Monday, August 19, 2013
2 Kubu: Give Up!
Aku membuka-buka kembali file cerpen berjudul Pulang. Cerpen yang kuadaptasi dari imajinasi dan pengembangan ceritaku dengan sepupu perempuan yang hendak kuceritakan ini.
Aku sudah lumayan lama putus komunikasi dengan perempuan ini. Kayaknya ganti nomer. Makanya agak kaget juga waktu ia beserta keluarganya nongol di rumah malem-malem dan berencana ke rumah adik ibuku di pasuruan yang punya cerita cinta dengan si perempuan. Jadi antar sepupu saling suka dan ditentang oleh bapak si cewek tentu saja. Waktu itu aku masih akrab dengannya. Dan jadilah malam itu aku, ibu dan adik ibuku serta keluarga perempuan itu ke Pasuruan.
Dan ane jelas paling gaol, yang laen pada jilbaban gue pake celana pendek dan tas gunung. Rame banget tuh rumah dengan golden age kumpul bareng, maklum jugak jarang banget bisa kumpul, mana pake acara kesasar karena burem jalanan si penunjuk jalan gak apal. Awalnya aku dan mereka diem-dieman kayak baru kenal, eh waktu tuh golden age cekikikan barulah kita ikut larut. Nih cewek gak tau kenapa hobi banget memotretku, plus pulangnya ia menggandeng tanganku yang segera kutepis dengan pura-pura ngegandeng emak gue.
Esok malamnya keluarga perempuan itu ke rumah lagi. Ngobrol ngelantur yang terpisah. Ibunya ngobrol ama ibuku, ia dan ayahnya serta adik2nya ngobrol di rumah adik ibuku. Tau modus apa yang dipakainya malam ini, modus tidur yang gak mau dibangunin. Aku ketawa dalam hati, sengaja ya biar nginep, dasar sulung yang badung!
Hari Sabtu ada pertemuan besar di rumahnya, semua diminta hadir. Aku tak berangkat. Paling males ama acara orang-orang tua sedang kita kayak kambing congek nungguin. Huh, mending di rumah aja!
Esok dia pulang, sedangkan aku masih Selasa. Entah dapat hembusan ide darimana aku mengcancel kereta dan memilih naek mobil pulang bareng keluarga perempuan itu. Keputusan yang salah dan tak akan pernah kuulangi. Apes yang berulang, begitulah aku menggambarkan perjalanan pulangku. Dimulai dari bocor ban jam 12 malem sampe jam 2 pagi kedinginan di jalan. Kukira nih rombongan mau cepat-cepat sampe Jakarta, eh ternyata sopirnya kreatif ngampirin kita ke rumah ortunya di Sragen, kalo di kotanya sih gak papa, lha ini di pelosok, dan dikasi makan mie instan. Saya positif masuk angin, diare dan makan yang tidak teratur. Penderitaan belum berakhir saudara2!
Tapi ada cerita aku dan perempuan itu… Aku baru nyadar ortunya, terutama bapaknya tidak suka padaku. Bukan saja secara wajah tapi juga perbuatan. Yang jelas ia tak suka anak sulungnya dekat-dekat aku meski anaknya ngedeketin mulu. Aku dan perempuan itu tak diberi celah ngobrol berdua, harus ada orang ketiga. Padahal biasanya orang ketiga itu setan, bukan? Kami baru bisa ngobrol sebentar usai dia subuhan dan obrolan gak penting sepanjang berjalan. Ia yang duduk pas di depanku harus curi-curi noleh ke belakang. Di rumah si sopir, mules kembali mendera, niatnya keluar mau nyari jamban eh tuh perempuan malah ngikut. Kami foto-foto diluar. Setengah mati ngindar biar gak berduaan, itulah yang kulakukan. Ayah perempuan itu benar-benar tak suka padaku!
Well, perjalanan yang lazimnya kutempuh 9 jam jadi hampir seharian. Sore aku baru tiba di Jogja dengan sisa masuk angin dan perut kosong seharian. Menyesal sih tidak, tapi melakukan kegilaan ini lagi hanya untuk memperpanjang waktu bersama perempuan itu, kupikir aku tak akan pernah mengulanginya lagi.
Setelahnya, kami masih melanjutkan ngobrol di whatsapp dan perempuan itu hampir selalu me-like tiap status fesbukku. Ya ya ya, sejak pulang aku mulai rajin menengok fesbuk yang isinya pencitraan, jualan dan pamer anak-anak dari teman SMA dan sodara. Dan ketika aku men-scroll fesbukku dua tahunan ini ternyata yang merespon lumayan sering adalah perempuan itu. Catet!
Obrolan di whatsapp lumayan lancar, awalnya ngobrol enak dan datar tapi tidak ada sesuatu yang selalu flat. Riak kecil yang berwujud perdebatan, tentang ideologi hingga hal-hal sepele. Masih menemukan titik kompromi, tapi juga tak lama. Bagaimana pun sesuatu yang sangat prinsip akan menonjol perlahan, menanti untuk dimenangkan. Bukan ego, tapi fundamental. Fundamental bagimu adalah hal-hal berbau agama, sedangkan fundamentalku adalah kemanusiaan. Ia memahamkan tekstual dalam kedinamisan hidup sedangkan aku kontekstual. Bukan tak mempercayai yang tekstual. Ibarat buku panduan, akan menjadi acuan tetapi juga melihat hal-hal diluar itu untuk diadaptasikan. Aku mengadopsi nilai-nilai yang kuadopsi sendiri, bukan tentang memenangkan ego. Hanya menciptakan dan menjalani apa yang menurutku nyaman tanpa melanggar hak orang lain. Awalnya ia bersetuju, tetapi prakteknya tentu tak seperti ucapannya.
Ia mulai mencekokiku dengan dalil-dalil yang ia dapat dari gugel. Tuhannya juga gugel ternyata! Dan aku mulai gerah, bukan karena hawa panas dari serangan berbau agamis. Tetapi nada kemunafikan yang menurutku ia sendiri pun tak tau kenapa harus percaya, yang penting menurut tekstual begitu adanya maka ia melakoni. Menelaah tekstual tanpa filter kadar kepahaman akan isi, hanya mencuplik-cuplik lalu berteriak dan meneriaki orang lain pendosa karena tidak sepaham dengannya yang sudah mengaplikasikan si tekstual tadi, itu yang kualami.
Ia meneriakiku kafir karena memberi selamat ultah. Satu jam whatsapp hanya untuk debat dan men-copy-kan dari gugle tentang filosofi larangan kasi selamat ultah. Belum lagi hal lain, dan bagiku lama-lama ini tak bisa dibiarkan. Maka, bagimu pahammu dan bagiku pahamku. Awalnya aku keukeuh ingin meracuni pemahamannya tetapi kemudian aku menyerah. Buang-buang tenaga dan waktu untuk debat dengan orang yang hidupnya merasa paling benar tapi aktivitas pergaulannya hanya sebatas rumah-tempat kerja-rumah. Untuk lingkup sosial Jakarta, maaf nona kupikir anda bukan partner debat sepadan kalau kemanusiaan anda tak pernah anda tumbuhkan dengan melihat lingkungan sekitar!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment