Wednesday, July 10, 2013
Pemalu!
Karakter itu kupunyai meski tak banyak orang akan percaya. Namun kalau perempuan itu yang memiliki, percaya kah? Saya pun baru percaya!
Masih di bagian kisah ketika hanya sebuah energi dan konstruksi yang bisa menemaniku menyekatkan perbedaan dimensi ruang dan waktu aku dan perempuan itu, aku memintanya menyapa dua teman yang sedang berada di tempat kerjanya. Dan tau jawabannya, "Gue malu, ntar dikira sok kenal sok dekat!" Padahal menurut riwayat kenalku dengannya, kami dekat karena ada efek sok kenal sok dekat!
Memutar ulang bagaimana Desember lalu dengan senyum dan gigi-gigi terbaiknya ia menyodorkan tangan memperkenalkan diri, pun tiap kali lewat tak lupa menyuguhiku senyuman manis. Maka alasan malu itu kini tak bisa kuterima dan tampak tak masuk akal, bukan? Namun aku tak bisa memaksa juga, toh niat baikku adalah agar si dua teman ini tidak krik-krik disana, dan bagiku perempuan itu adalah teman baru yang baik yang mungkin akan mengajak berkeliling kantor.
Ternyata meleset, selain karena deadline surat, bahkan ia tak melemparkan senyum pada orang yang jelas-jelas kusebutkan. Benarkah malu, atau lagi kumat anti sosialnya? Tak mungkin, pikirku, ia orang ter-sosial yang kukenal. Jadi, pemalu? Aku masih belum dikategorikan percaya.
Meski akhirnya mereka saling menegur sapa dan sedikit mengobrol, temanku meyakinkan bahwa perempuan itu pemalu. Ya, mukanya memang akan ada lekukan di pipi menuju ekor mata sehingga tampak seperti blushing, tapi untuk menjadi benar-benar berkarakter pemalu, benar aku belum bisa percaya...
Kukira dengan begitu menambah satu lagi kesamaan karakter kami, minderan dan pemalu! Untuk orang se-PD dia aku belum terlalu yakin!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment