Wednesday, December 5, 2012

4 +1 Hari with #KayakTitiSjuman

Aku tak menduga awal Desemberku dibuka dengan hal-hal tak terduga yang menyenangkan...

Mengapa aku beri judul Kayak Titi Sjuman? Tau sendiri ketika artis tsb berada di Jogja untuk sebuah produksi film, aku lumayan "kesetanan" untuk mengetahui tiap titik keberadaannya dan "menguntit"nya. Nge-fans mungkin ga terlalu, cuma pengen liat aja. Dan bagaimana ketika tau awal Desemberku akan terisi oleh si #KayakTitiSjuman ini?

Perempuan ini awalnya berinteraksi denganku via email di akhir November. Ada sebuah event besar yang akan diselenggarakan oleh tempatnya bekerja. Bosku memberiku nomernya untuk kuhubungi, melancarkan teknis komunikasi.

Dan tentang "membenci" nama seseorang tanpa pernah bertemu muka terulang lagi. Ya, aku lumayan gak suka dengan nama perempuan itu untuk kulafalkan. Dan hal tsb terwujud dengan penciptaan "sosok" dalam benakku tentangnya. Aku membayangkan perempuan itu adalah perempuan bertinggi sedang, agak berisi alias chubby dengan rambut ikal dan kulit kuning langsat. Kreatif bukan? Makanya ketika asik ber-sms-an dengannya karena event sudah dekat, bayangan sosok itulah yang melekat di kepalaku.

Dan parahnya, bayangan itu meracuni moodku. Aku tak seberapa tertarik dengan apa yang kulakukan disana; pasti membosankan, cetusku. Makanya, aku memilih partner jaga yang tidak membosankan. Dua jam sebelum acara ketika OTW menuju lokasi, sebuah nomor XL menghubungi. Perempuan itu. Dan ini kali pertama aku mendengar suaranya, tentu saja lengkap dengan gambaran sosok yang kulukis di otakku tadi. Perempuan yang tidak menarik, begitu konklusi singkatnya.

Setengah jam kemudian aku beserta kru kantor sampai di lokasi. Penghubung antara kantorku dan kegiatan ini hanya aku. Dan aku mencari-cari sosok yang "kubenci" dalam ingatanku itu. Ya, aku benar-benar percaya bahwa perempuan yang setengah jam lalu menelponku itu akan chubby dan berambut ikal. Namun yang mendekat ke arahku kemudian sembari menyuguhi senyum termanisnya adalah perempuan semampai dengan lesung di pipi dan senyum khas Kayak Titi Sjuman.

Glek. Aku menelan ludah segalon, kemudian merutuki kebiasaan burukku membayangkan sosok orang hanya dari namanya. Tapi itu berlangsung sebentar karena detik kemudian aku mencermati tiap kata-kata yang meluncur dari Kayak Titi Sjuman ini tentang segala tetek bengek event ini. Kemudian satu senyuman panjang terburai di bibirku.... Hari-hariku pasti akan indah...

Aku gak seberapa tau kenapa aku dulu ngefans ama Titi Sjuman, wajahnya juga gak cantik-cantik amat, tapi aku suka aktingnya. Dan si Kayak Titi Sjuman ini... Hmm, sebuah pikiran nakal hadir; pasti akan kugodai... Namun tak ada asap kalau tak ada api, bukan? Ya, aku tak akan memulai kalau tak mendapat respon "positif".

Dan yang kumaksud respon "positif" disini adalah betapa ramah [rajin menjamah, red] nya perempuan itu. Ketika menata barang ia kerap riwa riwi sembari tangannya menempel entah di lenganku, di bahu dan pinggang. Hmm, satu dua kali sentuhan masih kuanggap wajar, lebih dari itu, maka aku akan membalas keramahannya itu.

And then I called it as Gedebug Love! Karena seperti dijatuhkan dari langit tak terduga. Dan aku termasuk orang yang fokus pada satu orang, artinya tak akan pecicilan karena jarak pandangku sepertinya sudah hanya padanya.

Malam pembukaan. Beberapa peserta kegiatan ini kukenal, namun karena tau sendiri aku terkenal gagap komunikasi, hanya terbatas say hi dan komunikasi pendek lainnya. Beberapa teman baru kemudian diperkenalkan padaku. Hmm, dan perempuan itu ada di salah satu meja dengan grup kantornya.

Usai pembukaan, perempuan itu datang untuk briefing event esok hari. Disinilah keramahannya dimulai. Sentuhan di pergelangan tangan, lumayan lama. Ia meminta kehadiran pukul 07.30 esok hari.
"Aku udah bangun apa belum ya jam segitu," celetukku padahal aku terbiasa bangun pagi.
"Harus bangun lah," ujarnya termakan omonganku.
Dan malam itu kututup dengan ucapan sampai ketemu besok padanya.

Hari Kedua.
Aku menetapkan perempuan itu sebagai orang pertama yang kucari. Pasalnya, tempat barang masih terkunci dan aku tak tau nomer panitia lokal. Perempuan itu ada di selayang mata dengan hamparan lorong yang tidak memungkinkanku meneriakinya. Come on, ini hotel! Aku mengiriminya pesan pendek, ia tak menunjukkan tanda-tanda merogoh saku, masih sibuk dengan aktivitasnya di depan LCD.
"Kayaknya kita musti nyamperin," ujarku pada partner jagaku. Sebenarnya malas saja melewati lorong lalu harus kembali lagi ke tempat barang, melewati lorong lagi, lalu ke tempat display. Malas, bukan?

"Aku sms kamu, gak bawa hape ya," tanyaku menyentuh bahunya ketika lewat.
"Bawa sih, tapi gak updet,"
"Nanya kunci tempat nyimpen barang, mau ambil barang, soalnya gak punya kontak panitia lokal" kataku menjabarkan.
Perempuan itu menunjuk perempuan berjilbab yang bahkan tidak ku tau namanya.

Ketika sibuk menata, ia tiba-tiba lewat dengan senyum khas Titi Sjumannya. Basa basi yang basi banget adalah ketika ia berujar tentang kunci yang kutanyakan tadi. Hmm, gak punya bahan bicara kemudian mencari-cari obrolan, baeklah!

Kukira ia akan pergi bersama rombongan yang hari itu akan field trip. Ternyata ia bertanggungjawab dengan tugas kerjanya.

Aku kemudian rerasan tentangnya pada partner jaga yang cs-ku banget.
"Eh tapi kayaknya dia udah punya anak lho, kemarin ku lihat dia gendong anak," ujar partner jagaku. Aku sih ga percaya.
"Anak orang kali..."
"Nggak ah, wong wajahnya mirip kok"
Aku tetap gak percaya.

Saat lunch, ia datang dengan menggendong anak.
"Nih lho yang kulihat kemarin, bener tho?"
Dalam hati tetep gak percaya. Lunch-ku jadi gak fokus.
"Eh, kenalin ini kakakku, tinggalnya di jogja lho," ujarnya memperkenalkan sepasang suami istri, si perempuan hampir mirip dengannya hanya kulitnya berbeda jauh, kepadaku.
Sebenarnya, aku merasa "aneh", kenapa tiba-tiba ngenalin kakaknya padaku sedangkan banyak orang lain disana? Bukan ge er, tapi apa pentingnya? Dan kemudian aku harus berbasa-basi menanyakan tempat tinggal bla bla bla.. Untung ada cs-ku yang ga bikin garing suasana.
"Tuh kan, dia gak punya anak!" kataku pada cs-ku
"Seneng kowe!"

Hari ini hanya setengah hari melewatinya bersama perempuan bergaris pelangi itu. Aku sebenarnya kerasan, namun memang tak ada aktivitas karena para peserta field trip sedangkan peserta yang dikatakan akan hadir untuk daftar juga tak ada.

Sorenya, aku kesana lagi, untuk briefing tugasku di hari ketiga dan keempat, tapi tak menemukan batang hidungnya.

