Saturday, August 3, 2013

Too Picky



3 Agustus 2013

Adalah menjadi stempel karakter baru buat saya yang saya definisikan sendiri. Ikhwal ceritanya yaitu ketika memilih tas untuk ditenteng sebagai penampung charger, buku dan tablet kok kayak milih pacar, susah abis!

Pagi hingga matahari tepat diatas kepala aku sudah berkeliling dari satu toko di sepanjang malioboro hingga 2 mall, dan hasilnya nihil. Ada beberapa yang menarik mata, tapi tak langsung kupilih karena aku memutuskan melihat-lihat yang lain dulu mungkin ada yang lebih bagus. Begitu berulang kali. Jadi ketika sampai rumah aku pulang bawa tangan hampa. Agak gak enak ati juga sih ama kawan yang nemenin. Ya tapi mau gimana lagi, kalau cuma setengah sukak, apa ya mau dibeli? Kalau aku sih tidak!

Lalu sorenya aku kembali bergerilya, tidak dengan kawan yang sama tentunya.. Kali ini niatnya dia ke toko tas cewek yang bersebelahan dengan beberapa toko tas ransel. Dan too picky ini memang seakan telah mengental dalam filosofi memilih barang ala saya, jadi ketika si teman sudah dapat 2 tas, saya masih belum menemukan kecocokan satupun.

Saya kemudian merengek minta diantarkan ke Gramedia, meski aku pesimis karena tiap kesana aku juga menengok etalase tas dan tak pernah melihat ada yang bagus, tetapi tak ada salahnya mencoba, bukan?

Memilah dan memilih, kekuatiranku sedikit pupus ketika terpikat dengan dua tas. Entah, padahal tiap kali kemari gak pernah ada yang bagus, ini kok tiba-tiba ada yang bikin kepincut. Justru si teman ini yang mulai kuatir, jangan-jangan udah suka ama 2 tas tsb tapi ntar ujung-ujungnya ga jadi beli. Namun kekuatirannya meleset, saya akhirnya memilih diantara dua yang saya suka. Satunya, tas ala pendaki gunung yang juga lebih mirip tas kamera, sedang yang satu model klasik dengan banyak space. Pilihan saya jatuh pada yang pertama.

Jadi, saya suka pun kadang belum tentu saya memilihnya. Prosesor di kepala saya ini terlalu rumit bukan karena lemot memutuskan, tetapi sangat selektif memperhitungkan segala aspek. Satu barang saja begitu, apalagi makhluk hidup bernama pasangan jiwa. Tapi satu hal yang ingin kugarisbawahi, ketika menemukan yang click, rasanya tak perlu berpikir dua kali untuk memutuskan ia menjadi bagian hidup saya. Too picky yang picky, bukan?
Ya, memang susah jadi orang rumit, saya kadang takjub, bagaimana history microchip otak saya bisa sebegini unik. Well, too picky, I must admit that sometimes it bother me enough!

No comments: