Sosokmu menyatu di pelupuk mata sudah jeda sekitar dua bulan, namun seperti baru kemarin saja. Mungkin karena hampir tiap hari tercerna, hingga harusnya kini sudah berlabel kenangan tapi tak jua mau lepas dari ingatan, malah sepertinya berkembang biak membudidaya di otak.
Kau sebenarnya punya daya tarik apa? Never knew kenapa waktu sesingkat itu mampu memadatkanmu dalam ingatan hati. Bahkan mungkin kau telah lupa, atau bahkan tak merasa. Ah entahlah! Bagiku susah tuk meraba hati orang yang di hadapan kita begitu dingin, tak banyak kata. Hmm, just forget how to recognize woman's thought!!
Aku perempuan, ia juga. Tapi mengapa aku tak bisa paham pikiran perempuan? Aku yang tak paham atau kau yang sukar tuk dipahami? Aku paham betul hanya secarik kata dalam tiap obrolan kita. Kukira kau berubah, ya aku ingat ketika awal bertemu kau juga tak banyak bicara. Namun jeda selanjutnya, seharian kau begitu dekat dengan banyak kata dan senyuman. Lalu ketakutan2ku mulai berdatangan dan aku memilih menghindarimu. Aku hanya tak mau dicap lesbian kemana-mana cuma cari jodoh. Ya, sejak itu kau pun berubah, tak banyak bicara pun menyurutkan senyuman yang sedari awal menjadi aset yang memesonaku. Dan aku tak bisa protes. Aku yang memulai perubahan itu, menetapkan batas-batas berbasis ketakutanku. Ya ya ya aku memang yang tak bisa mengerti pikiran dan tanda dari perempuan, aku terlalu sibuk dengan pikiranku!
Dan kini aku disiksa rindu!
No comments:
Post a Comment