Hari Ketiga
Hari ini tugas saya dalam event ini berganti dari jaga stand menjadi rekam proses di panel bersama dua orang lainnya.

Jam 8 hampir setengah 9 aku sampai di depan stand yang masih di tata. Perempuan itu tak kulihat di sekitar areal pameran. Agak tak semangat juga jadinya, ciyee sudah mulai lebay nih... Namun tetiba gak tau darimana datangnya kayak jatuh dari langit aja, perempuan yang hari ini berkaos biru itu ada di sebelahku sedang memberi double tape pada kertas yang kemudian ditempelkan di bawah foto yang dipamerkan.

Dari kostumnya sih kelihatan kalo dia pasti belum mandi. Jeans dan kaos biru, sedangkan aku dan peserta lain diharuskan pake batik, kontras bukan?
"Belum mandi ya?"
Dia mengangguk.
"Gimana ini jam segini kok belum mandi?"
"Iya, entar. Daripada bilang udah mandi ternyata belum mandi." ujarnya tak mau kalah.

Ketika acara pembukaan sudah dimulai lumayan lama, ia muncul habis keramas dengan padanan coklat. Makin mirip Titi Sjuman aja. Cuma cara jalannya maskulin banget.

Ada beberapa kejadian hari ini yang lumayan bikin geli. Perempuan itu punya tampang khas pura-pura oon, dia tau aku di dekatnya tapi pura-pura gak tau. Kayak ketika ia mengambil duduk di baris belakangku, ia kayak pura-pura tak tau aku di depannya, lalu akan tersenyum ketika kami bertemu pandang. Belum lagi lagaknya yang tetiba berdiri diam satu meter di sebelahku yang lagi ngobrol ama teman-teman Jogja. Ya kalau mau nimbrung kan tinggal gabung saja, nah ini berdiri diam apa sebenarnya pengen disapa duluan ya? Dan sikap-sikap kayak gitu terjadi berulang.

Waktu itu ia terpaku di meja stand sebelah, entah apa yang dibacanya. Lalu aku dengar suara film yang diputar lagi adegan interview survivor tapi dengan pertanyaan2 yang tidak boleh diajukan, apalagi di filmkan.
"Film apa ini," tanyaku tidak pada siapa-siapa.
Perempuan itu menolehku dan menjawab. Tuh kan, jadi tujuan berdiri diamnya itu apa emang menanti disapa dan ngobrol?

Menjadi rekam proses otomatis "memisahkanku" dengannya. Aku berganti-ganti ruang sedang ia hanya di selasar. Parahnya, jam berakhir antar panel itu tak kompak. Ada yang sudah selesai, sementara di ruangan lain belum. Dan itu yang terjadi padaku di panel satu yang masih asik debat sedangkan jam harusnya sudah berakhir, ditambah orang-orang panel selanjutnya sudah berdatangan. Sembari lumayan panik karena jarak antar ruangan yang dipakai lumayan tidak dekat, aku agak tergesa menuruni tangga dan melewati selasar pameran; lewat depanmu sih maksudnya.
"Hai, hai" Sebuah sapaan singkatmu yang mengademkan kepanikanku, menggantinya dengan senyuman. Ahh co cwit deh...

Hari Keempat
Last day with you... Kenapa hari begitu cepat? Pertanyaan yang tak ada jawabnya, selain mengamini pepatah waktu akan berasa cepat berlalu untuk orang yang sedang bahagia.

Pagi ini seperti kemarin aku menemukannya berkaos putih dan celana jeans. Tetap menarik, justru aku memang tertarik dengan perempuan yang tampak menarik ketika ia memakai pakaian kasual daripada ia sudah terpoles apalagi dengan ketebalan selayak mau tampil di tivi aja. Bahkan ketika perempuan itu berganti busana formal, ia tak tampak memoles wajahnya. Natural, and I like it!

Perempuan itu sedang mengutak atik LCD ketika aku menyapa seorang teman tak jauh darinya. Kami mengobrol, padahal menyapa teman itu adalah bagian strategi basa basi agar menariknya dalam obrolan. Dan strategiku berhasil. Perempuan itu juga menerapkan strategi tiba-tiba mengaitkan obrolannya dengan si temanku yang juga adalah teman kantornya. Walhasil, kami mengobrol sebentar.
"Makasih, buat aku ya.." ujarku seraya menunjuk sebungkus cokelat Delfi kepunyaannya yang langsung ia cengkeram erat seolah berkata jangan ambil.
"Cuma punya satu, itupun dikasi." jawabnya polos.
Aduh, mbak, yang mau minta juga siapa, kan cuma godain.
"Buruan mandi, dari kemarin jam segini belum mandi,"
"Iya, ya"
Usai panel pertama yang letak ruangannya dekat dengan selasar pameran, aku tak menemukan batang hidungnya. Kata temanku ia memang belum muncul sejak tadi. Walhasil, sering celingukan ke arah selasar menjadi aktivitasku selanjutnya.

Dan jeda panel pertama dan kedua memang lumayan lama. Akhirnya yang kutunggu tiba... Perempuan itu dengan batik ijo pupusnya... Hmm, kian mirip Titi Sjuman saja, kecuali cara jalannya hehe aku tak menganggap cara jalannya tak indah, hanya tak seperti perempuan kebanyakan. Tegap dan cepat, sama kayak cara kerjanya, pun lekukan wajahnya. Rambutnya kembali basah terurai... Cantik!

Dan panel kedua kurasa akan memisahkanku dengannya, namun takdir atau jalan cerita berkata lain. Aku ada di panel Seksualitas dan Pemiskinan, tema yang menarik menurutku, paling tidak istilah2nya dikenali oleh kupingku, daripada kosa kata pertambangan. Ketika preparing ruangan dan materi, tiba-tiba perempuan berbatik ijo itu memasuki ruangan. Kukira akan hanya mengurusi hal teknis, eh kok dia duduk manis di kursi peserta.

Ada yang bersorak di relung terdalamku, selain nervous merekam proses dengan dia ada dalam ruangan akan memecah konsentrasiku. Kegirangan hati ini harus ku kontrol. Karena selain ia tampak santai dengan muka pura-pura oon-nya, plus tugas ini tak boleh bikin aku nge-blank.

Salutnya buat nih cewek adalah ia tangkas dan mumpuni banget jadi seksi perkap. Ketika mendengar microphon narsum agak tersendat, ia langsung berdiri, menyodori mic penanya. Yang kusalutkan, bahkan panitia di ruangan itu tak sensitif, tapi ia cekatan, dan sekali lagi dengan muka khasnya, ia tau aku duduk di meja notulen tapi senyumnya hanya ia biaskan lewat ekor mata. Duh mbak, kok ngegemesin sih!

Btw ada ide jail yang menghinggapi otakku mengingat hari ini terakhir aku melihatnya. Aku menodong teman sekantorku yang jaga stand untuk memotretnya diam-diam. Dan dalam proses itu, kata temanku perempuan batik ijo itu sempat curiga dengan bertanya:"kamu mau memotretku kah, mbak?"
Dan untung temanku dengan pintar menjawab: "Nggak, mau memfoto tas kok, tapi kalo mbak mau jadi modelnya malah bagus!" Dan perempuan itu menjadi modelnya.

Aku tau ia akan curiga karena ia tau si pengambil gambar adalah teman kantorku.

Panel kedua berakhir, sekaligus menyudahi kerjaku. Dan menunggu rapat sebelum konpers hasil konferensi adalah jeda dimana aku ingin waktu berjalan melambat kalau perlu rapatnya dibikin lama saja. Menikmati curi-curi pandang dan curi-curi senyum diantara aktivitasnya. Mengekornya di selayang mata. Kok aku gak rela ya hari ini terakhiri?

Dan ia berpamitan ke tiap stand. Satu lagi yang kukagumi, ia sangat appreciate banget ke tiap orang. Mengajakku toast sebagai ucapan terima kasih, aku kemudian menariknya untuk berbincang. Aku sudah tau dua nomor hapenya, tapi berinteraksi di BBM akan jauh lebih baik, bukan?

Dan entah kenapa, banyak momen yang sepertinya bukan hanya kebetulan, tetapi takdir. Ada seorang kawan dari Medan mengajakku berfoto, kebetulan yang fotoin adalah rekan kerja si Titi Sjuman. Dari dua orang, menjadi empat orang, lalu kelipatannya, semua tertarik berfoto bersama. Aku meneriaki perempuan batik ijo itu untuk gabung foto bersama, ia mendekat. Dan modus sukses itu tak kulewatkan begitu saja. Aku mengambil kameraku, kali ini mengajaknya foto berdua saja. Tetapi si anak Medan tadi minta ikut foto bersama. Dan jawaban si Titi Sjuman ini mengagetkan sekaligus bikin aku ngakak.
"Gak baik foto bertiga, pamali, hush hush.." Hmm, jawaban sekaligus kode yang bagus.
Dan pose pertama yang hot adalah saling peluk, merekatkan tangan di pinggang masing2. Namun karna si potograper yang adalah teman saya tak seberapa pintar, maka tak terjepret.
"Kok ga ada blitznya?" tanyanya.
Setelah ku cek, emang gak terjepret. Ia meminta diulang, tetapi dengan pose berbeda. Ia membelakangiku, namun tubuhnya melekat di bagian depan tubuhku dan tanganku menggantung di pundaknya. Dan saya baru nyadar, stand2 lain sedang memperhatikan kami, and I, or we don't care. Ia sangat enjoy dengan sesi poto ini.
Dan yang bikin geli adalah pada akhirnya perempuan batik ijo ini sebenarnya mau foto bertiga dengan si anak medan tadi. Lalu kenapa tadi pake acara nolak dan bilang pamali? Mencurigakan!

Dan waktu memang benar-benar kejam. Ia memisahkan. Perempuan itu tau betul ketidakrelaanku. Di depan, ia yang tengah bersama kakak dan keponakannya mengantarku dengan senyumnya dan seutas janji akan main ke kantor bersama Bos-ku. Janji yang harus kau tepati, nona!

+1 Hari Lagi With #KayakTitiSjuman
Aku sebenarnya memang tak merasa bahwa hari keempat itu menjadi hari terakhir kami. Dan lagi-lagi, aku tak bisa mendefinisikan batas antara kebetulan dan takdir untuk kami. Begini ceritanya...

Tanggal 3 Desember hampir tengah malam ada sebuah email undangan ikut workshop di tempat yang sama dengan event 4 hari itu masuk di email kantor. Tanggal acara adalah hari setelah konferensi itu berakhir. Dan tau tidak, aku tak mengunduh TOR dan tetek bengeknya, hanya langsung mengisikan namaku pada lembar konfirmasi padahal aku tak tau workshopnya tentang apa, yang aku tau feelingku mengatakan aku akan masih bisa ketemu Titi Sjuman di hari itu.

Dan memang benar-benar malas untuk hadir. Kedatanganku adalah alibi untukku beralasan berada di hotel itu.

Dan sekali lagi aku percaya ini bukan kebetulan tetapi takdir. Melihatnya dalam kasual kaus putih dan jeans, ia menepuk pundakku dan menyajikan senyum termanisnya ketika aku sedang menunggu teman sembari mengobrol dengan temannya yang wajahnya mirip tanteku itu.
"Ikut yuk ke Beringharjo" tawarnya padaku.
Maunya sih ikut, tapi kan aku kesini mau workshop gak penting itu. Hmm, padahal kalau nekat sih bisa, tapi kadung janjian ama teman untuk ikutan workshop.

Ia berpamitan. Dan pesan pendek BBM menemani hingga ia mematikan ponsel lepas landas meninggalkan Jogja.

Will be miss u a lot #KayakTitiSjuman...

No comments: