Thursday, November 20, 2008

Funtastik Four In Memorial

Adakah waktu mendewasakan kita
Kuharap masih ada hati bicara
Mungkinkah saja terurai satu persatu
Pertikaian yang dulu bagai pintaku
Semoga...
***

Malam -dini hari- ini entah kenapa mataku begitu sulit terpejam, mengembara tak tentu arah. Mungkin ini efek kopi Nescafe yang kutenggak sehabis maghrib tadi, tapi kalaupun ya, wow dahsyat banget hingga khasiatnya masih merasuk setelah enam jam.

Aku mengutak-atik ponsel sembari melirik jam yang tertera di pojok atas. Pukul dua belas lewat tiga menit. Mataku sebenarnya ingin istirahat tapi benakku entah kenapa melayang-layang tak mau ditidurkan.

Kuperiksa kembali beberapa lagu baru dan lama yang sejenak lalu kupindahkan dari komputer. Termasuk lagu Kla Project diatas. Salah satu lagu kesukaanku. Juga lagu Lembayung Bali milik Saras Dewi, namun dalam format MP4. Dan aku baru tau ternyata hapeku juga bisa dipakai untuk menyimpan file dengan format tersebut hehehe ndeso!

Mendengarkan lagu-lagu mellow bukannya bikin ngantuk malah mata yang tadinya nggak kuat melek jadi makin stereo. Apalagi ketika tak sengaja memeriksa kapasitas memori hape yang tersisa hanya belasan MB saja, kontan dengan cekatan jemariku men-delete lagu-lagu yang jarang kudengarkan. Ruang memori memang telah lowong, namun aku masih bergerilya pada satu demi satu folder untuk menghapus file atau foto yang tak perlu.

Pada folder Rekaman, ada empat file. Iseng, aku membukanya. Ternyata tiga diantaranya kurekam saat Funtastik Four tengah ber-conference ria. Aku bahkan tak ingat aku pernah merekam momen ini. Dua rekaman berisi acara nyanyi-nyanyi. Dan satunya tentang ide bikin friendster keroyokannya F4. Aku senyum-senyum sendiri mendengarnya, sekaligus trenyuh. Senyum karena ketiga orang peserta conference itu tak sadar aku tengah merekam suara mereka, bahkan kebingungan mendengar bunyi TUT TUT di sepanjang pembicaraan dan mereka-reka apa yang sesungguhnya tengah kulakukan. Trenyuh karena rencana indah yang pernah terucap kini hanya menjadi serpihan memori yang mungkin telah terlupakan.

Tragis. Pertikaian tak berujung pangkal memupuskan apa-apa yang terjanjikan kemudian teringkari. Keangkuhan hati untuk memulai lagi. Ego yang begitu tinggi. Ah, aku juga tak sedang berharap semua akan kembali seperti dulu. Karena aku sangat menyadari ini tak semudah membalik telapak tangan seperti semua termusnahkan dengan sebegitu gampang. Mendengarkan rekaman itulah yang mencetuskan ide menuliskannya disini sebagai In Memorial akan F4 yang telah tiada. Dan kok pas banget Mas Katon juga lagi nyeliwer nyanyiin lagu diatas.

No comments: