"Aku ingin cerita.."
"Soal apa?" Rien menangkap aroma keseriusan dalam rona wajah perempuan yang gemar berpakaian kasual di depannya.
"Kyla," Perempuan itu dapat melihat perubahan wajah Rien usai menyebutkan nama barusan. "Aku tak punya orang lain lagi untuk berbagi, hanya kamu Rien.."
"Sudah kubilang berapa kali, kau boleh cerita tentang apa saja padaku, tapi tidak tentang dia!"
"Rien, salahkan aku, jangan dia!"
Rien tak habis pikir kenapa perempuan yang dicintainya itu masih saja membela sahabatnya. "Ah, orang yang menikam teman sendiri tak pantas disebut sebagai sahabat!" maki Rien dalam hati. Ia kesal. Sebenarnya apa maksud perempuan di hadapannya ini memasuki kehidupannya kembali disaat Rien tengah menata hatinya untuk perempuan lain dengan ingin menjadikannya sebagai pendengar atas masalah-masalahnya bersama orang yang hingga kini belum bisa ia maafkan? Konyol!
"Rien, aku ingin kau jadi sahabatku karena kamulah yang tau segalanya tentang aku!"
"Sahabat?" pekik Rien. "Apa aku tak salah dengar? Setelah semua yang telah terjadi diantara kita, pacarmu, bahkan simpananmu dan kini kau menginginkan aku menjadi sahabatmu?"
"Tak bisakah kau melupakan masa lalu kita yang sudah lama berakhir? Tak bisakah kau menjadi sahabatku sekarang?"
"Tidak!!!" teriak Rien. Ia sungguh sangat kecewa perempuan yang dicintainya tega melontarkan kalimat itu dengan begitu entheng seakan tak mengindahkan perasaan Rien. "Kau boleh menyebutku bodoh, tolol atau apapun istilahnya karena tak bisa menerima kenyataan bahwa aku hanya masa lalumu. Kau boleh menertawakanku karena aku tetap menyimpan perasaan suci yang kunamakan cinta ini di hatiku. Tapi, jangan pernah memintaku menjadi sahabatmu, mendengarkan keluh kesahmu tentang masalahmu dengan orang lain, bukannya aku!!" Amarah Rien memuncak. Sakit hatinya kali ini melebihi apa yang telah dilakukan sahabatnya padanya.
"Aku tidak menyangka kau benar-benar perempuan paling egois yang tak punya nurani!" Airmata yang telah mengering kini seperti banjir di musim hujan. "Aku sungguh-sungguh tidak mengenalmu!"
Rien pergi. Membawa hatinya yang seketika mati. Tak menyisakan celah sedikit pun untuk kembali. Menutup rapat masa lalu yang memberinya pelajaran berarti.
***
"Al, ada apa?" sahut Rien dengan suara serak dan mata masih terpicing sebelah.
"Ayo bangun! Udah sholat subuh belum!" tanya perempuan bersuara sopran di ujung telepon.
"Belum!" Rien menggeliat seperti anak kecil.
"Masa mbok jamu jam segini masih molor? Nanti jamu gendongnya nggak laku lho ya..."
"Gundulmu!"
Perempuan di seberang terkekeh.
Pagi lagi. Bukan hari kemarin. Hari baru telah menanti.
TO BE CONCLUDED
21:56 Tue 19 Aug 2008
No comments:
Post a Comment