Sedari semalam aku sudah tak sabar! Sebenarnya aku tak diutus untuk pergi ke event ini, tapi dengan membelitkan alasan bahwa aku tertarik mengetahui diskusi ini, aku berkeinginan ikut. Seorang teman kantor pun setuju karena ia tanpa teman. Dan akhirnya, kami berempat kesana...
Kalau boleh dibilang, bagi ketiganya adalah hanya wasting time berada disana. Ya, memang benar, kalau aku tak mempunyai "keperluan" lain di event itu pastilah membosankan. Beruntung aku ada keperluan lain itu, melihatnya... Ia yang September lalu kutaksir!
Ia datang naik tangga. Sesuatu hal yang kemudian kami tertawakan karena ada lift disana. Bahkan ia memakai high heels 15 cm an.
"Ya, itung-itung olahraga!" sahutku.
"Hei, kamu pa kabar?" tanyanya ketika matanya bertemu senyumku.
"Baik."
"Aku liat kamu, fesbukmu itu lho! Aku baca fesbukmu!" ujarnya sembari mengoprek buku yang akan disusun di meja dan matanya yang kadang tertuju padaku.
Upps, fesbuk! Gaswat, ada kemungkinan dia juga akan baca blogku ini. Beruntung obrolan tak dilanjutkan karena kami harus mempersiapkan banyak hal. Disini kebiasaannya muncul, REMPONG! Ribet banget dah pokoknya, but she's always smile.
Untuk sekelas perempuan itu, aku mendengar apa yang ia sampaikan ke publik masih terlalu dangkal. Ya, ia banyak pengetahuan, tapi menurutku tidak mengena. Sejam pertama aku sudah bosan. Bahkan ingin pulang kalau tak ada rasa segan karena mengenalnya.
Hanya faktor aku ingin melihatnya saja yang membuatku bertahan. Senyum lebar dan potongan rambut yang sama, selebihnya biasa saja!
Friday, April 29, 2011
Tuesday, April 26, 2011
MATA
Bagiku, mata adalah organ yang paling vital ketika mengenal seseorang. Mata dapat berbicara lebih jujur daripada kata-kata semanis apapun. Pergerakan mata tak bisa berbohong. Alur fluktuatifnya pun bisa menampakkan apakah orang yang berbicara denganku sedang berbohong, berkata-kata tulus atau bahkan tak bisa ditebak.
Bersilat lidah mungkin mudah, namun bersilat mata, kurasa butuh keahlian khusus. Ya, jika kau pandai bersilat mata artinya kau sangat terampil dan mahir diatas silat lidah.
Aku menyukai orang dari kelebat mata. Eye contact. Kesan pertama dimulai selalu lewat mata yang berbicara. Menilik ulang yang terdahulu pun tak lepas dari bagaimana pola mata dalam bertutur. Jadi benar jika ada istilah cinta datang dari mata turun ke hati...
Tak perduli apakah bentuk mata sipit, belo atau pun biasa saja, namun makna pergerakan mata menegaskan bagaimana karakter si pemilik.
Bersilat lidah mungkin mudah, namun bersilat mata, kurasa butuh keahlian khusus. Ya, jika kau pandai bersilat mata artinya kau sangat terampil dan mahir diatas silat lidah.
Aku menyukai orang dari kelebat mata. Eye contact. Kesan pertama dimulai selalu lewat mata yang berbicara. Menilik ulang yang terdahulu pun tak lepas dari bagaimana pola mata dalam bertutur. Jadi benar jika ada istilah cinta datang dari mata turun ke hati...
Tak perduli apakah bentuk mata sipit, belo atau pun biasa saja, namun makna pergerakan mata menegaskan bagaimana karakter si pemilik.
Monday, April 25, 2011
Just Do It!
Dapat semboyan semangat baru: MELAKUKAN or Just Do It!
Aku akhirnya memberanikan diri melempar "penyakit" kronisku untuk dikritisi bersama. Maklum, selama ini hanya bergelantungan di otakku semata dan pemikiran pribadi tentang ke-Pasif- PDKT in cewek. Meski tahu pasti semua kendali akan kembali pada diriku sendiri, bagaimana aku akan keluar dari situ atau tetap merasa nyaman dalam Pasif Permanen tsb.
Just Do It! Berpikir sebelum melakukan itu patut, tapi memang jadi tak patut ketika salah satu gejala penyakit kronisku kemudian menjangkit duluan, kebanyakan mikir! Then No Action, just stuck, no step forward, no step backward, but not a coward, I just had complicated brain to made decision. Melakukan, its what I am supposed to do, but that doesn't easy for me to do, but I do promise, I keep trying on it!
Interval pengalaman masa lalu ditambah karakter yang sudah melekat sejak dulu memang tak akan semudah membalik telapak tangan tuk dirubah. Ya, teringat perumpamaan aku lah yang punya otoritas penuh apakah aku akan gantung sepatu atau melakukan tendangan meski dengan risiko meleset, atau pun kelamaan mikir sebelum nendang...
I hope, I just do it, soon... *Seems not easy, but I have to!
Aku akhirnya memberanikan diri melempar "penyakit" kronisku untuk dikritisi bersama. Maklum, selama ini hanya bergelantungan di otakku semata dan pemikiran pribadi tentang ke-Pasif- PDKT in cewek. Meski tahu pasti semua kendali akan kembali pada diriku sendiri, bagaimana aku akan keluar dari situ atau tetap merasa nyaman dalam Pasif Permanen tsb.
Just Do It! Berpikir sebelum melakukan itu patut, tapi memang jadi tak patut ketika salah satu gejala penyakit kronisku kemudian menjangkit duluan, kebanyakan mikir! Then No Action, just stuck, no step forward, no step backward, but not a coward, I just had complicated brain to made decision. Melakukan, its what I am supposed to do, but that doesn't easy for me to do, but I do promise, I keep trying on it!
Interval pengalaman masa lalu ditambah karakter yang sudah melekat sejak dulu memang tak akan semudah membalik telapak tangan tuk dirubah. Ya, teringat perumpamaan aku lah yang punya otoritas penuh apakah aku akan gantung sepatu atau melakukan tendangan meski dengan risiko meleset, atau pun kelamaan mikir sebelum nendang...
I hope, I just do it, soon... *Seems not easy, but I have to!
Sunday, April 24, 2011
Berondong _Maning_
Entahlah, kata berondong kali ini sama seperti sebelumnya, multitafsir!
Berondong jagung, tentu bukan itu. Terlibat perasaan dengan perempuan belasan. Dan kembali, tak datang satu demi satu, selayak hamburan peluru terlepas seluruhnya dari selongsongnya.
"Pas sepi, sepi banget, giliran dateng, barengan!" ujar tetangga sebelah kamar, bukan untuk pertama kalinya.
Ya ya ya sesuai ramalan, tahun ini Aries akan banyak bertemu orang-orang baru silih berganti, mau percaya atau tidak, memang begitulah yang terjadi. Fluktuasi ini tak terindahkan. Dalam sehari kadang bisa hambar, senyum, ragu, pasif dan degupan hingar bingar hati ber-roleplay sedemikian cepat. Di saat yang bersamaan bibir mampu memamerkan setetes senyuman dan kerutan.
Dan kali ini sepertinya musim berondong! Teringat nasihat teman untuk melewati ini hanya sebagai tahap guyonan hidup dan anjuran tetangga sebelah kamar untuk tetap menikmati saja tanpa perlu tuk pikir panjang ke depan. Ya, serenyah berondong dengan variasi rasanya, sepertinya ya, lebih akan memaknainya selayak makanan ringan kriuk2 tak mengenyangkan namun melekat di lidah. Yup, that was berondong!
Berondong jagung, tentu bukan itu. Terlibat perasaan dengan perempuan belasan. Dan kembali, tak datang satu demi satu, selayak hamburan peluru terlepas seluruhnya dari selongsongnya.
"Pas sepi, sepi banget, giliran dateng, barengan!" ujar tetangga sebelah kamar, bukan untuk pertama kalinya.
Ya ya ya sesuai ramalan, tahun ini Aries akan banyak bertemu orang-orang baru silih berganti, mau percaya atau tidak, memang begitulah yang terjadi. Fluktuasi ini tak terindahkan. Dalam sehari kadang bisa hambar, senyum, ragu, pasif dan degupan hingar bingar hati ber-roleplay sedemikian cepat. Di saat yang bersamaan bibir mampu memamerkan setetes senyuman dan kerutan.
Dan kali ini sepertinya musim berondong! Teringat nasihat teman untuk melewati ini hanya sebagai tahap guyonan hidup dan anjuran tetangga sebelah kamar untuk tetap menikmati saja tanpa perlu tuk pikir panjang ke depan. Ya, serenyah berondong dengan variasi rasanya, sepertinya ya, lebih akan memaknainya selayak makanan ringan kriuk2 tak mengenyangkan namun melekat di lidah. Yup, that was berondong!
Saturday, April 23, 2011
Nama, Rambut dan Wajah yang Berjenis Kelamin
Nama
Ini yang barusan saja aku alami, dan bukan pertama kali, sudah kesekian jadi aku tak terkejut.
Namaku Alvi. Kasus yang baru aku alami adalah aku mengirim sms pada seorang mahasiswa yang hendak melakukan penelitian. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, pada balasan smsnya, perempuan yang memang belum pernah sekalipun bertemu muka denganku itu langsung memanggil dengan sebutan "Mas". Aku yang sudah terbiasa, tak begitu mempermasalahkan, bahkan tidak melakukan pembenaran dengan berkata saya perempuan atau saya "Mbak". Sama dengannya nanti aku juga akan mengklasifikasi.
Sms kedua yang kian mengukuhkan panggilan "Mas" itu hanya membuatku sedikit tersenyum membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya ketika berhadapan muka dengan "Mas" Alvi...
Rambut
Potongan rambut pendek identik dengan laki-laki dan dipanggil Mas. Kalau ini juga sudah tak terhitung berapa kali menimpaku. Di warung bakso, di Pom Bensin, di Mall, tempat parkir, nyaris semua tempat mempunyai orang-orang dengan pola konstruksi otak yang sama: rambut pendek di panggil Mas!
Teman yang bersamaku selalu tertawa tiap kali jalan denganku dan ada yang manggil Mas. Pernah ada kejadian lucu, waktu itu di Sunday Morning UGM, aku dan dua teman berjilbab sedang makan pagi usai berkeliling cuci mata. Datanglah segerombolan pengamen waria bernyanyi, aku lalu mengulurkan secarik rupiah. Sambil berlalu kami mendengar salah satu dari mereka menggumam sinis: "Itu laki apa perempuan seh?!!"
Aku hanya dengar, tak menanggapi, cuma si temanku balas bergumam sedikit emosi: "Lha elo apa, laki apa perempuan? Kok nanya orang lain, wong dirinya sendiri juga nggak jelas!"
Aku kembali tersenyum dan tak komentar. Karena di belakang tadi rombongan itu sudah melirik sinis sembari mencibir: Ihh Lesbo!
Dalam hati hanya batin: Orang-orang yang belum selesai dengan pemahaman gender bahkan untuk berkaca pada dirinya sendiri. (Hello LGBTIQ, we are one!! Kalau ini sebuah pertanyaan dengan nada biasa aja mungkin tak ada yang mempersalahkan, tapi ia berkata dengan nada sinis seolah merendahkan. Mempreseden buruk orang lain padahal berada pada kondisi dan memperjuangkan hal yang sama).
Balik soal potongan rambut yang berjenis kelamin, yang bikin lucu adalah ekspresi mereka ketika aku kemudian mengeluarkan suara. Ada yang buru-buru meralat dengan manggil Mbak, ada yang cuek habis tadi manggil Mas trus manggil Mbak, ada yang ketawa menertawakan kekonyolan memanggilku Mas setelah tau suaraku Mbak. Lucu melihat kesibukan mereka heboh sendiri soal Mbak atau Mas!
Bahkan pernah gara-gara potongan rambut pendek ini aku diusir dari gerbong perempuan di Prameks. Konstruksi otak yang entah kapan akan bisa dirubah karena sepertinya sudah kadung massal dan turun temurun!
Wajah
Ini lain lagi ceritanya... Waktu itu aku hendak beli koran. Tanpa mencopot helm, aku memasuki kios. Usai memilih-milih koran yang hendak kubeli, aku menyodorkannya ke depan si penjual untuk dihitung. Sembari menghitung ia tak berhenti menatapku dari atas ke bawah dari bawah ke atas. Aku mengernyitkan alis dan bertanya: "Ada apa Mas?"
"Mbaknya ini Mas atau Mbak sih?"
Pertanyaan yang konyol, bukan? Sudah manggil Mbak tapi masih mempertanyakan Mas atau Mbak.
Aku hanya melengos dan mencopot helm. "Kalau gini?"
"Ya kayaknya sih Mbak?"
Hahaha aku sedang tak ingin meneruskan perdebatan Mas Mbak dengannya, juga menjawab atau meyakinkan Mas atau Mbak. Hanya merasa aneh, jual koran untuk dibeli korannya, bukan malah mempersoalkan pembelinya Mas atau Mbak, bukan?
Kadang ada yang bilang padaku: "Halah, wong kamu seneng aja dipanggil Mas!" dan ada yang malah kuatir: "Kamu nyaman nggak dipanggil Mas? Aku harus panggil apa?"
Hmm, bagiku bukan masalah senang tak senang, nyaman tak nyaman, karena Mas atau Mbak hanya bentukan masyarakat yang massal itu, kalau ikutan melabeli sama aja dengan mereka. Hanya tak suka saja jika nama, potongan rambut dan wajah dijenis kelamin kan. Apa-apa kok ujung2nya berkelamin!
Menghilangkan stereotipe memang tak akan mudah, hanya saja jangan melakukan pelabelan untuk merendahkan atau untuk sesuatu yang nggak penting buat ditanyakan!
Ini yang barusan saja aku alami, dan bukan pertama kali, sudah kesekian jadi aku tak terkejut.
Namaku Alvi. Kasus yang baru aku alami adalah aku mengirim sms pada seorang mahasiswa yang hendak melakukan penelitian. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, pada balasan smsnya, perempuan yang memang belum pernah sekalipun bertemu muka denganku itu langsung memanggil dengan sebutan "Mas". Aku yang sudah terbiasa, tak begitu mempermasalahkan, bahkan tidak melakukan pembenaran dengan berkata saya perempuan atau saya "Mbak". Sama dengannya nanti aku juga akan mengklasifikasi.
Sms kedua yang kian mengukuhkan panggilan "Mas" itu hanya membuatku sedikit tersenyum membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya ketika berhadapan muka dengan "Mas" Alvi...
Rambut
Potongan rambut pendek identik dengan laki-laki dan dipanggil Mas. Kalau ini juga sudah tak terhitung berapa kali menimpaku. Di warung bakso, di Pom Bensin, di Mall, tempat parkir, nyaris semua tempat mempunyai orang-orang dengan pola konstruksi otak yang sama: rambut pendek di panggil Mas!
Teman yang bersamaku selalu tertawa tiap kali jalan denganku dan ada yang manggil Mas. Pernah ada kejadian lucu, waktu itu di Sunday Morning UGM, aku dan dua teman berjilbab sedang makan pagi usai berkeliling cuci mata. Datanglah segerombolan pengamen waria bernyanyi, aku lalu mengulurkan secarik rupiah. Sambil berlalu kami mendengar salah satu dari mereka menggumam sinis: "Itu laki apa perempuan seh?!!"
Aku hanya dengar, tak menanggapi, cuma si temanku balas bergumam sedikit emosi: "Lha elo apa, laki apa perempuan? Kok nanya orang lain, wong dirinya sendiri juga nggak jelas!"
Aku kembali tersenyum dan tak komentar. Karena di belakang tadi rombongan itu sudah melirik sinis sembari mencibir: Ihh Lesbo!
Dalam hati hanya batin: Orang-orang yang belum selesai dengan pemahaman gender bahkan untuk berkaca pada dirinya sendiri. (Hello LGBTIQ, we are one!! Kalau ini sebuah pertanyaan dengan nada biasa aja mungkin tak ada yang mempersalahkan, tapi ia berkata dengan nada sinis seolah merendahkan. Mempreseden buruk orang lain padahal berada pada kondisi dan memperjuangkan hal yang sama).
Balik soal potongan rambut yang berjenis kelamin, yang bikin lucu adalah ekspresi mereka ketika aku kemudian mengeluarkan suara. Ada yang buru-buru meralat dengan manggil Mbak, ada yang cuek habis tadi manggil Mas trus manggil Mbak, ada yang ketawa menertawakan kekonyolan memanggilku Mas setelah tau suaraku Mbak. Lucu melihat kesibukan mereka heboh sendiri soal Mbak atau Mas!
Bahkan pernah gara-gara potongan rambut pendek ini aku diusir dari gerbong perempuan di Prameks. Konstruksi otak yang entah kapan akan bisa dirubah karena sepertinya sudah kadung massal dan turun temurun!
Wajah
Ini lain lagi ceritanya... Waktu itu aku hendak beli koran. Tanpa mencopot helm, aku memasuki kios. Usai memilih-milih koran yang hendak kubeli, aku menyodorkannya ke depan si penjual untuk dihitung. Sembari menghitung ia tak berhenti menatapku dari atas ke bawah dari bawah ke atas. Aku mengernyitkan alis dan bertanya: "Ada apa Mas?"
"Mbaknya ini Mas atau Mbak sih?"
Pertanyaan yang konyol, bukan? Sudah manggil Mbak tapi masih mempertanyakan Mas atau Mbak.
Aku hanya melengos dan mencopot helm. "Kalau gini?"
"Ya kayaknya sih Mbak?"
Hahaha aku sedang tak ingin meneruskan perdebatan Mas Mbak dengannya, juga menjawab atau meyakinkan Mas atau Mbak. Hanya merasa aneh, jual koran untuk dibeli korannya, bukan malah mempersoalkan pembelinya Mas atau Mbak, bukan?
Kadang ada yang bilang padaku: "Halah, wong kamu seneng aja dipanggil Mas!" dan ada yang malah kuatir: "Kamu nyaman nggak dipanggil Mas? Aku harus panggil apa?"
Hmm, bagiku bukan masalah senang tak senang, nyaman tak nyaman, karena Mas atau Mbak hanya bentukan masyarakat yang massal itu, kalau ikutan melabeli sama aja dengan mereka. Hanya tak suka saja jika nama, potongan rambut dan wajah dijenis kelamin kan. Apa-apa kok ujung2nya berkelamin!
Menghilangkan stereotipe memang tak akan mudah, hanya saja jangan melakukan pelabelan untuk merendahkan atau untuk sesuatu yang nggak penting buat ditanyakan!
Friday, April 22, 2011
Wajahmu Serupa...
Menautkan satu demi satu wajahmu dalam sebuah bingkai, aku mulai meredefinisi wajahmu mirip seseorang, tapi siapa... Sangat familiar di ingatanku... Dan ternyata potret kembaranmu itu memang sudah ada di laptop. Ya, ternyata wajahmu serupa pemain bulutangkis nomer wahid China setahun lalu. Dan aku pun ngefans ama neh atlet, makanya kemarin ketika dipertemukan denganmu, sepertinya sudah sangat mengenal wajahmu.
Hmm, kebiasaanku mungkin ya, menyamakan wajah hahaha benar sih karena hampir tiap orang yang kukenal selalu tak luput dari kata "Eh, sepertinya kamu mirip si Ini deh!". Bahkan saking seringnya begitu ada pihak yang komplain: "Kayaknya gak mirip deh!" atau "Apanya yang mirip?" Ya bagiku mirip kan tak harus seratus persen, cukup sekali lihat saja hehehe
Beralih pada si kembaran atlet, ya ia memang tak seputih langsat si atlet, tapi mungil bibir, bingkai senyum, dan bentuk wajahnya nyaris mirip. Tapi sekali lagi ini hanya subyektifitasku saja. Aku sih percaya tiap orang punya "kembaran" di muka bumi, tak harus identik, paling tidak serupa lah. Atau paling tidak keberuntungannya serupa si Wang Yi Han, pemain bulutangkis nomor wahid itu lah!
Hmm, kebiasaanku mungkin ya, menyamakan wajah hahaha benar sih karena hampir tiap orang yang kukenal selalu tak luput dari kata "Eh, sepertinya kamu mirip si Ini deh!". Bahkan saking seringnya begitu ada pihak yang komplain: "Kayaknya gak mirip deh!" atau "Apanya yang mirip?" Ya bagiku mirip kan tak harus seratus persen, cukup sekali lihat saja hehehe
Beralih pada si kembaran atlet, ya ia memang tak seputih langsat si atlet, tapi mungil bibir, bingkai senyum, dan bentuk wajahnya nyaris mirip. Tapi sekali lagi ini hanya subyektifitasku saja. Aku sih percaya tiap orang punya "kembaran" di muka bumi, tak harus identik, paling tidak serupa lah. Atau paling tidak keberuntungannya serupa si Wang Yi Han, pemain bulutangkis nomor wahid itu lah!
Thursday, April 21, 2011
Simple Crush...
Perasaan dapat bersemi dengan sangat mudah. Berbekal lirikan mata, senyuman tipis dan gurauan basi. Bukan cinta mungkin, kesan pertama yang kemudian menentukan segalanya...
Hmm, tampaknya terlampau sering merasakan hal diatas. Hanya semudah itu naksir seseorang! Memeliharanya saja yang bukan hal mudah.
From a simple crush I knew this feeling and simply named it as a crush. And what I do then is try to redefine, is it truly crush? Or I just get locked on your shy smile?
Hmm, tampaknya terlampau sering merasakan hal diatas. Hanya semudah itu naksir seseorang! Memeliharanya saja yang bukan hal mudah.
From a simple crush I knew this feeling and simply named it as a crush. And what I do then is try to redefine, is it truly crush? Or I just get locked on your shy smile?
Wednesday, April 20, 2011
Sedang Sedikit Gila: Pedofilia
Hmm, maaf kalau judul diatas agak menakutkan.... Bukan pedofilia dalam arti sebenarnya!
Hari ini, lembaga tempatku bekerja mengadakan workshop tentang HAM untuk pelajar SMU. Pasti sudah bisa menebak kemana arah tulisan ini, bukan? Ya ya ya cinlok lagi cinlok lagi hahaha sepertinya jadi semacam tradisi buatku ya? Hmm, tapi ini tak disengaja, bahkan nyaris luput dari mata. Benar, menginjakkan kaki di areal pemancingan ini tak membuat mataku lantas berseliweran, maklum anak belum genap tujuh belas tahun, tak ada di pikiran apapun bentuknya. Meski tak dipungkiri beberapa bulan lalu terlibat affair dengan bocah SMU yang sampai detik ini belum berakhir manis.
Kembali ke acara, sumpah tak sekali pun mataku pecicilan, murni menotulen. Hingga saat kelompok tiga puluhan siswa ini dibagi dua untuk lebih fokus. Sama seperti niatan awal, aku hanya terlibat meng-arrange suasana dan memotret. Dalam grup lima belasan anak begini lebih mudah meng-arrange nya. Dan saat itulah secara tak sengaja mataku bersirobok pandang dengan perempuan berambut panjang mengenakan kaos putih dan celana jeans. Sekali bertatap bagiku masih lumrah, tapi kemudian dua, tiga dan entah sampai berapa kali mata kami bertemu, itu tidak biasa! Dan kebiasaanku ketika mendapati perempuan dengan pola seperti itu adalah menatapnya, kuhitung berapa kali ia akan curi-curi pandang hohoho dan saat mata kami berpapasan lalu ia mengalihkan pandang adalah saat hatiku cekikikan.
"Lucu juga perempuan satu ini!"
Seterusnya ia menunduk ketika beberapa kali lensa mengarah padanya. Namun lensa mataku masih kerap memergoki ia mencuri pandang dan ketika beradu ia cepat-cepat mengalihkan mata. Dasar bandel, aku memusatkan mata padanya, berbeda dengan di awal kali ini tiap bentrok mata ia barengi dengan senyum tipis. Hahay gotcha!
Aktivitas demi aktivitas berselang mengiring kontak mata yang berulang. Aku bahkan menjejerinya beberapa kali. Menikmati senyum dan tawa renyah guyonanku. Bahkan mengerjainya dengan pertanyaan menjebak. Namun satu hal yang belum kuketahui adalah NAMANYA. Nametack nya tertutup oleh rambut yang tak sedikitpun ia kibaskan. Perburuan nama berakhir ketika agak siangan ia mengangkat rambut sebelah kiri yang membuat namanya tertera jelas. Mencarinya di daftar presensi yang kulakukan kemudian.
Akibat kejahilanku, ia menjadi salah satu yang terhukum. Joget ala Briptu Norman. Mendorong bahunya untuk menari. Ia tampak kaku dan malu.
Serasa kembali ke jaman ABG, kontak mata yang terus berulang. Lucunya, ketika aku iseng menaruh nametack teman2nya di sebuah mug, ia mencopot nametacknya memainkan di jemari. Dont know what its mean, but I just laugh and laugh inside.
Foto bersama. Adegan ini yang paling membahanakan hati. Ketika satu persatu berbaris untuk foto, aku mematungkan tubuh di pinggir sembari berkata dalam hati: "Jika feelingku seharian ini benar, maka perempuan itu akan mengambil posisi di sampingku ketik berfoto!" Belum sempat menutup mulut, Tuhan mengabulkan gumamanku! Ketika perempuan itu bergerak mencari posisi, aku tetap mematungkan tubuh, aku berjanji dalam hati tak akan mengekornya. Dan ia mengambil posisi TEPAT di sampingku. Sorak sorai hati hahahaha. Tak terhitung berapa kali jepretan, ia tak beranjak atau berinisiatif pindah dari sisiku. Kejahilanku meradang hehehe menempelkan bahuku di punggungnya, gesekan-gesekan jahil tak menyurutkan tubuhnya yang sedikit membungkuk beralih bahkan bergeser sesenti pun. Aku bukan tengah mencari kesempatan, hanya saja otak jahilku tak berhenti bekerja. Jauh-jauh mikir, this is not for sex, apalagi pelecehan, aku hanya ingin tau bagaimana ia akan merespon.
Makan siang. Kembali menjajarinya di deretan minuman. Obrolan kecil tercipta disini. Basa basi, meski tak pintar, hanya berusaha mengajaknya bicara dan bercanda. Ia berujar pada temannya untuk menyilahkanku mengambil minum. Pun ketika prasmanan, berada tepat di depannya.
Bukan sengaja, hanya memang ingin menggoda, mengetahui porsi makannya. Ia agak grogi disini. Gestur tubuhnya tak bisa berbohong. Ketika kemudian ia mengekor temannya menuju arah yang berbeda denganku, masih sempat kupergoki tatapannya. Dan hatiku tak berhenti tersenyum.
Obrolan, kontak mata, berbalas senyum, GOD aku selayak seusianya! Sehari yang penuh warna! Ya, setiap tempat menghadirkan cerita... Cinta lokasi? Kembali batasan otak kubangun. I just enjoying knowing u, this eyes contact, smile and the way u look at me...
Aku masih percaya ungkapan, kalau jodoh tak lari kemana!!! Ya, benar, sedang getol menemukan belahan jiwa, tanpa pernah tau perempuan itu akan sepantaran denganku, lebih tua atau jauh lebih muda, asalkan berpikiran dewasa, karena kedewasaan tak bisa terpampang dari tua muda usia. Aku sedang berupaya penuh tak membatasi otak dan hati untuk masalah usia, dan esensialis lainnya.
