Sunday, December 9, 2012
"Spesial"?
Kata spesial yang ingin kuceritakan adalah tentang orang-orang pilihan dalam hal-hal yang tak kasat mata.
Mulai klenik? Tampaknya demikian. Hal ini terkait dengan kegelisahanku akhir-akhir ini. Dimulai dari selalu terjaga tiap jam 3an pagi. Bukan sekali dua kali tapi tiap hari seperti ada yang membisiki untuk bangun.
Pun intuisi yang kian menguat. Ketika akan ada kejadian buruk, meski itu sepele, seperti ada yang membisiki, kadang kulakukan kadang mengindahkan.
Dan ada dua kejadian dimana sesuatu itu menyusup lewat mimpi dan esok harinya mendapat kabar tak baik tentang sahabat jauh dan satu teman sekerja. Kalau untuk kasus begini kayaknya udah lumayan lama bisa ngerasa, waktu pamanku mau dipanggil Tuhan, alam bawah sadarku memberatkanku untuk terjaga kayak ada yang pamitan. Makanya untuk yang satu ini tiap merasa gak enak, aku selalu berlafal hal-hal yang baik semoga selalu menyertai.
Ngigau. Adalah kebiasaanku ketika terlelap. Kata ibuku, dan beberapa kawan yang pernah sekamar atau mampir di kamarku. Saking kagetnya, pernah ada kawan yang "ketakutan" dikira aku kesurupan. Hmm, ibu sejak dulu mewanti-wanti, karena sedari di rumah dulu, desauan dari mulutku yang tak jelas itu adalah rutinitas tak hanya malam tetapi tiap mataku terpejam. Terlebih ketika otakku menyisakan satu beban untuk dipikirkan, aku bahkan bisa melihat igauanku.
Mengigau bagiku adalah batas antara nyata dan bawah sadar, pemisahan antara jiwa dan raga. Ruh terlepas, melayang, dapat melihat raga, namun tak bisa menyentuhnya. Kata ibu, kalau kebablasan, ruh itu bisa tak kembali pada raga. Ngeri bukan? Awalnya, aku tak seberapa menganggap hal tsb penting, tetapi saat di awal tahun ini hingga pertengahan aku hampir tiap hari karib dengan igauanku, aku sedikit cemas. Beruntung setelah satu persatu keruwetan hati yang bernaung di otak terburai, igauanku kemudian hanya menjadi penghias tidur.
Namun malam itu lain cerita. Gak tau kenapa, bulan kesebelas lalu itu terdengar klenik. Banyak kejadian, intuisi ataupun pertanda yang aku pun "takut". Ngigau malam memang sudah gak asing. Tapi "tindihan", begitu orang jawa mendefinisikan kondisi alam nyata dapat dengan jelas memantau alam bawah sadar tetapi raga tak dapat digerakkan, meski ruh sudah menyuruh, ini tak biasa. Butuh jeda lama ketika ruh meneriaki raga untuk menggerakkan bagian tubuh. Benar-benar buruk! Aku kehilangan kata untuk menjabarkan suasana magis yang ketika seluruh tubuhku berfungsi normal lagi angka digital di ponsel menunjuk angka 3 dini hari.
Selasa kliwon. Aku sudah menebak ini ada kaitannya! Pun angkara yang menjebakku untuk mengikuti murka akan hal-hal sepele. Beruntung ada sisi dalam diri yang mengingatkan untuk tetap tenang. Ya, aku meyakini kalau hawa nafsu itu kuturutkan, tak sampai jengkal malam aku yakin aku akan memulai merusak diriku sendiri.
Berbincang dengan pemberi nafas setiap akan memejamkan mata. Tak boleh terlewat untuk dilakukan..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment