Monday, August 10, 2009

TELEPON IBU

Hari Minggu aku menelepon ibu. Ibu mengadu sedang sakit. Habis dari dokter tiga hari lalu. Hipertensi dan gula darahnya juga tinggi. Bagaimana bisa? Itu pertanyaan yang seketika hinggap di otakku. Ya, ibu memang telah lama mengidap diabetes, namun selama ini terkontrol. Ibu tak pernah aneh-aneh. Maksudnya, yang tak sesuai takaran atau yang mengandung banyak gula. Selain itu, ibu memang juga tak suka makan banyak dan yang neko-neko. Perutnya tak terbiasa. Apalagi, hipertensi, sejak kapan ia mulai mengidapnya? Faktor makanan, atau kopi, ya ibu kadang ngopi, tapi teramat jarang dan hanya encer2 saja dengan gula seujung sendok.
"Ema, mikir apa?" (Ema= panggilanku pada ibu. Bukan Emak, bukan pula Mama. Sewaktu kecil kakak laki2ku terlalu cadel hingga tak bisa mendengungkan kata Mama dengan benar dan melafalkannya dengan kata Ema, kemudian diwariskannya padaku sampai kami dewasa sekarang.)
"Ya, banyak lah! Namanya juga orangtua! Bla bla bla..." sahutnya dengan embel2 lain seperti biasa. Aku pernah tau, diabet bukan hanya disebabkan faktor makanan, tetapi juga pikiran. Bahkan pikiran lah yang lebih jahat meningkatkan kadar gula dalam darah.
"Lha kok bisa darah tinggi juga? Sering makan sate kambing ta?" godaku sambil menahan tawa.
"Sate kambing gundulmu!" jawabnya medhok membuatku ngakak. "Itu lho, si Gileh!"
Si Gileh, adalah sebutan ibu untuk sepupuku, anak sulung adiknya, yang tinggal satu rumah dengan ibu dan memang agak2 gileh (Gila). Katanya, si Gileh selalu berulah dan membuatnya uring2an. Mana ia sendiri di rumah, sementara adiknya hampir tak pernah di rumah. Praktis hanya ibu lah yang harus menghadapi si Gileh dan itu yang menguras energi, emosi mungkin tepatnya.
"Ya, jangan dipikiri, diakali aja!" saranku. Seperti biasa jika aku sedang tak ingin menghadapi sesuatu dengan cara frontal, maka aku mengakalinya, dalam artian mengalihkannya agar uring2an tak hinggap dan menghinggapiku.

Ibu kemudian bercerita tentang kakak lelakiku dan sindrom insomnianya. Sejak dulu ia memang susah tidur, tapi sejak ayah meninggal, ia semakin susah tidur. Seringkali terjaga seperti ada yang membangunkan. Mungkin itu salah satu penyebab hipertensinya.

Satu hal lagi, ia bertanya soal vitamin untuk orang tua. Tumben banget, pikirku.
"Kata dokter, aku disuruh mengonsumsi vitamin. Tak hanya obat2an." terangnya. Ibu memang harus rutin mengonsumsi obat untuk diabet sebelum makan. Tapi vitamin... Ibu tak pernah berujar sebelumnya. Benakku bertanya-tanya. Sejak kematian ayah, aku merasa ibu lebih menghargai kesehatannya. Kalau dulu uang dialokasikannya ke dapur, kupikir ibu lebih memprioritaskan kesehatannya kini. Obrolan kemudian melantur kemana-mana hingga tak terasa satu jam bergulir cepat.

Setelah telepon terputus aku merenung dan tercenung. Campur aduk. Kegelisahan yang bercampur dan pikiran yang teraduk. Terlalu rumit tuk dideskripsikan, apalagi dilisankan. Hanya tersimpan. Dan menjadi rasa bersalah yang selalu dan terus tertahan.

No comments: