Friday, June 7, 2013

Kotak Musik Hati


Arloji di tangan kiriku bergegas menuju angka 8, seperti halnya aku dan ia yang bergegas mengakhiri sesi jajan sembari ia bercerita dengan teman kantornya yang nggak sengaja ketemu di taman jajanan dekat tempat sehabis ia melemaskan raga agar sehat.

Ya, kami berdua memang sedari tadi rajin banget melirik putaran waktu di pergelangan tangan kami. Usai berpamitan, aku masih harus menghadapi pertanyaan teman kantornya yang memberondongku di kala kau sedang ganti kostum. Akan kuceritakan di bagian lain soal itu...

Kami berjalan dengan rute yang sama, menunggu bus di halte yang sama seperti kemarin. Bergelantungan di bus dan mengerjaiku dengan menyuruh bayar separuh harga, namun harga diriku menolak. Ya iyalah, di negeri orang dimaki-maki cuma gara-gara duit 2 ribu kok gak keren sama sekali, bukan! Meski aku harus menelan sebutan cemen yang kau beri, tapi Arians tak akan mau meruntuhkan harga diri apalagi cuma dengan nominal segitu.

Dan kemudian macet menjadi kendala kedua. Aku menduga kami akan telat, agak panik juga katanya kalau dah lewat booking time akan hangus dan harus antri lagi. Haduh, gak boleh telat nih! Pasalnya, what we do if we are not spend our time at that music box coba? Nongki lagi, ngobrol lagi, boring kan, semalem udah!

Dan untunglah menunggu bajaj datang tak seperti menunggu polisi india yang datang belakangan. Dan terus terang ini adalah kali pertamaku naik bajaj, padahal notabene 4 tahun aku pernah hidup di ibukota ini.
"Kak, ini baru pertama kali aku naik bajaj," akuku pada perempuan di sampingku. Dan itu adalah kalimat pemberitahuan paling salah yang kuberikan padanya. Ia seperti mendapat amunisi.
"Bang, temen saya ini baru pertama naik bajaj, dari gunung bang, bla bla bla.."
Aku meliriknya pedas. Wajahnya menahan tawa.
"Terusin aja.." sindirku.
Bukannya mandeg, ia malah melakoni apa yang kukatakan, meneruskan bobor cerita ke abangnya.
"Plaak" ucapku sembari pura-pura nampar, dan membuatnya ketawa.

Kami sampai lewat lima atau sepuluh menit dari yang dijanjikan. Ia langsung sigap mengurus administrasi. Maklum, saya agak gaptek begituan. Masuklah kami di kotak musik ukuran terkecil, dan... Malu-malu!

Aku mengkategorikannya malu-malu karena ia tak mau memasang lagu kalau aku tidak melakukannya lebih dulu. Hmm, sembari ngutak atik mesin karena sama-sama gaptek, lagu pertama saya adalah Where have you been versi Rihanna, maunya versinya mbak Titi.. Dan lagu pertama dia adalah Daylight by Maroon 5. Dan baru akhir-akhir ini saya menyadari arti lagu tsb dalem yak.. And that song become my favorite song everyday to boosting my mood..

Dan lagu-lagu selanjutnya berkumandang.. Lagumu.. Laguku.. Lagu duet kita.. Laguku lagu-lagu gombes macam just the way you are, satu-satunya cinta yang mellow deh pokoknya, sedangkan lagunya adalah musik dengan beat rock dan lirik yang lumayan senada macam orang yang unhappy with her relationship. Apalah arti sebuah lagu, right? Seperti bait apalah arti menunggu by -kembarannya, katanya- Raisa yang ia nyanyikan sepenuh hati.

Dan lagu kita adalah lagu duet tempo doeloe jaman aku klas 6 SD, yaitu I want Take Forever Tonight. Eh malah bikin ketagihan, tiap lagu maunya ia duet. Tapi yang ndak seru tuh ia ndak mau joget2 kayak saya.
"Nih, jempol gue dah joget!" Ahh ndak serunya cumak itu.

We're closed and I'm happy, both of us are happy.. Closing with jealous song by dewa and I want to break free-nza Queen. And I called it Kotak Musik Hati.. And my heart so dancing..

No comments: