Aku baru seminggu menginjakkan kaki di kota ini, kemudian diajak seorang teman ke rumah salah seorang teman perempuannya. Sebuah kos2an yang menurutku terpencil. Siapapun tak akan mengira ada kos2an disana. Bentuknya memanjang bersebelahan dan tidak berhadapan. Kamar perempuan yang kami temui ini berada di ujung.
Perempuan itu tampak sedang mengutak atik wajahnya yang dalam proses perawatan pengelupasan kulit mati. Jemarinya dengan cekatan mengambil secuil demi secuil kulit yang mengelupas bak ular ganti kulit.
"Perawatan gini ini harus seminggu, sedangkan ini masih dua hari!" jelasnya tanpa berpaling dari cermin.
Waduh, aku sih ogah kalau disuruh bersahabat dengan cermin lama-lama. Mending jerawatan deh daripada ribet dengan ritual perawatan pengangkatan sel-sel kulit mati halah halah...
Seorang teman menyikutku untuk melihat perempuan berkulit putih dengan rambut kecoklatan yang sedang membasuh muka di kran tak jauh dari tempat kami duduk.
"Cantik!" desis temanku itu sambil matanya tak lepas mengikuti tiap lekukan tubuh si perempuan.
Ketika perempuan itu melewati kami hendak ke kamarnya, temanku tak menyiakan kesempatan.
"Namanya siapa, mbak?" Tanpa diminta temanku mengulurkan tangan.
"Eva," jawab perempuan itu malu-malu karena temanku tak juga melepaskan tangannya dari sambutan tangan perempuan yang wajahnya agak kearab-araban itu. Dan temanku makin beringas menggoda. Dasar player, uggh!
Seorang perempuan lagi muncul. Memakai tanktop hitam merah, wajah dan kulitnya khas oriental. Raut mukanya sedikit tak bersahabat. Bibirnya manyun, terkesan judes. Ataukah mungkin memang sehari-hari ia demikian, aku kurang tahu!
Perempuan ini tak menarik minat teman-temanku. Justru aku yang "terpikat". Wajahnya mirip sekali dengan Nyak belokku di Jakarta dulu. Omongannya lumayan kasar. Sedikit-sedikit kata ASU (Baca: Anj***) terlontar dari bibirnya. Ia kemudian membawa motornya pergi sebelum sempat kujelajah sosoknya lebih jauh. Eits, bukan naksir lho ya, hanya mengenal saja coz she's straight and I hear ia baru aja putus ama cowoknya.
Menit berganti jam kulewati dengan memperhatikan temanku yang asyik menggoda perempuan bernama Eva yang sedari tadi sibuk dengan dua hapenya yang bergantian berdering. Ia bicara berbisik-bisik sambil sesekali mengintip ke kamarnya. Awalnya aku nggak ngeh, apa yang ia tutupi, rupanya ada laki-laki dalam kamarnya. Sedang terlelap. Entah habis berapa ronde.
Kesan pertamaku pada perempuan ini bertolak belakang dari dua temanku yang beropini ia "menarik". Wajahnya memang tergolong cantik. Tapi entah kenapa dimataku tetap saja ia tidak "menarik". Apalagi ketika suaranya menggelegar seantero kos, makin memudarkan pesonanya. Ternyata bukan hanya aku, dua temanku kemudian beralih opini terhadap perempuan bahenol (Baca: BAdan HEbat Otak NOL!). Meski begitu ada saja kelakuan temanku yang tergolong AGAK PENDIAM (Baca: Malu2 Kuciang) secara sembunyi-sembunyi memotret selangkangannya. Duduknya memang tak santun. Menganga seperti siap digagahi saja. Belum lagi ketika teriak-teriak, bagian bawahnya seolah menjadi bass sound systemnya hahahaha.
Pergi karaoke. Ide itu dicetuskan si malu-malu kucing. Pemilik wajah oriental bernama Evi itu pulang dan ikut bersama kami. Hanya Eva yang tidak.
Musik mulai menghentak. Dibuka oleh si pencetus ide. Ia memang sering ke karaoke. Suaranya juga lumayan bagus.
Evi pamer suara. Dan vokalnya merdu pula. Bukan hanya suara, goyangannya pun wow hehehe. Ia paling suka musik dangdut, meski ia juga menyumbangkan pita suaranya lewat bait melankolis Indonesia dan lagu asing. Tapi kurasa, dangdut lah yang menurutku PAS. Bernyanyi dan berjoget mirip Inul, benar-benar padanan yang pas, ya kan:) Bahkan salah satu kakinya dinaikkan ke meja. Namun ada satu kebiasaan yang menarik perhatian banyak mata, tiap kali bergoyang ia selalu memegangi tengah-tengah selangkangannya. Aku tak tahu apa penyebabnya, bukan hendak mengundang syahwat, tapi begitulah kebiasaannya.
"Tanyain nmr hape cewek di sebelahmu dong! Sekalian tanya dia udah punya pacar belum!" Si malu2 kuciang menyuruhku. Aku menolehnya, heran. Tadi ia bilang ia tak tertarik sama sekali dengan pemilik wajah oriental yang makin hot bernyanyi dan bergoyang, tapi kenapa justru sekarang ia malah tergila-gila. Jadinya, aku menjadi mediator mereka. Sebagai pengorek keterangan tepatnya.
"Udah punya pacar belum?" tanyaku basa basi meski aku sudah tau ia baru putus.
"Baru putus, TOYING COY!" Alisku seketika berkerut tajam membaca kalimat diatas. Toying... Gila!!
"Kalau berhubungan dengan cewek gimana?" Aku mulai memancingnya.
"Gak kepikiran. Belum pernah siy!"
"Kalau berhubungan ama cewek, pake hati atau pake duit?" tanyaku tanpa tedeng aling2. Aku tak suka banyak basa basi.
"Nggak tau. Seperti yang kubilang, aku gak kepikiran,"
"Kalau temanku pengen kenal kamu, boleh?"
Ia tampak berpikir sebelum menjawab. "PDKT aja dulu!
Aku mengacungkan jempol pada si malu2 kuciang pertanda jalan sudah terbuka baginya.
Perempuan itu... Dimatanya tersiratkan sebuah beban pikiran. Mungkin masalah dengan lelakinya belumlah selesai benar. Jika tak mengolah suara, ia memilih duduk diam dengan benak menerawang serta berbatang-batang rokok. Ia tau betul aku kerap memperhatikannya. Dan kalo gitu ia akan cepat-cepat pasang senyum yang dipaksakan. Tapi tetap saja mata itu tak bisa menipu.
Beberapa hari kemudian aku dapat kabar si malu2 kuciang sudah jadian dengan perempuan straight patah hati itu. Entah karena suatu alasan apa...
No comments:
Post a Comment