Wednesday, June 12, 2013

Benci Kata "Berpisah"


Teringat perkataan seorang teman tentang judul diatas. Ia begitu benci perpisahan, meski akan bisa ketemu lagi someday, tapi feeling kehilangan pada saat berpisah itu yang ia tak suka dan bikin airmata tumpah. Awalnya aku berkomentar ia sedang lebay, nggak segitunya jugak kalee...

Tapi malam itu, di stasiun Tugu, aku menjilat kata-kataku sendiri ketika mengantar perempuan itu akan kembali ke kotanya. Awalnya, juga gak berasa sebegitu sedihnya. Bahkan usai memarkir motor dan melangkah memasuki areal stasiun perasaanku masih biasa-biasa saja. Apalagi tadinya perempuan itu kuatir jalan dari parkir motor ke stasiun akan jauh. Agak gak enak juga mengingat memang tak ada parkir paling dekat kecuali pintu masuk belakang.

Separuh jalan kami bertemu mantan teman kantor yang kebetulan juga kenal lama denganku.
"Aku, teman barunya alvi!" begitu akunya yang membuat si teman mengernyitkan kening. "Maksudku, aku baru kenal alvi, lebih dulu kamu," Perempuan itu mengklarifikasi. Lucu juga ya nih perempuan.. Awkward style nya kumat kalo gini ini..

Bahkan ketika mencapai areal tempat teman-temannya menunggu untuk memberikan karcis plus sambutan dan arahan kamera dari tim media yang sepertinya ditugasi meliput kegiatan mereka selama beberapa hari ini, feeling itu belum muncul. Wajahku masih datar mendengar guyonan para lelaki yang memintanya tinggal, tidak kembali ke kotanya. Aku melihat perempuan itu menyalami satu persatu lelaki itu dengan tidak mengomentari kicauan mereka, hanya tersenyum.

Dan tibalah ia pamitan di depanku. Dan baru itulah perasaan itu muncul. Aku sendiri tak tau bagaimana mendefinisikannya. Campur aduk pastinya, antara kehilangan dan sedih. Entah bagaimana perasaan itu tumbuh mendadak membuat raut mukaku kaku bagai di semen, mematung kelu tak bisa berkata-kata, pun tidak berkaca-kaca. Aku seperti dihempaskan pada kalimat temanku dulu, bahwa mungkin beginilah rasanya membenci sebuah perpisahan, meski yakin akan bisa bertemu lagi.

Ya, malam itu, aku benci berpisah! Aku benci merasakan perasaan yang menjalariku yang bahkan tak bisa kunamai tetapi kugarisbawahi sebagai kesedihan.
"Gak tau kenapa waktu melihatmu pergi tadi kok aku sedih banget yak.." akuku usai kami benar-benar berpisah. Perempuan itu nyaris gak percaya karena tengah bulan ia akan kembali ke kota ini.

Itulah makanya tiap berpamitan dengan siapapun aku tak mau bilang selamat jalan, tetapi sampai bertemu lagi. Seperti sedang mengusahan takdir melalui doa dan harapan untuk bisa bersua kembali. Berpisah dengan perempuan itu menyisakan kesedihan, memang!

No comments: