Brakk... Brakk... Brakk...
Suara itu membuatku seketika terjaga. Mobil berhenti. "Dimana ini?" desisku setengah sadar.
Brakk... Brakk...
Suara itu kembali terdengar di belakangku.
"Yang turun Solo, bangun, pak," lantang sang sopir berulang-ulang karena dua penumpang di belakang masih saja ngorok.
"Solo..." Aku teringat pemberitahuan sopir barusan. Bergegas kutengok penunjuk waktu di layar ponsel. "Masih jam satu kurang..." Jarak Solo-Jogja kurang lebih sejam setengah. Mati aku, desisku. "Masa aku mau gedor-gedor yang punya kos pagi buta gini!" batinku sembari berharap waktu lebih cepat beranjak atau kalau tidak mobil melambat. Ah, tak mungkin aku menyuruh sopir mengurangi kecepatan, justru kukira ia ingin cepat-cepat sampai dan beristirahat, makanya ia ngebut banget. Bayangkan, ketika mataku tak kuat menahan kantuk tadi mobil yang kutumpangi baru memasuki wilayah Madiun, dan bleepp... Dalam sekejab mata ia sudah sampai Solo.
Pukul dua. Entah ini berada dimana. Aku sudah tak konsen, bingung merangkai kata yang nanti kuutarakan pada pemilik rumah. Hampir setengah tiga ketika tiba-tiba sopir menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Ada apa, pak?" tanyaku pada lelaki kurus yang umurnya paling cuma diatasku sedikit.
"Lupa jalannya, mbak!" sahutnya sembari memencet ponsel.
"Semoga saja ia tak segera menemukan alamat yang kuberi!" pintaku dalam-dalam.
Nomor yang ia hubungi rupanya tidak tersambung. Laki-laki itu turun, bertanya pada segerombolan pria di warung pinggir jalan. Tak lama ia duduk kembali di balik kemudi, putar balik mobil.
"Kelewatan ya, pak?"
"Iya, saya lupa daerah sini!" ujarnya sambil melongokkan kepala ke kanan kiri jalan.
Masih pukul tiga kurang. Apa yang harus kulakukan untuk mengulur waktu? Sudah tak ada! Mobil telah menikung di gang yang kuberitahukan.
Rupanya Dewi fortuna masih menemaniku. Rumahnya susah dicari. Aku dan sopir itu turun. Berkeliling dan tetap tak ketemu. Nomor rumah acak. Aku sedikit bersorak. Paling tidak akan memperlambat waktu. Tapi tak bertahan lama. Laki-laki itu berhasil menemukan rumah yang ternyata telah kami lewati.
Rumah berpagar rendah itu UNTUNG SAJA tak dikunci. Aku melihat kilatan-kilatan blitz televisi yang menyala dari celah angin diatas pintu. Berarti orangnya belum tidur, pikirku. Dengan semangat 45 segera kuketuk pintu.
Satu, dua, bahkan hingga tujuh kali tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu. Si sopir mengetuk lebih keras, tapi orang yang didalam seolah tewas saja tidurnya.
Aku memutuskan menurunkan barangku dan menunggu saja sampai pagi ada yang membukakan pintu. Baru setengah barangku mencicipi teras, kudengar bunyi kunci diputar dari dalam. Seorang kakek muncul menghampiriku. Aku langsung mengungkapkan maksudku. Laki-laki renta yang nada bicaranya kebarat-baratan itu (habisnya aku dibilang YOU2 an, jadi pengen ngakak dengernya!) menghilang dibalik pintu, kemudian muncul kembali bersama perempuan seumuranku.
"Mari, mbak, masuk..." Perempuan itu santun menyilahkanku. Ia menuntunku ke kamar. Di lantai 2. Gelap pula. Ia pergi usai berkata ini itu. Tinggal aku sendiri. Terpekur di bangunan 3x3 ini seorang diri. Aku berinisiatif menelepon perempuanku. Berulang. Tak diangkat. Jam segini mana pernah ia menerima panggilanku. Paling juga hapenya disilent.
Oahm... Kantuk menderaku. Sayup kudengar suara orang mengaji di masjid. Sebentar lagi subuh. Mataku terpejam.
1 comment:
ooo...now kk dYogya y...
yh g bs ktmu dhe,,mang k'alvi prnh mw ktmu sm sy???
plhn itu jgn prnh dssli,st-mnz y sy hehehhe..
Post a Comment