Sunday, July 28, 2013

SURUT


Ombak pantai seberapapun elok dan menantangnya, tetap saja ada fase yang dinamakan pasang surut, begitu pula tentangperasaan... Perasaanku maksudnya...

Butuh beberapa waktu untuk kembali dari kabur usai mendengar kabar itu. Kabar yang pada awal tercetusnya membuatku menjadi seseorang yang hidup di kehidupan orang lain. Pura-pura senang, pura-pura menanyakan kabar yang sebenarnya membuatku kabur dan pura-pura bahwa aku tak terluka. Aku akhirnya lelah menghidupi kehidupan orang lain. Dan, tak tau kemana dan bagaimana cara keluarnya...

Aku memilih kompromi. Kabar itu jelas tak bisa diubah, kabur pun tak menyelesaikan masalah. Aku jelas bukan tipe manusia hobi mangkir, meski hati sudah dibuat terjungkir. Hal-hal yang kuyakini (baca: kutakutkan) akan terjadi tentang dampak kabarmu, entah kaburku atau bahkan kaburmu, pilihan yang terakhir inilah yang menguat dan mengakar di benakku. Bahwa akan ada perubahan perilaku, ada sesuatu yang tak akan sama seperti dulu. Dan pastinya kekuatiran itu begitu membuat jaring bayang-bayang semu yang mencecoki otakku dengan sesuatu bernama kehilangan akan sesuatu yang sejak awal memang tak akan kumiliki.

Namun, di lain sisi, aku juga mengenal diriku. Ketika kekuatiran itu mencuat, aku juga membangun benteng yang kusebut sebagai realita. Dan seperti yang kubilang di awal bahwa aku begitu mengenal diriku, ketika kekuatiran itu menjadi tak bertaji, maka begitulah aku mengenal diriku luar dalam.

Kadang aku merasa aku seperti ombak, akan mengalami pasang dan surut bahkan dalam ritme yang tak terduga. Itulah yang menjadi efek kabar bikin kabur tentang perempuan itu. Perasaanku yang kemudian menyurut dampak kian berseminya realita. Penyebabnya tentu bukan karena aku kalah atau ia yang menjengkalkan galah. Tak ada yang berbeda dari kami. Ia masih perempuan gengsian yang menungguku mengulurkan kata lalu ia akan mengalirkan cerita. Pun tentang makna perempuan itu dalam keseharianku, ia tetap menjadi sumbangsih terbesar yang menjadi alasan bibirku membentang luas oleh canda dan ucapan tak 'penting'nya.

Lalu, apa yang surut? Keinginanku, apa yang kuharapkan darinya. Bahwa ia -mungkin- tak akan lagi utama. Realita itu semacam ulat yang ketika membuat lubang di daun ia tak akan terlihat wujudnya, hanya bolong-bolong tak elok di mata yang bisa kau tuai sembari menyalahkan si ulat, yang bahkan -mungkin- sudah berpindah daun atau pohon. Aku tak nampak menjauh, tapi keinginanku akannya sudah tak lagi se-bergairah dulu.

Sekali lagi bukan hendak melemparkan pemikiran 'ini salah siapa?', ya kembali aku tak akan berkelit ini hanya soal bagaimana aku memahami diriku sendiri. Maka surut ini bukan berarti mengakhiri, aku sedang memberi jeda nafas bagi kekuatiranku dan tetap menikmati canda tawamu di batas yang kuingini dan mampu kutangani.

Percaya, bahwa tak akan ada yang berubah dari kesederhanaan keseharian keterbatasan aku dengan perempuan itu. Hand in hand, bukan sesuatu yang tertulis baku, ada kalanya ia menyematkan celah kecil untuk masing-masing kami menikmati dunia kami sendiri.

Aku tak menunggu ombak kembali pasang, kadang laut juga dinantikan keindahannya ketika air-air itu tak berkejaran satu sama lain. Ia akan tampak tenang membiarkan angin bersuara, pun begitulah aku saat ini... Membiarkan air kadang hanya membasahi ujung kakiku, tak menenggelamkan bawahan kain yang kupakai untuk menyatu dengan hantaman lekukan ombak.

Aku sedang menikmati surut!

No comments: