Friday, November 28, 2008

Cinta Sekonyong-Konyong Mak-Terrr...

Cinta...
Lagi-lagi ngebahas soal cinta dan memang tidak akan ada habisnya mengutak-atik kata dengan berjuta definisi, situasi, kondisi dan beragam hal lain yang melingkupinya namun tetap menjabarkan satu kesamaan makna, yaitu sebuah ketulusan, perasaan suci terhadap seseorang yang bermuara dari lubuk hati yang belum terjamah logika, akal pikiran, rasio yang perlahan mungkin menjadi racun terselubung menggoyahkan apa yang tumbuh dalam nurani.

Seorang sahabat -mungkin bisa kugarisbawahi sebagai saudara-, sebut saja namanya An, entah bagaimana ikhwal ceritanya, namun akhir-akhir ini ia sedang terkena panah asmara sebegitu dahsyatnya seakan menembus tulang.

Ia curhat tiap saat dan tiap detil cerita padaku. Malah aku tak menyangka ia akan begitu dalam memberi arti kehadiran perempuan yang dikenalnya hampir tujuh tahunan itu. Dulu, perempuan itu pernah menyatakan cinta, namun An menolaknya. Kini, kondisi berbalik, An teramat menaruh hati padanya, sedang perempuan itu acuh tak acuh, datang dan pergi sesuka hati. An pernah berprasangka, bahwa perempuan itu memang tengah membalaskan sakit hatinya beberapa tahun lalu agar An juga bisa merasakan apa yang ia rasakan dulu. Namun, anggapan itu ditepis oleh si empunya.
"Tak ada balas dendam! Aku sedang konsentrasi mengurus "perceraian"ku dengan mantan! Meski memang pada akhirnya kau bisa merasakan kan bagaimana perasaanku tujuh tahun lalu ketika orang yang kau cintai menolakmu?" kilah perempuan itu.
Aku dan perempuan itu satu kota. Atas rekomendasi An, kami bertemu. Mendengar jejalan cerita dari An, awalnya aku tak simpatik pada perempuan itu. Kebetulan kami ke rumah salah seorang temannya dan ia bercerita banyak tentang masalah "perceraian" yang ribet itu. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenalnya, mengetahui satu demi satu prinsip dan pemikirannya, hingga aku memperoleh kesimpulanku sendiri tentang perempuan itu tanpa versi dari An.

Pengalaman "perceraian" perempuan itu sekaligus juga membuatku berpikir tentang realita kehidupan belok. Perempuan itu dan pasangannya telah menjalin kasih dan tinggal satu atap kurang lebih lima tahunan. Semuanya mungkin begitu indah pada awalnya, padahal -mengutip dari blog tetangga- segala sesuatu memang ada batas kadaluarsanya, meski untuk masalah hati ini kita tidak mengetahui masa aktif dan masa tenggang atau bahkan masa berakhirnya. Tak ada seorang pun yang menginginkan jalinan asmara yang telah matang -tukar cincin dan menikah di hadapan pemuka agama- tiba-tiba terputus di tengah jalan dengan menyisakan serentetan sengketa dan konflik tak ada ujung tentang harta gono-gini.

Mengkaitkan perasaan suci An dengan situasi yang tengah dihadapi perempuan itu -maaf sebelumnya untuk sahabatku- aku merasa WAJAR jika perempuan itu menolak An. Aku bahkan menilai ia gentle dengan tak memberi harapan kosong yang ia sendiri tak tahu kapan ia bisa menaruh hatinya pada An, meski rasa sayang -biasa- memanglah ada. Dan aku berada di tengah antara keduanya. Sedikit serba salah memang, meski aku mengambil sikap netral, hanya menjadi pendengar keduanya. Di satu sisi An adalah sahabat, sementara perempuan itu walau baru kukenal namun juga telah banyak curhat padaku tentang An dan kondisi "rumah tangga"nya yang amburadul.

Cinta... Seberapa dalam pun orang yang dicintai telah menyakiti, sebisa mungkin hati akan bertahan, meski telah tak bisa diterima logika, seolah buta.

"Aku hanya menunggu..." desah An. "Menunggu sampai hatiku tak merasa sakit ketika ia menyakiti. Disaat itulah aku akan ringan untuk melangkah pergi, meninggalkan perasaan yang telah mati."

An sungguh menyadari, melupakan perasaan yang telah mengakar memang tak mudah untuk dikompomi. Rindu kerap bergolak, berusaha tuk patahkan gengsi yang terlalu rapuh. Sampai kapan... An tak pernah tahu...

No comments: