Hmm, maaf kalau judul diatas agak menakutkan.... Bukan pedofilia dalam arti sebenarnya!
Hari ini, lembaga tempatku bekerja mengadakan workshop tentang HAM untuk pelajar SMU. Pasti sudah bisa menebak kemana arah tulisan ini, bukan? Ya ya ya cinlok lagi cinlok lagi hahaha sepertinya jadi semacam tradisi buatku ya? Hmm, tapi ini tak disengaja, bahkan nyaris luput dari mata. Benar, menginjakkan kaki di areal pemancingan ini tak membuat mataku lantas berseliweran, maklum anak belum genap tujuh belas tahun, tak ada di pikiran apapun bentuknya. Meski tak dipungkiri beberapa bulan lalu terlibat affair dengan bocah SMU yang sampai detik ini belum berakhir manis.
Kembali ke acara, sumpah tak sekali pun mataku pecicilan, murni menotulen. Hingga saat kelompok tiga puluhan siswa ini dibagi dua untuk lebih fokus. Sama seperti niatan awal, aku hanya terlibat meng-arrange suasana dan memotret. Dalam grup lima belasan anak begini lebih mudah meng-arrange nya. Dan saat itulah secara tak sengaja mataku bersirobok pandang dengan perempuan berambut panjang mengenakan kaos putih dan celana jeans. Sekali bertatap bagiku masih lumrah, tapi kemudian dua, tiga dan entah sampai berapa kali mata kami bertemu, itu tidak biasa! Dan kebiasaanku ketika mendapati perempuan dengan pola seperti itu adalah menatapnya, kuhitung berapa kali ia akan curi-curi pandang hohoho dan saat mata kami berpapasan lalu ia mengalihkan pandang adalah saat hatiku cekikikan.
"Lucu juga perempuan satu ini!"
Seterusnya ia menunduk ketika beberapa kali lensa mengarah padanya. Namun lensa mataku masih kerap memergoki ia mencuri pandang dan ketika beradu ia cepat-cepat mengalihkan mata. Dasar bandel, aku memusatkan mata padanya, berbeda dengan di awal kali ini tiap bentrok mata ia barengi dengan senyum tipis. Hahay gotcha!
Aktivitas demi aktivitas berselang mengiring kontak mata yang berulang. Aku bahkan menjejerinya beberapa kali. Menikmati senyum dan tawa renyah guyonanku. Bahkan mengerjainya dengan pertanyaan menjebak. Namun satu hal yang belum kuketahui adalah NAMANYA. Nametack nya tertutup oleh rambut yang tak sedikitpun ia kibaskan. Perburuan nama berakhir ketika agak siangan ia mengangkat rambut sebelah kiri yang membuat namanya tertera jelas. Mencarinya di daftar presensi yang kulakukan kemudian.
Akibat kejahilanku, ia menjadi salah satu yang terhukum. Joget ala Briptu Norman. Mendorong bahunya untuk menari. Ia tampak kaku dan malu.
Serasa kembali ke jaman ABG, kontak mata yang terus berulang. Lucunya, ketika aku iseng menaruh nametack teman2nya di sebuah mug, ia mencopot nametacknya memainkan di jemari. Dont know what its mean, but I just laugh and laugh inside.
Foto bersama. Adegan ini yang paling membahanakan hati. Ketika satu persatu berbaris untuk foto, aku mematungkan tubuh di pinggir sembari berkata dalam hati: "Jika feelingku seharian ini benar, maka perempuan itu akan mengambil posisi di sampingku ketik berfoto!" Belum sempat menutup mulut, Tuhan mengabulkan gumamanku! Ketika perempuan itu bergerak mencari posisi, aku tetap mematungkan tubuh, aku berjanji dalam hati tak akan mengekornya. Dan ia mengambil posisi TEPAT di sampingku. Sorak sorai hati hahahaha. Tak terhitung berapa kali jepretan, ia tak beranjak atau berinisiatif pindah dari sisiku. Kejahilanku meradang hehehe menempelkan bahuku di punggungnya, gesekan-gesekan jahil tak menyurutkan tubuhnya yang sedikit membungkuk beralih bahkan bergeser sesenti pun. Aku bukan tengah mencari kesempatan, hanya saja otak jahilku tak berhenti bekerja. Jauh-jauh mikir, this is not for sex, apalagi pelecehan, aku hanya ingin tau bagaimana ia akan merespon.
Makan siang. Kembali menjajarinya di deretan minuman. Obrolan kecil tercipta disini. Basa basi, meski tak pintar, hanya berusaha mengajaknya bicara dan bercanda. Ia berujar pada temannya untuk menyilahkanku mengambil minum. Pun ketika prasmanan, berada tepat di depannya.
Bukan sengaja, hanya memang ingin menggoda, mengetahui porsi makannya. Ia agak grogi disini. Gestur tubuhnya tak bisa berbohong. Ketika kemudian ia mengekor temannya menuju arah yang berbeda denganku, masih sempat kupergoki tatapannya. Dan hatiku tak berhenti tersenyum.
Obrolan, kontak mata, berbalas senyum, GOD aku selayak seusianya! Sehari yang penuh warna! Ya, setiap tempat menghadirkan cerita... Cinta lokasi? Kembali batasan otak kubangun. I just enjoying knowing u, this eyes contact, smile and the way u look at me...
Aku masih percaya ungkapan, kalau jodoh tak lari kemana!!! Ya, benar, sedang getol menemukan belahan jiwa, tanpa pernah tau perempuan itu akan sepantaran denganku, lebih tua atau jauh lebih muda, asalkan berpikiran dewasa, karena kedewasaan tak bisa terpampang dari tua muda usia. Aku sedang berupaya penuh tak membatasi otak dan hati untuk masalah usia, dan esensialis lainnya.
Love is about Chance, Chemistry, Choice, Courage and Chitato -Life is never flat-... Dont build any border coz I would never know who's the girl that sent it from above for me... Ketika berjodoh dengan perempuan yang usianya separuh dibawah usiaku, its not called pedofilia, begitu juga ketika merasakan chemistry dengan perempuan usianya diatasku, its not about oedipus complex, but its heart sign might this is the one for me... So, enjoy whatever my feeling take me through... Right?
No comments:
Post a Comment