Love is about Chance, Chemistry, Choice, Courage and Chitato -Life is never flat-... Dont build any border coz I would never know who's the girl that sent it from above for me... Ketika berjodoh dengan perempuan yang usianya separuh dibawah usiaku, its not called pedofilia, begitu juga ketika merasakan chemistry dengan perempuan usianya diatasku, its not about oedipus complex, but its heart sign might this is the one for me... So, enjoy whatever my feeling take me through... Right?
Hari ini, lembaga tempatku bekerja mengadakan workshop tentang HAM untuk pelajar SMU. Pasti sudah bisa menebak kemana arah tulisan ini, bukan? Ya ya ya cinlok lagi cinlok lagi hahaha sepertinya jadi semacam tradisi buatku ya? Hmm, tapi ini tak disengaja, bahkan nyaris luput dari mata. Benar, menginjakkan kaki di areal pemancingan ini tak membuat mataku lantas berseliweran, maklum anak belum genap tujuh belas tahun, tak ada di pikiran apapun bentuknya. Meski tak dipungkiri beberapa bulan lalu terlibat affair dengan bocah SMU yang sampai detik ini belum berakhir manis.
Kembali ke acara, sumpah tak sekali pun mataku pecicilan, murni menotulen. Hingga saat kelompok tiga puluhan siswa ini dibagi dua untuk lebih fokus. Sama seperti niatan awal, aku hanya terlibat meng-arrange suasana dan memotret. Dalam grup lima belasan anak begini lebih mudah meng-arrange nya. Dan saat itulah secara tak sengaja mataku bersirobok pandang dengan perempuan berambut panjang mengenakan kaos putih dan celana jeans. Sekali bertatap bagiku masih lumrah, tapi kemudian dua, tiga dan entah sampai berapa kali mata kami bertemu, itu tidak biasa! Dan kebiasaanku ketika mendapati perempuan dengan pola seperti itu adalah menatapnya, kuhitung berapa kali ia akan curi-curi pandang hohoho dan saat mata kami berpapasan lalu ia mengalihkan pandang adalah saat hatiku cekikikan.
"Lucu juga perempuan satu ini!"
Seterusnya ia menunduk ketika beberapa kali lensa mengarah padanya. Namun lensa mataku masih kerap memergoki ia mencuri pandang dan ketika beradu ia cepat-cepat mengalihkan mata. Dasar bandel, aku memusatkan mata padanya, berbeda dengan di awal kali ini tiap bentrok mata ia barengi dengan senyum tipis. Hahay gotcha!
Aktivitas demi aktivitas berselang mengiring kontak mata yang berulang. Aku bahkan menjejerinya beberapa kali. Menikmati senyum dan tawa renyah guyonanku. Bahkan mengerjainya dengan pertanyaan menjebak. Namun satu hal yang belum kuketahui adalah NAMANYA. Nametack nya tertutup oleh rambut yang tak sedikitpun ia kibaskan. Perburuan nama berakhir ketika agak siangan ia mengangkat rambut sebelah kiri yang membuat namanya tertera jelas. Mencarinya di daftar presensi yang kulakukan kemudian.
Akibat kejahilanku, ia menjadi salah satu yang terhukum. Joget ala Briptu Norman. Mendorong bahunya untuk menari. Ia tampak kaku dan malu.
Serasa kembali ke jaman ABG, kontak mata yang terus berulang. Lucunya, ketika aku iseng menaruh nametack teman2nya di sebuah mug, ia mencopot nametacknya memainkan di jemari. Dont know what its mean, but I just laugh and laugh inside.
Foto bersama. Adegan ini yang paling membahanakan hati. Ketika satu persatu berbaris untuk foto, aku mematungkan tubuh di pinggir sembari berkata dalam hati: "Jika feelingku seharian ini benar, maka perempuan itu akan mengambil posisi di sampingku ketik berfoto!" Belum sempat menutup mulut, Tuhan mengabulkan gumamanku! Ketika perempuan itu bergerak mencari posisi, aku tetap mematungkan tubuh, aku berjanji dalam hati tak akan mengekornya. Dan ia mengambil posisi TEPAT di sampingku. Sorak sorai hati hahahaha. Tak terhitung berapa kali jepretan, ia tak beranjak atau berinisiatif pindah dari sisiku. Kejahilanku meradang hehehe menempelkan bahuku di punggungnya, gesekan-gesekan jahil tak menyurutkan tubuhnya yang sedikit membungkuk beralih bahkan bergeser sesenti pun. Aku bukan tengah mencari kesempatan, hanya saja otak jahilku tak berhenti bekerja. Jauh-jauh mikir, this is not for sex, apalagi pelecehan, aku hanya ingin tau bagaimana ia akan merespon.
Makan siang. Kembali menjajarinya di deretan minuman. Obrolan kecil tercipta disini. Basa basi, meski tak pintar, hanya berusaha mengajaknya bicara dan bercanda. Ia berujar pada temannya untuk menyilahkanku mengambil minum. Pun ketika prasmanan, berada tepat di depannya.
Bukan sengaja, hanya memang ingin menggoda, mengetahui porsi makannya. Ia agak grogi disini. Gestur tubuhnya tak bisa berbohong. Ketika kemudian ia mengekor temannya menuju arah yang berbeda denganku, masih sempat kupergoki tatapannya. Dan hatiku tak berhenti tersenyum.
Obrolan, kontak mata, berbalas senyum, GOD aku selayak seusianya! Sehari yang penuh warna! Ya, setiap tempat menghadirkan cerita... Cinta lokasi? Kembali batasan otak kubangun. I just enjoying knowing u, this eyes contact, smile and the way u look at me...
Aku masih percaya ungkapan, kalau jodoh tak lari kemana!!! Ya, benar, sedang getol menemukan belahan jiwa, tanpa pernah tau perempuan itu akan sepantaran denganku, lebih tua atau jauh lebih muda, asalkan berpikiran dewasa, karena kedewasaan tak bisa terpampang dari tua muda usia. Aku sedang berupaya penuh tak membatasi otak dan hati untuk masalah usia, dan esensialis lainnya.
Love is about Chance, Chemistry, Choice, Courage and Chitato -Life is never flat-... Dont build any border coz I would never know who's the girl that sent it from above for me... Ketika berjodoh dengan perempuan yang usianya separuh dibawah usiaku, its not called pedofilia, begitu juga ketika merasakan chemistry dengan perempuan usianya diatasku, its not about oedipus complex, but its heart sign might this is the one for me... So, enjoy whatever my feeling take me through... Right?
Sunday, April 17, 2011
Kenalan dan PDKT
Hmm, dua hal diatas spontan mengingatkanku akan masa muda. Namun bukan berarti sekarang merasa tua, meski jelang sehari lagi usia sudah beralih setahun jelang tiga puluh. Dan tak sedang ingin membahas usia pula...
Sudah dua kali malam Minggu ada kesibukan baru, chatting bersama. Menemukan kekasih lewat dunia maya, sepertinya hampir semua perjalanan cintaku berawal dari sana. Kenal lewat chat/milis, bertemu dan bersama. Karenanya, ketika di usia segini mendapati pemodelan kenalan yang sama, aku serasa kembali ke masa muda. Dan oleh karenanya pula, tak bisa disalahkan kalau aku sudah lupa tata caranya hehehehe
Yap, PDKT, aku benar-benar sudah lupa caranya! Apalagi pemikiran sudah bergeser, malas berbasa basi demi meraih hati! Tak adakah cara lain? Atau bisa kah tak melewati fase itu? Sepertinya tidak! Meski dianggap konvensional di era canggih seperti saat ini pun rasa-rasanya tahapan berelasi harus melewati masa PDKT. Jadi bagaimana aku menolong diriku sendiri dalam hal ini??? Bayangkan, hati saja ada rumusnya.
Sudah dua kali malam Minggu ada kesibukan baru, chatting bersama. Menemukan kekasih lewat dunia maya, sepertinya hampir semua perjalanan cintaku berawal dari sana. Kenal lewat chat/milis, bertemu dan bersama. Karenanya, ketika di usia segini mendapati pemodelan kenalan yang sama, aku serasa kembali ke masa muda. Dan oleh karenanya pula, tak bisa disalahkan kalau aku sudah lupa tata caranya hehehehe
Yap, PDKT, aku benar-benar sudah lupa caranya! Apalagi pemikiran sudah bergeser, malas berbasa basi demi meraih hati! Tak adakah cara lain? Atau bisa kah tak melewati fase itu? Sepertinya tidak! Meski dianggap konvensional di era canggih seperti saat ini pun rasa-rasanya tahapan berelasi harus melewati masa PDKT. Jadi bagaimana aku menolong diriku sendiri dalam hal ini??? Bayangkan, hati saja ada rumusnya.
Friday, April 15, 2011
Buruan Cari Pacar!
April ini mungkin menjadi bulan tersibuk sepanjang tahun yang sudah terjalani ini. Betapa tidak, schedule kerja yang membludak tak bisa dibedakan antara jam kerja dan diluar kerja. Aku malah pernah pasang status fb, andai sehari 48 jam... Ya, 24 jam terasa pendek, hari sudah berganti, padahal sepertinya seharian tak melakukan apapun. Hmm, waktu yang singkat atau aku yang tak melakukan apapun? Entah, sukar mencari jawab!
Diantara kesibukan itu, ada seorang teman kantor yang getol banget mencibir, terutama ketika aku tak pergi pulang padahal usai jam kerja, alias masih betah ngendon di kantor. Awal2 cibirannya adalah tentang pegawai teladan, meski ia tau itu bukan tujuanku tak segera pulang. Dan kata terakhir dalam pembicaraan di telepon dengan si teman ini terngiang di telingaku:
"Buruan cari pacar, biar nggak terlalu sibuk cuma ngurusin kerjaan!"
Aku mendadak tercekat. "Asem!!" umpatku yang membuat perempuan hamil besar di seberang sana ngakak berat.
Usai gagang telepon tertaruh di tempat semula, kalimat itu seakan menjadi reminder di otakku. "Cari Pacar!". Teman tsb aku sangat yakin tak sekedar berolok, ia tahu betul keruwetan kerjaku akhir-akhir ini. Dan untuk cari pacar, jelas bukan karena terdorong oleh padatnya pekerjaan, karena sedari dulu juga sudah tergerak menemukan kekasih yang bukan hanya pacar tetapi juga belahan jiwa, but unfortunately saya belum beruntung. Dan saya tak hendak mengulang ocehan kompleksitas internal errorku sendiri. Namun reminder otak itu layak dipertimbangkan, segera cari pacar, tapi bukan tuk pengalih pekerjaan. Penyempurna hidup...
Wish I could find it soon... Hmm... Belum lagi hilang reminder buruan cari pacar oleh teman kantor, seorang teman juga asyik mengoprek perjalanan kisah menclak menclokku. Ia bertanya bukan ingin mencampuri internalku. Aku yakin maksud dia adalah sama dengan teman kantor, memastikan aku memilih dari kisah menclak menclokku atau paling tidak fokus pada satu perempuan untuk diraih. Dan jawabanku tetap sama, MENCLAK MENCLOK!
Aku ngakak ketika ia menjulukiku "cah loro" (orang sakit). Bukan karena bangga menclak menclok tapi urusan hati ini ternyata lebih ruwet ketimbang pekerjaan yang menggunung. Bayangkan, di hati memang satu yang diingini tapi logikanya tak mungkin bersama orang yang kita inginkan. Apalagi hati belum mau cerai memendam rasa yang sudah tahu tak teraih. Ditambah otak juga ikut-ikutan membunuh logika dan terus saja memfantasi.
Wah, semoga saja tak kelamaan dibelit rasa seperti ini. Bisa gaswat kalo hati dan logika membelot tak mau diatur. Dan bagaimana bisa mengisi hati dengan yang lain kalau begini caranya, bukan?
Sebenarnya simple, ini pemikiran saya diantara keruwetan hati dan pikiran, kalau aku dipertemukan dengan seseorang yang klik lahir batin, aku yakin seratus persen keruwetan ini akan terakhiri, bukan karena aku tak sungguh2 hati pada si "ruwet" ini atau hanya pengalihan pada si "click" ini. Hanya saja, ketika menemukan orang yang tepat, ingatan dan hatiku akan tak berhenti untuk mencari celah berharmoni bersama...
Andai si "mata nakal" yang "ruwet" ini adalah orang yang tepat. Namun aku menyadari ia hanya berbatas pengandaianku saja... Kembali karena aku tak tahu jawaban alam, isi otaknya dan aku yang tak berusaha meraih serta mencari tahu hatinya. Aku mungkin terlalu sibuk berasumsi, tapi feelingku mengatakan, cukup jadi pengandaianku saja!
So, I think they are right, buruan cari pacar! Ada yang bersedia membantu? *LoL* Atau kau yang disana, segera lah menghampiri, aku terlalu payah untuk jadi orang yang aktif dan mendekat dengan basa basi manis. *D'passive mode on.
Diantara kesibukan itu, ada seorang teman kantor yang getol banget mencibir, terutama ketika aku tak pergi pulang padahal usai jam kerja, alias masih betah ngendon di kantor. Awal2 cibirannya adalah tentang pegawai teladan, meski ia tau itu bukan tujuanku tak segera pulang. Dan kata terakhir dalam pembicaraan di telepon dengan si teman ini terngiang di telingaku:
"Buruan cari pacar, biar nggak terlalu sibuk cuma ngurusin kerjaan!"
Aku mendadak tercekat. "Asem!!" umpatku yang membuat perempuan hamil besar di seberang sana ngakak berat.
Usai gagang telepon tertaruh di tempat semula, kalimat itu seakan menjadi reminder di otakku. "Cari Pacar!". Teman tsb aku sangat yakin tak sekedar berolok, ia tahu betul keruwetan kerjaku akhir-akhir ini. Dan untuk cari pacar, jelas bukan karena terdorong oleh padatnya pekerjaan, karena sedari dulu juga sudah tergerak menemukan kekasih yang bukan hanya pacar tetapi juga belahan jiwa, but unfortunately saya belum beruntung. Dan saya tak hendak mengulang ocehan kompleksitas internal errorku sendiri. Namun reminder otak itu layak dipertimbangkan, segera cari pacar, tapi bukan tuk pengalih pekerjaan. Penyempurna hidup...
Wish I could find it soon... Hmm... Belum lagi hilang reminder buruan cari pacar oleh teman kantor, seorang teman juga asyik mengoprek perjalanan kisah menclak menclokku. Ia bertanya bukan ingin mencampuri internalku. Aku yakin maksud dia adalah sama dengan teman kantor, memastikan aku memilih dari kisah menclak menclokku atau paling tidak fokus pada satu perempuan untuk diraih. Dan jawabanku tetap sama, MENCLAK MENCLOK!
Aku ngakak ketika ia menjulukiku "cah loro" (orang sakit). Bukan karena bangga menclak menclok tapi urusan hati ini ternyata lebih ruwet ketimbang pekerjaan yang menggunung. Bayangkan, di hati memang satu yang diingini tapi logikanya tak mungkin bersama orang yang kita inginkan. Apalagi hati belum mau cerai memendam rasa yang sudah tahu tak teraih. Ditambah otak juga ikut-ikutan membunuh logika dan terus saja memfantasi.
Wah, semoga saja tak kelamaan dibelit rasa seperti ini. Bisa gaswat kalo hati dan logika membelot tak mau diatur. Dan bagaimana bisa mengisi hati dengan yang lain kalau begini caranya, bukan?
Sebenarnya simple, ini pemikiran saya diantara keruwetan hati dan pikiran, kalau aku dipertemukan dengan seseorang yang klik lahir batin, aku yakin seratus persen keruwetan ini akan terakhiri, bukan karena aku tak sungguh2 hati pada si "ruwet" ini atau hanya pengalihan pada si "click" ini. Hanya saja, ketika menemukan orang yang tepat, ingatan dan hatiku akan tak berhenti untuk mencari celah berharmoni bersama...
Andai si "mata nakal" yang "ruwet" ini adalah orang yang tepat. Namun aku menyadari ia hanya berbatas pengandaianku saja... Kembali karena aku tak tahu jawaban alam, isi otaknya dan aku yang tak berusaha meraih serta mencari tahu hatinya. Aku mungkin terlalu sibuk berasumsi, tapi feelingku mengatakan, cukup jadi pengandaianku saja!
So, I think they are right, buruan cari pacar! Ada yang bersedia membantu? *LoL* Atau kau yang disana, segera lah menghampiri, aku terlalu payah untuk jadi orang yang aktif dan mendekat dengan basa basi manis. *D'passive mode on.
Wednesday, April 13, 2011
I Need a Girl, Titik!!!
Dadaku sedang bergemuruh. Ya, selayak ombak yang meninggi tapi aku tak hendak bercerita tentang itu, hmm hanya akan merusak mood menulisku saja. Mengungkap sisi lain hati yang sedang gundah. I need a girl!
Ya, sesuai judulnya, diantara gemuruh amarah, sepertinya aku "membutuhkan" peredam. Tapi bukan karena hanya alasan itu semata, I need the whole need from a woman, hanya jika dikonteks kan dengan kini yang sedang terjadi, ya pembunuh amarahku mungkin seorang perempuan yang meredakan, menyejukkan dan mempositifkan emosi negatifku akan lain hal. Meski tak menutup kemungkinan kadang partner malah menambah permasalahan yang sudah ada, but I'm sure, if your girl is a partner not your girlfriend, she will know how to treat u emotionally, psychologycally (gak tau aku ngarang istilah ini ada apa gak ya hehe semau gue, blog blog gue hehe).
Back to the topic, hati yang sedang panas ini sebetulnya cuma memerlukan penyejuk....
Ya, sesuai judulnya, diantara gemuruh amarah, sepertinya aku "membutuhkan" peredam. Tapi bukan karena hanya alasan itu semata, I need the whole need from a woman, hanya jika dikonteks kan dengan kini yang sedang terjadi, ya pembunuh amarahku mungkin seorang perempuan yang meredakan, menyejukkan dan mempositifkan emosi negatifku akan lain hal. Meski tak menutup kemungkinan kadang partner malah menambah permasalahan yang sudah ada, but I'm sure, if your girl is a partner not your girlfriend, she will know how to treat u emotionally, psychologycally (gak tau aku ngarang istilah ini ada apa gak ya hehe semau gue, blog blog gue hehe).
Back to the topic, hati yang sedang panas ini sebetulnya cuma memerlukan penyejuk....
Saturday, April 9, 2011
Sedang Hambar
Hmm, aku makin tak mengerti maunya otak, apalagi hati. Sudah mulai tak konsisten, menurutku. Entah kunilai dari sisi yang mana. Pola hati yang berulang... Suka, tergila-gila lalu mulai perlahan memudar. Akibat jalan di tempat, susah teraih dan tak ada usaha meraih. Kompleksitas yang juga berulang.
Mungkin bawaan sedang hambar saja jadinya makin ruwet isi pikiran dan maunya hati. Sedang tak ingin beranjak. Fluktuatif sedang tak bergejolak. Diam. Sejenak atau seterusnya? Belum mampu terjawab!
Mungkin bawaan sedang hambar saja jadinya makin ruwet isi pikiran dan maunya hati. Sedang tak ingin beranjak. Fluktuatif sedang tak bergejolak. Diam. Sejenak atau seterusnya? Belum mampu terjawab!
Monday, April 4, 2011
Memelihara Relasi
Topik sejak semalam adalah tentang memelihara relasi. Dua orang berelasi cukup lama, namun di tahun ini mengalami konflik/kejenuhan/perselingkuhan, entahlah apa masalah sebenarnya. Yang pasti sedang menuai problematika berelasi layaknya orang kebanyakan.
Aku jadi mikir! Ya, kebiasaan buruk, belum lagi kecemplung, malah mikir duluan. Mungkin memang mudah berpetuah, namun bagaimana ketika aku menjadi lakon didalamnya? Hmm, ketakutan berelasi kah? Atau aku terlalu enjoy seorang diri?
Kadang aku mencoba mencari jawab, diantara dua hal diatas mana yang lebih mewakili. Karena sepertinya cukup kompleks antara aku yang tak beranjak dari permasalahan internal dalam meraih hati seseorang, konflik atau problematika berelasi yang pasti akan dialami sehingga siklus akan berulang jomblo-PDKT-Jadian-Putus lagi, atau aku yang tengah menikmati posisi wuenak tak berelasi (a. ka menclak menclok gak jelas). Susah membahas soal relasi, padahal konsekuensi relasi terpapar dengan begitu mudahnya. Kalau mau berelasi ya telan saja konsekuensinya ke depan dan kalaupun memilih tak berelasi nikmati saja menjadi jomblo sejati. Lalu mana yang harus dipilih?
Sekali lagi bukan masalah pilihan, tapi pertimbangan apakah sudah siap berkonsekuensi berelasi pun melahap siklus PDKT-Jadian-Putus-Jomblo-Cari lagi yang mungkin terjadi dan berulang, dan bagiku masih bikin "ketakutan" (baca: malas) untuk dijalani.
Aku jadi mikir! Ya, kebiasaan buruk, belum lagi kecemplung, malah mikir duluan. Mungkin memang mudah berpetuah, namun bagaimana ketika aku menjadi lakon didalamnya? Hmm, ketakutan berelasi kah? Atau aku terlalu enjoy seorang diri?
Kadang aku mencoba mencari jawab, diantara dua hal diatas mana yang lebih mewakili. Karena sepertinya cukup kompleks antara aku yang tak beranjak dari permasalahan internal dalam meraih hati seseorang, konflik atau problematika berelasi yang pasti akan dialami sehingga siklus akan berulang jomblo-PDKT-Jadian-Putus lagi, atau aku yang tengah menikmati posisi wuenak tak berelasi (a. ka menclak menclok gak jelas). Susah membahas soal relasi, padahal konsekuensi relasi terpapar dengan begitu mudahnya. Kalau mau berelasi ya telan saja konsekuensinya ke depan dan kalaupun memilih tak berelasi nikmati saja menjadi jomblo sejati. Lalu mana yang harus dipilih?
Sekali lagi bukan masalah pilihan, tapi pertimbangan apakah sudah siap berkonsekuensi berelasi pun melahap siklus PDKT-Jadian-Putus-Jomblo-Cari lagi yang mungkin terjadi dan berulang, dan bagiku masih bikin "ketakutan" (baca: malas) untuk dijalani.
Sunday, April 3, 2011
Aroma Rindu
Aku masih akan menuliskan aroma rindu untuk si mata "nakal". Kadang aku pun jengah, mengapa tak beranjak untuk hal yang sama. Menjauh kah, atau bahkan syukur mendekat kah. Tapi ini tidak, ibarat berolahraga treadmill, sudah jauh melangkah dalam kilometer tetapi menjejak bumi yang sama bahkan tak bergeser.
Kadang pun bosan, tak ada gunanya melewati hal yang tak pasti. Tetapi hati belum juga bisa diajak kompromi. Tetap saja mengingini, mengintip lakumu, menyenyumi polahmu, bahkan mencemburui yang tak kumengerti.
Peletmu bukan perekat hati, namun pemusnah logika karena telah membuat semua urat syarafku mati rasa untuk menjauhkanmu dari jangkauan pikiran. Lalu harusnya aku patut berterimakasih atau mengumpat agar benakku tak lagi terkontaminasi ingatan detil tentangmu?
Bersama hujan seharian ini kusapa kau dan sunggingan senyuman yang tak henti ibarat pelangi usai kau beri dan maknai balas sapaku, singkat namun berarti....
Kadang pun bosan, tak ada gunanya melewati hal yang tak pasti. Tetapi hati belum juga bisa diajak kompromi. Tetap saja mengingini, mengintip lakumu, menyenyumi polahmu, bahkan mencemburui yang tak kumengerti.
Peletmu bukan perekat hati, namun pemusnah logika karena telah membuat semua urat syarafku mati rasa untuk menjauhkanmu dari jangkauan pikiran. Lalu harusnya aku patut berterimakasih atau mengumpat agar benakku tak lagi terkontaminasi ingatan detil tentangmu?
Bersama hujan seharian ini kusapa kau dan sunggingan senyuman yang tak henti ibarat pelangi usai kau beri dan maknai balas sapaku, singkat namun berarti....
Saturday, April 2, 2011
Untitled-1
Sosokmu menyatu di pelupuk mata sudah jeda sekitar dua bulan, namun seperti baru kemarin saja. Mungkin karena hampir tiap hari tercerna, hingga harusnya kini sudah berlabel kenangan tapi tak jua mau lepas dari ingatan, malah sepertinya berkembang biak membudidaya di otak.
Kau sebenarnya punya daya tarik apa? Never knew kenapa waktu sesingkat itu mampu memadatkanmu dalam ingatan hati. Bahkan mungkin kau telah lupa, atau bahkan tak merasa. Ah entahlah! Bagiku susah tuk meraba hati orang yang di hadapan kita begitu dingin, tak banyak kata. Hmm, just forget how to recognize woman's thought!!
Aku perempuan, ia juga. Tapi mengapa aku tak bisa paham pikiran perempuan? Aku yang tak paham atau kau yang sukar tuk dipahami? Aku paham betul hanya secarik kata dalam tiap obrolan kita. Kukira kau berubah, ya aku ingat ketika awal bertemu kau juga tak banyak bicara. Namun jeda selanjutnya, seharian kau begitu dekat dengan banyak kata dan senyuman. Lalu ketakutan2ku mulai berdatangan dan aku memilih menghindarimu. Aku hanya tak mau dicap lesbian kemana-mana cuma cari jodoh. Ya, sejak itu kau pun berubah, tak banyak bicara pun menyurutkan senyuman yang sedari awal menjadi aset yang memesonaku. Dan aku tak bisa protes. Aku yang memulai perubahan itu, menetapkan batas-batas berbasis ketakutanku. Ya ya ya aku memang yang tak bisa mengerti pikiran dan tanda dari perempuan, aku terlalu sibuk dengan pikiranku!
Dan kini aku disiksa rindu!
Kau sebenarnya punya daya tarik apa? Never knew kenapa waktu sesingkat itu mampu memadatkanmu dalam ingatan hati. Bahkan mungkin kau telah lupa, atau bahkan tak merasa. Ah entahlah! Bagiku susah tuk meraba hati orang yang di hadapan kita begitu dingin, tak banyak kata. Hmm, just forget how to recognize woman's thought!!
Aku perempuan, ia juga. Tapi mengapa aku tak bisa paham pikiran perempuan? Aku yang tak paham atau kau yang sukar tuk dipahami? Aku paham betul hanya secarik kata dalam tiap obrolan kita. Kukira kau berubah, ya aku ingat ketika awal bertemu kau juga tak banyak bicara. Namun jeda selanjutnya, seharian kau begitu dekat dengan banyak kata dan senyuman. Lalu ketakutan2ku mulai berdatangan dan aku memilih menghindarimu. Aku hanya tak mau dicap lesbian kemana-mana cuma cari jodoh. Ya, sejak itu kau pun berubah, tak banyak bicara pun menyurutkan senyuman yang sedari awal menjadi aset yang memesonaku. Dan aku tak bisa protes. Aku yang memulai perubahan itu, menetapkan batas-batas berbasis ketakutanku. Ya ya ya aku memang yang tak bisa mengerti pikiran dan tanda dari perempuan, aku terlalu sibuk dengan pikiranku!
Dan kini aku disiksa rindu!
Subscribe to:
Posts (Atom)