Di kosan-ku, tepatnya di lantai bawah, ada seorang perempuan berambut cepak yang menurut pasanganku adalah seorang butch. Malahan, salah satu alasan ia memilihkan kos ini adalah karena keberadaan perempuan itu. Bahkan parahnya, tiap kali pasanganku kemari, ia langsung stereo begitu mendengar suara perempuan itu. Ia bahkan mengacuhkanku dan melongok ke bawah untuk mengintip aktivitas si tomboy. Aku hanya geleng-geleng kepala dengan tingkahnya. Bukan cemburu, hanya tak habis pikir ia teramat yakin bahwa perempuan itu berorientasi seksual sama dengan kami. Dan bukan ingin mengurusi pilihan orientasi seksual seseorang, memang jika dilihat secara fisik, suara dan gaya bicara, ia seperti butchy kebanyakan.
Aku kemudian mengetahui namanya dan dimana ia bekerja. Ternyata ia lebih dulu tahu namaku. Kukira ia akan ramah, namun -gaya khas butchy-nya kerap kali keluar, cuek. Aku juga model orang yang kadang ogah untuk menyapa duluan. Jadinya, kami diam-diaman karena tak ada yang memulai.
Kemarin, hujan lumayan deras mengguyur, mengurungkan niatku yang hendak menonton teater di ALKID. Namun ketika reda, seorang teman berniat menjemput. Aku menunggunya di depan gang. Tak lama si "butchy" muncul mengendarai motor. Ia menghentikan motor tak jauh dari tempatku berdiri. Seorang lelaki tengah menunggunya. Keduanya kemudian berbincang. Disinilah, rasa penasaranku tumbuh. Siapa laki-laki itu? Benarkah perempuan itu belok? Aku jadi mengamatinya, meski hanya tampak belakang. Perempuan itu mengenakan jeans "cewek" dan kemeja pendek ala "cewek" kantoran. Yah, ia memang "cewek" dan orientasi seksual seseorang memang tak bisa dipatenkan semata dari penampilan luar, sekaligus juga kurang kerjaan sekali ingin tahu tentang orientasi seksual orang lain, tapi diluar itu semua dan sekali lagi hanya iseng-iseng belaka, rasa-rasanya aku akan mematahkan persepsi pasanganku tentang perempuan itu.
Kurasa ia hanya sekedar tomboy, entah karena memang begitulah karakternya yang sebenarnya atau hanya tuntutan pekerjaan yang ia geluti, yaitu sebagai sekuriti sebuah pabrik lampu.
"Mungkin cowok itu temennya kali..." Perempuanku masih keukeuh dengan pendapatnya.
Hmm... Sungguh kurang kerjaan memang, tapi setidaknya kami berbeda argumen kali ini.
No comments:
Post a Comment