Saturday, April 23, 2011

Nama, Rambut dan Wajah yang Berjenis Kelamin

Nama
Ini yang barusan saja aku alami, dan bukan pertama kali, sudah kesekian jadi aku tak terkejut.

Namaku Alvi. Kasus yang baru aku alami adalah aku mengirim sms pada seorang mahasiswa yang hendak melakukan penelitian. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, pada balasan smsnya, perempuan yang memang belum pernah sekalipun bertemu muka denganku itu langsung memanggil dengan sebutan "Mas". Aku yang sudah terbiasa, tak begitu mempermasalahkan, bahkan tidak melakukan pembenaran dengan berkata saya perempuan atau saya "Mbak". Sama dengannya nanti aku juga akan mengklasifikasi.

Sms kedua yang kian mengukuhkan panggilan "Mas" itu hanya membuatku sedikit tersenyum membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya ketika berhadapan muka dengan "Mas" Alvi...

Rambut
Potongan rambut pendek identik dengan laki-laki dan dipanggil Mas. Kalau ini juga sudah tak terhitung berapa kali menimpaku. Di warung bakso, di Pom Bensin, di Mall, tempat parkir, nyaris semua tempat mempunyai orang-orang dengan pola konstruksi otak yang sama: rambut pendek di panggil Mas!

Teman yang bersamaku selalu tertawa tiap kali jalan denganku dan ada yang manggil Mas. Pernah ada kejadian lucu, waktu itu di Sunday Morning UGM, aku dan dua teman berjilbab sedang makan pagi usai berkeliling cuci mata. Datanglah segerombolan pengamen waria bernyanyi, aku lalu mengulurkan secarik rupiah. Sambil berlalu kami mendengar salah satu dari mereka menggumam sinis: "Itu laki apa perempuan seh?!!"
Aku hanya dengar, tak menanggapi, cuma si temanku balas bergumam sedikit emosi: "Lha elo apa, laki apa perempuan? Kok nanya orang lain, wong dirinya sendiri juga nggak jelas!"
Aku kembali tersenyum dan tak komentar. Karena di belakang tadi rombongan itu sudah melirik sinis sembari mencibir: Ihh Lesbo!
Dalam hati hanya batin: Orang-orang yang belum selesai dengan pemahaman gender bahkan untuk berkaca pada dirinya sendiri. (Hello LGBTIQ, we are one!! Kalau ini sebuah pertanyaan dengan nada biasa aja mungkin tak ada yang mempersalahkan, tapi ia berkata dengan nada sinis seolah merendahkan. Mempreseden buruk orang lain padahal berada pada kondisi dan memperjuangkan hal yang sama).

Balik soal potongan rambut yang berjenis kelamin, yang bikin lucu adalah ekspresi mereka ketika aku kemudian mengeluarkan suara. Ada yang buru-buru meralat dengan manggil Mbak, ada yang cuek habis tadi manggil Mas trus manggil Mbak, ada yang ketawa menertawakan kekonyolan memanggilku Mas setelah tau suaraku Mbak. Lucu melihat kesibukan mereka heboh sendiri soal Mbak atau Mas!

Bahkan pernah gara-gara potongan rambut pendek ini aku diusir dari gerbong perempuan di Prameks. Konstruksi otak yang entah kapan akan bisa dirubah karena sepertinya sudah kadung massal dan turun temurun!

Wajah
Ini lain lagi ceritanya... Waktu itu aku hendak beli koran. Tanpa mencopot helm, aku memasuki kios. Usai memilih-milih koran yang hendak kubeli, aku menyodorkannya ke depan si penjual untuk dihitung. Sembari menghitung ia tak berhenti menatapku dari atas ke bawah dari bawah ke atas. Aku mengernyitkan alis dan bertanya: "Ada apa Mas?"
"Mbaknya ini Mas atau Mbak sih?"
Pertanyaan yang konyol, bukan? Sudah manggil Mbak tapi masih mempertanyakan Mas atau Mbak.
Aku hanya melengos dan mencopot helm. "Kalau gini?"
"Ya kayaknya sih Mbak?"
Hahaha aku sedang tak ingin meneruskan perdebatan Mas Mbak dengannya, juga menjawab atau meyakinkan Mas atau Mbak. Hanya merasa aneh, jual koran untuk dibeli korannya, bukan malah mempersoalkan pembelinya Mas atau Mbak, bukan?


Kadang ada yang bilang padaku: "Halah, wong kamu seneng aja dipanggil Mas!" dan ada yang malah kuatir: "Kamu nyaman nggak dipanggil Mas? Aku harus panggil apa?"

Hmm, bagiku bukan masalah senang tak senang, nyaman tak nyaman, karena Mas atau Mbak hanya bentukan masyarakat yang massal itu, kalau ikutan melabeli sama aja dengan mereka. Hanya tak suka saja jika nama, potongan rambut dan wajah dijenis kelamin kan. Apa-apa kok ujung2nya berkelamin!

Menghilangkan stereotipe memang tak akan mudah, hanya saja jangan melakukan pelabelan untuk merendahkan atau untuk sesuatu yang nggak penting buat ditanyakan!

No comments: