Aku masih akan menuliskan aroma rindu untuk si mata "nakal". Kadang aku pun jengah, mengapa tak beranjak untuk hal yang sama. Menjauh kah, atau bahkan syukur mendekat kah. Tapi ini tidak, ibarat berolahraga treadmill, sudah jauh melangkah dalam kilometer tetapi menjejak bumi yang sama bahkan tak bergeser.
Kadang pun bosan, tak ada gunanya melewati hal yang tak pasti. Tetapi hati belum juga bisa diajak kompromi. Tetap saja mengingini, mengintip lakumu, menyenyumi polahmu, bahkan mencemburui yang tak kumengerti.
Peletmu bukan perekat hati, namun pemusnah logika karena telah membuat semua urat syarafku mati rasa untuk menjauhkanmu dari jangkauan pikiran. Lalu harusnya aku patut berterimakasih atau mengumpat agar benakku tak lagi terkontaminasi ingatan detil tentangmu?
Bersama hujan seharian ini kusapa kau dan sunggingan senyuman yang tak henti ibarat pelangi usai kau beri dan maknai balas sapaku, singkat namun berarti....
No comments:
Post a Comment