Tuesday, August 26, 2008

Memori Biduan Dangdutku (BAGIAN 3 -end-)

Aku menghubungi sahabat Emy, Ririn, masih menggunakan cara lamaku. Sms.

"Masa sih kamu cewek? Kok aku nggak percaya kalo kamu cewek, Rey" Ririn berargumen setelah membaca pula surat yang memang berlabel nama asliku.

Aku terus terang pun ternyata ada juga yang tak percaya. Sepertinya perempuan memang gampang dibohongi. Ataukah memang perempuan lebih suka kebohongan yang berselimut sutra daripada kejujuran berbalut karung beras? Entahlah, tapi yang pasti ketidakpercayaan Ririn, atau lebih tepatnya keluguan Ririn, -sekali lagi- membuat naluri jailku tergelitik.

"Yang mengirim surat itu adalah mantan pacarku yang masih suka aku,"

Kebohongan baru yang mengawali petualangan baruku di Jakarta.

"Aku pernah bercerita tentang Emy pada mantanku itu dan dia tak terima. Ia mengirim surat itu agar hubunganku dengan Emy berakhir. Aku sudah mencoba menghubungi Emy, tapi sepertinya ia ganti nomor!"

"Nanti aku bantu kamu untuk menjelaskan semuanya pada Emy,"


Senyuman mengembang di bibirku. Lugu, bodoh ataukah foto yang pernah kukirim itu terlalu tampan??? I dont know! Hanya mereka yang tau!

"Emy masih tak percaya, Rey, tapi aku percaya kamu kok!"

Sebuah keluguan yang membuat gigi-gigi taringku terasa kian lancip saja.

Ririn. Meski secara fisik Ririn dan Emy layaknya anak kembar, dunia mereka jauh berbeda. Suaranya lebih keibuan. Hobinya memasak. Tipe perempuan rumahan. Kebalikan Emy.

Satu perempuan lagi jatuh dalam pelukan sms-smsku. Sebuah kebanggaan kah karena telah sukses sebagai pemilik lidah paling tak bertulang? Memasuki keseharian Ririn, aku lebih merasakannya sebagai bentuk kasih sayang terhadap perempuan, meski dengan cara yang salah. Sebab aku bukan saja menyelami pribadi Ririn, aku juga "dikenalkan" pada kakak perempuannya, bahkan ibunya. Semua mengenal Rey.

Melihat gelagat kedekatanku dengan Ririn, ketidakpercayaan Emy luntur. Percaya atau tidak, bahkan aku pun awalnya tak percaya, mereka berebut REY. Aku tak tahu apa smsku ataukah foto yang kukirim itu yang membuat keduanya terpikat? Tapi yang jelas kebohonganku hampir saja memporak-porandakan persahabatan yang sedari kecil terjalin.

Secara perasaan, aku lebih terlibat emosi dengan Ririn sekarang ketimbang Emy dahulu. Ririn mempunyai masalah yang lebih kompleks. Ia sering mengajakku bertukar pikiran tentang problema keluarganya, kadang ia suka menyimpannya sendiri. Pola pikirnya dewasa, namun tak jarang ia berubah kekanak-kanakan dan manja. Nada suaranya selalu dihiasi tawa, meski benaknya tengah berduka. Dan satu hal, ia tak pernah menuntutku untuk bersuara.

Ah, akhirnya aku tak tega juga. Aku mengakui semuanya.

"Aku sudah bisa merasakan kalau kamu perempuan kok..."

Begitu respon Ririn, entah untuk menutupi kecelenya, kekecewaannya ataukah benar ia telah curiga? Namun yang jelas aku lega. Lega karena mengakhiri kebohonganku, juga lega reaksi Ririn tak seekstrim Emy.

Sampai kini ia menganggapku pengganti kakaknya yang telah menikah, meski kami jarang komunikasi. Terakhir ia bercerita tentang jalinan kasihnya dengan duda beranak satu. Sedang Emy telah menikah dengan seorang polisi.

Ah, mengingat-ingat mereka kerap membuatku tersenyum, bagaimana mungkin aku selihai itu berbohong demi untuk bisa berhubungan dengan perempuan?

23:24 Mon 25 Aug 2008

No comments: