"Aku pulang!" cetus perempuanku. Mimik mukanya telah ditekuk dalam-dalam. Dengan cekatan ia mengenakan satu persatu pakaiannya, padahal sekian menit yang lalu kami telah "siap tempur". Aku hanya duduk termangu di tepi tempat tidur. Mencoba mencerna dimana letak "kesalahan fatal" yang kulakukan hingga membuyarkan apa yang kami ingin nikmati sebelumnya. Aku tak mengantarnya ke bawah seperti biasa. Kudengar derum motor keluar. Aku masih terpaku di sudut yang sama.
Alasan kemarahannya -bagiku- terbilang sepele dan nggak penting.
Tertawa. Yaa... Karena ketika aku baru saja menaiki tubuhnya, aku tertawa. Bukan karena menertawakan lekuk tubuhnya. Bukan juga karena ada sesuatu hal yang lucu. Aku tertawa karena sedari awal ia melucuti pakaiannya, mulai dari kancing bajunya yang susah sekali untuk dilepaskan, larangan-larangannya untuk tidak begini dan begitu ketika bercinta, serta saat ia bilang "Lalu... Lalu..." yang memicu tawaku. Siapa yang tidak akan tertawa jika hendak bercinta, ia malah bilang: Lalu... Apalagi... Terus..., seperti program acara memasak di tivi saja, menjelaskan step by step hidangan yang akan dibuat. Tapi ia terlanjur ngambek, tak bisa dibendung dan ditahan untuk segera enyah dari hadapanku. Malah tak mau mendengarkanku dan keukeuh pergi. Aku melepasnya, menyerah.
Ini bukan pertama kali ia pulang dengan masih menyisakan marah. Malah hampir tiap ia kemari, ada saja pertengkaran-pertengkaran kecil yang kemudian merembet. Selama ini aku selalu diam, mengalah menurut versiku. Pertimbanganku hanya satu, aku memutuskan untuk tinggal satu kota dengannya adalah demi hubungan yang lebih baik. Bukannya malah keseringan bertengkar seperti saat kami jauh dulu. Jauh dekat jadi tak ada beda jika salah satu dari kami tak berusaha mengekang ego masing-masing. Aku sadar betul, kami berdua sama-sama keras kepala. Ia sulung yang tak mau diatur dan aku bungsu yang tak mau kalah. Jika tetap pada pendirian masing-masing, maka habis cerita. Tak heran, selama disini aku mencoba untuk lebih sabar dan mengalah -dalam versiku- dibanding ke-temperamental-anku ketika kami LDR dulu.
Salahkah ada rinai tawa diatas tubuh yang akan berpacu dalam gelora? Bagiku, wajar saja. Tapi mungkin tak untuk buatmu.
***
Aku memang bukan orang yang romantis
Tutur kataku hampir tak pernah puitis
Perilakuku kerap kali garing abis
Namun dibalik semua kekuranganku yang membuatmu miris
Aku disini telah mencoba dan semampuku beri yang termanis
Bukan hanya barang saja
Cinta pun ada kadaluarsa
Meski tak tertera secara kasat mata
Namun aku berharap semoga
Disaat kebersamaan kita
Yang mungkin tak sepanjang usia
Persembahan hati dan jiwa
Tetap utuh adanya
Hingga waktu itu tiba
PS: Maaf ya, tulisan ini aku pajang juga. Tapi kalo setelah baca ini kamu nggak setuju, nanti aku hapus deh! Aniwei, kapan nih ngelanjutin pertempuran yang tertunda?
9 comments:
Hahaha...Al, ketawamu itu tidak pada waktu yang pas.
Hehehe emang nggak pas sih waktunya, tapi sikonnya memicu tawaku, gimana dunk? :)
Menurutku, tertawa saat bercinta boleh saja asalkan percintaan itu sudah sering kamu lakukan dengan pasangan. Karena kalau tidak, pasangan pasti akan tersinggung. Cobalah untuk mengabaikan setiap kelucuan yang ada. Bila pasangan agak tegang cobalah untuk membuatnya rileks. Dan bila pasangan agak canggung membuka pakaiannya maka cobalah untuk membantunya. Mungkin lain kali ketawamu bisa diganti dengan senyuman, selamat bercinta ha..ha..ha.
Nggra, biasanya dia nggak pernah bilang: Lalu... Lalu.., gitu kok. Yaa yg penting skrg udah ga ngambek lg hehe. Btw thanks 4 ur advice...:)
Walah Alv, sumbu partnermu ternyata pendek juga yak.. ;p
Mungkin tertawanya bisa ditunda setelah pertempuran, betoool tidak??
Betoooll sekalee...:)
Aq pernah di posisi partnermu. Dan emang sempet ilfil buat ngelanjutin serangan fajar. Tapi nggak segitunya sampe marah segala. Lah tanggung... huehehehehe
Tertawa saat bercinta, itu sering bgt Al.. ada moment dimana babyku mulai touchy2 aq.. yg biasanya akan bikin aq tinggi.. tp klo lg dateng mud geli..padahal aq dah coba nahan tapi keluar jg.. yg ada aq ketawa ngakak n kgelian..(padahal suasana dah serius)
tapi Babyku tetap nyeraaaaangg.. hehe semangaatt
yo...semangat...
Post a Comment