Wednesday, August 14, 2013

Bosenan vs Gengsian



Bosenan is my middle name and Gengsian is her middle name. So, how’s our relationship supposed to be?

Imagine, aku dengan sifat pembosan yang teramat sangat, pembenaran kenapa aku tak bisa punya relasi dalam jangka waktu lama. Ya, gak tau apa sebabnya, bahkan di relasi yang menyenangkan dengan perempuan yang secara otak menarik dan secara seksual bikin naik itu pun masih saja aku merasakan bosan. Terlalu!

And also imagine, ini dari point of view-ku, bahwa perempuan itu teramat gengsian dengan pola yang ia terapkan bagaimana ia harus di-catch as a mangsa dan tak menunjukkan tanda-tanda memangsa. Ini juga keterlaluan, menurutku!

Maka muncullah satu lagi karakter yang menjadi first name-ku, ego! Karena terapan pola gengsian tsb, aku memasang ego di garda depan otakku. Tak jarang tak ada komunikasi yang tercipta ketika egoku meninggi. Aku jelas-jelas tak mau terus membuatnya selalu merasa paling dibutuhkan, meski kalau disapa dikit aja langsung deh crita darinya tumpah ruah. Seperti kali ini…

Sudah beberapa hari ini aku sengaja menciptakan jeda dan ia juga tak ada tanda-tanda memulai pergerakan, sama ketika aku mengenalnya pertama dulu. Ia pasang muka gak butuh, tapi disenggol dikit aja eh langsung nyerocos banyak. So, gengsian is the absolutely correct middle name for her. Aku kemudian ‘iseng’ menyapanya dan benar saja tuh perempuan ngejawabnya berparagraf-paragraf. Ini yang kadang bikin egoku capek!

I tweet about this, tentang si gengsian yang gak tau kalo si bosenan cuma nyapa iseng karena si bosenan lagi ada gebetan baru! Tapi tenang aja, pembenaranku sebagai seorang pembosan tak akan berlangsung lama, aku akan kembali pada si gengsian, tapi hati-hati juga kalau hati terpaut yang lain maka tak ada yang bisa melarang untuk berpindah hati. Rumusnya sebenarnya simple, kalau tidak ada kata saling, aku akan mudah berpaling, yang ini bukan pembenaran kok.

Jadi, mau terus Gengsian? Ati-ati Bosenan juga tak akan gengsi pindah hati!

No comments: