Awalnya kukira -dan juga logikanya- jika sepasang kekasih yang dalam kurun waktu setahun lebih dibentangkan oleh jarak dan cemburu, kini berdekatan meski tak satu atap namun intensitas pertemuan jauh lebih sering akan membuat sepasang kekasih tersebut solid, rukun dan sejenisnya. Tapi ternyata tak kutemui dalam kenyataan hubunganku sendiri.
Kecemburuan yang selalu menghiasi tiap pergerakanku selama kita tak tinggal satu kota -entah ponselku yang sibuk karena menerima telepon teman atau ketika waktuku banyak tersita oleh keluarga- kuanggap sebagai suatu kewajaran dalam relationship. Tapi kini, ketika tak lagi ada jarak -kecuali jarak antara rumahmu bersama suami atau orangtuamu dengan kosku-, ketika aku tak lagi jauh dari arah pandangmu, kenapa masih saja kecemburuan itu tak jua sirna dari otakmu? Aku mempertanyakan, juga sekaligus bingung, kecemburuan ataukah ada yang kau sembunyikan dariku?
Sebab menurut pemikiranku -dan mungkin kebanyakan orang juga-, ketika seseorang berpikir terlalu negatif akan orang lain, ada (baca: banyak) kemungkinan dirinya sendiri lah yang tengah melakukan hal negatif tersebut. Karena ia tak akan berpikir terlalu buruk pada orang lain jika ia sendiri tak melakukannya. Jadi ketika ia berpikiran orang lain melakukan hal yang buruk adalah kamuflase atas perilaku yang MUNGKIN dilakukannya sendiri.
Tentu saja aku tak sedang berpikiran buruk kau tengah melakukan hal-hal yang sering kau tuduhkan padaku (SELINGKUH-red). Namun wallahu a'lam jika kau benar-benar melakukannya:)
Balik ke topik JELES diatas. Kadang ketika narsis mode on- ku kumat aku berpikiran: Emang secakep apa sih diriku ini hingga kau teramat sangat mencemburuiku sekali (biarin dah keluar dari EYD deh!). Padahal kau tahu dengan pasti ku ada dimana, bersama siapa, sedang berbuat apa... Hehe kok jadi kayak lagu ya.. Gitu masih saja kecurigaan yang kau tuliskan lewat sms mengalir deras ke ponselku. Bahkan yang paling parah nih, ketika pagi-pagi aku boker (B.A.B), kudengar hape berdering beberapa kali, lalu diakhiri sebuah sms. Selesai buang hajat, kubaca isinya: "Kamu kemana sih, kok mencurigakan?" Ampyun deh, orang lagi pup juga di otak kotorin!
Aku bukannya tak senang dicemburui, tapi jika sudah dalam porsi berlebihan dan jauh dari batas kewajaran, lama-lama jengah juga diperlakukan demikian. Aku berpikir seolah-olah aku harus di rumah, tidur, sendiri (jadi kayak iklan ajah!) agar kau tak berkata macam-macam. Apakah memang itu yang kau inginkan? Berada dalam kotak 3x3, terisolir dari dunia luar, tak ada sosialisasi dengan orang lain. Hanya berteman dengan komputer dan telepon-telepon darimu. Itukah yang kau ingin perbuat padaku? Sebab ketika diluaran, kau pikir aku seperti remaja belasan tahun yang belum bisa membedakan mana pergaulan yang baik dan yang buruk, hingga kau MERASA perlu mewejangiku ini itu.
Seperti hari ini, aku berada di titik terendah untuk meredam emosi yang kurang lebih dua minggu selama aku disini, tertahan.
Aku hanya ingin membuatmu berpikir, merenungi untuk kemudian kau tarik garis kesimpulan sendiri, hubungan seperti apa sih yang kau inginkan hingga kau tak lagi selalu berpikiran buruk terhadap pasanganmu?
Baca, pahami, resapi, renungi dan ambil jalan tengah terbaik.
KEPERCAYAAN tidak butuh terucap melalui lisan, jikalau hatimu masih meragukan.
No comments:
Post a Comment