Sudah cukup selama hampir satu setengah tahun aku tak pernah sedikitpun dianggap olehmu!" hardikmu via pesan singkat. "Blogmu hanya sedikit berisi tentang aku!" imbuh sms berikutnya. " Facebook dan Friendsterku nggak kamu add lagi!" Topik jadi agak melenceng:)
"Nggak seperti yang lain yang selalu kamu tulis, yang selalu kamu anggap penting! Nggak kayak aku! Percuma satu setengah tahun hubungan kita!"
Bla bla bla hujan makian tentu saja tak berakhir sampai disini. Masih banyak jenis pesan singkat yang intinya sih masih seputar itu-itu saja yang kamu kirimkan padaku. Aku terhenyak! Sungguh, terkadang aku dibuat merenung, namun seperti biasa aku tak pernah memahami jalan pikirannya. Di matamu, di kepalamu, di pikiranmu dan mungkin juga di hatimu, aku selalu saja salah dan kamu selalu benar. Jika diibaratkan ujian, kamu dapat nilai seratus dan aku nol.
Tapi benarkah nilai seratusmu adalah nilai sempurna, sedangkan nilai nolku adalah sebuah ketidaklulusan karena kebodohanku? Yaa, mungkin aku bodoh, karena aku hanya diam.
Tapi tak pernah kah terfikir olehmu., atau setidaknya sedikit saja pernah terlintas dibenakmu akan arti kehadiranku disini, di kotamu, di kota yang jujur saja sangat tak kusukai untuk kukunjungi, bahkan kini -terpaksa, mau tak mau, suka tak suka- harus kupijak untuk kucari tempat bertapak dalam secercah hidupku. Tak pernah sadarkah kau untuk siapa semua itu kulakukan?
Aku diam. Berkali-kali aku diam dan coba mengertimu sembari berharap engkau akan pernah terbersit untuk menjadi sepertiku, berada di posisiku sekarang. Apa kita harus bertukar tubuh terlebih dahulu untuk bisa bertukar peran dan bertukar perasaan agar engkau bisa merasakan, setidaknya mencicipi bagaimana rasanya diperlakukan layaknya kau memperlakukanku selama ini.
Aku bukan robot tanpa hati nurani. Aku hanya seorang perempuan yang juga bisa merasa, meski aku lebih banyak memilih diam atas cercaan, makian, ketidakpuasanmu akan kekuranganku. Robot pun bisa rusak, tak ubahnya hati jika selalu dikikis oleh ketidaksediaanmu untuk menyisihkan hati menjadi sepertiku.
Aku menghargai semua diantara kita. Jika ditinjau ulang, waktu satu setengah tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengecap sebuah hubungan dengan fikiran yang terlalu dangkal. Bagimu, lebih kah berarti intensitas tulisanku tentangmu di blog, FS dan FB yang tak lagi pernah kujamah, atau hal-hal lain diluar hal yang teramat penting dalam sebuah hubungan?
Kurasa bukan lagi waktunya berpikiran seperti remaja belasan. Namun aku juga tak akan -dan tak pernah memaksa untuk- memintamu mengerti pemikiranku, sudut pandangku, dan merasakan perasaanku. Jikalau memang ada aku di hatimu, semua kesadaran dan kedewasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu kuberlutut untuk meminta.
Satu setengah tahun tidaklah singkat, namun akan menjadi pendek jika tak kau pernah pelajari mencerna makna, bukan hanya menyerap keburukan dan kebobrokannya...
Love u
1 comment:
It's enough 4 me 2...
Skrg aq hanya belajar mencintai dia "lebih" apa adanya...
Post a Comment