"Oops... Sorry..." ujar Rien usai menubruk perempuan yang berjalan dari arah berlawanan.
Perempuan dengan pangkasan rambut pendek itu hanya tersenyum sebentar pada Rien, tanpa berkata sepatah pun ia melanjutkan kembali langkahnya sembari nampak serius mengobrol bersama laki-laki partner kerjanya.
Insiden kecil barusan bukan tak disengaja. Rien memang telah merekayasanya, tercetus spontan ketika melihat perempuan itu akan berpapasan dengannya. Ide klise namun kerap kali tokcer membuahkan sebuah hubungan antar dua orang yang sebelumnya tak pernah saling kenal. Meski ide itu ternyata tak cukup manjur, paling tidak ia sempat dihadiahi sebuah senyuman kharismatik oleh pemilik wajah serius itu.
Rien baru sebulan di kantor ini. Dan perempuan berpenampilan butch itu telah menarik perhatiannya sejak awal. Indah, nama perempuan itu. Sebuah nama yang terdengar "cewek banget" untuk penampilan dan tingkah laku yang maskulin. Perempuan itu juga sungguh teramat sangat cool, sedingin kulkas.Beberapa kali Rien telah memutar otak untuk mendapatkan cara agar bisa mengenalnya, paling tidak bisa bertegur sapa, tapi dewi fortuna belum berpihak padanya. Rien bukannya keganjenan, namun "keangkuhan" perempuan itulah yang seakan membuat Rien ingin meruntuhkannya.
Maka momen kebetulan barusan kemudian menjadi salah satu senjata Rien dan melihat sekian jurus masih tak manjur, pasti lebih banyak lagi trik-trik yang akan dilancarkannya guna meraih perhatian si tomboy. Dan bukan Rien namanya jikalau ia tak bisa mendapatkan apa yang ia mau.
***
Outbound. Mendengar namanya saja sebenarnya Rien sudah malas ikut, tapi karena acara weekend kantornya itu adalah sebuah keharusan, suka tak suka ia harus ikut.
"Kamu mau outbound atau ke mall sih?" ejek teman kerja Rien melihat busana dan anting-anting yang ia kenakan.
"Biarin deh!" sahut Rien keki. Ia memang tak pernah tahu apa itu outbound, meski sehari sebelumnya sahabatnya telah memberikan gambaran, tapi setelah ia mengobrak-abrik isi lemarinya, ia merasa atasan ungu tanpa banyak motif dan celana jeans inilah yang dirasanya paling nyaman.
"Anting-anting dan tasmu itu lho yang bikin kayak mau ke mall!" protes teman kerja Rien tak henti-henti.
Soal anting-anting, bagi Rien aksesoris telinga itu nampak wajar. Kalau soal tas, Rien memang dibuat agak kebingungan tadi. Masalahnya tas yang kerap dipakainya ngantor berukuran terlalu besar. Tak membawa tas juga tak enak. Pilihan kemudian jatuh pada tas kecil ungu tua.
Dan aktivitas outbound itu ternyata diluar dugaan Rien. Memeras keringat dan melelahkan serta harus diikuti. Belum pulih tenaga dari satu aktivitas, pindah ke aktivitas lain.
Empat peserta telah siap di posisi masing-masing. Kaki-kaki mereka telah tertambat pada balok kayu panjang yang menyerupai sandal.Bedanya ini dipakai bersamaan, saling memeluk pinggang dan butuh kekompakan dalam melangkah. Rien di urutan ketiga. Di tengah ayunan kaki, grup Rien oleng. Puncaknya keseimbangan sudah tak bisa dipertahankan. Rien tak merobohkan tubuh pada lelaki kurus di belakang dan menghempaskan tubuh ke samping, namun malang ia malah "kejatuhan" gajah. Pria gemuk di depannya tak bisa menguasai diri, menindih Rien yang hanya bisa meringis.
"Kau tak apa-apa kan?" Suara berat mengagetkannya. Perempuan kurus nan jangkung itu tengah mengulurkan tangan ke arahnya.
"Yaa... Aku nggak apa-apa..." Dengan sigap Rien menerima uluran tangan perempuan super cuek itu. Pegal dan letih tubuh Rien yang bercampur menjadi satu seolah-olah musnah seketika perempuan itu mempertontonkan barisan putih giginya. Ia bahkan tak menyangka tanpa terlebih dahulu susah payah mencari akal, perempuan itu malah hadir di pelupuk matanya. Outbound yang tadinya membosankan kini terasa menyenangkan. Ternyata perempuan itu tak seserius raut muka dibalik kaca mata minusnya. Ia kerap melempar joke-joke ringan yang makin memikat dan melambungkan hati Rien. Puncaknya, perempuan yang hari ini terlihat sporty itu mengantar Rien sampai kost. Hanya senyum dan tawa merekah yang membias dari bibir Rien tiap kali memutar ulang detil detik waktu yang dilaluinya bersama perempuan itu. Dan Rien begitu ingin hari lekas berganti, menikmati kembali lompatan waktu bersama perempuan itu.
***
Pagi ini, tak seperti biasa, Rien teramat perfect untuk urusan riasannya. Padahal tiap harinya Rien hanya berdandan natural. Dan satu lagi, Rien berangkat lebih pagi. Hatinya begitu ringan hari ini.
"Nah, itu dia!" sorak Rien melihat perempuan itu keluar dari ruang meeting. Rien "menyiapkan" diri. Baju, riasan, semua... Perfect!
Sepersekian detik lagi mereka akan berpapasan. Perempuan itu seperti biasa nampak serius berdiskusi dengan partner kerjanya.
"Haruskah aku berpura-pura menyenggolnya lagi?" bimbang Rien. Mengingat kejadian kemarin, gengsinya terlalu tinggi untuk melakukan insiden kecil itu lagi.
Secara tak sengaja, mata keduanya beradu. Rien menyuguhkan senyum termanisnya dan butuh cukup lama jeda waktu bagi perempuan itu untuk membalas senyum Rien. Dan hanya sebuah senyuman singkat, kemudian ia berlalu. Respon yang sama seperti insiden lalu. Seolah lupa akan kejadian kemarin, yah meski tak terjadi apa-apa memang, tapi Rien merasa paling tidak sikapnya kemarin sudah sedikit lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Tapi kenapa barusan ia seperti amnesia tak mengenal Rien dan memperlakukan Rien layaknya belum saling mengenal?
Rien tertegun. Indah, kemarin memang begitu indah, tapi tak untuk kumiliki...
2 comments:
nah... kejadian yg spt ini nih yg bikin bingung....si cewek tomboy itu mungkin jg bingung lihat ada cew senyum2 aja ke dya...senyum beribu-ribu makna...coba langsung aja minta no hp or ajak lunch bareng...biar tahu respon nya dya gituh :-)
Menurut si nara sumber, sesuai judulnya: Indah, [memang] tak untuk dimiliki. :)
Post a Comment