Monday, July 15, 2013

Cerita tentang Pengamen


Ketika makan diluar, kadang aku lumayan jengkel dengan profesi satu ini, pengamen. Bukan karena suara, tapi secara jumlah yang tak kunjung usai. Makannya cuma abis berapa, tetapi cost sosialnya malah lebih tinggi. Jadi, sikapku pada profesi satu ini adalah pilih-pilih tak sembarang kasi, yang suaranya merdu aja ato faktor yang membuatku tertarik.

Judul ini kutulis karena keinget kisahku dengan perempuan itu terkait pengamen. Entah bagaimana perspektifnya tentang pengamen, pastinya malam itu kami sedang nongkrong di depan sebuah swalayan kecil yang sebenarnya tak kusukai. Pasalnya jenis model swalayan seperti ini sudah menjajah hampir tiap kilometer ada. Dan di ibukota ini ia menambahkan meja kursi untuk nongkrong. Awalnya, aku tak cukup setuju, tapi karena kekurangan tempat untuk bercengkrama dengannya, maka tak ada pilihan lain.

Kemudian datang seorang pengamen. Laki-laki lumayan tampan yang menyanyikan lagu Bon Jovi - Always. One of my favorite song, I said to her. Dan saya ikut bernyanyi karena si pengamen memetik gitarnya hingga lagu berakhir. Tumben ada pengamen kayak gini, biasanya nyanyi sampai tengah ya udah trus nyelonong pergi. Bukankah pengamen tak pernah membuang waktu nyanyi sampai akhir, begitu yang kutau!

Perempuan itu menyodorkan selembar lima ribuan. Alisku menukik tajam.
"Banyak amat ngasinya?" celetukku setelah laki-laki bergitar itu pergi.
"Gak ada duit kecil. Lagian kamu suka lagunya kan?"
"Ya tapi gak segitu banyak juga ngasinya kalik.. Lagian, bahasa Inggrisnya lumayan buruk.." komentarku pada pronounciation si pengamen.
"Ah, kamu emang terlalu banyak komplain!"
Saya nyengir, ya pelit sih kalau ama pengamen emang.

Yang kedua ketika kami dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya menuju rumahnya. Ya, naik bis jurusan rumahnya butuh berlari-lari kecil, bergelantungan di tengah dan merasakan ritme kecepatan yang gila-gilaan. Kali ini, kami duduk cantik persis di depan pintu. Posisi duduk yang kerap kupilih ketika dulu sering bepergian dengan model transportasi ini selama di Jakarta dulu.

Baru saja menempelkan pantat, ada seorang pengamen dengan biola masuk, tepat menggesekkan alat musik tsb di hadapan kami.
"Hayo tebak lagu apa ini?" tanya perempuan itu.
Aku menajamkan kuping mencermati instrumentalia petikan biola. Aku angkat bahu.
"Dengerin yang bener.."
Kembali meresapi nada dan tetap angkat bahu.
"The beatles, let it be. Masa ga tau?"
Dan pada bagian refrain aku mulai mengenali iramanya. Dan kami duet bernyanyi...

Let it be, let it be, let it be, let it be...there will be an answer, let it be...

*It's Like Us, let it be...

No comments: