hidup. Aku memaknainya sebagai sebuah proses berkaca dan sebuah proses yang menciptakan energi baru yang kalau boleh dibilang semangat yang mungkin bukan baru tetapi redup dan kini menyala kembali. Aku menemukan semangat itu dari tumpukan masa lalu, kenangan, luka-luka, kecewa dan sekaligus perhentian-perhentian waktu yang melumpuhkanku. Aku percaya mengubah sesuatu yang mengakar di lapisan microchip otak di alam bawah sadar bukan hal yang akan instan, namun menemukan penyemangat yang entah aku sendiri belum terlalu membiarkannya masuk di kehidupanku bukan barang tentu kebetulan terjadi, bukan? Maka aku tak membiarkan perempuan ceking ini berdiri di depan pintu terlalu lama. Aku sedang menyilahkannya menyambangi ruangan-ruangan yang kunamai otak, hati, mulut, pikiran, benak, rasa dan bagian lain yang tak terhitung tetapi pastinya adalah aku seutuhnya.

Dan proses berkaca dalam artian inilah yang kugemari karena di setiap proses itu aku seperti tengah memegang korek api yang akan tersulut bukan untuk terbakar dan menjadi abu tetapi berkobar menyalakan simpul yang mati suri.

Ya, aku sedang menata pohon yang mengering dengan dedaunan baru bernama harapan…

Friday, September 13, 2013

Love @ First Sight



Saya tak seberapa percaya ungkapan tsb. Urusan hati butuh dijajaki, bukan semata urusan instan dari mata ke hati. Tetapi bukan tak pernah mengalami. Bukan kah kesan pertama terkadang menentukan segalanya?

Untuk kisah cintaku contohnya, bagaimana pada kesan pertama aku begitu tak ‘tertarik’ pada cinta pertamaku. Kecewa bahkan rasa yang ada saat itu. Tapi dua jam berikutnya berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi sebuah ketergantungan perasaan yang disebut cinta terkewer-kewer. Beda lagi dengan kesan pertamaku kepada perempuan mirip artis itu. Sejak pertama menyambutku dengan senyuman dan suluran uluran tangan, maka sejak itu pulalah hatiku jumpalitan kegirangan. Meski kugarisbawahi sebagai sebuah ketertarikan fisik dan intelektual awalnya. Kesimpulannya rasa itu memang kerap terjadi di pandangan pertama, namun butuh sebuah proses yang membuat nanti endingnya akan naik tingkat atau musnah seiring perjalanan waktu.

Maka begitu pulalah ceritaku untuk benda tak hidup alias barang yang menjadi kebutuhan, semisal tas, sepatu, sendal, baju dan kaca mata. Kali ini aku hendak bercerita tentang benda yang terakhir kusebutkan itu. Sebenarnya hampir sama saja di semua benda yang kuingini aku termasuk susah untuk menerapkan love at first sight. Oleh karenanya, membeli barang-barang tsb seperti jauh lebih sulit seperti menetapkan hati pada satu orang kekasih. Pilihan sih banyak, tetapi memilah dan memilih seperti tengah mencari jarum di tumpukan jerami. Gak ketemu, begitu juga kadang ujung-ujungnya dan memang tak bisa dipaksa serta memaksakan diri. Kalau belum sreg di hati apa boleh buat, meski peluh sebesar biji jagung hibrida tetap memilih pulang dengan tangan hampa.

Malah yang terjadi kadang adalah sedang tak ingin beli, eh kok pas nemuin yang sreg di hati, jadi ya dibeli. Atau hendak beli barang A, eh ngeliat barang B, buntutnya malah beli barang B gak jadi barang A.

Kalau cerita tentang kaca mata, aku memang berniat mencari kaca mata putih untuk dipakai di malam hari ketika berkendara guna menghindari hewan atau benda apapun yang kemungkinan masuk ke mata. Karena memasang kaca helm di malam hari terlalu gelap mengganggu penglihatan. Dan aku kemudian jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa ada jeda untuk menengok dan mencari lainnya. Ya, kepada kaca mata putih berframe hitam dengan gagang merah. Warna merahnya yang membuatku jatuh cinta pertama kali karena aku sungguh menggilai warna merah, lalu ketika pantulan cermin menyuguhkan wajahku pantas dalam balutan merah itu aku jatuh cinta kedua kali. Lantas ketiga, kelima dan berkali-kali jungkir balik mencintai dengan mengenakannya di keseharianku.
“Apa sih fungsi kaca mata yang bukan kaca mata minus juga bukan plus?” komen seorang teman.
“Paling cuma buat gaya-gayaan!” sebuah suara teman lain.
Pastinya, memang banyak suara-suara yang mayoritas sumbang ketika aku melingkarkan gagang merah kaca mata itu di kedua telingaku, tapi jelas saja aku tak terpengaruh, yang penting fungsional buatku, tentang efek kepantasan lainnya yang mengandung komen negatif semisal nggaya, narsis lan sejenisnya, buatku malah kujadikan bonus. Bukankah sebuah benda yang secara fungsional lalu bernilai lebih untuk hal-hal lain memang layak disebut bonus a.k.a nilai tambah? Tak perlu pusing apa kata orang, toh orang tsb tak membayari nilai tukar rupiahku yang melayang.

Maka begitulah cerita cinta pada pandangan pertamaku kepada si kaca mata merah…

Saturday, September 7, 2013

Canon in D



Bukan merk kamera, tetapi sebuah lagu instrumental yang diciptakan Johann Pachelbel. Aku mulai menyukai dan kerap memutar ulang di kupingku sejak menonton film Korea My Sassy Girl, film lawas sih tapi kalo gak salah waktu itu jadi belajar buat lebih menurunkan ego dan membahagiakan orang yang kita sayang ketimbang mati-matian dengan ego sendiri.

Beberapa kali aku menontonnya ibarat lagu wajib healing my ego kala itu yang sedang belajar atau lebih tepatnya menyesal telah egois dan berusaha memperbaiki diri dengan copy cat dari sumber mana pun, termasuk film ini. Maka, lagu ini pun menjadi daftar wajib putar di playlist-ku, dari semua versi.

Usut punya usut, di suatu perbincangan dengan si Kakak, ternyata aku baru tau kalo lagu itu Lagu yang kerap dipakai untuk pengiring nikah.
“Dulu, waktu mau nikah, gue ditawari dua lagu, salah satunya lagu itu, tapi gue pilih lagu satunya,”
Hmm, maka sejak itu Canon in D akan jadi wedding song saya!

Friday, August 30, 2013

Sama-Sama Anjing!



Eits, jangan mikir negatif dulu, saya bukan sedang mengumpat lho! Saya malah sedang menceritakan saya dan #uhuy yang sama-sama anjing!

Dalam perhitungan cina, ketika lahir di tahun yang sama maka aku dan perempuan itu sama-sama punya shio yang sama, yaitu anjing. Dan menelisik karakter diantara kami berdua pantaslah ada hal-hal yang hampir sama, tentang karakter, cara berpikir dan beberapa hal lainnya.

Aku sih baru nyadar kalau shio kami sama, selama ini kukira persamaan karakter kami di banyak hal karena kami sama-sama bungsu (kalau tak salah aku pernah menuliskannya beberapa waktu lalu). Ternyata, selain itu kami adalah sama-sama warga anjing. Tapi yang paling kentara, dari segi karakter, pemikiran dan perilaku yang mempunyai similarity ya karena kami bungsu.

Jadi, sebagai warga anjing yang akan menyalak bagi orang asing yang dianggap threat dan menggigit pada orang jahat, tetapi akan setia dan protect orang yang disayang, maka begitulah anjing!

Tuesday, August 27, 2013

Alone but Not Lonely



Siang. Sepi. Tapi tak sendiri. Ini kali kedua saya ke tempat ini seorang diri. Biasanya saya mengajak atau diajak beberapa teman kemari. Paling tidak aku berada di keramaian ini tak sendiri. Maklum, aku paling canggung berada di suatu tempat apalagi ramai, sendirian, pasti saya merasa tak nyaman dan buru-buru pulang.

Tapi kali ini langka. Entah kenapa saya memang pengen sendiri. Seperti biasa, dengan sugesti di kepala saya. Pe er notulen saya sedang banyak dan kalau garap di kamar, sikon duduknya tak bikin nyaman. Saya butuh tempat mengetik dan mendengarkan rekaman yang tidak terlalu bising. Nah, kafe ini pilihannya! Siang ia masih sepi, tapi kalau sorean dikit udah rame.

Saya kesana sekitar jam 12-an. Masih sepi dan mulai ketak ketik sembari memesan milkshake cokelat dan club sandwich kegemaran saya. Saya bawa air putih, maklum banyak duduk juga harus disertai banyak minum juga, bukan? Dan senangnya, modus sendiri ini malah sukses bisa bikin saya fokus dan produktif. Dan gawean pun terkirim!

Bahwa tak selamanya sendirian itu seorang diri… Trust me, it works!

Sunday, August 25, 2013

Even Drunk is Not Enough



Nge #BirSore. Saya menamakannya demikian! Ini mungkin dikarenakan kebuntuan. Ya, saya sudah tak tahu lagi harus dengan cara apa menyembuhkan raga yang tak kunjung terlepas dari penyakit yang berganti-ganti, bahkan recordnya hingga dua mingguan ini.

Awalnya, saya kira ini efek kecapekan karena badan tak enak ini mulai datang menyerang sehari setelah kembali dari kampung halaman usai lebaran. Masuk angin dan diare memang sudah terasa saat perjalanan. Lalu hari ketiga berganti demam. Lalu biduran. Setiap sehabis mandi badan bentol-bentol kemerahan. Dan saya masih merasa ini adalah akibat peralihan dari air di jawa timur dengan air disini. Logika yang cukup masuk akal bukan? Kemudian menjadi tak masuk akal ketika raga saya drop kian menjadi-jadi. Flu yang tak kunjung berakhir, sampai malah ditakut-takuti kena AIDs segala, dan batuk yang kemudian melanda. Ada apa dengan tubuh saya?

Bahkan ketika memilih membuka botol Carlsberg sore ini pun, saya tidak yakin akan sembuh. Hanya saja, katanya, minuman mengandung alkohol dapat menghangatkan badan. Untuk sore ini saya menaikkan level minum saya. Biasanya hanya seperempat dan selesai, saya meminta orang lain menghabiskannya. Tapi ini, meski bertahap dari sore hingga malam, es batu menemani buliran rasa pahit yang kukecap sesruput demi sesruput.

Dan sekuat apapun raga dihangatkan, penyakit yang sebenarnya bukanlah melekat di penopang badan ini, melainkan isinya. Sesuatu yang tak pernah bisa diukur oleh kecanggihan medis mana pun. Pikiran.

Penyakit saya cuma kepikiran pikiran yang mikirin hal-hal yang tak terselesaikan dengan hanya mikir, tapi saya memikirkannya! #sakit

Friday, August 23, 2013

Framming The Mountain



Motor yang kukendarai perlahan melambat. Memang sengaja kukurangi. Sejenak memandang view di depanku. Aku berada di selangkangan dua gunung. Merapi dan Merbabu. Jalan yang kulalui adalah jalan setapak berliku yang hanya dilalui segelintir orang, tetapi katanya tak berbahaya. Jika pagi sedang bersahabat, aku akan menemukan dua gunung tsb tampak menggoda untuk diabadikan. Tetapi dari beberapa kali aku menyusuri jalan setapak ini aku hanya pernah sekali mengabadikan alam yang tampak kehijauan di depanku. Tampak dekat, padahal ia jauh.

Dan view pagi ini membuatku tersenyum. Memang, langit juga sedang merekahkan warna birunya tanpa sehelai awan. Pun gunung yang tampak hijau telanjang yang memenuhi penglihatanku. Namun yang membuatku melempar secarik senyum adalah bukan karena kesempurnaan ciptaanNya. Aku membayangkan rona sumringah perempuan itu jika ia berada bersamaku sekarang, meletakkan dataran tinggi yang lambat-lambat kunikmati ini dalam bingkai lensa yang kemudian berpindah ke bentuk dua dimensi.

Dan aku sungguh yakin ia akan lama membingkai view ini. Puncak gunung. Lekukannya. Asap lirih dari bagian atas yang meniupkannya ke langit. Jenjang-jenjang kehijauan yang tampak seperti anak-anak tangga. Aku dapat membayangkan hanya bunyi jepretan yang akan kudengar dari lisan kameranya.

Framming the mountain, I wish I could bring you here someday…

Wednesday, August 21, 2013

Gara-Gara Minyak Angin



Aku sebenarnya bukan tipe perhatian ke orang, malah cenderung kurang tanggap. Tapi soal minyak angin ini memang benar-benar kebetulan…
Aku menemukan sebuah artikel tentang larangan penggunaan minyak angin untuk perempuan hamil. Iseng saja sih men-share kannya pada perempuan itu. Tetapi kemudian ia tanggapi dan kebetulan juga si minyak angin ini menjadi teman sehati perempuan ini, maklum kehamilan awal bulan. Lalu perbincangan berlanjut. Aku yang tadinya cuma iseng, jadi deh searching beneran…
Owalah, hal-hal sederhana memulai obrolan lama, dan gak sengaja keisengan kadang menjadi hal penting bagi orang lain…

Monday, August 19, 2013

2 Kubu: Give Up!



Aku membuka-buka kembali file cerpen berjudul Pulang. Cerpen yang kuadaptasi dari imajinasi dan pengembangan ceritaku dengan sepupu perempuan yang hendak kuceritakan ini.

Aku sudah lumayan lama putus komunikasi dengan perempuan ini. Kayaknya ganti nomer. Makanya agak kaget juga waktu ia beserta keluarganya nongol di rumah malem-malem dan berencana ke rumah adik ibuku di pasuruan yang punya cerita cinta dengan si perempuan. Jadi antar sepupu saling suka dan ditentang oleh bapak si cewek tentu saja. Waktu itu aku masih akrab dengannya. Dan jadilah malam itu aku, ibu dan adik ibuku serta keluarga perempuan itu ke Pasuruan.

Dan ane jelas paling gaol, yang laen pada jilbaban gue pake celana pendek dan tas gunung. Rame banget tuh rumah dengan golden age kumpul bareng, maklum jugak jarang banget bisa kumpul, mana pake acara kesasar karena burem jalanan si penunjuk jalan gak apal. Awalnya aku dan mereka diem-dieman kayak baru kenal, eh waktu tuh golden age cekikikan barulah kita ikut larut. Nih cewek gak tau kenapa hobi banget memotretku, plus pulangnya ia menggandeng tanganku yang segera kutepis dengan pura-pura ngegandeng emak gue.

Esok malamnya keluarga perempuan itu ke rumah lagi. Ngobrol ngelantur yang terpisah. Ibunya ngobrol ama ibuku, ia dan ayahnya serta adik2nya ngobrol di rumah adik ibuku. Tau modus apa yang dipakainya malam ini, modus tidur yang gak mau dibangunin. Aku ketawa dalam hati, sengaja ya biar nginep, dasar sulung yang badung!

Hari Sabtu ada pertemuan besar di rumahnya, semua diminta hadir. Aku tak berangkat. Paling males ama acara orang-orang tua sedang kita kayak kambing congek nungguin. Huh, mending di rumah aja!

Esok dia pulang, sedangkan aku masih Selasa. Entah dapat hembusan ide darimana aku mengcancel kereta dan memilih naek mobil pulang bareng keluarga perempuan itu. Keputusan yang salah dan tak akan pernah kuulangi. Apes yang berulang, begitulah aku menggambarkan perjalanan pulangku. Dimulai dari bocor ban jam 12 malem sampe jam 2 pagi kedinginan di jalan. Kukira nih rombongan mau cepat-cepat sampe Jakarta, eh ternyata sopirnya kreatif ngampirin kita ke rumah ortunya di Sragen, kalo di kotanya sih gak papa, lha ini di pelosok, dan dikasi makan mie instan. Saya positif masuk angin, diare dan makan yang tidak teratur. Penderitaan belum berakhir saudara2!

Tapi ada cerita aku dan perempuan itu… Aku baru nyadar ortunya, terutama bapaknya tidak suka padaku. Bukan saja secara wajah tapi juga perbuatan. Yang jelas ia tak suka anak sulungnya dekat-dekat aku meski anaknya ngedeketin mulu. Aku dan perempuan itu tak diberi celah ngobrol berdua, harus ada orang ketiga. Padahal biasanya orang ketiga itu setan, bukan? Kami baru bisa ngobrol sebentar usai dia subuhan dan obrolan gak penting sepanjang berjalan. Ia yang duduk pas di depanku harus curi-curi noleh ke belakang. Di rumah si sopir, mules kembali mendera, niatnya keluar mau nyari jamban eh tuh perempuan malah ngikut. Kami foto-foto diluar. Setengah mati ngindar biar gak berduaan, itulah yang kulakukan. Ayah perempuan itu benar-benar tak suka padaku!

Well, perjalanan yang lazimnya kutempuh 9 jam jadi hampir seharian. Sore aku baru tiba di Jogja dengan sisa masuk angin dan perut kosong seharian. Menyesal sih tidak, tapi melakukan kegilaan ini lagi hanya untuk memperpanjang waktu bersama perempuan itu, kupikir aku tak akan pernah mengulanginya lagi.

Setelahnya, kami masih melanjutkan ngobrol di whatsapp dan perempuan itu hampir selalu me-like tiap status fesbukku. Ya ya ya, sejak pulang aku mulai rajin menengok fesbuk yang isinya pencitraan, jualan dan pamer anak-anak dari teman SMA dan sodara. Dan ketika aku men-scroll fesbukku dua tahunan ini ternyata yang merespon lumayan sering adalah perempuan itu. Catet!

Obrolan di whatsapp lumayan lancar, awalnya ngobrol enak dan datar tapi tidak ada sesuatu yang selalu flat. Riak kecil yang berwujud perdebatan, tentang ideologi hingga hal-hal sepele. Masih menemukan titik kompromi, tapi juga tak lama. Bagaimana pun sesuatu yang sangat prinsip akan menonjol perlahan, menanti untuk dimenangkan. Bukan ego, tapi fundamental. Fundamental bagimu adalah hal-hal berbau agama, sedangkan fundamentalku adalah kemanusiaan. Ia memahamkan tekstual dalam kedinamisan hidup sedangkan aku kontekstual. Bukan tak mempercayai yang tekstual. Ibarat buku panduan, akan menjadi acuan tetapi juga melihat hal-hal diluar itu untuk diadaptasikan. Aku mengadopsi nilai-nilai yang kuadopsi sendiri, bukan tentang memenangkan ego. Hanya menciptakan dan menjalani apa yang menurutku nyaman tanpa melanggar hak orang lain. Awalnya ia bersetuju, tetapi prakteknya tentu tak seperti ucapannya.

Ia mulai mencekokiku dengan dalil-dalil yang ia dapat dari gugel. Tuhannya juga gugel ternyata! Dan aku mulai gerah, bukan karena hawa panas dari serangan berbau agamis. Tetapi nada kemunafikan yang menurutku ia sendiri pun tak tau kenapa harus percaya, yang penting menurut tekstual begitu adanya maka ia melakoni. Menelaah tekstual tanpa filter kadar kepahaman akan isi, hanya mencuplik-cuplik lalu berteriak dan meneriaki orang lain pendosa karena tidak sepaham dengannya yang sudah mengaplikasikan si tekstual tadi, itu yang kualami.

Ia meneriakiku kafir karena memberi selamat ultah. Satu jam whatsapp hanya untuk debat dan men-copy-kan dari gugle tentang filosofi larangan kasi selamat ultah. Belum lagi hal lain, dan bagiku lama-lama ini tak bisa dibiarkan. Maka, bagimu pahammu dan bagiku pahamku. Awalnya aku keukeuh ingin meracuni pemahamannya tetapi kemudian aku menyerah. Buang-buang tenaga dan waktu untuk debat dengan orang yang hidupnya merasa paling benar tapi aktivitas pergaulannya hanya sebatas rumah-tempat kerja-rumah. Untuk lingkup sosial Jakarta, maaf nona kupikir anda bukan partner debat sepadan kalau kemanusiaan anda tak pernah anda tumbuhkan dengan melihat lingkungan sekitar!

Wednesday, August 14, 2013

Bosenan vs Gengsian



Bosenan is my middle name and Gengsian is her middle name. So, how’s our relationship supposed to be?

Imagine, aku dengan sifat pembosan yang teramat sangat, pembenaran kenapa aku tak bisa punya relasi dalam jangka waktu lama. Ya, gak tau apa sebabnya, bahkan di relasi yang menyenangkan dengan perempuan yang secara otak menarik dan secara seksual bikin naik itu pun masih saja aku merasakan bosan. Terlalu!

And also imagine, ini dari point of view-ku, bahwa perempuan itu teramat gengsian dengan pola yang ia terapkan bagaimana ia harus di-catch as a mangsa dan tak menunjukkan tanda-tanda memangsa. Ini juga keterlaluan, menurutku!

Maka muncullah satu lagi karakter yang menjadi first name-ku, ego! Karena terapan pola gengsian tsb, aku memasang ego di garda depan otakku. Tak jarang tak ada komunikasi yang tercipta ketika egoku meninggi. Aku jelas-jelas tak mau terus membuatnya selalu merasa paling dibutuhkan, meski kalau disapa dikit aja langsung deh crita darinya tumpah ruah. Seperti kali ini…

Sudah beberapa hari ini aku sengaja menciptakan jeda dan ia juga tak ada tanda-tanda memulai pergerakan, sama ketika aku mengenalnya pertama dulu. Ia pasang muka gak butuh, tapi disenggol dikit aja eh langsung nyerocos banyak. So, gengsian is the absolutely correct middle name for her. Aku kemudian ‘iseng’ menyapanya dan benar saja tuh perempuan ngejawabnya berparagraf-paragraf. Ini yang kadang bikin egoku capek!

I tweet about this, tentang si gengsian yang gak tau kalo si bosenan cuma nyapa iseng karena si bosenan lagi ada gebetan baru! Tapi tenang aja, pembenaranku sebagai seorang pembosan tak akan berlangsung lama, aku akan kembali pada si gengsian, tapi hati-hati juga kalau hati terpaut yang lain maka tak ada yang bisa melarang untuk berpindah hati. Rumusnya sebenarnya simple, kalau tidak ada kata saling, aku akan mudah berpaling, yang ini bukan pembenaran kok.

Jadi, mau terus Gengsian? Ati-ati Bosenan juga tak akan gengsi pindah hati!

Saturday, August 3, 2013

Too Picky



3 Agustus 2013

Adalah menjadi stempel karakter baru buat saya yang saya definisikan sendiri. Ikhwal ceritanya yaitu ketika memilih tas untuk ditenteng sebagai penampung charger, buku dan tablet kok kayak milih pacar, susah abis!

Pagi hingga matahari tepat diatas kepala aku sudah berkeliling dari satu toko di sepanjang malioboro hingga 2 mall, dan hasilnya nihil. Ada beberapa yang menarik mata, tapi tak langsung kupilih karena aku memutuskan melihat-lihat yang lain dulu mungkin ada yang lebih bagus. Begitu berulang kali. Jadi ketika sampai rumah aku pulang bawa tangan hampa. Agak gak enak ati juga sih ama kawan yang nemenin. Ya tapi mau gimana lagi, kalau cuma setengah sukak, apa ya mau dibeli? Kalau aku sih tidak!

Lalu sorenya aku kembali bergerilya, tidak dengan kawan yang sama tentunya.. Kali ini niatnya dia ke toko tas cewek yang bersebelahan dengan beberapa toko tas ransel. Dan too picky ini memang seakan telah mengental dalam filosofi memilih barang ala saya, jadi ketika si teman sudah dapat 2 tas, saya masih belum menemukan kecocokan satupun.

Saya kemudian merengek minta diantarkan ke Gramedia, meski aku pesimis karena tiap kesana aku juga menengok etalase tas dan tak pernah melihat ada yang bagus, tetapi tak ada salahnya mencoba, bukan?

Memilah dan memilih, kekuatiranku sedikit pupus ketika terpikat dengan dua tas. Entah, padahal tiap kali kemari gak pernah ada yang bagus, ini kok tiba-tiba ada yang bikin kepincut. Justru si teman ini yang mulai kuatir, jangan-jangan udah suka ama 2 tas tsb tapi ntar ujung-ujungnya ga jadi beli. Namun kekuatirannya meleset, saya akhirnya memilih diantara dua yang saya suka. Satunya, tas ala pendaki gunung yang juga lebih mirip tas kamera, sedang yang satu model klasik dengan banyak space. Pilihan saya jatuh pada yang pertama.

Jadi, saya suka pun kadang belum tentu saya memilihnya. Prosesor di kepala saya ini terlalu rumit bukan karena lemot memutuskan, tetapi sangat selektif memperhitungkan segala aspek. Satu barang saja begitu, apalagi makhluk hidup bernama pasangan jiwa. Tapi satu hal yang ingin kugarisbawahi, ketika menemukan yang click, rasanya tak perlu berpikir dua kali untuk memutuskan ia menjadi bagian hidup saya. Too picky yang picky, bukan?
Ya, memang susah jadi orang rumit, saya kadang takjub, bagaimana history microchip otak saya bisa sebegini unik. Well, too picky, I must admit that sometimes it bother me enough!

Wednesday, July 31, 2013

Kebetulan Yang Disengaja!


Aku, #MonMon, dan #Uhuy dengan sebuah hotel yang mengiriskannya..

Perempuan itu bercerita bahwa ia sedang ada agenda kantor di sebuah hotel lumayan terkenal. Kebetulannya, aku pernah menempati salah satu kamar di hotel tersebut. Hubungannya dengan MonMon, hotel itu menjadi saksi bisu ketika lututku masih terasa lemas akan 'kejadian' itu padahal dua hari telah berselang.

Ruang kamar hotel tersebut menyaksikan bagaimana aku sembunyi-sembunyi menenggelamkan suara demi tidak mengganggu teman sekamarku, meneduhkan keriuhan hati yang masih bereuforia. Ritme hati masih menyisakan detakan-detakan riang tiap suara itu melekat di telinga, mengingatkanku akan suara itu ketika malam yang membuat lututku lemas hingga menginjakkan kaki di ibukota.

Dan di hotel yang sama, entah di ruang yang mana, perempuan itu kini sedang menekuni aktivitasnya bersama teman-teman sekerja.

Dan kenapa aku menyebutnya kebetulan yang disengaja, karena memang temanya adalah kebetulan hotel besar itu menjadi irisan antara aku dan MonMon dengan aku dan perempuan itu. Yang membuatnya menjadi sengaja adalah bahwa aku memaksakannya sebagai sesuatu yang kebetulan menyatukan kami, tepatnya menyatu di otakku untuk kuhubung-hubungkan. Dua perempuan yang sukses mengisi hati yang bahkan salah satunya masih punya taji di hati.

Aku mungkin sedang rindu saja, ya merindunya!

Sunday, July 28, 2013

SURUT


Ombak pantai seberapapun elok dan menantangnya, tetap saja ada fase yang dinamakan pasang surut, begitu pula tentangperasaan... Perasaanku maksudnya...

Butuh beberapa waktu untuk kembali dari kabur usai mendengar kabar itu. Kabar yang pada awal tercetusnya membuatku menjadi seseorang yang hidup di kehidupan orang lain. Pura-pura senang, pura-pura menanyakan kabar yang sebenarnya membuatku kabur dan pura-pura bahwa aku tak terluka. Aku akhirnya lelah menghidupi kehidupan orang lain. Dan, tak tau kemana dan bagaimana cara keluarnya...

Aku memilih kompromi. Kabar itu jelas tak bisa diubah, kabur pun tak menyelesaikan masalah. Aku jelas bukan tipe manusia hobi mangkir, meski hati sudah dibuat terjungkir. Hal-hal yang kuyakini (baca: kutakutkan) akan terjadi tentang dampak kabarmu, entah kaburku atau bahkan kaburmu, pilihan yang terakhir inilah yang menguat dan mengakar di benakku. Bahwa akan ada perubahan perilaku, ada sesuatu yang tak akan sama seperti dulu. Dan pastinya kekuatiran itu begitu membuat jaring bayang-bayang semu yang mencecoki otakku dengan sesuatu bernama kehilangan akan sesuatu yang sejak awal memang tak akan kumiliki.

Namun, di lain sisi, aku juga mengenal diriku. Ketika kekuatiran itu mencuat, aku juga membangun benteng yang kusebut sebagai realita. Dan seperti yang kubilang di awal bahwa aku begitu mengenal diriku, ketika kekuatiran itu menjadi tak bertaji, maka begitulah aku mengenal diriku luar dalam.

Kadang aku merasa aku seperti ombak, akan mengalami pasang dan surut bahkan dalam ritme yang tak terduga. Itulah yang menjadi efek kabar bikin kabur tentang perempuan itu. Perasaanku yang kemudian menyurut dampak kian berseminya realita. Penyebabnya tentu bukan karena aku kalah atau ia yang menjengkalkan galah. Tak ada yang berbeda dari kami. Ia masih perempuan gengsian yang menungguku mengulurkan kata lalu ia akan mengalirkan cerita. Pun tentang makna perempuan itu dalam keseharianku, ia tetap menjadi sumbangsih terbesar yang menjadi alasan bibirku membentang luas oleh canda dan ucapan tak 'penting'nya.

Lalu, apa yang surut? Keinginanku, apa yang kuharapkan darinya. Bahwa ia -mungkin- tak akan lagi utama. Realita itu semacam ulat yang ketika membuat lubang di daun ia tak akan terlihat wujudnya, hanya bolong-bolong tak elok di mata yang bisa kau tuai sembari menyalahkan si ulat, yang bahkan -mungkin- sudah berpindah daun atau pohon. Aku tak nampak menjauh, tapi keinginanku akannya sudah tak lagi se-bergairah dulu.

Sekali lagi bukan hendak melemparkan pemikiran 'ini salah siapa?', ya kembali aku tak akan berkelit ini hanya soal bagaimana aku memahami diriku sendiri. Maka surut ini bukan berarti mengakhiri, aku sedang memberi jeda nafas bagi kekuatiranku dan tetap menikmati canda tawamu di batas yang kuingini dan mampu kutangani.

Percaya, bahwa tak akan ada yang berubah dari kesederhanaan keseharian keterbatasan aku dengan perempuan itu. Hand in hand, bukan sesuatu yang tertulis baku, ada kalanya ia menyematkan celah kecil untuk masing-masing kami menikmati dunia kami sendiri.

Aku tak menunggu ombak kembali pasang, kadang laut juga dinantikan keindahannya ketika air-air itu tak berkejaran satu sama lain. Ia akan tampak tenang membiarkan angin bersuara, pun begitulah aku saat ini... Membiarkan air kadang hanya membasahi ujung kakiku, tak menenggelamkan bawahan kain yang kupakai untuk menyatu dengan hantaman lekukan ombak.

Aku sedang menikmati surut!

Friday, July 26, 2013

Label, Mendadak Super Penting!


Ada seorang perempuan yang akhir-akhir ini menarik perhatianku. Bukan cuma wajahnya, tetapi lebih spesifik isi kepalanya. Sudah rahasia umum kalau aku memang cenderung akan langsung nyala radarnya ketika bertemu dengan orang-orang berbakat dan cerdas. Begitu juga dengan perempuan ini...

Awalnya aku terkesan dengan beberapa hasil bidikan dan sensitifitas gambar karyanya. Ya, aku memujinya. Tau sendiri kan aku hampir tak pernah memuji orang kecuali aku memang benar-benar impressed dengan karya yang artinya non-fisik dari seseorang.

Lalu muncullah interaksi-interaksi kecil itu.. Dan kupikir merupakan awalan yang bagus. Dan aku kemudian juga tertarik pada satu hal... Label!

Andro atau femme sih? Aku memang hanya bertanya-tanya sendiri. Secara penampilan ia berubah-ubah tapi cenderung androgini. Tapi kalau mendalami isi kepalanya, aku malah berpikir ia buci inside (dan parahnya aku sering jatuh hati dengan perempuan yang punya prosesor begini). Tapi pertanyaanku yang paling besar adalah soal Label-nya! Iya, label, pasti ngga percaya kan? Aku juga bukan tipe mengkotak-kotakkan orang, aku paling anti ama yang namanya pelabelan. Tapi bukan berarti aku sedang menjilat ludahku sendiri. Aku hanya curious to know!

Terserah mau disebut apa, namun tetap tidak akan mengalahkan rasa penasaranku akan label apa yang ia akui sebagai stempel yang melekat atas pribadi, perilaku, pemikiran dan penampilannya.

But believe me, kian penasaran kian tak menemukan jawab. Metode yang kugunakan boleh dibilang baru, aku memang penasaran tapi aku mencari diam-diam meski menemui kesia-siaan. Malah parahnya, ada jeda yang kian lama kian panjang. Entah bagaimana dan apa pemicunya. Perempuan itu masih menyisakan tanda tanyaku tentang labelnya. Satu dua kali dari yang terbaca tentangnya, ia tak seperti yang kukira. Label menjadi tak penting dalam dunianya dan label yang awalnya juga menjadi maha penting untuk tersurat bukan hanya tersirat yang kadang masih melintasi benakku kini sedikit demi sedikit terkuak.. Bukan tentang penjabaran apa labelnya, tetapi bahwa label menjadi super tak penting!

Ia hanyalah ia yang kadang androgin kadang feminin bahkan tak jarang memakai asesoris maskulin. Ia adalah ia yang menyukai kerumitan daripada kemudahan. Pun ia ya ia yang bahkan dengan label maha penting itu tak pernah bisa digunakan untuk mendeskripsikannya dalam satu kotak tertentu. Ia akan menjadi ia yang akan senang bersekutu dengan misteri yang bukan sengaja ia ciptakan, namun sudah mendarah daging dalam aliran hidupnya. So, label, hell ya, I don't need it as long as I keep straight forward for what's the main purpose since beginning...

Are you femme, androgin or perhaps bisexual, got no business done with that stuffs! Sejak bingkai moment dan temali kata cerita telah membuatku jatuh untuk mencinta...

Tuesday, July 23, 2013

Talking with Stranger!


Kepalaku sudah mulai terasa berat sejak kemarin. Dan malamnya adalah puncak kepenatan yang tak bisa kutanggung sendiri. Ya, aku harus membaginya! Tapi dengan siapa? Itu pertanyaan berikutnya...

Konselor. Beberapa waktu lalu ketika galau oleh asmara, aku merasa aku perlu bertemu dengan orang berprofesi tsb. Namun urung karena aku sebenarnya sudah tau pemetaan masalah dan bagaimana menyelesaikannya, hanya perlu disiplin melakoni tahap recovery yang kadang tak kuikuti dan harus selalu memulai dari awal lagi.

Itu soal asmara, tapi kali ini bukan tentang hati, meski aku butuh orang dengan profesi yang sama. Dan kebingungan yang sama.. Mendapatkan orang yang bisa dipercaya dan tak akan ember ke orang lain atas segala ceritamu, aku sangat tidak percaya orang itu ada dalam lingkaran pertemananku. Konselor yang juga menjadi teman sejaringan bagiku rentan menyimpan kerahasiaan, meski punya kode etik bla bla bla. Daripada ragu, aku memutuskan tak menggunakan jalan itu.

Talking with stranger. Stranger bukan dalam artian orang yang sama sekali asing. Ia kukenal. Tak dekat, tak jauh. Ia tau orang-orang yang kuceritakan tapi tak pernah bersentuhan langsung. Kupikir ia akan cukup obyektif, karena aku menghindari subyektifitas. Kepala ini sudah tak kuat mengelola sendiri. Dulu-dulu, aku memang tak pernah membagi butiran-butiran masalah yang mengaliri syaraf-syaraf otak, tapi sejak menyesap makna sisterhood aku mulai mencoba membuka diri.

2,5 hours like 10 minutes. Waktu seakan mengalami percepatan, tak berasa lama. Ada kelegaan menyeruak. Kepalaku kemudian tak lagi begitu berat. Bibirku sudah mulai bisa sumringah. Problemanya sih belum terselesaikan, bahkan keputusan yang mungkin kuambil walau terealisasi aku juga belum tahu pasti akan benar tidaknya nanti ke depan. It's not about the decisions, its just about to share and believing someone else to hear your problems. And also objectivities!

Saturday, July 20, 2013

Roti Cane yang Satukan Kita


Puasa kali ini menurutku adalah puasa yang paling gak berasa puasa. Suasananya sih suasana puasa, gak makan gak minum dengan aktivitas yang sama seperti keseharian, tapi jadi gak berasa puasa karena gak berasa haus gak laper. Padahal malem juga kagak saur. Belom lagi kagak bolong-bolong. Kalau soal kagak saur mah emang dah kebiasaan begitu sepanjang nge-kost. Nah kalau yang gak bolong-bolong nih gak tau kenapa jarang banget bolong, meski kebiasaan sih jedanya emang 3-4 bulan sekali, tapi kalau pas puasa kayaknya jarang banget mau nongol.

Dan lain saur lain juga buka puasanya. Biasanya emang akan lapar mata, beli banyak menu, dan pas buka malah gak kemakan karena kekenyangan. Untuk kali ini diluar kebiasaan! Gak ada persiapan buka dan sering bingung mau makan apa. Bukannya bikin stock makanan, ini malah last minute belum beli apapun karena bingung mau makan apa. Dan yang bikin parah, makan cuma sekali habis itu gak makan apa-apa lagi, padahal biasanya jam 10 malem udah krucuk-krucuk lagi nih perut tapi hasrat makannya udah gak ada plus dilanda ngantuk total, bangun tengah malam dan bengong. Itulah kebiasaan baru puasa tahun ini.

Bicara soal kebingungan nyari menu buka, begitu yang kualami hari ini. Menuju UGM, seperti biasa menyajikan banyak variasi menu. Eh nyampe di sepanjang jalan yang di kanan kirinya orang jualan semua, saya malah makin galau mana yang kupilih. Ketika teman barengku menghentikan motor di penjual es doger langganan kami, mataku menangkap tulisan Roti Cane. Jadi kepengen tapi keinget, roti cane di kota ini harganya agak selangit dan rasanya di bawah standar. Tapi kayaknya musti dicoba..

Kalau gak enak artinya tidak untuk diulang. Aku hanya membeli roti Cane tanpa menu tambahan lain. Aku punya tongseng. Tak seberapa match tapi lagi bosen makan nasi juga. Dan harganya benar-benar 2x lipat harga di kampungku. Pun begitu juga rasanya tak istimewa. Namun kemudian ada yang membuatnya menjadi istimewa...

Aku lupa proiog obrolannya tentang apa.. Sepertinya tentang mengajaknya berbuka bersama.. Ya, buka puasa bareng khayalan, dia disana, aku disini.. Karena begitulah caraku memperpendek jarak, ia tau itu dan makanya tak sungkan menyambut obrolan khayal-khayal ini..

Aku kemudian bercerita tentang berbuka puasa dengan roti cane.. Dan dia bersorak, bagaimana bisa sangat kebetulan karena ia sedang dengan keluarganya makan di rumah makan khas Aceh yang juga menyediakan roti cane.. Perempuan itu menuliskan betapa gurih dan lezat santapannya.. Dan aku cuma sedikit tercengang, iya ini mungkin sekedar kebetulan, tapi kalau kebetulannya kebetulan begini, apa tak ada yang salah dengan kebetulan ini?

Roti cane ini menyatukan kita dalam kebetulan yang bukan satu-satunya.. *mengerling pada Tuhan*

Thursday, July 18, 2013

Hand in Hand


Aku mungkin sering menggaungkan kata ini, Hand in Hand. Aku menemukannya di bio twitter seorang kawan lesbian. Tentang bagaimana pola relasi yang dibangun bersama pasangannya. Dan aku terinspirasi.. Mendefinisikan Hand in Hand mungkin dengan pemaknaanku sendiri, tentang pola relasiku dengan perempuan itu...

Aku sih sebenarnya tak begitu paham konsep hand in hand secara general orang biasa memaknainya seperti apa, namun bagiku Hand in Hand adalah pola yang pas atau cocok untukku. Ia tak hadir dalam bentuk ikatan atau tuntutan untuk dihadirkan nyata, bahkan virtual pun tak kentara. Jika diandaikan, semuanya akan kelihatan kalau Tuhan mungkin punya sifat ngember ke orang-orang. Namun beruntung di 99 nama Tuhan tak ada sifat itu, jadi mau virtual pun, sang pemberi hidup itu aku yakin juga ikut senyum-senyum akan kesederhanaan canda kami di ruang terbatas atas nama teknologi bernama Blakberi Messenger dan Whatsapp.

Hand in Hand dalam definisiku adalah proses saling bertumbuh, bercerita, berbagi dan membagi takdir, yang pada intinya hanya ingin satu dengan yang lain menjadi bertambah maju, saling support, mengingatkan, menegur, dialog dan debat namun bukan untuk saling hujat. Karena kami peduli! Apa yang tak kami sepakati bukan lantas jadi acuan kesempatan membabatnya, tapi mengisi yang tak terisi di salah satunya.

Dan jika kau bertanya bagaimana dan dimana ujungnya akan bermuara? Aku akan dengan cepat angkat bahu. Bukan aku tak peduli dengan anggapan kesia-siaan yang diteriakkan orang luar yang memandang, aku hanya peduli jika kau bisa menikmati menjadi lebih baik dalam segala keterbatasan yang tak terungkap, maka kupikir cukup tak perlu tersingkap, karena hanya aku dan perempuan itu sudah lebih dari cukup dibilang lengkap!

Hand in Hand dalam imajinasi benakku adalah tanganku dan tangannya bertautan tanpa perlu bertanya, menanyai kami hendak kemana.

Berayun dan mengayunkan tautan jemari, dalam dimensi ruang, waktu dan segala hal yang dilakukan tak bersama-sama...

Wednesday, July 17, 2013

Sama-Sama Bungsu!


Aku awalnya tak menyadari hal ini. Aku mungkin percaya karakter berdasar astrologi, tapi kalau mengenali karakter berdasarkan posisi kelahiran keberapa dari berapa bersaudara aku tak begitu memperhatikan. Namun ketika kerap mempunyai isi kepala dan perilaku serta karakter yang sama padahal tidak dibawah naungan astrologi yang sama, aku mulai menyerempetkannya pada hal tsb; bahwa kami adalah sama-sama anak bungsu. Terlepas mungkin aku adalah anak bungsu coret, karena aku sebenarnya anak tengah, dulu pernah punya adik tetapi meninggal dunia ketika ia masih bayi. Jadi aku kemudian dikukuhkan sebagai si Bungsu, bukan?

Sedang ia, dari ceritanya, jelas kalau ia paling bontot dari banyak saudara. Ia pernah bercerita tentang situasi keluarganya, kisah kakaknya, kemelut kesamaan hidupnya dengan salah satu kakaknya, ya si bungsu ini cukup banyak terbuka padaku yang tergolong 'baru' dikenalnya.

Balik lagi ke topik kenapa aku mengangkat soal tema bungsu, seperti di awal tadi kubilang, ada banyak kesamaan karena ke-bungsu-an kami. Salah satu yang paling menonjol adalah sama-sama tak mau kalah, sama-sama tukang ngerjain dan sama-sama baik hati tentunya! Haha ego kami mungkin sama-sama tinggi, tapi soal hati kami tak pernah pamrih, apalagi untuk orang-orang terkasih. You can count on us on that!

Dan kebanyakan, sekali lagi kugarisbawahi sebagai sebuah mayoritas, bahwa bungsu itu ngrejekeni alias bawa berkah di keluarga secara finansial. Bungsu itu akan ringan tangan dan lebih mikir daripada anak-anak posisi diatasnya. Bukan ingin nyombong, tapi aku melihat banyak bungsu yang kutemui seperti itu, termasuk yang nulis ini tentunya!

Sama-sama bungsu, aku sendiri belum tau akan berdampak baik, buruk atau sebenarnya tak ada dampak, tapi dengan berbagai kesamaan karena sama-sama bungsu, belum banyak terlihat dampaknya kecuali kadang aku merasa gemas kenapa ia tak mau kalah sama sekali. Mungkin ia juga berasumsi sama, wallahu alam.

Efeknya sih masih positif sampe detik ini. Dan semoga karena ke-bungsu-an ini proses hand in hand kami berjalan lebih baik...

Tuesday, July 16, 2013

Mereview Takdir


Memutar awal ceritaku dengan perempuan itu selalu menyenangkan. Hal yang tak kuduga akan terjadi dan menetap lama dalam garis hidupku ini dimulai dengan hal-hal tak menyenangkan yang kemudian bergulir 180 derajat berbeda.

Bagaimana ketidaksenanganku pada sosok annoying yang banyak permintaan, banyak prosedur dan ribet banget pokoknya nih orang sampai-sampai aku menciptakan sosoknya dalam imajinasiku. Tak seberapa tinggi, chubby dan rambutnya ikal sebahu. Dan belakangan sosok itu mirip atasannya haha aku ngakak kalau tau fakta itu!

Namun hal yang membuat kisah ini berlangsung hingga sekarang adalah pesan singkat nyasar darinya dan kepura-puraan lupanya keesokan harinya. Nih cewek jual mahalnya minta ampun deh, sampai sekarang sih, meski hatinya baik, tapi gayanya itu lho gak murahan obralan, high class style yang justru kadang nyebelin. Karena pura-pura gak butuh tapi cari perhatian. Ngegemesin pokoknya waktu itu!

Review takdirku tentang kami, tetap aku meyakini bahwa tak ada yang kebetulan dalam hidup ini meski kami kebetulan dipertemukan. Entah makna apa dalam takdir kami, aku meyakini selama rentang waktu dan memori yang terlewati kini akan menorehkan sesuatu yang positif di lembar hidupku.

Tuhan selalu punya cerita dan aku selalu suka mereview-nya...

Monday, July 15, 2013

Cerita tentang Pengamen


Ketika makan diluar, kadang aku lumayan jengkel dengan profesi satu ini, pengamen. Bukan karena suara, tapi secara jumlah yang tak kunjung usai. Makannya cuma abis berapa, tetapi cost sosialnya malah lebih tinggi. Jadi, sikapku pada profesi satu ini adalah pilih-pilih tak sembarang kasi, yang suaranya merdu aja ato faktor yang membuatku tertarik.

Judul ini kutulis karena keinget kisahku dengan perempuan itu terkait pengamen. Entah bagaimana perspektifnya tentang pengamen, pastinya malam itu kami sedang nongkrong di depan sebuah swalayan kecil yang sebenarnya tak kusukai. Pasalnya jenis model swalayan seperti ini sudah menjajah hampir tiap kilometer ada. Dan di ibukota ini ia menambahkan meja kursi untuk nongkrong. Awalnya, aku tak cukup setuju, tapi karena kekurangan tempat untuk bercengkrama dengannya, maka tak ada pilihan lain.

Kemudian datang seorang pengamen. Laki-laki lumayan tampan yang menyanyikan lagu Bon Jovi - Always. One of my favorite song, I said to her. Dan saya ikut bernyanyi karena si pengamen memetik gitarnya hingga lagu berakhir. Tumben ada pengamen kayak gini, biasanya nyanyi sampai tengah ya udah trus nyelonong pergi. Bukankah pengamen tak pernah membuang waktu nyanyi sampai akhir, begitu yang kutau!

Perempuan itu menyodorkan selembar lima ribuan. Alisku menukik tajam.
"Banyak amat ngasinya?" celetukku setelah laki-laki bergitar itu pergi.
"Gak ada duit kecil. Lagian kamu suka lagunya kan?"
"Ya tapi gak segitu banyak juga ngasinya kalik.. Lagian, bahasa Inggrisnya lumayan buruk.." komentarku pada pronounciation si pengamen.
"Ah, kamu emang terlalu banyak komplain!"
Saya nyengir, ya pelit sih kalau ama pengamen emang.

Yang kedua ketika kami dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya menuju rumahnya. Ya, naik bis jurusan rumahnya butuh berlari-lari kecil, bergelantungan di tengah dan merasakan ritme kecepatan yang gila-gilaan. Kali ini, kami duduk cantik persis di depan pintu. Posisi duduk yang kerap kupilih ketika dulu sering bepergian dengan model transportasi ini selama di Jakarta dulu.

Baru saja menempelkan pantat, ada seorang pengamen dengan biola masuk, tepat menggesekkan alat musik tsb di hadapan kami.
"Hayo tebak lagu apa ini?" tanya perempuan itu.
Aku menajamkan kuping mencermati instrumentalia petikan biola. Aku angkat bahu.
"Dengerin yang bener.."
Kembali meresapi nada dan tetap angkat bahu.
"The beatles, let it be. Masa ga tau?"
Dan pada bagian refrain aku mulai mengenali iramanya. Dan kami duet bernyanyi...

Let it be, let it be, let it be, let it be...there will be an answer, let it be...

*It's Like Us, let it be...

Sunday, July 14, 2013

Kabar Bikin Kabur


Kabar kabur itu akhirnya terbukti kebenarannya dan benar-benar membuatku kabur!

Aku mungkin akan mengakui jika disebut tak konsisten. Ya, aku hipokrit dengan doa yang kuucap sebulan lalu. Manusia manusiawi hipokrit terutama jika menyangkut kepentingan pribadinya. Percayalah, kau justru akan tak manusiawi jika kau baik-baik saja akan sesuatu yang pada kenyataannya membuatmu tak baik-baik saja.

Aku memang turut andil mengamini doanya, ya memang aku ingin doanya terkabul dan melihatnya bahagia. Sebulan kemudian ketika Tuhan memberi cash untuk permintaannya, aku malah tertegun, entah apa rasanya, seperti ada yang kosong.. Hampa, udara bebas keluar masuk pada rongga yang terbuka tetapi aku tak bernafas, sesak.

Beberapa hari aku menarik diri. Entah, aku tak ingin memulai obrolan. Mungkin aku hanya takut ia akan membahas tentang kabar itu, dan aku hanya.. Takut! Meski sisi lainnya menegur, hey bukankah kau ikut mendoakannya, jadi berbahagialah!

Aku bukan tak bahagia, aku hanya takut semua tentang kita akan berubah sejak kabar itu..

Egois. Ya, cintaku masih egois. Aku hanya memikirkan diriku, bukan bahagiamu. Kabar yang bikin kabur, semoga tak kabur kelamaan!

Saturday, July 13, 2013

Cemburu -Tak Perlu-


Kali pertama aku mendefinisi perasaan ini sebagai gejala cemburu sebenarnya aku merasa lucu dan tak perlu! Penyebabnya itu lho yang dikategorikan tak penting, hanya gara-gara ia dikasi sesuatu oleh orang yang jelas-jelas teman kantornya. Namanya juga cemburu tak perlu, meski aku merasa konyol namun tetap ia mengisi otakku dengan gejala perilaku menjauh, persis apa yang kulakukan tiap otakku dikuasai perasaan itu.

Namun yang sedang ingin kugarisbawahi untuk kurayakan adalah aku cemburu pada perempuan itu untuk pertama kalinya selang waktu 8 bulan ini. Pertanda baik? Jelas tidak! Bagiku, cemburu adalah pertanda keinginan akan sebuah kepemilikan dan kepemilikan adalah hasil naik tingkat dari bentuk ketertarikan intelektual menuju ketertarikan seksual. Dan itu jelas no gud!

Aku jelas-jelas kemudian menyelimurkan rasa itu. Membuatnya menjadi rasa iri hati karena si teman yang juga kukenal bisa lebih dekat dan bertemu dengannya di keseharian, realita yang kontradiktif denganku. Cemburu tak perlu, tak perlu cemburu!

Friday, July 12, 2013

#Kakak sukak #Blushing


Ini kata seorang teman yang ketemu perempuan itu pertama kali. Ya, namanya kesan pertama tiap orang kan ya beda-beda.

Seperti yang pernah kutulis, ekspresi muka perempuan itu lumayan unik. Kalau kuperhatikan hasil foto kami, tiap ia mengangkat alur bibir menarik garis pipi keatas menyentuh ujung pinggiran mata maka akan terlihat nampak seperti ia tengah blushing padahal itu ekspresi natural yang kemudian terlengkapi dengan bentangan bibir tipis membentuk separuh lingkaran. Ya, senyumnya adalah anti-klimaks yang mempatenkan efek blushing tsb.

Jadi menurutku itu tentu saja bukan buatan, itu alami, karena bagian dari ekspresi ragam wajahnya. Keep blushing #Kakak let them missunderstood!

Thursday, July 11, 2013

Ringan Tangan


Ini salah satu karakternya lagi! Keinget, tiap kali aku mau telpon teman dan sinyal XL di Jakarta yang emang kacrut, ia slalu nyodorin hapenya, "Pake hape gue aja!" Dan saking seringnya aku kadang kesel juga akhirnya, "Ini karena sinyalnya bukan karena aku gak punya pulsa!" hardikku. "Ya, sapa tau sinyal temen elo nyambungnya ama sinyal gue." balasnya. Hmm, aku tau sih niatnya baik, tapi memang kan kayak nyolot gitu disangka aku kagak ada pulsa sampe pernah ku bilang berapa nominal pulsaku yang pasti lebih banyak dari dia, eh dia ngecek pulsa beneran dan beneran pulsaku lebih banyak darinya. Walhasil aku feeling guilty karena too rude ngomong gitu ke dia, meski ekspresi perempuan itu lempeng aja.

Dan satu lagi ringan tangannya, yang ini mungkin disebut ringan dompet. Aku tuh paling gak seneng terlalu sering dibayari, bahkan tergolong cepet-cepetan mbayarin. Tapi dengan perempuan ini aku kerap kalah akal. Padahal sebelumnya aku dah bilang kalau aku yang akan bayar, eh begitu sampai kasir lain cerita, dengan akal bulusnya dia mengelabuiku rupiahnya yang diterima si kasir. Aku dah menggerutu, tak didengarnya dan berlalu. Ish, gemes!

Pernah pas awal aku ke Jakarta, bahkan apa yang sedang kami santap sudah kubayar ia tak terima dan kayak orang ngajak gelut gitu ia balikin duitku. Aku aja sampe takut dan gak bisa menolak dikembalikan tuh duit.
"Kalo lu di Jakarta gue yang bayar, tapi kalo gue ke Jogja, gue gak mau tau, lu yang bayar!" begitu aturan buatannya, meski pada prakteknya juga gak sesuai, tuh orang yang lebih ringan tangan.

Wednesday, July 10, 2013

Pemalu!


Karakter itu kupunyai meski tak banyak orang akan percaya. Namun kalau perempuan itu yang memiliki, percaya kah? Saya pun baru percaya!

Masih di bagian kisah ketika hanya sebuah energi dan konstruksi yang bisa menemaniku menyekatkan perbedaan dimensi ruang dan waktu aku dan perempuan itu, aku memintanya menyapa dua teman yang sedang berada di tempat kerjanya. Dan tau jawabannya, "Gue malu, ntar dikira sok kenal sok dekat!" Padahal menurut riwayat kenalku dengannya, kami dekat karena ada efek sok kenal sok dekat!

Memutar ulang bagaimana Desember lalu dengan senyum dan gigi-gigi terbaiknya ia menyodorkan tangan memperkenalkan diri, pun tiap kali lewat tak lupa menyuguhiku senyuman manis. Maka alasan malu itu kini tak bisa kuterima dan tampak tak masuk akal, bukan? Namun aku tak bisa memaksa juga, toh niat baikku adalah agar si dua teman ini tidak krik-krik disana, dan bagiku perempuan itu adalah teman baru yang baik yang mungkin akan mengajak berkeliling kantor.

Ternyata meleset, selain karena deadline surat, bahkan ia tak melemparkan senyum pada orang yang jelas-jelas kusebutkan. Benarkah malu, atau lagi kumat anti sosialnya? Tak mungkin, pikirku, ia orang ter-sosial yang kukenal. Jadi, pemalu? Aku masih belum dikategorikan percaya.

Meski akhirnya mereka saling menegur sapa dan sedikit mengobrol, temanku meyakinkan bahwa perempuan itu pemalu. Ya, mukanya memang akan ada lekukan di pipi menuju ekor mata sehingga tampak seperti blushing, tapi untuk menjadi benar-benar berkarakter pemalu, benar aku belum bisa percaya...

Kukira dengan begitu menambah satu lagi kesamaan karakter kami, minderan dan pemalu! Untuk orang se-PD dia aku belum terlalu yakin!

Tuesday, July 9, 2013

Ruang dan Waktu -yang tak- Memisahkan!


Dimensi, ruang dan waktu bagiku boleh saja memisahkan, tapi tetap saja disini pun dapat merasakan energiku sedang berada disana. Meski raga sedang tak didekatnya, namun kutitipkan rindu dan energiku melalui dua orang yang sedang satu areal denganmu.

Ia terasa dekat, bahkan tiap lakunya berada di ruang yang pernah saya pijak tergambar jelas di benak saya, nyata! Meski hanya lewat bait-bait kalimat, tapi jelas cukup membawa jiwaku bersamanya, ada menyamakan dimensi ruang dan waktu.

Dan entah energi darimana, bibir juga terasa ringan melekukkan senyuman. Beruntung di ruang dan waktuku aku sedang hanya bersama konstruksi ruang dan waktumu, jadi tak ada yang lihat bahkan mungkin mempertanyakan kenapa saya yang jadi girang begini padahal jelas-jelas yang ketemu perempuan itu bukan saya?

Dan memang begitu sibuk, semuanya, dari mulai otak, hati, bibir, dan jemari yang tak berhenti bertemali dengan layar monitor hape. Maka disitulah letak peleburan ruang dan waktu yang tak bisa memisah dan terpisahkan!

Monday, July 8, 2013

Jogging!


Saya tak ingat apa pernah bercerita secara khusus tentang ini.. Tapi baiklah, kalaupun memang mengulang, saya akan berceloteh tentang aktivitas kegemaran perempuan itu...

Ia tak melakukannya di pagi hari, namun justru ketika senja di sebuah taman yang memang lumayan banyak yang beraktivitas sama dengannya. Sore itu ketika raga saya tidak di dekatnya, ia bilang sedang akan jogging, meski kemudian urung karena terhalang gerimis.

Jogging, aku pernah sekali melakukannya, ketika patah hati, haha tak ada hubungannya memang, hanya sok-sokan aja waktu itu karena waktu berjalan lambat untuk orang yang sedang patah hati, bukan? Jadi tak salah pagi-pagi mengelilingi kampung membiarkan udara pagi menjernihkan otakku. Tapi untuk perempuan ini, aktivitas yang awalnya untuk persiapan biar gak kaget outbound kini sedang mati-matian ia jadikan rutinitas.

Kangen juga sih menunggu di pinggir trotoar, melihatnya berlari-lari kecil, bermandi peluh dengan wajah masih mirip bocah SMA. Menego sang pencipta untuk mengulangkan irisan waktuku dengannya di tempat itu... Hopefully!

Sunday, July 7, 2013

Baru Ini Lho, Rindu!


Sepertinya ini sudah jadi semacam adiksi... #MERINDU

Dimana2 kemana2 ada wajahmu! Sounds so lebay, right? Ya, memaklumi, ada kalanya hati emang ngajak agak lebay. Namun kalau baru pertama kali ini kangen kayak begini ya saya tambah maklum. Mendefinisikan ketegasan dan kejelasan perasaan saya kan waktu itu juga butuh waktu, jadi kalau kangen se-lebay ini datangnya juga telat, ya sekali lagi, maklum!

Hampir di setiap aktivitasku menemukanmu didalamnya, tidak berbentuk rupa, tetapi perilaku, cara berpikir, gestur tubuh bahkan cara bicara... Apapun yang sedang saya hadapin saya seolah sedang menyerupakannya dengan perempuan itu, dan justru bikin membludak tuh kangen yang hanya bisa terobati dengan jalinan kata-kata.

Semoga tak keseringan begini, doaku!

Saturday, July 6, 2013

Mabok Deadline


Karena otakmu serupa candu...

Aku dan perempuan itu satu visi dalam memandang pekerjaan, bahwa ia harus diselesaikan lebih dulu diatas yang lain-lain. Jadi kalau ada deadline, ya minggir dulu deh!

Beberapa waktu lalu ketika komunikasi kami hanya seputar tanya jawab pekerjaan dan itu gak pagi gak siang dan gak malem, perempuan itu komplain; "Alvi kerja mulu :(". Begitu ia berkomentar tentang aktivitasku. Tapi sekarang gantian ia yang punya segudang pekerjaan dan seperti biasa akan lembur terus sampai malem-malem. Maka, saya menggodanya..
"Masih di kantor?"
"Iya, kenapa vi?"
"Mau ngajakin nongkrong..."
"Ke Alun-Alun Kidul?"
"Yuk, sekarang? Aku jemput di rumah kakakmu ya?"
#Ngakak

Karena pertanyaan-pertanyaanku seputar ngajakin nongkrong ia sempet terkecoh yakin kalau aku sedang di Jakarta. Hmm, kalau di mabok deadline, mau dimanapun saya ya akan tetap dinomorduakan, bukan?? Karena begitu pulalah saya! Tapi saya kali ini bisa gantian komplain bahwa ia kerja mulu. Ya demi tugas negara, sakit pun ia lakoni. Keep tough and smile plis while you cirius!

Friday, July 5, 2013

Just Another Lagu Dangdut


Lagu yang akan kubahas sebenarnya tak terlalu baru. Aku hanya telat tau dan telat ngakak karena lirik lagunya...

Lagunya sih dangdut, dan biasa liriknya kalau tidak bombastis pasti gak bakal dilirik. Lagu ini sebenarnya kerap dikumandangkan oleh tetangga sebelah kost, soundtrack of the heartnya sih, tapi aku tak seberapa perhatian. Mendadak aja sih pengen donlot..

Lumayan banyak versi, sampe menemukan versi yang cukup clean tanpa embel2 tereakan gak penting selain si vokalis. Biasa, lagu dangdut koplo kan kebanyakan ungkapan atau slang penghias lagu macam bukak sitik joss, de el el, dan aku paling males dengan versi yang demikian.

Dan pengen tau judul lagunya kah... Wedi karo bojomu.. Bercerita tentang hubungan terlarang a.k.a selingkuh dimana salah satunya udah punya bojo, jadi saat mau ngubungin si pasangan selingkuh takut ama istrinya. Lagu gak penting memang haha cuma pengen ngeganti liriknya aja sih kalau aku..

Kalau di versi asli selalu bilang wedi karo bojomu, buatku akan kuganti menjadi neng ngarep bojomu. That's correct, we are not cheating if you do take the risk at the front, not do it secretly.. Tertariknya sih cuma ngeganti lirik doang, but lama-lama didengerin nih jempol goyang juga..

Thursday, July 4, 2013

Ours -us-


Maka, berbahagialah akan sekecil apapun kenangan-kita-

Jarak, seberapapun jauhnya, tak pernah memisahkan, karena keriangan akan hal-hal sederhana hadir dalam tiap milimeter waktu antara kau dan aku.

Menghargai tiap keping memory dalam pecahan waktu yang kadang ruah kadang terbatas dengan dimensi seadanya, huruf-huruf yang tak lelah menari indah merangkai kata menyerupakan kalimat, menghadirkan senyuman, membingkaikan kerutan di dahi, ahh segala rupa ekspresi pernah disuguhkan jemari yang menari.

Kau memang di ujung sana, tempat yang hanya kuraba dalam ingatanku sebagai kilasan bahwa aku pernah disana menempati tempat duduk di ruangmu, melalui lorong dan anak-anak tangga yang melelahkan, ya ketika kau berada di kotak kecil yang kau sebut ruang kerja, aku bisa memvisualisasikannya di benakku.

Loving is simple, the simplicity of loving, no need to demanding, hmm, hell ya, this what I called it is different.. So many differences, the way it feel, the way it thought, the way it act, seems like this simplicity is like the way it has to be for 'ours' -us-

Wednesday, July 3, 2013

Mimpi Gak Tahu Diri!


Hmm, kenapa aku menyebutnya gak tau diri, ya karena nih mimpi kok bisa-bisanya hadir hampir tiap hari padahal komunikasi aku dan perempuan itu juga hampir tak pernah terhenti.

Dan jelas aja mimpi yang kayak gini bikin galau! Lebay dikit eaaa... Galau disini karena gak mungkin aku akan bertanya padanya hey, are you okay? Coz I dream of you almost every nite. Ya, bisa-bisa perempuan itu akan bilang: Obat lu abis, vi?

Jadinya, ya meski agak gak enak juga mimpi geje begitu yang bisa aku lakukan kemudian memonitornya lewat kata-kata yang tak denotatif menanyakan kabarnya, tetapi memastikan ia dalam keadaan baik. Karena perempuan itu tak suka diperhatikan apalagi berlebihan gak ada entry point ujug-ujug nanya sok care, waduh gak ngebayangin deh bijimana reaksinya.

Mimpi emang gak selalu tau diri!

Tuesday, July 2, 2013

Kesel sih, tapi...


Buntut dari bete yang tak kunjung padam ini sudah menginjak hari kesekian. Tak juga memudar, meski aku tak menabuh genderang perang, kami hanya saling mendiamkan.

Hingga ia benar-benar merealisasikan permintaanku, namun tetap kugarisbawahi sebagai pertolongan yang TERLAMBAT. Meski ia mengawali dengan sebuah kata maaf tapi gondokku gak bisa serta merta ilang sekejab. Tadinya aku sengaja tak hendak berterimakasih dan akan tetap mendiamkannya, namun entah darimana ada yang mendorong jemariku mengetikkan ucapan terimakasih dengan mengindahkan keterlambatannya.

Entahlah, ada ruang di kepalaku yang mikir aku ga boleh memperlakukan perempuan itu seperti perempuan-perempuan sebelumnya yang atas nama keegoisanku gak bakalan cepet-cepet maafin 'kesalahan' orang. Yang ini jelas lain, ada yang membisik bahwa ia sudah baek mau membantu, jangan menghitung keterlambatannya tetapi niat baiknya membantuku. Maka begitulah aku padanya.. Menyenyumi lakuku yang tak biasa!

Monday, July 1, 2013

Bete Kuadrat!


Cerita ini agaknya akan kontradiktif dengan cerita di judul sebelumnya...

Awal bulan sama-sama teguh pendirian, gak mau ngalah salah satu dan baru ini terjadi yang kayak gini..

Dari sudut pandang saya, saya sedang kecewa karena tidak dinomorsatukan, ingat kemudian dilupakan. Dan bagi saya itu adalah hal yang tak bisa ditoleransi. Apa yang sudah kau ucap, bagiku adalah sebuah janji dan janji bagiku tak perlu ditagih karena ia adalah tanggungjawab si pengucap.

Karena tak juga terealisasi maka wajar ketika aku bete setengah modar. Dan buatku itu bukan ego, siapapun kamu, gak peduli aku ada feeling atau tidak, berhati-hatilah dengan lisanmu karena sekali saja kau berjanji dan tak berusaha menepati, maka aku bahkan tak akan pernah mau peduli.. Sangar banget gak sih? Karena biasanya orang akan lebih permisif untuk orang yang disayangi, ya kan? Lain bagiku, lisan itu ujung tombak kepercayaan, sekali mematahkannya ia akan tersambung namun tak akan pernah sempurna..

Dan ternyata ia diam, seperti sedang bete kuadrat. Aku berasumsi apakah ia menantiku menagih -yang tentu saja tak akan pernah kulakukan- atau ia benar-benar lupa karena bertumpuknya pekerjaan. Tetapi logikaku menganalogikan bahwa umurnya tak terlalu tua untuk mengingat-ingat ucapan yang tak sampai hitungan 24 jam berselang.

Jadi biarkan kami sama-sama memelihara bete ini!

Sunday, June 30, 2013

Senja Yang Menyerupai


Kurang lebih dua jam aku berada di tempat ini. Rerumputan di sebelah gedung yang biasanya menjadi tempat digelarnya resepsi atau jobfair di areal UGM. Mentari yang tadinya memaksa menyengat kulitku melalui celah-celah daun dari pohon-pohon tinggi yang memadati areal rerumputan itu kini meninggi hendak tenggelam di peraduan ufuk barat.

Pengunjung mulai padat. Sebelah kami ada beberapa anak-anak muda berlatih cheerleader, ada juga yang jogging dan ada pula yang hanya sekedar duduk sembari bercanda.

Suasana senja ini mengingatkanku akan sesuatu.. Saat dimana aku melihat perempuan itu bercampur peluh. Ya, Graha Sabha sore ini seperti taman tempat perempuan itu berputar keliling berlari-lari kecil sebanyak tiga putaran. Kian temaram, cahaya di lampu-lampu yang hanya remang-remang dengan bulan yang mulai tak sabar hendak menyembulkan rupa. Ya, malam ini bulan akan menuju purnama, tak sempurna namun membesar bulat belum pada lingkaran maksimalnya.

Melangkah pulang dengan sisa-sisa ingatan di taman itu... Baru tersadar, saya 'gila' waktu itu!

Saturday, June 29, 2013

Relasi Yang Matang


Ngubek-ngubek soal terminologi relasi lagi. Emang gak ada habisnya sih, meski cuma akan seputar itu-itu aja...

Nggombes.. Banyak yang bilang saya itu tukang gombes.. Gak pernah serius cuma seneng aja ngegodain orang. Namun untuk perempuan itu, gombesan saya gak laku total. Dan saya emang gak pernah nggombes kalau ama nih orang, selain karena gak minat, saya cukup yakin ia lebih gak minat lagi. Serius banget bo orangnya!

Canda tawa sih ada tapi gak sedetik pun mleyot kearah gombalan. Kalau diibaratkan sebuah rasa, gak akan ada cinta yang menggebu, tapi tentu tak bisa dibilang flat. Flatnya mungkin karena hampir tak pernah ada cekcok berantem, selain cekcok canda akibat debat yang tak kunjung henti.

Saya menyebutnya relasi yang matang. Sematang usia kami tentunya, haha meski perilaku adu argumen kami adalah kontras berapa angka-angka usia kami berpijak. Namun bagaimana keberlanjutan hari-hari kemudian tercipta tanpa roman klise bikin muntah tetapi tetap penuh warna bermakna...

Friday, June 28, 2013

Jotakan!


Akhir bulan ini mobilisasi syaraf otakku bergerak lumayan cepat. Belum selesai yang ini ganti yang itu. Dan yang bikin crowded adalah aku tak begitu menguasai apa yang sedang akan kuselesaikan.

Bidang hukum adalah bidang yang kugemari meski tak pernah mendapat pendidikan formal tentang bidang tsb, namun kerap bersentuhan langsung disertai keinginan besarku untuk paham dan terus belajar, boleh dibilang aku sedikit mengerti beberapa hal. Dan tentang problem korban yang hendak kutangani, secara prosedur aku cukup paham, namun secara tata bahasa hukumnya aku tak berani berspekulasi. Meski banyak bertebaran contoh formatnya jika aku search di google, tapi aku lebih suka bertanya pada perempuan itu sekaligus beberapa teman yang juga berprofesi sama dengannya..

Maka jadilah pertanyaan demi pertanyaan mengalir, entah capek atau karena emang dianya lagi sibuk dengan kerjaan agak miskom jadinya.. Dan jotakan!

Hampir berapa hari aku tak memunculkan wajah di media percakapan kami, agak tak enak hati. Biasa, karakterku kan emang gitu, kalau ngerepotin orang pasti merasa malu banget, padahal kata teman-teman, we are need more hand if we handle violence against women. Tapi tetep aja, malu karena minta tolong mulu jadi bikin drop relasi komunikasi.

Tapi memang gak bertahan lama, salah satu tetap ada yang menurunkan tegangan agar gencatan senjata usai. Ini jotakan pertama kami, dan tentunya semoga tak terjadi lagi.. Tidak dengan penyebab yang sama pastinya...

Thursday, June 27, 2013

Alpukat!


Nama buah, ya kan? Lalu apa jadinya kalau bukan, dan merupakan sebuah profesi yang sedari remaja saya idolakan...

Alpukat, warnanya ijo. Buah kesukaanku hanya ketika dileburkan dengan es dan air gula dalam blender. Bukan dikoyak bersama gula lalu diaduk-aduk seperti kegemaran ibu jaman aku kecil dulu. Tapi alpukat tsb berubah terminologi di suatu siang bolong menjadi topik perbincanganku dengan perempuan itu..

"Di kantorku lagi gak ada advokat, kak!"
"Kan banyak dijual di pasar, vi"
"Hmm, beli satu donk yang kayak kakak adanya di pasar apa ya?"
"Oo kalau itu adanya di walmart di negara2 eropa. Yang di pasar kranggan aja vi. Carinya jangan yang keras, biasanya kulitnya coklat bukan ijo. Kalau keras gak bisa di jus hari ini. Harus di eram dalam beras."
"Jadi, kakak ini semacam alpukat. Bukan advokat? Ternyata selama ini aku salah mengira..."

See, how the similarity between alpukat and advokat... Kalau gak lagi ngobrol ama tuh perempuan kagak ada bahasan yang kayak gini.. Dasar alpukat!

Wednesday, June 26, 2013

Analogi Rasa


Saya sejak dulu sering nonton IMB. Selain karena acaranya lumayan menarik, juga ada si Tisjum. Meski akhir-akhir ini kayaknya acara bergeser untuk memperkuat gosip Tisjum yang baru menjanda dengan pesulap pelontos corbuzier yang lebih dulu menduda. Eits, saya gak sedang akan ngebahas soal gosip mereka, tetapi cerita ini tentang menganalogikan rasa..

Awalnya, saya gak suka banget gimana kok si pelontos itu kayaknya maksaa banget ngegombalinnya, mpe eneg dengernya. Tapi pas diresapin, ya ndak tau ya apa cuma kepentingan TV shows ato emang perasaannya beneran, ada cara-cara unik yang ia lakukan. Maka baiklah, efek positifnya kemudian adalah saya mulai menganalogikan rasa.

Perempuan itu bukan hanya punya kemiripan wajah, tapi juga cerita cinta dan karakter, jadi agak copy cat cara tentu tidak diharamkan bukan? Tetap tidak memaklumi bahwa upaya si pelontos itu tak membuat saya mengubah persepsi kebersetujuan saya. Untuk yang satu, saya tetap katakan TIDAK!

Tuesday, June 25, 2013

Hujan di Bulan Juni

Timeline Fesbukku tetiba disuguhi puisi ini, olehnya. Meski memang ia berjanji di BBm akan mengirimkannya. Kukira akan bercanda, ternyata ia membuatnya menjadi realita...

Hujan Bulan Juni
By Sapardi Joko Damono


Tak ada yang lebih tabah
dari hujan Bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan Bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan Bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu


Perempuan itu mengirimnya agar aku tabah ditinggal kawinan si mantan. Bingung mau ngebales apa, eh kok tetiba juga pas buka-buka web, nemu puisi agus noor ini yang juga ada hubungannya dengan puisi diatas...

Puisi Agus Noor

ADA YANG LEBIH TABAH DARI HUJAN BULAN JUNI

: SDD



Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, ialah ia, yang terus mencintaimu, meski kau tak pernah menyadari, dan selalu berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu

Ialah yang menggeletar dalam doa-doamu, tanpa pernah kau menyadari, dan kau pun tentram karena merasa ada yang selalu menjagamu

Tanpa pernah kau menyadari, ia diam-diam menjelma bayanganmu, hingga bahkan pun dalam sunyi kau tak lagi merasa sendiri.

Ia, yang sungguh lebih tabah dari hujan bulan Juni, selalu berbisik lembut di telingamu, meski kau tak pernah menyadari, dan seluruh kenanganmu menjadi hangat dalam ingatan

Saat kau terisak menahan tangis, ia yang lebih bijak dari bulan Juni, merasuk ke dalam dadamu yang disesaki duka, hingga kau semakin memahami: betapa airmata mencintai orang yang paling dicintainya dengan cara menjatuhkan diri

Ia jugalah yang menyelusup ke paru-parumu, tanpa sekali pun pernah kau menyadari, ketika kau mendadak tersengal oleh entah apa, dan segalanya tiba-tiba saja menjadi terasa lega

Ketika senja, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tanpa pernah kau menyadari, meruapkan hangat ke dalam teh yang tengah kau nikmati pelan-pelan, hinga kau merasakan sore begitu damai dan menentramkan

Ia jualah yang terus duduk di sampingmu, tanpa pernah kau menyadari, menemanimu dengan sabar memandangi cahaya senja yang perlahan memudar, dan kau bersyukur pada segala yang sebentar

Dan ketika kau tidur, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tak lelah berjaga: dihapusnya debu kecemasan yang berguguran dalam mimpimu

Ada yang jauh lebih tabah dari hujan bulan Juni, lebih bijak, dan lebih arif, tetapi kau tak pernah menyadari, meski selalu ada di kesedihan dan kebahagiaanmu, karena ia tak henti-henti mencintaimu

2010


Berbalas puisi, ya bgeitulah kira-kira...

Sunday, June 23, 2013

Mantenan Mantan


Mantan saya mantenan, bagaimana perasaan saya? Nah ini saya mau cerita...

Awalnya, saya dengar kabar itu sekitar awal Maret. Melihat sebuah cincin melingkar di jarinya, mendengar ucapan selamat dari orang-orang terdekatnya dan perasaan saya yang berkecamuk. Ya, ketika pertama kali tau, hati saya langsung menangis, sementara otak dengan sekuat tenaga menahan mata untuk tak mengalirkan tetes-tetes air. Meski kemudian tumpah juga tetapi ketika tak ada seorang pun di sisi. Lalu otak saya mulai sibuk, bukan menghibur hati tetapi mencari pengalihan dan peralihan.

Pengalihan pada kesibukan pekerjaan dan keinginan untuk keluar dari kota ini hanya sekedar agar tak melihat hari bahagia si mantan serta pengalih kemarahan saya. Ya, saya berjanji saat si mantan berani ngundang saya maka akan saya robek undangan di depan mukanya. Kemarahan yang benar-benar tak masuk akal memang, tapi namanya juga marah, bukan?

Namun waktu dua bulan ternyata sanggup merubah segalanya. Disinilah letak keisengan Tuhan. Kemarahan dan kecamuk hati dan pikiran kemudian memasuki fase peralihan. Tuhan mempertemukan saya dengan perempuan itu melalui tahapan rasa yang tak langsung dikenali sebagai sebuah cinta. Rasa itu terpupuk sedikit demi sedikit dan perlahan, rasa itu menemukan wujudnya ketika kecamuk hati berada pada klimaksnya. Cemburu pada si mantan kemudian hanya jadi rasa yang biasa-biasa saja dengan makna perempuan yang kini tak hanya iseng belaka. Mem-flashback alur waktu dua bulan ke belakang aku pun heran bagaimana bisa peralihan rasa bisa sebegini signifikan.

Lalu tibalah hari itu.. Hari yang sekitar 2 bulan lalu kuhindari setengah mati, kini hanya kulewati dengan sangat biasaaa aja. Sampe beberapa teman niat banget lho pengen liat ekspresi mukaku takutnya aku gak kuat njuk nggeblak. Khayal banget itu! Kalo aku memutuskan datang berarti aku sudah yakin gak akan ada emotional feeling semacam nangis, apalagi semaput, yang akan terjadi.

Bahkan si kakak ngeledek mulu, ia awalnya nyuruh ga usah dateng aja, takut aku kenapa-napa atau kalo mau dateng barengan rame-rame ama temen laen biar kalo pingsan ada yang nolongin. Tetep aja niatnya ngeledekin, kan!

Dateng bareng seorang kawan, muter-muter cari gedungnya, dan finally, ketemu!
"Kak, gedung mantenannya deket ama rumah kakakmu lho!" laporku pada si kakak.
"Ajak kakak gue aja vi, trus bawa anak-anaknya, rame deh. Biar lo gak sedih!"
Ide bagus si kakak!

Balik ke TKP... Antrean salaman lagi padat merayap, aku memilih untuk makan dulu nanti baru salaman. Dan ternyata adatnya tuh nyalamin penganten baru makan. Maklum ga pernah kondangan jadi ndak tau hahaha

Tibalah pamitan sekalian nyalamin penganten beserta keluarganya.. Dimulai dari sayap kanan yang adalah mertua si mantan. Pertanyaan dari bapak mertuanya cukup spektakuler..
"Njenengan kakung nopo putri?" (Kamu laki apa perempuan)
Sebenarnya pengen ngakak juga, tapi karena yang nanya serius jadi njawabnya juga lumayan serius.
"Kulo kakung lan putri pak!" (Saya laki dan juga perempuan, pak)
Si bapak dan ibu mertua mesam mesem. Pertanyaan yang biasa buatku, yang gak biasa ya karna yang nanya bapak mertua mantan!

Jadi maaf saya rupanya tidak bisa mengabulkan harapan kawan-kawan untuk nangis gulung-gulung pas kawinan mantan karena memang feeling saya sudah biasa-biasa saja, otak saya bukan menang kali ini, ia hanya melakukan yang semestinya terjaga menemani hati yang sudah tak lagi merasa hal yang istimewa. Ya, realita tentu saja menyadarkan hati, bahwa ia tak bisa terus saja bermimpi, masih ada hari esok untuk terus dilewati. Melihat dan mendoakan orang yang kita sayangi bahagia jauh lebih utama karena dengan begitu hati merasa lebih lega...

Saturday, June 22, 2013

Proud of Our Relation!


Bentuk relasi. Kalau ditilik ulang, dulu, aku selalu memerlukannya pada setiap relasi yang kubangun. Contohnya untuk cerita cinta pertamaku, aku betul-betul mengingini satu bentuk tertentu, kapan jadian, jam berapa, dimana, de el el, agar kelak setahun setelahnya ada angka dan bulan yang sama kami bisa merayakan ulang. Ya, meski memang usia relasi kami tak sampai hitungan tahun, pun tanggal tak pernah tercatat.

Kurang sukses pada cerita hati yang pertama, sekitar 2011 aku mengulang keinginan yang sama, yaitu mengingini sebuah nama dan bentuk relasi. Dan saking sakleknya bentuk relasi yang kuajukan tak menyimpan bulir kesabaran bahwa mengubah dan memperjelas ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Pun karena tak mau ada kompromi akibat ketidakjelasan bentuk relasi, akhirnya aku memilih mengandaskannya meski setengah mati mempunyai rasa yang mengakar di hati.

Untuk perempuan satu ini, nampaknya aku banyak menyerap dan menyarikan arti berelasi dari relasi sebelumnya. Tentang kesabaran, memaknai kebersamaan dan bentuk relasi itu sendiri. Karena situasinya hampir serupa, hanya karakter yang kuhadapi jelas berbeda, meski ada kesamaan di titik tertentu.

Seperti yang pernah ku bilang sebelumnya, dengan perempuan ini mengundang berbagai kontroversi. Mengartikan, menilai bahkan menghakimi dari banyak sisi. But, believe me, saya orang paling anti disebut melakukan pembenaran. Segala sesuatu tetap punya koridor dan batas yang selalu kujunjung tinggi bernama kebenaran.

Menikmati hari, memaknaknai kebersamaan sederhana yang dibingkai dalam kata-kata, canda yang remah hingga adu ego yang terakhiri dengan obrolan riang, melupakan intonasi tinggi seperti angin lalu. Membangun pola bahwa keduanya menjadi lebih baik dengan hand in hand. Setiap perbincangan tak tentu arah menghadirkan senyum dan tawa. That is why this is not called cheating.. I proud how we build -not named- this relationship.

Maka membiarkan semua mengalir alami termasuk membiarkan asumsi dan segala justifikasi menghiasi cerita hati yang tak ada namanya ini adalah kompromi -yang tidak menjadi pilihan- satu-satunya karena satu-satunya yang paham dan mengerti alur ceritanya selain aku sebagai sutradara, ada si penulis cerita abadi yang punya hak paten mutlak atas kisah ini..

Friday, June 21, 2013

Butchi Inside!


Begitu saya menjuluki perempuan itu! Mungkin akan nampak kontras dengan penampilannya yang terkadang feminin kadang androgini. Namun menelisik alur pikir dan perilakunya, kupikir aku tak sedang salah mendefinisikan.

Ya, aku tau, cara jalannya yang seolah tergesa dan cenderung sangkuk tak bisa serta merta mempatenkannya layaknya buci, karena yang kumaksud adalah inside, sesuatu yang muncul dari dalam dirinya yang merefleksikan mayoritas buci pada umumnya, seperti ciri-ciri cara pandang mainstream komunitas, yaitu kemaskulinitas pikiran.

Tapi mungkin perlu menelisik ulang, is that buci inside atau efek karakter anak ragil? Mari membahasnya di lain judul...

Thursday, June 20, 2013

Kalah Awu!


Berhadapan dengan perempuan itu bukanlah hal mudah. Bertatap muka apalagi, wong hanya beradu kata-kata aja aku harus memeras otak untuk menyamai.

Kalah awu, begitu orang-orang menyebutnya. Dan aku mengakui, namun bukan sebagai hal negatif karena positifnya aku jadi terpacu meningkatkan kinerja otak dengan menguatkan kapasitas. Jadi lebih pinter, itu harus!

Ada satu hal yang membedakan perempuan ini dengan singa yang kukenal, bahwa tiap 'serangan' perempuan ini bukanlah ingin mematikanku, ia hanya ingin aku menyamakan frekuensi otakku dengan otaknya, meski kadang bablasnya ia kebablasan mengerjai lalu tertawa. Tak seperti singa dengan taring dan cakarnya yang melukai, air meski ia sekuat air bah dan menenggelamkan, namun sebagai domba yang tak mau hanyut aku bertahan dengan berpegang pada ranting, sekecil dan serapuh apapun untuk tak terbawa arus.

Jadi jelas meski tergolong kalah awu, baik karena secara umur lebih tua, strata pendidikan lebih tinggi, strata sosial dan pekerjaan yang lebih mantap ia tak pernah sekalipun menyantapku dengan hal-hal semacam itu. Kalah awu yang positif, aku menganggapnya demikian. Ia hanya sedang mengeluarkan karakter bungsunya...

Sunday, June 16, 2013

Benar-Benar Iseng -yang jadi- Beneran!


Iseng. Mungkin adalah sebagian dari imanku. Begitu pendapat beberapa teman. Termasuk soal hati yang katanya aku kerap iseng-iseng berhadiah. Apakah keisenganku juga berlaku pada perempuan ini???

Akhir tahun lalu ketika waktu menyamakan dimensi takdir antara kau dan aku dalam agenda sebuah seminar besar, yang tercetus di benakku kala itu adalah hidupku akan bersenang-senang selama lima hari ke depan. Dan memang waktu dibuat jempalitan terlalu cepat hingga aku tak mengenal pribadimu, hanya euforia otak yang menghasilkan endorfin kebanyakan yang bikin aku kegirangan.

Lalu sang waktu tetap berbaik hati padaku, kami dekat, tidak secara jarak namun percakapan dan tawa serta ledekan lewat kata-kata yang hampir tiap hari ada. Dan aku masih menganggapnya iseng! Ya, perempuan itu hanya ada di bibirku menyerupakan wujud sebagai sebuah senyuman, bukan sebuah perasaan.

Dan aku kerap menebar cerita dan wajahnya di layar ponsel karena meyakini betul bahwa apa yang kurasakan tentangnya hanya kekaguman semata. Ia pintar, cerdas dan humornya menarik. Aku bisa bercerita apapun padanya tanpa sungkan. Dan ia menyambut baik. Relasi yang baik, bukan? Ditambah poin plusnya adalah wajah perempuan itu serupa artis yang kugandrungi setengah modyar. Maka lengkaplah kekagumanku padanya.

Dan bagiku ketika menceritakannya pada kawan-kawan terdekatku, aku meyakini tak ada yang istimewa. Bahkan ketika menyatroni kediamannya di akhir bulan cinta tiga bulan setelah pertemuan pertama kami, hatiku memang terlonjak kegirangan dengan kadar endorfin yang juga mengalami lonjakan dari sebelumnya. Namun tetap, aku masih menganggap sebagai intelectual connection...

Sejak itu, kami lumayan dekat, hampir sudah tak ada batasan tentang tema apa yang kami hendak bahas. Keluargaku, keluarganya, ia dan aku tak malu mengungkap cerita masa kecil dan ceritanya bersama orang yang melakoni hidup bersamanya kini. Aku yakin diantara kedekatan kami ada sebuah perasaan yang menyusup, namun aku masih bersikukuh selama tak ada perasaan cemburu nampak sebagai 'bukti' rasa untuk memilikiku akannya, maka masih amanlah relasi ini.

Kukira aku sedang bermain-main dengan perasaanku yang dengan keyakinan penuh yakin bisa handle apa yang sedang kupermainkan, namun mungkin sedang iseng, Ia lantas menaikkan level permainan tanpa menanyai apa aku siap atau tidak...

Diantara semrawut hidupku kala itu, aku membuat keputusan yang juga bikin finansialku semrawut. Ke Jakarta! Namun rupanya disinilah Tuhan punya cerita untukku... Hidup dan finansialku boleh saja semrawut, namun hatiku dibuatnya bak habis ngisep heroin.. Flying!

Usai kepulangannya dari persinggahannya di kotaku, aku mengajak otak dan hatiku rembugan. Aku sudah menganggap ini tak baik. Sexual connection itu baik untuk ceritaku dengan perempuan sebelum perempuan ini, namun kalau disamakan untuk perempuan ini kukira aku harus meninjau ulang! Banyak hal yang kemudian saling bersilangan bahkan tumpang tindih, baik di internal diriku maupun eksternal orang-orang di sekitar dari lingkaran terkecil hingga terluar. Semuanya lantas beririsan. Masing-masing menimbulkan dampak. Ada yang terang-terangan judgemental. Dan banyak juga yang mendukung.

Heiii... Kadang aku pengen neriakin mereka satu-satu, tapi capek juga kan klarifikasi? Aku sadar betul ini sudah naik tingkat, iseng-iseng yang jadi beneran, but I made it simple! Though its not simple as I said, but for me as far as it positive things then I'll direct the show must go on!

Pro kontra itu makanan sehari-hari, wong jelas-jelas dalam diriku sendiri aja kadang perang hati ama otak, jadi wes biasa. Aku tetaplah aku yang akan selalu menjadi aku dengan keakuanku dan tak akan menjadi seseorang diluar aku.

Jadi, kapok kah iseng-iseng yang benar-benar jadi beneran? Aku tak mendoakan diri sendiri kena batunya, tetapi aku selalu membalikkan segala sesuatu pada koridor niat dalam hati. Selama ini -aku merasa- niatku padanya -meski awalnya iseng tetapi- kuanggap tak ada satu hal pun yang negatif, jadi aku percaya Tuhan beserta keisengannya tak akan salah baca niat di hati.

Let's enjoy it! Now and then!

Friday, June 14, 2013

Batas Kebersamaan Terbatas

Perempuan itu tiga hari disini. Kepentingan keluarga. Yang membuatku tak menampakkan wajah. Menyadari betul apa yang dinamakan batas. Batas diri saya yang selalu kikuk di depan orang-orang yang saya tak kenal. Ditambah orang-orang yang tak ramah. Karena saya pernah dipertemukan dengan orang-orang tsb di awal pertemuan kita dan saya menangkap tanda-tanda tak ramah. Hanya seorang yang waktu itu kebetulan bertemu saya di bawah rambu tanda dilarang berhenti, selebihnya saya menganggap semuanya tak ramah.

Sudah terbatas, dibatasi dengan batasan-batasan yang diluar batas.
Itu grundelan saya pada irisan takdir yang tak berpihak pada saya kali ini. Tetapi menyadari benar bahwa kenyataan tsb yang memang harus saya telan mentah-mentah, jadi tak ada kata gondok di hati. Apalagi kesibukan yang memang membuat irisan takdir aku dan perempuan itu tak melebar.

Ada kesal tak kasat mata yang nampak dari ketidakpamitan yang sengaja kau ciptakan karena ketidakmunculanku beberapa hari ini. Maaf, batas yang membuatku tahu batas bahwa situasi kita kali ini benar-benar terbatas!

Thursday, June 13, 2013

Kolor Ijo dan Nyi Roro Kidul


Awal bulan ini perempuan berwajah artis tsb sedang ada refreshing di kotaku. Salah satunya adalah menyusur pantai-pantai di pesisir selatan yang memang konon indah. Aku pernah beberapa diantaranya menyicip keelokannya. Yang paling sering adalah pantai Siung, bagiku yang paling keren kalau lagi surut. Trus Ngabean Ngrenehan dan Wedi Ombo dengan pasir putihnya. Kalau krukup, drini, baron dan yang pantai biasanya, bahkan Sadeng, nggak keitung ada nilai plusnya alias biasa aja.

Jadi keinget perbincangan dengan perempuan itu via whatsapp ketika dia akan berangkat... Awalnya, aku cuma memberi info tentang gelombang tinggi di laut selatan, eh dia malah jawab begini:
"Asik dong vi. Lagi cerah ni kayaknya hari ini."
Ya sudah kan cuma pemberitahuan. "Btw ga pake baju ijo kan hari ini ke pantainya?"
"Pakai baju item vi. Tapi cd nya ijo. Aduh takutnya nyai tau hahahaha" jawabnya kian meledek. Maklum mitosnya kalau ke pantai selatan pake baju warna ijo rawan hanyut karena ditaksir ama si nyai.
"Ahh nyi roro kidul ga bakal periksa sampe cd kok.." sahutku ikutan meledek.
Perempuan itu terbahak. "Ok vi. Nanti tak salamin sama nyai!"
Bener-bener emang nih orang ngeselin tingkat dewa minta dijitak!

Wednesday, June 12, 2013

Benci Kata "Berpisah"


Teringat perkataan seorang teman tentang judul diatas. Ia begitu benci perpisahan, meski akan bisa ketemu lagi someday, tapi feeling kehilangan pada saat berpisah itu yang ia tak suka dan bikin airmata tumpah. Awalnya aku berkomentar ia sedang lebay, nggak segitunya jugak kalee...

Tapi malam itu, di stasiun Tugu, aku menjilat kata-kataku sendiri ketika mengantar perempuan itu akan kembali ke kotanya. Awalnya, juga gak berasa sebegitu sedihnya. Bahkan usai memarkir motor dan melangkah memasuki areal stasiun perasaanku masih biasa-biasa saja. Apalagi tadinya perempuan itu kuatir jalan dari parkir motor ke stasiun akan jauh. Agak gak enak juga mengingat memang tak ada parkir paling dekat kecuali pintu masuk belakang.

Separuh jalan kami bertemu mantan teman kantor yang kebetulan juga kenal lama denganku.
"Aku, teman barunya alvi!" begitu akunya yang membuat si teman mengernyitkan kening. "Maksudku, aku baru kenal alvi, lebih dulu kamu," Perempuan itu mengklarifikasi. Lucu juga ya nih perempuan.. Awkward style nya kumat kalo gini ini..

Bahkan ketika mencapai areal tempat teman-temannya menunggu untuk memberikan karcis plus sambutan dan arahan kamera dari tim media yang sepertinya ditugasi meliput kegiatan mereka selama beberapa hari ini, feeling itu belum muncul. Wajahku masih datar mendengar guyonan para lelaki yang memintanya tinggal, tidak kembali ke kotanya. Aku melihat perempuan itu menyalami satu persatu lelaki itu dengan tidak mengomentari kicauan mereka, hanya tersenyum.

Dan tibalah ia pamitan di depanku. Dan baru itulah perasaan itu muncul. Aku sendiri tak tau bagaimana mendefinisikannya. Campur aduk pastinya, antara kehilangan dan sedih. Entah bagaimana perasaan itu tumbuh mendadak membuat raut mukaku kaku bagai di semen, mematung kelu tak bisa berkata-kata, pun tidak berkaca-kaca. Aku seperti dihempaskan pada kalimat temanku dulu, bahwa mungkin beginilah rasanya membenci sebuah perpisahan, meski yakin akan bisa bertemu lagi.

Ya, malam itu, aku benci berpisah! Aku benci merasakan perasaan yang menjalariku yang bahkan tak bisa kunamai tetapi kugarisbawahi sebagai kesedihan.
"Gak tau kenapa waktu melihatmu pergi tadi kok aku sedih banget yak.." akuku usai kami benar-benar berpisah. Perempuan itu nyaris gak percaya karena tengah bulan ia akan kembali ke kota ini.

Itulah makanya tiap berpamitan dengan siapapun aku tak mau bilang selamat jalan, tetapi sampai bertemu lagi. Seperti sedang mengusahan takdir melalui doa dan harapan untuk bisa bersua kembali. Berpisah dengan perempuan itu menyisakan kesedihan, memang!

Tuesday, June 11, 2013

Someone Listening Over You


Mendengarkan. Kepekaan yang agak sulit aku aplikasikan dalam keseharian dan sepertinya sudah jadi habit negatif saya.

Entahlah, aku agaknya ingin nyalahin otakku atas keterbatasanku satu itu. Aku menganggap ketidakpedulian otakku lah yang membuat aku acuh atas informasi yang masuk ke indera pendengar. Harusnya otak bertindak sebagai perekam, tapi pada banyak kasus otak bukan menolak hanya tak menerima, spesifiknya adalah cuma numpang lewat lalu keluar lewat kuping satunya. Dan imbasnya cukup berakibat krusial pada sebuah relasi...

Sebagai contoh ada malam ketika aku dan perempuan itu makan malam. Ia sudah mengatakan apa yang ingin dipesannya, tetapi entah kenapa aku, otakku tak merekam apa yang ia katakan, sibuk sendiri. Dan ketika pelayan ia yang sedang bertelepon kutanyai ulang tentang pesanannya. Dan tampak sekali aroma ketidaksukaan di mukanya karena ia harus memotong obrolannya di telepon. Upps, That's not a good point!

Tapi sebenarnya ini bukan yang pertama, ini sudah kesekian, makanya kunamai habit. Bad habit of course, mengingat perempuan itu selalu menyerap tiap apa yang keluar dari mulutku secara detil. Bahkan aku pernah takjub ketika ia mengingat hal yang bagiku hanya selintas lalu ku ucapkan.

Dan entah sampai kapan bad habit ini terakhiri. Aku sendiri kadang merasa ini sudah mengakar di alam bawah sadar, sebagai salah satu bentuk bahaya laten bernama keegoisanku.

But, I do my best to eliminate it, bertahap ya..

Monday, June 10, 2013

Will Be Another Girl With Tatto!

"Di sini dimana vi tempat bikin tatto yang bagus?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir perempuan di sebelahku ketika kami sedang makan malam di keremangan sebuah tempat makan terkenal di Jogja sebelum ia kembali ke kotanya.
Aku terhenyak sejenak. Ia tau 'kekagetan'ku, tetapi memaknai dengan persepsi berbeda. Aku terhenyak karena takjub perempuan itu berniat menggambari tubuhnya, sedang ia berasumsi kekagetanku karena akan 'keberatan' dengan perempuan bertato. Well, anda meleset, karena mantan saya dan beberapa teman juga bertatto, dan menurut saya tatto is cool for women body meski untuk digambar di tubuhku, aku akan menolak, bukan karena haram dll, tetapi setengah mati takut ama jarum. Untuk keperluan medis aja kalo gak terpaksa aku gak akan rela jarum menembus kulitku, apalagi ini dengan sengaja, wah ndak ngebayangin bakal sakit kayak apa..

Balik ke topik, aku menanggapi pertanyaannya dengan antusias. "Banyak kalau di jogja, nanti kalau beneran aku nanya dulu dimana ia mentatto lengannya.."
"Tapi ini bukan gambar apa gitu, tapi simbol untuk Tuhan yang ada di tubuhku."
"Emang mau gambar apa?" makin curious.
"Gambar rosario kayak gini.." Ia mengeluarkan sebuah rosario dan memperlihatkan padaku. Bentuknya mirip tasbih kecil berwarna-warni.
"Bagus. Apa akan segede itu?"
Ia melingkarkan di balik tangan bagian dalam. "Masa segini gede?"
"Nggak juga sih.." Lalu aku bercerita tatto di lengan mantanku yang juga menarik perhatiannya. "Kalau emang serius ya kalau kesini lagi ntar khususin waktunya buat bikin tatto, karena akan habis bikin butuh recovery.."
Ia mengangguk-angguk.

Hmm, tatto, aku akan teramat menantikan kapan ia akan merealisasikannya..

Noted: Aku agak merasa kok nih perempuan masih menganggap aku antipati pada perbedaan suku, agama, simbol2 yang menurut masyarakat terbilang 'nakal', hello kakak kau perlu tau aku sudah tak lagi mainstream, bahkan aku merasa lebih liberal darimu. So, jauhkan pikiran bahwa aku akan mengkerdilkan pilihan2 bahkan yang paling ekstrim sekalipun.

Sunday, June 9, 2013

Menyenangi Yang Tak Kusukai

Ini mungkin efek, dan aku sangat sadar akan hal tsb. Adalah menyenangi lagu yang kau nyanyikan di kotak musik hati dan beberapa lagu dari seorang artis yang kau senangi karena ditulis dan dinyanyikan oleh sang pencipta sendiri. Lirik yang feminis tentang perempuan kuat ditambah strong character dari si penyanyi itu sendiri.

Aku memang suka beberapa lagunya, namun seusai konser kotak musik hati itu aku kemudian tak berhenti mencari lagu dan lirik yang menohok hati.

Dan puisi... Aku memang kadang suka beberapa puisi, tapi untuk puisi serius 'temanya' hampir selalu kulewatkan. Maklum, interpretasi yang ringan aja susah, apalagi yang berat. Namun ketika ia menyukai puisi, bukan tuntutan juga untuk suka, tapi mencoba untuk menyukai.

Bukankah ketika menyukai seseorang kita akan mencoba menyukai apa yang disukainya, meski kadang kita tak suka. Bukan berarti terpaksa, kita hanya ingin bisa menjadi bagian dirinya. Buatku, selama tak menyusahkan, artinya tetap ada koridor batasan untuk mencoba menyerap, kalau pada ambang batas tak bisa menyukai, maka aku akan angkat tangan. Letak kompromi ku adalah tak mau tersiksa menyukai apa yang coba sedang ingin kusukai karena aku menyukai seseorang.

Hanya yang bisa kubagikan, ketika mencoba menyenangi yang tak kusukai jujur dalam proses tsb kita akan melakukannya dengan sumringah hati dan bibir. Trust me!

Saturday, June 8, 2013

One Lie Leads to Another

Kalimat ini aku dapat ketika aku berbincang dengan kawan untuk sebuah tesisnya. Dan aku menghubungkannya dengan persinggungan takdir aku dan perempuan itu...

Sejak pagi, aku -dan dia juga, kurasa- gaduh soal rencana kami malam ini di Kotak Musik hati. Dari mulai soal booking dan soal mengikutsertakan -teman kantornya-. Padahal siang itu aku bertemu dengannya, bertepatan disinggungkan takdir bertiga di lobi dengan si #MonMon. Dan bahasan kami masih sama, ia yang memesan kotak musik tsb.

Menjelang sore, satu pertanyaan ia munculkan, "Kalau teman kantor gue ikut asyik gak ya?". Aku memutar otak. Apa alasannya mau ngajak teman kantornya, tapi aku ndak mau dunk dibilang defensif.
"Bukannya temenmu mau jalan ama dua temennya, ntar jadi rame dunk."
"O iya ya" Hanya itu yang meluncur dari mulutnya.
"Tapi gimana kalau aku ditanyain temenmu kita mau kemana?" iseng ku lempar pertanyaan tsb.
"Ya, bilang aja mau ditraktir ama gue.."
Saya tersenyum, one lie leads to another dimulai sejak saat ini...
"Nanti pas kita ketemu gak usah bahas rencana ini di depan dia ya.."
Siyap kakak...

Dan benar saja, sepanjang melemaskan kaki kami tak sedikit pun menyinggung soal itu. Meski aku dapat menangkap tatapan aneh teman kantornya yang seakan menanyakan "Ngapaen lo balik kemari lagi?" sama seperti sorot mata yang "mematai" kami di kejauhan ketika aku dan perempuan berwajah artis ini mencoba melemaskan kaki di bebatuan refleksi. Teman kantornya ini tak mendekat, ia mengawasi dari kejauhan. Behave Alvi!

Dan kecurigaan itu akhirnya terpapar ketika aku sendirian sementara perempuan yang akan jalan denganku ganti pakaian..
"Kalian mau kemana sih?"
Kalau ia temanku tentu aku akan meledek mau tau aja, kepo amat. Tapi ini temannya, "Mau ditraktir ama temenmu.." Aku menjawab seperti apa yang sudah kami rencanakan dengan intonasi sedatar mungkin.
"Mau ditraktir apalagi, kalian kan sudah makan kan barusan!"
Dan aku baru menyadari kebodohan jawabanku barusan, dan otak saya langsung sibuk antara memikirkan kelogisan jawaban selanjutnya dan memasang muka 'jujur' terbaik saya.
"Nggak tau tuh temenmu, tadi bilangnya cuma mau nraktir aku, haa kok barusan makan ya?" Aku menyelaraskan alur pikirnya.
"Ow mungkin mau ditraktir baju, kan disana banyak factory outlet!" sahutnya mereka-reka, meski terkesan maksaa banget, tapi aku mengamini. Padahal aku kehabisan ide, mukaku dah pias.

Aku memang tak menyampaikan pertanyaan itu ke perempuan tsb, tapi aku yakin di ruang sebelah yang hanya bersekat kaca ia mendengarnya.

And, one lie always lead to another lie.. Dan menggiring saya untuk semakin pintar menyiapkan kata dan wajah agar tak ketauan kalau sedang memperindah kalimat dengan bualan semata..

Friday, June 7, 2013

Kotak Musik Hati


Arloji di tangan kiriku bergegas menuju angka 8, seperti halnya aku dan ia yang bergegas mengakhiri sesi jajan sembari ia bercerita dengan teman kantornya yang nggak sengaja ketemu di taman jajanan dekat tempat sehabis ia melemaskan raga agar sehat.

Ya, kami berdua memang sedari tadi rajin banget melirik putaran waktu di pergelangan tangan kami. Usai berpamitan, aku masih harus menghadapi pertanyaan teman kantornya yang memberondongku di kala kau sedang ganti kostum. Akan kuceritakan di bagian lain soal itu...

Kami berjalan dengan rute yang sama, menunggu bus di halte yang sama seperti kemarin. Bergelantungan di bus dan mengerjaiku dengan menyuruh bayar separuh harga, namun harga diriku menolak. Ya iyalah, di negeri orang dimaki-maki cuma gara-gara duit 2 ribu kok gak keren sama sekali, bukan! Meski aku harus menelan sebutan cemen yang kau beri, tapi Arians tak akan mau meruntuhkan harga diri apalagi cuma dengan nominal segitu.

Dan kemudian macet menjadi kendala kedua. Aku menduga kami akan telat, agak panik juga katanya kalau dah lewat booking time akan hangus dan harus antri lagi. Haduh, gak boleh telat nih! Pasalnya, what we do if we are not spend our time at that music box coba? Nongki lagi, ngobrol lagi, boring kan, semalem udah!

Dan untunglah menunggu bajaj datang tak seperti menunggu polisi india yang datang belakangan. Dan terus terang ini adalah kali pertamaku naik bajaj, padahal notabene 4 tahun aku pernah hidup di ibukota ini.
"Kak, ini baru pertama kali aku naik bajaj," akuku pada perempuan di sampingku. Dan itu adalah kalimat pemberitahuan paling salah yang kuberikan padanya. Ia seperti mendapat amunisi.
"Bang, temen saya ini baru pertama naik bajaj, dari gunung bang, bla bla bla.."
Aku meliriknya pedas. Wajahnya menahan tawa.
"Terusin aja.." sindirku.
Bukannya mandeg, ia malah melakoni apa yang kukatakan, meneruskan bobor cerita ke abangnya.
"Plaak" ucapku sembari pura-pura nampar, dan membuatnya ketawa.

Kami sampai lewat lima atau sepuluh menit dari yang dijanjikan. Ia langsung sigap mengurus administrasi. Maklum, saya agak gaptek begituan. Masuklah kami di kotak musik ukuran terkecil, dan... Malu-malu!

Aku mengkategorikannya malu-malu karena ia tak mau memasang lagu kalau aku tidak melakukannya lebih dulu. Hmm, sembari ngutak atik mesin karena sama-sama gaptek, lagu pertama saya adalah Where have you been versi Rihanna, maunya versinya mbak Titi.. Dan lagu pertama dia adalah Daylight by Maroon 5. Dan baru akhir-akhir ini saya menyadari arti lagu tsb dalem yak.. And that song become my favorite song everyday to boosting my mood..

Dan lagu-lagu selanjutnya berkumandang.. Lagumu.. Laguku.. Lagu duet kita.. Laguku lagu-lagu gombes macam just the way you are, satu-satunya cinta yang mellow deh pokoknya, sedangkan lagunya adalah musik dengan beat rock dan lirik yang lumayan senada macam orang yang unhappy with her relationship. Apalah arti sebuah lagu, right? Seperti bait apalah arti menunggu by -kembarannya, katanya- Raisa yang ia nyanyikan sepenuh hati.

Dan lagu kita adalah lagu duet tempo doeloe jaman aku klas 6 SD, yaitu I want Take Forever Tonight. Eh malah bikin ketagihan, tiap lagu maunya ia duet. Tapi yang ndak seru tuh ia ndak mau joget2 kayak saya.
"Nih, jempol gue dah joget!" Ahh ndak serunya cumak itu.

We're closed and I'm happy, both of us are happy.. Closing with jealous song by dewa and I want to break free-nza Queen. And I called it Kotak Musik Hati.. And my heart so dancing..